Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Halalin dong...


__ADS_3

Aku melanjutkan pekerjaanku dengan hati tenang. Gimana enggak... perut sudah kenyang, yang mengawasi kerjaan kita enggak ada, mau kerja sambil jungkir balik juga enggak akan merasa canggung dan malu. Belum lagi di meja masih ada makanan yang masih bisa ku santap, walaupun cuma tumis kangkung... Wes, pokoknya hari ini aku kerja enjoy banget. Sesaat aku lupa kalau aku ini cuma seorang pelayan di sini... 🀭


Iseng-iseng aku buka aplikasi pemutar lagu di komputer yang aku pakai. Enggak apa-apa kali ya... kerja beginian sambil ngedengerin lagu. Aku masukkan sejumlah lagu ke playlist. Dan ternyata..., koleksi lagunya tuan rupanya familiar di telingaku. Aku pun semakin enjoy mengerjakan tugas ku.


Iseng-iseng aku buka satu file lain di aplikasi yang sama. Asli cuma iseng, karena sebenarnya aku cuma penasaran, ini komputer kok di pasrahkan begitu saja buat aku buka, apa enggak takut aku ambil datanya? Iya kali aku ini seorang mata-mata.... (korban film James Bond kali...) πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ Eh, ternyata pas aku buka, minta pasword.... Ah, udahan ah. Nanti ketauan tuan malah jadi masalah lagi. Ya sudah... aku fokus sama kerjaan yang sedang aku kerjakan saja.


Jam empat sore, aku berhenti melototin komputer. Selain mataku sudah berair, kepala juga rasanya seperti nyut-nyutan.


"Tuan akan segera pulang enggak ya?" Tanyaku pada diri sendiri. Kuperhatikan keadaan seputar ruangan. Selain area meja, semua masih rapih.


"Ya sudah... aku mandi dulu aja deh... nanti dilanjutkan lagi..." Kembali aku bicara sendiri.


Aku meregangkan tubuh yang kaku karena berlalu lama duduk. Komputer aku matikan setelah yakin datanya aku save. Kertas-kertas juga aku rapih kan lagi sesuai urutan yang harus dikerjakan.


Tidak ketinggalan, sebelum keluar kamar, aku juga merapihkan meja sofa dan meja kerja dulu. Aku takut, nanti pas aku keluar, tuan datang dan melihat mejanya berantakan bisa marah dia.


Setelah yakin semuanya beres. Aku keluar kamar. Pintu aku tutup, tapi tidak aku kunci. Aku enggak tahu dimana kuncinya... Lagi pula, ini kan di lingkungan rumah... enggak apa-apa kali ya... meninggalkan dokumen-dokumen itu di sana... Diiih, kenapa jadi parno enggak jelas gini sih?


Aku melangkah menuju ruang belakang, untuk mengembalikan piring bekas wadah tumis. Baru saja melewati ambang pintu, aku sudah disambut dengan heboh oleh Sulis dan kawan-kawan.


Intinya sih mereka menungguku untuk gabung dengan mereka bikin video tik tok, tapi cara mereka menarik dan mengajakku seperti orang yang mau nganterin ibu-ibu lahiran... πŸ˜‚


"Boleh, tapi aku mandi dulu ya... udah sore nih." Sahut ku.


So... sepakat deh. Selesai mandi nanti aku ditunggu mereka di halaman belakang. Halaman itu cukup luas buat kita ngedance berempat...


"Cepetan mandinya...!" Seru Sulis saat aku sudah berbalik mau ke kamar.


"Iya... Iya...!" Seruku balik.


Aku melangkah menuju kamar, mau ambil alat-alat mandi dan pakaian ganti, soalnya kamar mandi kami serupa kamar mandi umum, kadang kita harus nunggu dan antri buat mandi.


Tapi dasar orang lagi jadi most wanted person kali, ya. Baru saja tanganku menyentuh handle pintu, belum sempat masuk, Nani terlihat berjalan mendekat.


"Nur...! Panggilnya.


Aku mengurungkan niat untuk masuk kamar dan berdiri menunggunya.


" Ada apa?" Tanyaku setelah Nani mendekat.


"Kamu ditunggu nyonya Supami...." Jawab Nani kemudian.

__ADS_1


"Heh? Ada apa? " Tanyaku lagi.


Enggak tahu kenapa, setiap mendengar kalau aku dipanggil nyonya super besar ini, kok dadaku seperti deg degan enggak jelas gitu. Ada aja rasa takut kalau aku sudah melakukan kesalahan.


"Yey..! Mana aku tahu... " Sahut Nani. "Udah sana cepetan... " Sambung Nani kumat bossy nya.


"Ya... padahal aku pengen mandi dulu... gerah sekali rasanya... " Kataku setengah berbicara pada diri sendiri.


"Udah... mandinya ntar aja, temui dulu nyonya..." Kembali Nani mengeluarkan mode bossy nya.


"Ya udah, deh... " Kataku.


Batal masuk kamar, aku lalu melanjutkan langkah menuju kamar nyonya.


Tok tok tok


"Masuk... " Terdengar sahutan dari dalam.


Seperti kemarin, aku menghela nafas dulu sebelum mendorong daun pintu itu.


"Permisi Nyonya... " Sapaku.


Seperti biasa, nyonya sedang duduk di kursi kesayangannya di tepi jendela.


"Bagaimana pekerjaan kamu hari ini... ?" Tanya nyonya.


"Emmm Rasanya sejauh ini baik-baik saja, nyonya." Jawabku. Aku pikir pekerjaanku baik-baik saja ... kan? (kenapa aku jadi ragu begini?) Tapi aku belum mendapat komplain dari tuan. jadi mustinya semua baik-baik saja .


"Baguslah kalau semua baik-baik saja... Apa ada pekerjaan yang kamu sulit untuk melakukannya?" Tanya nyonya lagi.


Sejenak aku berpikir. Adakah pekerjaan yang aku enggak bisa kerjakan? Sebenarnya semuanya pekerjaan mudah sih... cuma... Aku teringat saat harus membantu tuan mandi.


"Kenapa diam? ... Kalau memang ada kesulitan, kamu bilang saja, biar nanti dicarikan solusinya..." Tanya nyonya, saat aku tidak segera menjawab pertanyaannya.


"Sebenarnya bukan sulit nyonya... cuma, saya merasa tidak pantas..." Jawabku akhirnya berusaha jujur.


"Tidak pantas bagaimana? " Tanya nyonya lagi karena tidak mengerti.


"Ng... Anu nyonya... "


Akupun menceritakan tentang tugasku membantu tuan mandi. Aku juga menyampaikan, kalau aku merasa tidak pantas jika harus membantunya seperti itu.

__ADS_1


"... maafkan saya nyonya... tapi saya sungguh merasa malu..." Sambung ku.


"Ya habis bagaimana lagi... Kondisi dia memang sakit, dan dia butuh bantuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari... Justru karena itulah, aku menyuruhmu membantunya... " Ucap nyonya.


Aku terdiam. Jadi intinya, aku masih harus terus sport jantung setiap hari nih? Belum lagi aku harus terus menjaga supaya otakku ini enggak travelling kemana-mana, setelah menyaksikan pemandangan yang begitu mengoda iman. Seketika aku teringat body tuan untuk putih dan cukup kekar walaupun dia terus duduk di kursi roda. Enggak kebayang, gemana tuh body kalau dalam posisi berdiri tegak... Eh...!!!??? πŸ˜‚


"Mungkin sebaiknya tuan menikah, nyonya... agar tuan ada yang membantunya untuk urusan seperti itu..." Usul ku memberanikan diri.


Sunyi.


Aku memberanikan diri mendongak melihat ekspresi wajah nyonya, tapi aku seketika menunduk lagi, saat mendapati nyonya ternyata sedang menatap ku.


"Maaf nyonya... maafkan saya sudah berani lancang... " Ucapku buru-buru sambil membungkuk dalam-dalam, karena takut nyonya tersinggung dengan ucapan ku tadi.


"Nur... kalau kamu yang melayani cucuku Bagas, apakah kamu mau?" Tanya nyonya setelah beberapa saat terdiam.


"Saya akan melaksanakan yang nyonya perintahkan.... " Jawabku lugas. Buatku, nyonya ini bukan hanya sebagai majikan, tapi juga ganti orang tua ku yang entah berada dimana sekarang.


"Aku tidak memerintah, tapi aku meminta..." Ralat nyonya, membuatku semakin tidak sanggup untuk berkata 'tidak'.


"Ya, nyonya... saya bersedia..." Ujarku. Ya, akhirnya aku memang harus mengabaikan rasa jengah dan sungkan. Aku harus siap melakukan pekerjaanku apapun resikonya.


"Baiklah... Terima kasih atas kesediaanmu. Besok kita bicarakan lagi masalah ini... sekarang kau boleh kembali ke kamar mu."


"Baik nyonya... Permisi... " Ujarku.


Aku lalu berdiri dan berjalan mundur beberapa langkah, sebelum berbalik dan keluar dari ruangan nyonya.


Kututup pintu dibelakangku dengan sehalus mungkin hingga tidak bersuara sama sekali kalau bisa.


Kembali melangkah menuju kamar untuk melanjutkan niat mandi yang tadi tertunda. Sambil jalan aku terus berpikir, betapa baiknya nyonya... beliau mau merendahkan dirinya meminta padaku untuk bersedia melayani cucunya. Padahal dengan memerintah pun aku sudah bersedia melakukannya setulus hati. Walaupun dalam pelaksanaannya aku masih keberatan soal yang 'satu' itu...


Aku tetap berpikir, kalau pekerjaan seperti itu seharusnya dilakukan oleh orang yang memang mempunyai hubungan halal dengan tuan.


Duh, tuan... tugas ini membuatku ingin dihalalkan untukmu... Ups...! Mikir apa aku ini...? πŸ€¦β€β™€οΈ


.


.


.

__ADS_1


...πŸ‘‰bersambungπŸ‘ˆ...


.


__ADS_2