
"Kamu ngapain?" Ulang tuan Bagas bertanya.
"Euh, enggak apa-apa tuan... " Jawabku tercabik antara kesal, takut dan malu. Masa iya aku harus bilang kalau dia bikin aku kaget sampai terjatuh gitu...
Sementara tanganku sudah sibuk menarik-narik blouse ku yang tadi sempat tersingkap sedikit... cuma sedikit, tersingkap waktu aku terjerembab tadi. Sekali tarik aja udah beres lagi blouse itu. Tapi karena aku grogi, aku terus saja menarik-narik blouse itu sekedar untuk menyalurkan rasa gugup ku.
Kulihat dari sudut mataku tuan Bagas masih menatapku dengan ekspresi wajah yang sulit aku tebak, apa yang dia pikirkan sekarang. Aku menunduk semakin dalam.
"Maaf tuan... tuan ditunggu sama Nyonya Supami sebelum sarapan dimulai...." Lanjut ku mengalihkan perhatiannya.
"Heh?! Sekarang? Kenapa enggak bilang dari tadi..." Katanya. Dari nada suaranya kedengeran kalau dia menyalahkan aku. Aku jadi sebel sendiri. Dia yang susah dibangunin kenapa aku yang disalahkan?
"Jam berapa sekarang?" Tanyanya sambil menyibakan selimut yang membelit kakinya. Setelah itu dia menjulurkan badannya berusaha meraih kursi rodanya mendekat. Spontan aku bergegas mendekat untuk membantunya.
"Jam setengah tujuh, tuan... " Jawabku setelah melirik jam dinding yang ada di atas meja kerja tuan Bagas. Aku tahu dimana letak jam itu karena aku sempat me-lap meja itu tadi.
Dengan bantuan tangannya, tuan Bagas sudah bisa pindah sendiri dari atas kasur ke kursi rodanya.
"Air mandi sudah disiapkan?" Tanyanya sambil mengarahkan kursi rodanya ke arah kamar mandi.
"Sudah tuan... " Jawabku.
"Baju gantinya?" Tanya dia lagi sambil mendorong daun pintu kamar mandi agar terbuka lebar.
"Eng... akan saya siapkan segera tuan... " Jawabku.
Tuan Bagas sudah berada di samping bathtub. Ya, aku cuma berpikir kalau disuruh nyiapin air mandi berarti di bathtub kan? Masa di shower? Tapi, terus itu ... nyemplung dengan bajunya kah? Enggak kayaknya, kelihatan tuan Bagas sudah mulai bergerak untuk membuka pakaiannya. Seketika aku jadi enggak enak hati...
"Maaf tuan, saya keluar dulu ya... " Kataku sambil membuang pandang ke luar ruangan. wajahku rasanya sudah panas begini melihat tuan yang sudah melepas kaos yang dipakainya.
"Iya, tapi tarik dulu ini..." Katanya.
"Heh?! " Aku mengikuti arah pandangnya. Maksudnya celana panjang yang dia pakai itu? Mati aku...! Ini mah sport jantung beneran. Boleh nolak enggak sih? Lihat body atas aja udah bikin dag dig dug enggak karuan, masa iya harus lihat body bawah juga?
__ADS_1
"Ayo cepetan, udah siang ini... " Kata tuan Bagas menyela monolog ku dalam hati. Akhirnya aku berlutut di depan kursi rodanya dan menunduk, setunduk-tunduknya. Tuan Bagas mengangkat sedikit tubuhnya dan bertopang sebentar agar aku bisa menarik ujung celana panjang yang dipakai tuan hingga terlepas. Sambil berdiri aku menggulung celana itu di lenganku.
Aku mengangguk singkat untuk tanda permisi, masih sambil menunduk, aku bergegas berjalan keluar dari kamar mandi dan segera menutup pintu di belakang ku.
Begitu terdengar suara 'cklek' pintu menutup, aku langsung bersandar ke tembok pembatas ruangan itu. Ku hela nafas berulang-ulang untuk melegakan dada yang terus berdentum enggak karuan dari tadi. Wajahku juga rasanya panas, mungkin kalau aku berkaca aku akan melihat wajahku merah seperti kepiting rebus. Belum lagi lutut yang sedikit goyah karena lemas.
"Duh... kok gini amet ya, rasanya... " Keluh ku. "Sabar... sabar... ini bagian dari resiko kerja... " Kataku lagi menghibur diri sendiri, sambil mengipasi wajah dengan telapak tangan. Setelah menarik nafas sekali lagi, aku bergegas ke lemari untuk menyiapkan pakaian ganti.
"Mau pakai pakaian model apa? Si tuan ini mau di rumah aja atau mau keluar ya...?" Pikirku sambil mengamati tumpukan baju yang tersusun rapih di lemari. Akhirnya, setelah pusing sendiri beberapa lama, aku putuskan, aku siapkan pakaian dengan style yang seperti kemarin dia pakai.
Aku taruh pakaian di atas kursi kecil dekat lemari pakaian itu. Sambil menunggu aku benahi tempat tidur yang masih berantakan tadi. Baru saja selesai melipat bad cover, ketika terdengar suara pintu terbuka. Refleks aku menoleh.
Aku lihat tuan Bagas keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya di selimutkan di atas pangkuannya. Bagian atas badannya terpampang begitu jelas. Membuat dadaku yang tadi sudah lumayan tenang mendadak berpacu lagi. Seketika aku membuang pandang. Berusaha fokus dan sibuk merapihkan sarung bantal dan menata nya di kepala kasur.
"Mati aku... setiap hari seperti ini bisa jantungan aku..." Keluh ku dalam hati. Aku segera meraih pakaian kotor tuan Bagas.
"Tuan, saya permisi ke luar dulu... " Kata ku. Mengangguk sepintas lalu dengan memondong pakaian kotor aku bergegas berjalan ke luar kamar. Aku tidak mendengar sahutan dari tuan. Tapi aku juga tidak berani menoleh lagi karena takut otak ku travelling kemana-mana nanti.
Aduh, kerjaan simpel gini aja kok bikin pusing, sih. 🤦♀️
Aku akhirnya memutuskan untuk menunggu saja. Ya, dari pada nanti dicariin tuan terus kena marah...? Aku lalu mengambil sapu dan 'pura-pura' sibuk menyapu area seputar kolam dan teras kamar.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Tuan Bagas terlihat sudah rapih, dia meluncur keluar dengan kursi rodanya.
"Kamu masih di sini? " Tanya tuan sambil lalu.
"Iya, tuan..." Sahut ku sambil mengangguk, walaupun tidak yakin tuan melihat anggukan ku atau tidak.
Setelah melihat tuan berlalu tanpa mengatakan apapun, akhirnya aku memutuskan untuk melaksanakan rencana ku tadi. Membuang sampah dan membawa pakaian kotor ke bagian laundry. Karena itu setelah menutup pintu, aku pun melangkah meninggalkan kamar itu.
"Bisa sekalian sarapan... " Kata ku pada diri sendiri. Ah, baru terasa. Ternyata perutku sudah lapar, ya.... "Bagian dapur masak apa hari ini ya? Semoga bu Surti enggak ada jadi bisa makan dengan tenang..." doa ku dalam hati.
Aku melangkah ringan. Dengan keranjang sampah di tangan kiri dan gulungan pakaian kotor di tangan kanan.
__ADS_1
Buang sampah beres... masuk ke ruang laundry, Mbak Yuni yang ada di sana langsung menegurku.
"Nur, itu pakaian siapa? " Tanyanya.
"Tuan Bagas... " Jawab ku singkat.
"Kotaknya mana? " Tanyanya lagi.
"Kotak apa? " Aku balik bertanya enggak mengerti.
"Kotak laundry lah... setiap kamar kan ada kotak laundry nya... yang seperti ini... " Ujar mbak Yuni menjelaskan sambil mengambil satu kotak yang kebetulan berada dekat dengannya. Aku melihat ada label Nona Sabrina di sana.
"Wah... aku enggak tahu... enggak merhatiin juga tadi ada dimana kotaknya... "
"Ya udah, sekarang kamu cari dulu kotak itu... Aku enggak mau ada pakaian yang tercecer karena enggak ada kotaknya." Perintah mbak Yuni memotong ucapan ku.
Ya... harus balik lagi... gagal makan cepat ini... Tapi karena senior sudah bersabda, mau enggak mau aku harus nurut.
"Aku titip ini dulu ya, kotaknya aku ambil dulu..." Kata ku sambil meletakkan pakaian tuan di salah satu kursi panjang yang ada di ruangan itu.
Mbak Yuni mengangguk.
Aku berbalik.
Sarapan, tunggu aku ya...
.
.
.
...👉bersambung👈...
__ADS_1