
Entah apa yang terjadi. Tapi kami kemudian mendengar suara langkah mendekat disertai suara seorang wanita mengomel....
"Dasar, anak enggak tahu diuntung... sudah menghilang berbulan-bulan, pulang bukannya segera nengokin ayahnya. Padahal sudah sampai rumah sakit, kok malah balik lagi dan enak-enakan bersantai disini....!"
Suara omelan itu terhenti bersamaan dengan terbukanya pintu kamar tempat kami berada..
"Kamu...!" Sentak wanita itu marah saat melihat kami.
Ini siapa lagi sih...?
Aku segera bangkit duduk begitu pintu terbuka. Mas Bagas juga.
Terlihat kegusaran di wajah mas Bagas. Bagaimana tidak? Dia itu seorang Bagaskara Darmawan. Seorang pengusaha besar di daerahnya, disegani oleh semua orang, Di rumah, di perusahaan, bahkan di daerahnya. Tidak ada yang berani mendekat tanpa perintah.
Tapi kini seorang wanita yang enggak jelas identitasnya, muncul dengan begitu saja, menerobos masuk ke kamar yang pintunya sudah jelas-jelas tertutup, mengomel panjang pendek tanpa ujung pangkal.
"Anda siapa?" Tanya mas Bagas.
"Yang seharusnya tanya itu aku, kamu siapa? Kenapa kamu ada disini bersama putriku?" Jawab wanita itu.
"Putrimu?" Ulang ku hampir bersamaan dengan mas Bagas.
Kok bisa aku ini putrinya? Tadi bu Sofia bilang kalau aku adalah anaknya, sekarang wanita ini juga bilang kalau aku ini putrinya. Sebenarnya ibuku yang mana...?
Aku langsung mengamati wanita itu, sibuk menebak-nebak, benarkah dia ibuku? Lalu ibu Sofia tadi itu siapa? Enggak mungkin kan, aku lahir dari dua rahim?
Aku yang sedang memperhatikan wanita di depanku barusan, teralihkan fokusnya dengan kedatangan ibu Sofia yang berjalan tergopoh-gopoh mendekat.
"Nyonya... nyonya... ah, disini anda rupanya... "
Ibu Sofia mendadak muncul dari arah pintu menginterupsi kebingungan ku.
"Fia.... Aku diberi tahu Ramdan, kalau Anna sudah kembali, dia melihatnya dirumah sakit sore tadi. Tapi kenapa dia tidak menemui ayahnya? Padahal ayahnya itu sakit juga karena dia ..." Ucap wanita itu pada ibu Sofia.
"Iya nyonya.... Anna sudah kembali..."
"Begitu mendengar kabar dari Ramdan, Aku tadi langsung menyuruh orang untuk mencarinya di seluruh wilayah rumah sakit. tapi dari CCTV terlihat kalau dia pergi bersama Ruswanto... Fia, kamu kok tega, membiarkan dia pergi begitu saja tanpa menyuruhnya menjenguk ayahnya...?" Kini wanita itu malah menyalahkan ibu Sofia.
"Iya nyonya, saya minta maaf untuk itu, bukannya tidak mau menyuruh Anna menjenguk ayahnya... tapi...?"
"Ayah... ayah siapa?" Celetuk ku menginterupsi.
__ADS_1
"Ya ayahmu... ayah siapa lagi? Dia sampai jatuh sakit karena kamu menghilang selama berbulan-bulan..." Tukas wanita itu terdengar penuh emosi.
"Ayahku? Lalu pak Ruswanto itu siapa? Anda juga bilang kalau aku ini putri anda... Tapi ibu Sofia juga bilang kalau beliau ini adalah ibuku... Sebenarnya aku ini anaknya siapa?" Tanyaku tambah bingung.
"Anakku...!" Jawab kedua wanita di depanku hampir bersamaan.
"Apakah salah satu dari kalian telah mengadopsi ku...?"
"Tidak..." Jawab keduanya hampir bersamaan juga.
Ihh... kok membingungkan sekali sih...
"Fia... Apa yang terjadi dengan Anna? Kenapa dia tidak mengenaliku? Bagaimana bisa dia melupakan aku... orang yang sudah merawatnya sejak kecil...?" Tanya wanita itu lagi. Tapi kini ekspresi nya menunjukkan kekhawatiran.
"Karena hal itulah, nyonya... alasannya saya belum bisa membawa Anna menemui mas Yudhis.... "
"Sekarang sebaiknya kita makan dulu... Anna... nak Bagas... Sebaiknya kita sekarang ke ruang makan. Kita isi perut kita dahulu, baru kita bicara panjang lebar. Ada banyak hal yang perlu di jelaskan...?" Ucap Ibu Sofia.
"Siapa dia?" Tanya wanita itu sementara pandangannya mengarah ke mas Bagas.
"Emm dia bernama Bagas, suami dari Anna..."
"Suami...?! Bagaimana bisa? Ayahnya masih hidup bagaimana bisa dia menikah tanpa meminta izin dari walinya yang sah..."
"Anna... nak Bagas... mari kita makan dan berbicara di ruang depan..." Lanjut ibu Sofia memerintah dengan halus.
"Mari nyonya... "
Sambil berbicara itu, ibu Sofia langsung berbalik dan mendahului melangkah meninggalkan kamar.
Sesaat wanita tadi masih menatap kami penuh selidik sebelum berlalu mengikuti ibu Sofia keluar. Sementara aku masih harus memastikan kalau mas Bagas sudah bisa duduk nyaman di kursi roda nya.
Aku mendorong kursi roda mas Bagas ke ruang makan. Tapi belum sampai ruang makan, aku berpapasan dengan...
"Kamu?! Ngapain kamu disini?" Seruku heran campur kaget.
Ya...gimana enggak kaget, kalau orang yang tanpa sengaja kamu temui di tempat umum tahu-tahu ada di rumah kamu? Siapa dia? Jangan bilang kalau dia itu masih saudaraku... Karena sejujurnya aku malu mengakuinya kalau hal itu benar.
Seketika bayangan laki-laki itu sedang beradegan mesum kembali membayang. Hih... Tanpa sadar aku bergidik.
"Kamu kenal dia, Nur?" Tanya mas Bagas. Sambil menoleh kearah ku.
__ADS_1
"Enggak!" Jawabku langsung bersamaan dengan jawaban yang diberikan laki-laki itu.
"Tentu saja..."
Aku langsung mendelik mendengar jawabannya. Sementara mas Bagas menatap kami berdua bergantian.
"Siapa kamu? Ngapain kamu disini?" Tanyaku dengan nada ketus. Aku kesal, karena jawabannya pasti membuat mas Bagas mikir yang enggak-enggak sama aku.
"Anna, aku tahu aku sudah berbuat salah... tapi jangan berpura-pura tidak mengenalku juga...." Ujar laki-laki itu kelihatan kesal.
Cih...!
Aku mendecih sebal.
Siapa juga yang pura-pura...
"Aku Ramdan... Aku tunangannya Anna. Kamu itu siapa? Kenapa bisa ada bersama tunanganku?" Ujar laki-laki yang mengaku bernama Ramdan sambil meraih tanganku berusaha menariknya lebih mendekat padanya. Tentu saja aku langsung menepis tangan itu.
"Tunangan...? Jangan ngarep...!" Tukasku. Enggak terima aku, kalau dia ngaku-ngaku jadi tunanganku.
Mas Bagas menepuk-nepuk punggung tanganku yang ada diatas pendorong kursi rodanya, berusaha menenangkan ku.
Aku menunduk menatap wajahnya masih dengan ekspresi gusar. Tapi mas Bagas malah melempar senyum menyuruhku bersabar.
"Oh kamu tunangannya? Kenalkan... aku Bagas... Suaminya. Mulai sekarang status kamu menjadi mantan tunangannya...." Ucap mas Bagas kemudian sambil menatap laki-laki itu dengan penuh percaya diri.
"Heh?! Enak saja... Enggak bisa gitu dong..." Laki-laki yang katanya bernama Ramdan itu langsung mencak-mencak.
"Anna, kamu enggak bisa memutuskan pertunangan ini secara sepihak..."
"Enggak perduli.... Aku enggak sudi jadi tunanganmu...!" Sahutku mantap. Membayangkan adegan dia berbuat mesum saja sudah bikin aku jijik. Apalagi membayangkan dia jadi tunanganku.... hih! Tambah pengen muntah rasanya.
"Eh, kalian...! Berhenti bertengkar. Ayo ditunggu bapak dan ibu di ruang makan..." Sela Yoga yang baru datang menengahi.
"Mbak, mas, ayo... " Ajaknya. Lalu tanpa ba bi bu lagi langsung menggandeng tanganku memandu nya ke ruang makan. Aku mengikutinya dengan mas Bagas di depanku. Meninggalkan Ramdan yang kelihatan masih jengkel dibelakang. Aku bisa menduganya karena bisa mendengar dia menghentak lantai dengan keras.
Makan malam itu berlangsung dengan agak canggung. Hatiku yang semula sudah merasa tenang karena berhasil bertemu dengan keluargaku, kini kembali risau setelah bertemu dengan seorang wanita lain yang juga mengaku sebagai Ibuku.
Entahlah... ada dugaan buruk muncul. Jangan-jangan aku ini anak yang diadopsi... Tapi mereka bilang tadi, tidak ada yang mengadopsi aku... Tapi mana mungkin aku punya dua ibu kan?
Belum lagi rasa tidak enak karena sepertinya mereka memandang rendah pada mas Bagas yang duduk di kursi roda seperti itu.
__ADS_1
Tenang mas.... Bagaimanapun keadaanmu, aku akan setia padamu...