Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Nyonya Silvia bikin capek.


__ADS_3

"Taruh di meja itu saja, mbak... " Katanya.


Terdengar dia menekankan kata mbak di akhir kalimat. Sepertinya dia ingin menunjukkan pada ibu-ibu yang sedang memijit kakinya itu, kalau dia menghargai seorang pelayan dengan memanggilnya dengan sebutan "mbak". Tapi sekaligus ada nada pelecehan kurasa.


Ya, aku tahu, nyonya Silvia memanggil mbak bukan karena statusku sebagai istri dari kakak iparnya, tapi cuma sebagai panggilan biasa layaknya seorang juragan memanggil mbak-mbak babunya.


Aku melangkah ke meja kayu bundar di sudut ruangan. Di kanan kiri meja itu ada kursi kayu juga yang berbentuk bundar, dengan bantalan bundar berwarna cream, sangat serasi dengan warna plitur kayunya.


Hati-hati aku letakkan nampan diatas meja itu. Berusaha sebisa mungkin untuk tidak mengeluarkan suara. Sekilas aku memperhatikan foto berfigura yang menghiasi meja itu bersebelahan dengan sebuah vas bunga berisi bunga krisan.


"Sungguh romantis sekali mereka." Pikirku.


Foto itu menunjukkan nyonya Silvia berpose berdiri dibawah pohon rindang dengan tuan Nugraha memeluknya erat agak dibelakangnya. Tangan kanan nyonya menyentuh pipi suaminya sementara tangan kirinya bertumpuk dengan tangan suaminya di bagian perut.


Tanpa bisa ku cegah, pikiranku melayang, membayangkan kalau orang yang ada difoto itu adalah aku dan tuan Bagas.


Kubayangkan sosok tuan Bagas yang seperti pangeran, memeluk aku yang seperti upik abu...


"Duh, Kok kayaknya enggak serasi amet ya..." Aku meringis ngeri dengan bayanganku sendiri.


Tapi terlepas dari masalah serasi atau enggak kami berdua. Aku sungguh ingin, suatu saat nanti, bisa berfoto bersama tuan Bagas. Ya, jika suatu saat nanti aku tidak bisa lagi mendampingi tuan, (siapa tahu, tuan Bagas kemudian sembuh total, dan dia tidak memerlukan aku lagi...) minimal aku punya kenangan yang menunjukkan kalau aku pernah menjadi istrinya.


"Terima kasih ya, mbak..." Ucap nyonya Silvia menarik fokus ku kembali. Segera aku berbalik menghadapnya.


"Ya." Sahutku sambil mengangguk.


"Mbak Nurul, aku tadi sudah minta pelayan untuk membuatkan minuman untuk si mbok ini... tapi dari tadi kok enggak datang-datang ya? Dari pada lama lagi, bisa mbak buatkan sekalian antar minumannya ke sini...?" Ucap nyonya Silvia kemudian disertai senyum, yang jika disesuaikan dengan tatapan matanya bukannya ramah, tapi malah berkesan mengintimidasi. Kalau sudah begitu apa lagi yang bisa aku katakan, selain kalimat...


"Baik nyonya. "


"Segera ya, mbak. Kasihan si mbok sudah dari tadi di sini..." Imbuh nyonya Silvia.


"Baik nyonya. " Jawabku sekali lagi sambil mengangguk.


"Mau dibuatkan minuman apa si mbok nya, nyonya? " Tanya ku.


"Mau minum apa, mbok?" Nyonya Silvia ikutan bertanya.


"Teh saja enggak apa-apa, ndhuk." Jawab si mbok sambil menoleh kearahku.


"Inggih, mbok. Permisi saya buatkan dulu minumannya, mbok... Nyonya." Aku mengangguk pamit pada keduanya. Si mbok manggut sambil tersenyum. Nyonya Silvia tidak menjawab. dia sibuk mengotak-atik HP ditangannya.

__ADS_1


Dalam bayanganku, setelah selesai membuatkan teh untuk si mbok yang sepertinya sedang mengurut kaki nyonya Silvia itu tadi, pekerjaanku sudah selesai. Tapi ternyata tidak saudara-saudara.


Selesai membuatkan teh, nyonya Silvia menyuruhku menyiapkan makan siang untuk si embok itu. Setelah selesai aku siapkan, nyonya meminta sup nya.


"Mbak, tolong sup-nya bawakan kemari ya. Kaki saya pegal-pegal ini,makanya minta dipijat sama simbok, habis dari kemarin eyang minta ditemenin di acara mas Bagas... Kalau mbak Nurul sih udah biasa ya mondar-mandir... " Katanya.


"Ya, biasa karena terpaksa... " Gumamku dalam hati.


Tanpa banyak bicara aku membawakan sup yang tadi aku taruh di meja ke hadapan nyonya Silvia. Nyonya Silvia sudah meletakkan sebuah bantal diatas pangkuannya untuk landasan menaruh nampan.


"Yaaa kok udah enggak panas lagi... " Katanya setelah mencicipi sup itu dua tiga sendok. Lalu dia mengaduk-aduk sup itu dengan gaya malas dan kecewa.


"Mbak, tolong ambilkan saya sup yang baru, yang masih panas." Katanya.


Aku menghela nafas meredam geram. Sungguh badanku rasanya capek banget. Perutku juga sudah lapar. Tapi kok masih saja ada pekerjaan yang dibebankan padaku. Ya memang, jarak dari dapur ke kamar nyonya Silvia itu tidak terlalu jauh. Tapi kalau bolak-balik terus, gempor juga rasanya kaki.


Aku yang semula sudah mundur beberapa langkah dari pembaringan akhirnya melangkah kembali mendekat.


"Akan saya ambilkan, nyonya... " Kataku sambil menunduk. Aku membungkuk untuk mengambil nampan di pangkuan nyonya.


"Jangan lama-lama ya... Saya sudah lapar, maag saya suka kambuh kalau makannya telat... " Katanya lagi. Aku kembali mengangguk.


"Sup ini kalau mau buat mbak aja..."


DEG


Hatiku kok rasanya sakit banget ya. Kami para pelayan memang kadang mau memakan "sisa" makanan para juragan. Tapi lihat-lihat dulu kondisi makanannya lah. Kalau masih bersih tidak tercampur baur, bisa saja kami menghabiskan makanan sisa itu. Tapi kalau dari bentuknya saja sudah menjijikkan, tentu kami pikir-pikir juga untuk mencicipi makanan itu.


Kalau sup ini... bisa jadi secara bentuk sup ini tidak banyak berubah dari tampilan awal, selain bawang gorengnya yang sekarang sudah tercampur dengan kuahnya, tapi melihat nyonya yang mencicipi pertama membuat perutku eneg walaupun cuma melihatnya.


"Terima kasih, nyonya..." Sahutku.


Aku melangkah untuk keluar kamar. Tapi belum sampai pintu, nyonya Silvia kembali memanggilku.


"Mbak, nanti sekalian bawakan semangka untuk cuci mulutnya, ya." Perintahnya.


Aku mengangguk.


"Mau sekalian dengan deterjen nya enggak nyonya... " Tawar ku dalam hati.


* * *

__ADS_1


Hampir jam dua siang. Ku hempaskan tubuhku keatas kasurku.


"Ya Allah, capek banget ya... " Kataku pada diri sendiri.


Ku luruskan kakiku di atas kasur. Sumpah, nikmat banget. Untung saja tadi tuan Bagas nelpon, pas aku baru selesai mengantarkan sup pesanannya. Jadi aku punya alasan untuk kabur dari nenek lampir itu.


Tuan Bagas memintaku memfoto selembar dokumen yang ada diatas meja kerja di kamarnya. Dengan alasan itu, aku pamit dari nyonya Silvia.


Hanya memfoto selembar dokumen pastinya cuma sebentar. Tapi tentu saja aku enggak ngomong begitu tadi pas pamitan. Bisa-bisa aku disuruh-suruh lagi nanti.


Selesai memfoto dokumen, aku lalu pergi ke dapur untuk makan. Dengan sayur lodeh kacang panjang dan dua potong tempe goreng, jadi juga acara makan siangku.


Selesai makan, disinilah aku menikmati denyutan nyeri dari otot-otot kakiku.


"Udah sholat, Nur?" Tanya Tati salah satu teman sekamar ku yang enggak tahu kapan masuknya, tahu-tahu sudah berada di sebelah kasurnya sendiri, sedang menggelar sejadah, bersiap untuk sholat.


"Eh? Belum. Sedang meluruskan kaki ini, pegel banget..." Jawabku sambil menoleh kearahnya.


"Ayo segera. Waktunya udah mau habis ini..." Ucap Tati lagi sambil memakai mukenanya. Aku mengangguk, enggak tahu, dia melihat anggukan ku atau enggak.


Beberapa saat aku memperhatikan Tati yang sudah memulai sholatnya. Suasana senyap ditambah dengan kelelahan yang kurasakan, membuat mataku memberat ingin memejam.


"Astaghfirullah... " Ucapku kaget, saat tidak sengaja tertidur beberapa detik. Aku mengerjapkan mata berusaha mengumpulkan kesadaran yang sempat kabur tadi. Setelah sadar sempurna, kupaksakan tubuh untuk bangkit dari pembaringan.


Ku geledah saku bajuku sendiri, mengeluarkan HP dan uang ribuan dari saku. Kuletakkan semua isi saku pada sebuah kotak yang merupakan loker kami di kamar itu. Setelah itu, aku mengambil baju ganti, dan bergegas ke kamar mandi. Aku harus mengisi absen kehadiranku di muka bumi ini, sebelum yang punya alam marah dan memanggilku pulang ke markas utama-Nya.


...®bersambung®...


...*®*...


...*®*...


...*®*...


Para pembaca yang budiman...


(Cie cie 😅) ... Kalau berkenan silahkan mampir ke ceritaku yang berikut ini ya...


Jangan lupa tinggalkan jejak, supaya author nya tahu, kalau kalian sudah mampir. 😘😘😘 Makasih.


__ADS_1


__ADS_2