
(Anna POV)
Bau menyengat menusuk penciumanku.
Perlahan-lahan kubuka mata... Silau. Ada dimana aku? Semua yang kulihat bernuansa putih...
Eh???!! Kok rasanya dejavu gini? Aku seperti pernah mengalami hal seperti ini. Jangan-jangan...
Seketika aku bangkit duduk. Ku edarkan pandangan ke seputar ruangan. Kosong, enggak ada orang.
Oh No...
Ini beneran rumah sakit. Baunya... furnitur dan tata letaknya... nuansanya... Beneran ini rumah sakit!
Kenapa aku ada di sini? Ada ingatan tentang diriku sendiri yang terbangun di rumah sakit dalam keadaan amnesia akut. Apakah itu semua mimpi? Apakah aku sekarang ini amnesia?
Kugali ingatanku... kuingat-ingat semua hal tentang diriku...
Namaku... Anna... Ya, aku ingat, namaku Anna... Widiana. Ayahku Yudhistira dan ibuku Sofia...Selain itu aku juga punya adik, ibu tiri dan bapak tiri...
Aku juga berusaha ingat alamat rumahku ... pekerjaanku... Semua aku ingat. Yang tidak aku ingat justru alasan, kenapa aku bisa ada di sini?
Aku kembali teringat dengan kenangan ku yang terbangun di rumah sakit tadi... Jangan-jangan, mimpiku tentang yang aku terbangun dalam keadaan amnesia di negri antah berantah itu jadi nyata... ?
Ya, walaupun aku yakin kalau aku enggak amnesia, karena aku bisa mengingat semua hal tentang diriku... tapi kenapa kejadian ini terasa familiar sekali... Apalagi nuansa rumah sakit ini benar-benar sesuai dengan yang ada dalam ingatanku.
No... Enggak... Jangan...
"IBUUUU....!!!!" Teriakku panik, sambil menarik lepas selang infus di tanganku. Aku juga berusaha segera turun dari ranjang pasien. Aku harus menghubungi pihak rumah sakit, agar mereka segera menghubungi keluargaku.
Pusing.
Aku turun dari ranjang dengan sedikit terhuyung. Kuraih tepian ranjang untuk berpegangan.
Hampir bersamaan dengan itu, dua pintu terbuka secara berurutan. Entah pintu mana yang terbuka lebih dulu, karena aku sendiri malah kembali terduduk di ranjang pasien itu. Dari luar muncul beberapa orang sekaligus, sedangkan dari dalam toilet muncul ibu.
"Ibu...!" Panggil ku lega saat mengenali sosok wanita yang tergopoh-gopoh mendekatiku.
"Anna... kamu sudah sadar?" Katanya sambil memelukku. Aku membalas pelukan ibu dengan sangat erat. Aku sungguh takut kehilangannya.
"Ibu...." Panggil ku sambil menangis seperti anak kecil. "Ibu... aku takut.." Kataku sambil menyusupkan wajahku ke dada ibu.
"Tenang sayang... tenang, jangan takut... ada ibu di sini... Tenang ya, nak." Bujuk ibu sambil mengelus kepalaku lembut.
"Ada apa?" Terdengar suara ayah bertanya.
Aku melepas pelukanku pada ibu untuk melihat keberadaan ayah. Dia kini sedang berdiri di samping ibu, menatap cemas kearah kami.
"Ayah...!" Panggil ku sambil merentang tangan minta dipeluk ayah. Ayah mendekat dan memelukku.
Aku yang dalam posisi duduk sedang ayah yang berdiri, membuatku hanya bisa mencapai perutnya. Karena itu, kususupkan wajahku di perut ayah.
__ADS_1
"Ayah... aku takut..." Adu ku pada ayah.
"Jangan takut sayang, ada ayah disini... ayah akan selalu melindungimu... " Ucap ayah sambil membelai punggungku.
Sungguh... Aku rindu pelukan dan belaian ini... Dalam pelukan ini aku merasa nyaman dan terlindungi.
"Mbak Anna..." Panggil seorang pemuda yang berdiri sedikit di belakang ayah. Aku mendongak...
"Yoga... " Panggil ku. Tanpa melepas sebelah tanganku di pinggang ayah, aku merentang sebelah tangan yang lain meminta pelukan dari adikku.
Yoga mendekat. Kami bertiga berpelukan erat. Air mataku terus mengalir... Tapi kini bukan air mata ketakutan lagi... tapi aku lega, karena ternyata, keluargaku justru sudah ada disini bersamaku.
"Alhamdulillah ya, Allah... Aku masih bisa bersama keluargaku... " Ucapku penuh syukur.
Aku menangis tergugu. Sungguh aku enggak mau kehilangan lagi. Biarlah yang ada dalam ingatanku tadi hanya sebatas mimpi...
Dokter masuk bersama seorang perawat. Entah siapa yang sudah memanggil mereka.
"Izinkan kami memeriksa pasien lebih dulu..." Kata dokter sambil menyeruak diantara orang-orang yang berkerumun di dekat ku.
Pelukanku pada ayah dan Yoga terurai. Perawat memintaku untuk kembali rebah, agar dokter bisa segera memeriksa ku.
Aku menurut, tapi mataku tetap terarah pada keluargaku yang berdiri tidak jauh dari ku. Aku takut, kalau tiba-tiba aku ditinggal sendirian di sana.
Dokter melakukan pemeriksaan padaku. Nadiku... detak jantungku juga tekanan darahku.
"Bagas dalam perjalanan kemari..." Ucap seseorang yang berdiri di samping ibu. Bapak... itu bapak. Aku mengenalinya. Tapi aku langsung terpikir saat mendengar nama "Bagas" disebutkannya.
Bagas... Bagas... Bukankah Bagas itu nama...
Kutatap wajah orang-orang yang ada dihadapanku itu satu-satu. Aku ingin memastikan kalau mereka benar-benar orang yang aku kenal. Ayah... ibu... Yoga, bapak... bahkan bunda... semua sesuai. Tapi kenapa muncul nama Bagas? Jangan-jangan nanti muncul juga nama Rara.. Darmawan... Santi... Yulia...
Beh! Kenapa ada sederatan nama lain yang muncul begitu saja dalam otak ini.
"Kenapa?" Tanya dokter terlihat khawatir.
"Ayah... Bagas...?" Nada suaraku menggantung. Bingung untuk menyampaikannya. Aku mau tanya "Bagas itu siapa?" Tapi Bagas yang aku kenal itu kan ada dalam mimpiku? Kenapa mereka bisa tahu?
"Iya, sayang... Tadi pak Rus sudah menghubungi calon suami mu itu.. sebentar lagi paling, mereka sampai di sini..." Jelas ayah.
Bagas, calon suamiku...? Bukannya tunangan ku itu bernama Ramdan?
Eh?!
Teringat akan nama Ramdan, membuat dadaku seketika sesak. Ada sesuatu yang tidak nyaman kurasakan tentang seseorang bernama itu....
Flashback On
"Ramdan..." Panggil ku sambil mendorong pintu rumah kontrakan tempat tunangan ku itu tinggal.
Aku tahu, tunanganku itu ada di rumah, karena mobilnya ada terparkir di garasi samping. Aku juga punya kunci rumah itu, jadi aku juga bisa langsung masuk tanpa menunggu orang membukakan pintu dari dalam.
__ADS_1
Karena panggilan pertama tidak ada sahutan, aku langsung masuk ke dalam. Celingak-celinguk enggak ada orang, aku langsung menuju kamarnya.
Palingan dia tidur ini...
Pikir ku sambil terus masuk.
Belum sampai ke kamar Ramdan, aku mendengar suara sesuatu jatuh di dapur rumah itu. Secara naluri, langkah kaki ku pun beralih ke sana.
"Ram say..." Panggil ku saat melihat sang tunangan ada di sana, sedang memungut sebuah sendok yang sepertinya terjatuh ke lantai.
Kulihat Ramdan serentak mendongak dengan sangat terkejut.
"An... na..." Katanya seperti tidak percaya kalau memang aku yang ada di depannya sekarang.
"Iy... ya..." Sahutku mengikuti lagu dia saat memanggil namaku tadi.
"Kok ada di sini? Emm maksudku... aku enggak dengar kamu masuk tadi...." Ucap Ramdan sambil berusaha mengatasi rasa terkejutnya.
"Masa.....? Aku udah panggil-panggil kamu tadi. Tapi enggak ada sahutan. Aku pikir kamu tidur. Aku baru mau lihat ke kamar kamu... " Ucapku sambil duduk di kursi pantry di hadapan Ramdan.
Aku baru menyadari, ternyata Ramdan sedang membuat jus... Dari aromanya aku tebak itu jus jeruk, tapi enggak murni jeruk itu... campur apalagi...? Wortel?
"Jus apa ini?" Tanyaku. memperhatikan dua gelas di hadapan ku.
"Jus jeruk... " Jawab Ramdan cepat.
"Campur apa?" Tanyaku lagi. Tapi fokus ku sudah mulai terpecah.
Kenapa ada dua gelas? Buat siapa yang satu lagi? Enggak mungkin untuk aku. Kan, dia tadi bilang, dia enggak tahu kalau aku datang...
"Wortel..."
DEG.
Sesuatu seperti menggelitik hati, menyusul suara lain membuat nafasku seketika memburu...
"Jus nya mana Say, kok lama banget sih..." Terdengar suara manja mengalun dari arah kamar.
Seketika aku menatap tajam kearah Ramdan. Ramdan balik menatapku dengan salah tingkah.
Tanpa banyak bicara, aku langsung memburu kearah asal suara tadi.
BRUAK!!!
Pintu aku banting terbuka. Kulihat seseorang yang aku kenal di sana. Mata kami sama-sama terbelalak. Hanya bedanya, dia terbelalak kaget. sedangkan aku terbelalak marah.
"Kamu....!!!"
Rasanya ingin ku ***** saja wajah itu.
...πππbersambungπππ...
__ADS_1
Sudah Up lagi, monggo mampir kakak-kakak reader... π Jangan lupa untuk meninggalkan jejak, supaya author tahu kalau kalian sudah mampir. πππ