Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Belajar jadi Nyonya.


__ADS_3

Kami masuk ke dalam kamar. Mas Bagas pindah ke kasur, untuk sekedar meluruskan kakinya. Kasihan juga kaki itu, sudah berjam-jam dalam posisi duduk. Selain pegal di bokong, pastinya peredaran darahnya juga bakalan kurang baik.


Aku memijat kaki mas Bagas sekedarnya, hanya untuk merelaksasi kaki itu. Karena sebenarnya aku memang tidak punya bekal ilmu untuk menjadi seorang dukun pijat... 😅😅😅


"Selanjutnya bagaimana, mas?" Tanyaku.


Sejujurnya, aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus kami lakukan selanjutnya.


"Ya, mau gimana lagi... Seperti dugaanku semula. Kita bakalan pisah dulu untuk sementara waktu." Jawab mas Bagas terlihat tetap tenang.


"Mas Bagas kok bisa tenang gitu sih?" Ujarku seperti kurang terima. Jangan-jangan mas Bagas enggak serius ingin aku tetap mendampinginya.


"Ya, memangnya aku harus gimana? Panik? Marah-marah? Itu semua enggak bisa menyelesaikan masalah kita, Nur." Ucap mas Bagas.


"Walaupun pernikahan kita harus diulang... tapi aku masih berterima kasih pada ayahmu. Setidaknya, beliau tidak menyuruhku untuk meninggalkan mu." Lanjut mas Bagas sambil mengulurkan tangannya menyuruhku untuk lebih mendekat padanya.


Perlahan aku beringsut mendekat. Seperti biasanya, aku duduk disebelahnya sambil bersandar pada head board. Tangan kami saling menggenggam, sementara kepalaku, ku sandarkan di bahunya.


Tiba-tiba terdengar suara tertawa ditahan dari mulut mas Bagas. Spontan aku mendongak menatap wajahnya.


"Apa ada yang lucu?" Tanyaku. Rasanya aku tidak melihat sesuatu yang lucu yang bisa membuat mas Bagas tertawa seperti itu.


"Ya, buat aku rasanya lucu aja..." Jawab mas Bagas. "Lihatlah kita ini... Aku boleh memelukmu... menciummu.. tapi kita masih harus menikah ... lagi..." Lanjut mas Bagas masih sambil senyum-senyum sendiri.


"Kalau sekiranya aku meminta jatahku sebagai suami, kira-kira boleh enggak. ya? " Tanya mas Bagas yang langsung membuat pipiku panas. Spontan aku memukul pahanya gemas.


"Enggak... enggak boleh..." Jawab ku.


"Kenapa?" Tanya mas Bagas dengan kening berkerut, tapi ekspresi wajahnya tetap seperti orang yang menahan tawa.


"Ntar kalau sudah dikasih jatah, mas Bagas enggak balik lagi ke aku... akunya rugi..." Jawab ku antara asal dan sungguh-sungguh.


Mendengar jawaban ku mas Bagas lepas tertawa.


"Enggak-enggak Nur. Aku masih memegang kata-kata ku. Aku tidak akan menyentuhmu, sampai kita benar-benar boleh melakukannya." Ucap mas Bagas sambil membelai rambutku.


Aku merebahkan kepalaku kembali di bahunya.


"Mas... rencana penyembuhanmu...?" Tanyaku menggantung.


Kurasakan mas Bagas menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Aku sedari tadi sudah menimbang- nimbang. Sepertinya yang dikatakan ayahmu ada benarnya.


Sementara kita mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan kita. Aku akan memulai dengan penyembuhan ku dulu.


Pastinya akan lebih keren kalau aku bisa berdiri bersamamu di pelaminan, dan bukan hanya duduk di kursi roda." Ucap mas Bagas.


"Tapi aku enggak keberatan kok kalau memang harus begitu..." Ucapku sambil kembali mendongak dan menatap wajahnya.


"Iya, aku percaya... Tapi bukan berarti kita lalu hanya pasrah kan?" Sahut mas Bagas. "Sudah cukup aku pasrah tanpa usaha untuk bisa kembali normal.. Sekarang ini ada orang yang ingin aku buat bangga jika dia bersuamikan aku.."


Serta merta aku memeluk mas Bagas erat. Kurasakan tangan mas Bagas di punggungku balas memelukku.


"Mas jadi berangkat lusa ke Tiongkok?" Tanyaku sambil melepaskan pelukanku.


"Entahlah. Tadinya aku yakin begitu. Tapi sebelum pergi, aku harus membicarakan tentang pernikahan kita ini pada orang tuaku. Aku harap, sebelum pergi, sudah ada kepastian bagaimana status hubungan kita ini..." Jawab mas Bagas.


"Heem..." Gumamku setuju.


Beberapa saat kami saling diam.


"Nur... Aku pikir, besok aku akan pulang. Aku mau mempersiapkan segala sesuatunya... Ya untuk pernikahan, juga untuk keberangkatan ku..." Ujar mas Bagas memulai kembali pembicaraan.


"Aku ikut. " Ujarku langsung.


"Duh... kenapa sekarang aku seperti jadi anak kecil lagi ya... apa-apa harus minta izin ayah dulu..." Keluh ku. Mas Bagas tertawa.


"Ya nanti kalau sudah benar-benar menjadi istriku, kamu enggak usah minta izin beliau lagi... "


"Iya...?"


"Iyalah... tapi kamu harus minta izin sama aku..."


"Yah... sama aja dong..."


Aku cemberut.


Mas Bagas tertawa.


* * *


Sore harinya, mas Bagas menelpon pak Agus untuk datang ke rumah. Dia mau minta diantar ke hotel untuk cek out, karena rencananya, besok mau pulang dari rumah ini saja.

__ADS_1


Tak disangka, ternyata bukan hanya pak Agus yang datang, tapi ada bapak, ibu juga Yoga yang datang bersamanya. Rupanya saat mengetahui kalau kami sudah pulang dari rumah sakit, mereka langsung berniat mengunjungi kami. Selain karena ibu juga masih ingin bertemu denganku...


Kami menyambut kedatangan mereka di teras. Setelah cipika-cipiki, ibu dan bapak melangkah masuk untuk menemui ayah dan bunda. Sementara Yoga memilih untuk tetap bersama kami sementara.


"Mobilnya sudah beres, pak?" Tanya mas Bagas pada pak Agus yang baru menutup pintu mobil kembali, setelah menurunkan ibu, bapak dan Yoga.


"Alhamdulillah sudah, tuan..." Jawab pak Agus.


"Aku sudah memeriksanya sendiri, semua sudah oke..." Tambah Yoga memberi jaminan.


"Baguslah... karena kita mau pulang besok." Ujar mas Bagas memberi tahu.


"Baik, tuan. Insya Allah, semua beres. Saya tadi sudah servis mobilnya, bahkan sudah ganti olie sekalian." Sahut pak Agus.


"Mas, kata pihak hotel, sebaiknya kita cek out sebelum jam empat, supaya enggak kena extra charge..." Celetuk ku enggak nyambung sambil mematikan sambungan telepon.


Ya, barusan aku menelpon pihak hotel untuk mengurus masalah cek out ini.


"Halah... Berapa sih extra charge nya... kok mau dibikin repot." Ucap mas Bagas yang memangnya enggak suka kalau harus diburu-buru.


"Yaaa... mas, kan sayang aja uangnya, kita bayar sewa kamar tapi enggak kita pakai, kena extra charge lagi... " Ucapku tanpa sadar sudah tertular sifat emak-emak yang penuh perhitungan akan uang. Aku lupa, kalau sekarang ini aku sudah menjadi "istri" dan putri dari seorang pengusaha kaya raya. Jangankan hanya extra charge nya. Beli hotelnya sekalipun pasti ayahku mampu.


"Oalah, mbak... Anaknya tuan Yudhis kok ribut soal extra charge..." Ledek Yoga. Aku enggak menjawab, tapi memberinya cibiran tak mau kalah padanya.


"Mas, habis ini kita pergi cek out ya." Ucapku pada mas Bagas, setelah itu baru aku menghadap ke pak Agus.


"Pak Agus, silahkan istirahat dulu sebentar, sambil menunggu aku, bersiaplah untuk pergi..."


"Baik... Nur... "


Aku mendengar nada ragu dari ucapan pak Agus saat menyebutkan namaku. Aku yakin dia sudah mengetahui tentang hubungan dan kedekatanku dengan mas Bagas. Makanya dia enggak protes waktu aku barusan bilang gitu. Ya, aku sekarang sedang belajar jadi "nyonya" 🤭


Walau demikian, tanpa adanya deklarasi resmi dari kami tentu membuatnya ragu untuk mengganti sebutannya untukku. Tapi siapa yang perduli soal sebutan? Buatku, sebutan hanyalah sebutan... Tidak lebih tidak kurang.


...🌹🌹🌹...


...bersambung...


...🌹🌹🌹...


\=\=\=\=\=

__ADS_1



Mohon bantuannya untuk like n komen novel ini ya para readers. ILU IMU INU... 🙏🙏🙏


__ADS_2