
Jam setengah delapan pagi, di kamar Bagas. Nurul sudah selesai membantu Bagas bersiap-siap. Pagi ini Bagas hendak pergi ke kantor.
"Nur...!" Panggil Bagas. Saat itu Nurul sedang berada di kamar mandi untuk membereskan pakaian kotor yang akan dia bawa ke bagian laundry.
"Ya, tuan..." Sahut Nurul sambil melongokkan kepala melalui pintu kamar mandi. Dilihatnya tangan Bagas melambai menyuruhnya mendekat. Melihat itu, Nurul pun segera menyelesaikan pekerjaaannya dan segera mendekat.
"Ya, tuan..." Katanya lagi setelah berada dekat dengan majikan sekaligus suaminya itu.
"Ini... ini HP ku yang lama, sudah agak kuno memang, tapi masih bagus. Kamu pakai saja ini dulu. Nanti kalau ada waktu kita pergi cari HP yang baru..." Ucap Bagas sambil memberikan satu unit HP android yang kalau dilihat sepintas sih orang enggak akan tahu itu barang lama atau baru. Di mata Nurul, HP itu kelihatan masih mulus dan utuh.
"Terima kasih banyak tuan..." Ucap Nurul tulus, sambil menerma HP itu dari tangan Bagas. Sungguh, dia merasa begitu tersentuh oleh kebaikan tuannya ini.
"Tapi sepertinya saya tidak memerlukan HP tuan, saya tidak punya nomor kontak siapapun untuk saya hubungi..." Ucap Nurul sedikit ragu.
"Kamu mungkin merasa tidak perlu, tapi aku kesulitan untuk memanggil kamu kalau aku tidak tahu kamu ada dimana..." Sahut Bagas cepat.
"Oh, maaf... " Nurul terlupa akan keterbatasan suaminya. Nurul membolak-balik HP itu, berusaha memahami, dimana tombol-tombol penting berada.
"Disitu sudah ada sim card-nya. Ada juga nomorku. Jangan sampai HP itu kamu tinggal kececeran di sembarang tempat." Bagas menjeda ucapannya sementara Nurul mengangguk paham.
"Kalau aku telpon, segera angkat. Aku enggak mau, waktu aku telpon, kamu enggak angkat dengan alasan HP nya ketinggalan ..." Bagas mewanti-wanti pada Nurul. Nurul kembali mengangguk.
"Kamu juga, kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi aku lewat nomor itu ..." Imbuh Bagas. Sekali lagi Nurul mengangguk. Bagas yang selama bicara tadi memperhatikan ekspresi wajah Nurul jadi gemes melihat Nurul mengangguk-angguk begitu.
__ADS_1
"Manggut-manggut saja seperti hiasan dashboard..." Gumamnya pelan sambil mengulum senyum, karena diam-diam dia membayangkan model hiasan mobil itu.
"Heh? Maaf tuan, saya kurang bisa menangkap. Barusan tuan bicara apa ya?" Tanya Nurul yang memang tidak menangkap gumaman Bagas dengan jelas karena perhatiannya sudah terpecah pada HP yang ada ditangannya. Nurul kembali memfokuskan pikiran dan pandangannya kembali pada Bagas.
"Enggak, bukan apa-apa." Elak Bagas kembali menunjukkan wajah seriusnya. "Sudah, sekarang aku mau pergi dulu..." Katanya berpamitan. Dan lagi-lagi Nurul mengangguk menanggapi ucapannya.
"Nur, kalau kamu mengangguk sekali lagi. Aku cium kamu sekarang juga." Celetuk Bagas kembali merasa gemes karena melihat Nurul mengangguk untuk kesekian kalinya.
"Heh?!"
Nurul malah bengong enggak paham mendengar ucapan Bagas yang menurutnya sama sekali enggak nyambung. Siapa yang menyangka, justru ekspresi wajah Nurul yang polos itu malah memicu reksi spontan Bagas.
Serta merta Bagas meraih lengan Nurul hingga Nurul terjatuh ke pangkuannya. Belum sempat Nurul berfikir apa yang terjadi, Bagas langsung menarik wajah Nurul mendekat dan melancarkan serangannya di wajah polos itu.
Bagas mencium pipi Nurul kanan kiri bolak-balik. Membuat Nurul sedikit pusing karena sensasi yang tersalur dari ciuman itu. Belum lagi kepalanya yang dibuat bergoyang ke kiri ke kanan mengikuti gerakan tangan Bagas yang bolak-balik.
Nurul masih agak shock menerima perlakuan Bagas yang tiba-tiba itu. Dia menatap tak fokus pada Bagas yang bergerak menuju pintu kamar. Agak bingung dia... Setahu dia, tuannya itu yang memulai, lalu kenapa juga dia yang menggerutu? Sampai dia mendadak teringat sesuatu.
"Tuan..." Panggil Nurul saat Bagas sudah hampir mencapai pintu. Bagas menghentikan gerakannya. Dia tidak bicara apa-apa, tapi dia menatap Nurul menunggunya melanjutkan ucapannya.
"Saat tuan tidak ada, bolehkah saya bergabung dengan teman-teman lain di ruang belakang? Ya... barangkali ada yang bisa saya lakukan di sana tuan..." Tanya Nurul.
Terlihat Bagas seperti berpikir sebentar sebelum mengangguk mengizinkan. Setelah itu dia kembali bergerak untuk berbalik lanjut menuju pintu, tapi Nurul kembali memanggilnya.
__ADS_1
"Tuan..."
Bagas kembali menoleh ke arah Nurul. Dilihatnya Nurul berjalan cepat mendekat padanya. Dahi Bagas sedikit berkerut. "Nurul mau ngapain?" Pikirnya.
Langkah Nurul terhenti didepan kursi roda Bagas.
"Maaf tuan, bolehkah...?" Nurul tidak menyelesaikan ucapannya, tapi badannya membungkuk, sementara tangannya terulur meminta Bagas membalas uluran tangan itu.
Perlahan dengan sedikit canggung, Bagas membalas uluran tangan Nurul. Nurul segera meraih telapak tangan Bagas dan mencium punggung tangannya dengan takjim.
"Saya mohon berkah dan restu anda hari ini, tuan..." Bisik Nurul lirih, seperti berbicara dengan dirinya sendiri, saat hidungnya menyentuh punggung tangan itu. Hati Bagas tergetar mendengar bisikan itu. Perlahan tangan kirinya menyentuh kepala Nurul yang masih membungkuk kearahnya. Diusapnya kepala itu dengan penuh sayang.
"Hati-hati di rumah... aku pergi." Ucap Bagas, setelah genggaman tangan mereka terurai. Nurul mengangguk.
"Boleh saya antar anda sampai pintu tuan?" Tanya Nurul. Bagas menoleh kembali kearah Nurul dan mengangguk. Nurul tersenyum senang. Bagas juga tersenyum samar. Dalam hatinya ada keharuan bercampur kebahagiaan menerima perhatian dari Nurul. Melihat seorang istri mencium tangan suaminya itu sudah biasa untuk Bagas. Tapi mengalaminya sendiri memberi sensasi lain di hatinya. Apalagi mendengar bisikan Nurul tadi. Dia merasa begitu di hormati. Tidak pernah terlintas sebelumnya dalam benak Bagas, kalau ada seseorang yang akan memohon restu dan berkah pada dirinya. Layakkah dia memberikan itu semua pada wanita yang sekarang menjadi istrinya?
Nurul mengantar Bagas hingga dia naik ke mobilnya. Dia memperhatikan sopir yang membantunya melipat kursi roda dan menaruhnya di bagasi belakang. Setelah mobil berlalu, baru Nurul masuk kembali ke dalam rumah.
Sewaktu keluar tadi, karena mengikuti Bagas, mereka keluar lewat ruang tamu dan ruang keluarga, dimana para nyonya sedang duduk-duduk, entah sedang membicarakan apa. Nurul tidak berani untuk ikut mendengarkan. Tapi saat masuk kembali ke dalam rumah, Nurul tidak berani untuk lewat situ lagi. Nurul memilih untuk berjalan sedikit memutar lewat ruang garasi yang mempunyai pintu tembusan langsung ke ruang belakang. Dari sana, dia kembali ke kamar Bagas sebentar untuk mengambil pakaian kotor yang akan dia serahkan ke bagian Laundry, sekaligus memastikan kalau keadaan kamar sudah kembali rapih seperti seharusnya. Setelah itu, baru Nurul bergabung dengan teman-teman di dapur untuk membantu mereka.
...®bersambung®...
...*®*...
__ADS_1
...*®*...
...*®*...