Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Keputusan Ayah


__ADS_3

"Ayah, jika memang engkau sayang padaku, tolong jangan pisahan kami." Pintaku akhirnya dengan nada memohon.


Kembali kami menerima tatapan ayah. Sepertinya beliau sedang berpikir tentang apa yang harus dilakukan.


"Tetap saja, bagi ayah, pernikahan ini tidak sah..."


"Lalu maunya ayah bagaimana...?" Tanyaku akhirnya hampir putus asa.


Beneran, kalau bisa aku jangan sampai harus memilih. Aku jelas enggak mau kehilangan mas Bagas, tapi aku juga ingin bersama dengan keluargaku.


"Kalau maunya ayah semua tidak berubah, sama seperti dulu... justru yang harusnya dipertanyakan itu kamu... kamu maunya gimana?" Ayah balik bertanya.


"Aku... aku enggak mau kehilangan mas Bagas, tapi aku juga mau bersama keluarga ku... " Jawabku.


"Kalau kamu... apa yang kamu mau?" Ayah kini bertanya pada mas Bagas. Seketika aku menatap mas Bagas, berdoa semoga dia mempunyai pemikiran yang sama denganku.


"Aku akan tetap berusaha mempertahankan istriku, bagaimanapun caranya..." Jawab mas Bagas yang langsung membuatku lega.


"Apakah kau mencintainya?" Tanya ayah.


"Ya." Jawab mas Bagas pasti.


"Kau... apa kamu mencintainya?" Tanya ayah padaku. Aku langsung mengangguk.


"Apa kamu rela melepaskan nama Yudhistira jika aku tidak menyetujui hubungan kalian...?" Tanya ayah lagi membuat jantungku seakan berhenti sekian detik rasanya, saat mendengar ucapan ayah.


"Ayah...!" Seru bunda dan aku hampir bersamaan.


"Bagaimana Anna?" Ayah masih meminta ketegasan.


Serta merta air mataku luruh. Aku tak menyangka, ayah benar-benar ingin kami berpisah.


"Ayah... maafkan aku. Aku tidak bisa kehilangan mas Bagas..." Jawabku. Ya, dengan atau tanpa nama Yudhistira mengikuti namaku, aku akan tetap mempertahankan mas Bagas.


"Kau sendiri...Apakah kamu relakah dia melepaskan nama keluarganya untuk mu...?" Kembali ayah bertanya pada mas Bagas yang langsung memberinya dilema.


"Saat aku menikahinya, aku tidak tahu kalau dia adalah keluarga tuan Yudhistira, bagi ku seorang Nurul biasa saja sudah cukup untukku.


Jika kemudian nanti Nurul melepas nama Yudhistira untuk bisa tetap bersamaku, pada dasarnya bukan suatu masalah untukku. Insya Allah, aku bisa membahagiakannya walaupun kami tidak di dukung oleh keluarga Yudhistira.


Hanya saja saya berpikir, terlepas dari nama besar tuan Yudhistira atau bukan, akan lebih lengkap kebahagiaan Nurul, jika dibelakangnya ada suatu keluarga yang mau mendukungnya selain aku...." Jawab mas Bagas panjang lebar.

__ADS_1


"Lalu tuan sendiri... akankah tuan tega melepaskan Nurul...?" Mas Bagas balik bertanya. Untuk sesaat keduanya saling tatap.


"Tidak... aku sudah pernah kehilangan dia... dan aku tidak ingin kehilangan dia untuk kedua kalinya... " Jawab ayah kemudian sambil beralih menatapku.


"Lalu...?" Tanyaku belum paham akan maksud ayah.


Aku, mas Bagas serta bunda diam dan terus menatap ayah, menunggu keputusan ayah disampaikan.


"Apakah itu artinya mas, menerima pernikahan mereka?" Tanya bunda akhirnya tidak sabar.


"Tidak... bagiku pernikahan mereka tetap tidak sah... karena itu..." Ayah menjeda ucapannya dengan nada menggantung dan menatap kami bergantian.


"Karena itu... ?" Aku bahkan menahan nafas tanpa sadar, menunggu ayah melanjutkan ucapannya. Mata ayah nampak berkedip jenaka saat menyadari ke-kepo-an kami menunggunya melanjutkan ucapannya.


"Karena itu... aku ingin kalian menikah ulang...!" Putus ayah.


Seketika aku dan mas Bagas saling bertukar pandang.


Menikah ulang?


"Ayah ingin kalian menikah ulang. Dengan identitas yang benar, agar tidak ada masalah di kemudian hari..." Ucap ayah, tapi sekarang nada bicaranya tidak terdengar acuh lagi. Tapi lebih cenderung ke permintaan.


"Bagas... jika kamu serius menginginkan anakku jadi istrimu. Pulang dan bawa orang tuamu kemari. Aku tidak bisa melepaskan anakku pada orang yang enggak jelas keturunannya.... " Lanjut ayah.


Seorang ayah selalu ingin memastikan anaknya akan selalu berada di lingkungan yang baik. Beliau pasti ingin memastikan, kalau laki-laki yang akan melanjutkan tanggung jawab mengurus anaknya adalah laki-laki dari keluarga baik-baik pula.


Lalu, apa yang harus kami lakukan sekarang? Apakah dengan mengikuti permintaan ayah, itu artinya aku tidak bisa ikut mas Bagas? Sepertinya memang demikian... Bagaimanapun kebut nya proses persiapan suatu pernikahan, rasanya enggak bakal bisa selesai hanya dalam waktu dua hari. Kecuali kalau cuma pernikahan siri seperti yang kami lakukan kemarin. Tapi aku yakin, bukan pernikahan seperti itu yang ayah inginkan untukku.


"Bagaimana, mas?" Tanyaku pada mas Bagas. Mas Bagas sepertinya sudah paham maksud ayah. Karenanya, mendengar pertanyaan ku, dia sudah bisa tersenyum.


"Ya sudah... kita balik lagi ke proses pacaran dulu saja, Nur..." Katanya sambil menggenggam tanganku.


"Baiklah, tuan Yudhistira... Kalau memang seperti itu yang anda inginkan. Saya akan koordinasikan soal pernikahan kami ini dengan keluarga..."


"Hem..." Gumam ayah.


"Mas Bagas... lalu bagaimana dengan proses penyembuhan kaki mas Bagas?" Tanyaku.


"Ya tentu saja akan tetap aku lakukan terapi itu... hanya saja untuk pelaksanaannya, aku harus mempertimbangkannya kembali..." Jawab mas Bagas, masih sambil mempermainkan jari dan telapak tanganku di pangkuannya.


"Kalau aku boleh usul... sebaiknya kau jalani dulu proses penyembuhanmu itu. Setelah sehat, baru kamu datang kesini bersama seluruh keluargamu untuk menentukan hari pernikahan kalian."

__ADS_1


"Apakah aku boleh ikut ayah?" Tanyaku sekali lagi, mencoba menjaring peruntungan. Siapa tahu, ayah berubah pikiran... 😂 Tapi ternyata jawabannya...


"Tidak... kamu tetap tidak boleh pergi kemanapun... "


"Tapi yah... aku sudah janji pada ibunya mas Bagas akan selalu mendampingi nya dalam masa penyembuhan itu..."


"Kalau begitu, segerakan pernikahan kalian... " Tantang ayah.


"Terserah pada kalian, mana yang akan kalian dahulukan... Mau nikah dulu atau mau pergi ke Tiongkok dulu..."


Tanpa sadar aku merengut. Bagaimana tidak? Karena sebenarnya, apapun pilihan kami, pada dasarnya sama saja. Intinya kami harus berpisah dulu sementara. Entah itu karena menunggu proses penyembuhan, ataupun menunggu proses persiapan pernikahan.


Akhhh... baru memikirkan akan berpisah sementara saja sudah membuatku sedih dan enggak enak hati. Padahal kami belum lama bersama.


"Bagaimana ini, mas...?" Tanya ku sedih.


Sungguh, aku ingin berontak, menolak keputusan ayah. Tapi akal sehat dan nuraniku berkata, kalau yang diputuskan oleh ayah itu memang sudah benar. Ayah melakukan hal itu justru karena merasa sayang pada ku. Beliau ingin memberikan garansi untuk kebahagiaan hidupku selanjutnya.


"Ya... mau bagaimana lagi..." Sahut mas Bagas ikutan tidak rela, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti keinginan ayah.


"Kalian pikiran apa yang terbaik yang seharusnya kalian lakukan... Aku mau istirahat dulu..." Ujar ayah sambil bangkit dari kursinya.


Aku diam menatap ayah yang berjalan meninggalkan ruangan diikuti oleh bunda. Mas Bagas juga.


"Kita bicarakan hal ini di kamar..." Ucap mas Bagas kemudian memecah keheningan di antara kami. Aku tidak menjawab, tapi aku bangkit dan mengikuti mas Bagas menuju kamar.


...*...


...*...


...*bersambung*...


...*...


...*...


\=\=\=\=\=


Kira-kira, mas Bagas ini bagusnya mempersiapkan pernikahan dulu atau penyembuhan dulu ya... ???


\=\=\=\=\=

__ADS_1



Sempat tertunda penulisannya, sekarang pengen dilanjutin lagi. 🤭😅


__ADS_2