Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Negosiasi (panggilan)


__ADS_3

"Ayo masuk, ngapain masih bengong disana..." Seru tuan saat menyadari kalau aku masih berdiri di depan pintu.


"Iya, tuan..." Sahutku. Aku lalu menarik koper kami masuk dan menutup pintu.


Malam ini kami bersih-bersih badan dengan agak cepat karena badan rasanya sudah lelah sekali. Selesai berganti pakaian dengan baju bersih dan enak untuk tidur, tuan bertanya, aku mau makan apa untuk malam ini, tapi aku bilang aku enggak kepingin makan. Perut memang agak lapar sih, tapi kantuk dan lelah mengalahkan rasa lapar.


"Rasanya saya tidak ingin makan sekarang, tuan..."


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau makan... Enggak apa-apa kamu tidur tanpa makan dulu...?"


"Enggak tuan, tadi waktu stirahat terakhir kan saya sudah makan..." Aku memberikan alasan.


Ya, sekitar jam tujuh tadi, waktu istirahat untuk sholat isya, kami memang sekalian makan malam. Jadi laparnya enggak kebangetan sekarang.


"Tapi kalau tuan lapar...." Ucapku cepat, saat tiba-tiba tersadar, jangan-jangan tuan menawari aku makan karena dia sendiri juga merasa lapar.


"Enggak... Aku juga sudah ngantuk mau tidur..." Ucap tuan menenangkanku.


Oooh


Ucapku tanpa suara.


Karena menolak untuk makan malam (lagi) sebelum tidur, aku sempatkan untuk membuatkan tuan minuman hangat untuk sekedar menghangatkan perut.


Ya, setelah melakukan perjalanan sekian jam, walaupun kaca jendela ditutup, tetap saja ada kemungkinan masuk angin, apalagi AC mobil tidak berhenti difungsikan. Jadi daripada nantinya masuk angin beneran, aku terfikir untuk sekedar menghangatkan perut.


Segelas susu jahe yang aku seduh dari produk jadi sachetan aku berikan untuknya.


"Ini tuan..." Kataku sambil memberikan gelas minuman itu. Saat itu tuan sudah duduk di kasur king size kamar hotel itu.


"Punyamu mana?" Tanya tuan saat matanya tidak menemukan gelas lain yang sekiranya aku siapkan untukku sendiri.


"Eng..."


Aku memang cuma membuat satu gelas ini saja. Tidak terpikir olehku untuk membuat minuman untuk ku sendiri. Yang aku pikirkan tadi yang penting tuan sudah hangat perutnya sudah cukup.


"Cuma bikin satu?" Tebaknya.


Aku mengangguk. Sekilas nampak tuan menggelengkan kepalanya. Dia menerima gelas itu lalu meminumnya, tapi tidak dia habiskan.


"Nih, habiskan...!" Kata tuan sambil memberikan gelas yang isinya tinggal separuh itu.


Aku menerima gelas itu. Tanpa berpikir apa-apa, aku langsung meminum air susu dari gelas itu sampai habis.


Kuusap mulutku dengan punggung tangan menghilangkan noda basah disudut bibir.


"Ada lagi yang diperlukan, tuan?" Tanyaku sambil berjalan ke meja wastafel untuk menyimpan gelas itu.

__ADS_1


"Enggak ada. Ayo kita tidur..." Katanya.


Sangat setuju


Kataku dalam hati.


Setelah mendengar jawaban tuan, akupun langsung menuju sisi lain dari kasur itu. Kusingkap bad cover di atas kasur itu sebelum menempatkan diri di atasnya.


Deuh nyaman banget...


"Mau nyalakan TV?" Tanya tuan.


"Kalau tuan mau, silahkan. Saya sendiri sudah enggak kepingin ngapa-ngapain." Jawabku jujur. Sungguh, satu-satunya hal yang ingin aku kerjakan adalah TIDUR.


Kurebahkan tubuh disamping tuan. Posisi menelentang ke atas. Habis mau gimana? Mau miring menghadap ke tuan malu, mau membelakangi ngerasa enggak sopan ngasih punggung ke dia. Mau telungkup...? Hadeuh, posisi yang lebih enggak sopan pake banget rasanya. 😅


"Nur...!" Panggil tuan disaat aku sudah terlihat nyaman dengan posisiku.


"Ya, tuan." Sahutku sambil menoleh kearahnya.


"Bisa enggak mulai sekarang enggak usah panggil aku, tuan...?"


Aku yang semula sudah mau merem langsung menarik kembali kesadaranku untuk kembali berpikir.


"Saya harus panggil apa, tuan?" Tanyaku polos.


"Yaaa ... panggil apa gitu yang pantes. Yang biasanya perempuan pakai untuk memanggil suaminya..."


Keningku sedikit berkerut saat berpikir.


"Panggil apa...?" Gumamku pelan seperti bertanya pada diri sendiri. Tapi ternyata tuan mendengarnya.


"Ya panggil sayang kah... my hubby kah...atau honey..."


Spontan aku tertawa geli mendengar contoh-contoh panggilan yang disebutkan tuan itu. Sungguh geli rasanya membayangkan aku memanggil suamiku dengan sebutan-sebutan itu. Rasanya kok lebay banget ya...


Kulihat wajah suamiku itu cemberut melihat aku malah tertawa dengan ide-idenya.


"He he he, maaf..." Kataku sambil seketika menutup mulut berusaha menahan tawa.


Sebenarnya melihat ekspresi wajah dia saat ini lebih lucu dari mendengar ide-idenya tadi. Ekspresi wajahnya itu seperti wajah anak kecil yang dilarang mainan sama ibunya. Tapi demi menjaga perasaannya, setengah mati aku menahan geli dan berusaha untuk tidak tertawa.


"Kalau saya panggil mas, saja boleh?" Usulku berusaha memperbaiki mood nya.


"Mas saja?"


"Ya tergantung keadaan deh... bisa mas ganteng ... mas baik ... mas seksi..."

__ADS_1


"That's better..." Katanya tiba-tiba sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Saking kagetnya aku sampai menahan nafas beberapa detik tanpa sadar.


"Eng... tu...eh, mas..." Aku sampai bingung sendiri harus bereaksi bagaimana. Mata kami saling bertemu. Sepertinya kami saling membaca suasana hati masing-masing melalui tatapan mata itu.


Bibir tuan mendekat. Entah apa yang kupikirkan kemudian. Karena yang ku tahu kemudian kami saling *******.


Entah berapa lama kami melakukan permainan lidah itu, hingga tiba-tiba tuan melepaskan tangannya dari tengkuk dan punggungku.


"Sudah malam... sebaiknya kita segera tidur..." Katanya sambil mengambil posisi miring membelakangiku untuk tidur.


Kutatap dia setengah enggak percaya.


Gila kali ya... udah mulai panas gini langsung ditinggal begitu saja...


Ingin rasanya aku mengumpat. Tapi saat keperhatikan ekspresi wajahnya. Sepertinya dia sedang menahan sesuatu yang menyakitkan. Wajahnya kelihatan tegang begitu. Aku jadi berpikir... ini sebenarnya yang lebih sakit siapa? Aku atau dia...


Alhasil, aku yang pada awalnya ngantuk bukan main malah jadi enggak bisa tidur gara-gara permainan singkat tadi. Berbagai macam pikiran dan praduga muncul begitu saja bercampur dengan khayalan yang enggak jelas. Sampai akhirnya karena sudah begitu lelah dan mengantuk, akhirnya aku tertidur juga.


Aku tertidur cukup lelap. Hanya sempat terbangun sebentar saat kurasakan tangan tuan melingkar di tubuhku dan memelukku erat. Aku sudah enggak perduli. Kulanjutkan mimpiku yang entah tentang apa...


* * *


Seperti kebiasaanku beberapa bulan terakhir. Aku terbangun menjelang shubuh dengan alarm alam.


Kulihat lelaki di sampingku masih tertidur pulas dengan memakai tubuhku sebagai gulingnya. Perlahan kupindahkan lengannya yang melingkar di perutku, setelah itu, perlahan pula aku bergerak bangkit dan turun dari pembaringan.


Kuawali hari ini seperti kebiasaanku. Bersih-bersih diri, lalu sholat shubuh. Pas sedang sholat itulah, kurasakan perutku lapar sekali.


Duh, godaan. Merusak konsentrasi saja.


Kuusahakan untuk tetap fokus dengan bacaan sholatku. Tapi satu hal yang pasti akan aku lakukan setelah selesai sholat ini... Aku akan memesan menu sarapan pagi dengan room service,


Biarlah, walaupun enggak dibayar sama tuan, aku masih punya cukup uang untuk membayar makanan itu nanti...


Kataku penuh percaya diri.


...*...


...*...


...*bersambung*...


...*...


...*...


__ADS_1


__ADS_2