Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Kembali ke rumah Bagas


__ADS_3

(author POV)


Mobil masuk ke halaman rumah yang untungnya cukup luas, hingga ketiga mobil itu dapat parkir secara berdampingan.


Bagas dan Nurul turun lebih dulu dan langsung mengarah pada nyonya Supami, Santi dan Yulia yang kebetulan sedang duuduk-duduk di teras sambil mengobrol ringan. Ketiganya langsung menatap Bagas dan Nurul yang berjalan mendekat.


"Assalamu'alaikum, bu... Nek..." Salam Bagas, saat mereka sudah dekat.


"Waalaikum salam... " Sahut ketiganya hampir bersamaan.


Bagas langsung menyalami dan mencium tangan nenek dan kedua ibunya.


Ragu-ragu Nurul ikutan mendekat dan ikut mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan ketiga nyonya itu.


"Assalamu'alaikum, nyonya..." Sapanya takjim.


"Waalaikum salam, sahut mereka sambil menerima uluran tangan Nurul, tapi mata ketiganya terfokus pada penumpang dua mobil lainnya yang turun satu persatu. .


" Siapa mereka?" Tanya nyonya Supami pada Bagas. Santi dan Yulia tidak ikut bersuara, tapi pertanyaan yang sama terpancar dari mata mereka.


"Eh, yang turun dari mobil hitam itu kok seperti pernah lihat ya...?" Terlontar ucapan itu dari Yulia. Santi menatap madunya itu sekilas lalu menajamkan pandangan kembali pada tamu mereka.


"Emmm... nenek... ibu... mereka itu keluarga dari Nurul..." Jawab Bagas.


Ketiganya langsung menoleh ke arah Nurul, seakan tidak percaya kalau mereka adalah keluarga nya, atau tidak percaya kalau ternyata Nurul keturunan keluarga tajir??? 🤭


Ya, dilihat dari mobilnya, mereka bisa menduga seperti itu. Mobil yang satu yang berwarna hitam memang terlihat biasa-biasa saja, tapi mobil yang satunya, yang berwarna beige... Orang yang tidak mengerti otomotif juga bisa menilai kalau mobil itu pasti mobil mahal


"Assalamu'alaikum, nenek... tante... kenalkan saya Yoga, adik dari mbak Anna... " Kata Yoga yang tahu-tahu sudah berada di dekat mereka.


Perhatian mereka langsung teralih padanya. Yoga mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Ketiga nyonya menerima uluran tangan itu. Yoga menyalami mencium punggung tangan mereka satu-satu.


"Anna...?" Ulang Santi sambil menyalami Yoga.


'Iya tante...Dia Anna. Kakak saya. " Ucap Yoga sambil menunjuk pada Nurul. Semua kini menatap ke arah Nurul. Tapi cuma sebentar, karena sudah terdengar suara langkah kaki lain mendekat kearah mereka.


"Assalamu'alaikum... " Sapa Sofia dan Retno mewakili para suami mereka.


"Waalaikum salam..." Jawaban salam itu untuk kesekian kalinya terucapkan. Melihat tamu mereka sudah berdiri di dekat mereka, ketiga nyonya itu segera bangkit dari posisi duduk mereka, hingga mereka semua kini sudah berdiri berhadapan.


"Kenalkan nyonya... saya Yudhis, ayah dari Anna... " Ucap Yudhistira mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Yulia yang menerima uluran tangan itu lebih dahulu disusul oleh Santi. Sementara nyonya Supami masih harus mencerna ucapan Yudhis.


"Anna?" Ulang nyonya Supami kembali menatap Nurul.

__ADS_1


"Benar nyonya... Anak perempuan yang sekarang berada di belakang nyonya itu adalah putri kami satu-satunya.. dan dia bernama Anna. Widiana." Jawab Yudistira.


Perlahan seakan ragu, nyonya Supami menerima uluran tangan Yudhis.


"Jadi, namamu Anna? Apakah ingatanmu sudah kembali?" Tanya Yulia kembali menatap Anna.


"Saya belum bisa mengingat apa-apa nyonya. Kebetulan saya bertemu dengan keluarga tuan ini dan mereka bilang kalau saya anak mereka... " Jawab Nurul jujur.


"Apa kau yakin kalau kau ini anak mereka? Bagaimana kalau mereka hanya mengaku-ngaku saja? " Bisik Yulia pada Nurul. Nurul tersenyum kecil mendengar bisikan itu. Dia sama sekali tidak melihat alasan yang menguntungkan buat mereka, hingga mereka mau mengaku-ngaku dirinya sebagai anak mereka..


"Monggo... silahkan masuk... " nyonya Supami mempersilahkan tamu-tamu mereka untuk masuk. ke dalam rumah.


Santi dan Yulia segera mengikuti teladan mertua nya.


"Monggo bapak-bapak serta ibu-ibu, masuk... monggo. " Ucap mereka bersahutan.


Satu persatu mereka masuk ke dalam rumah.


"Monggo, silahkan duduk... " Ucap nyonya Supami sambil mendahului duduk di kursi panjang yang terbuat dari untaian rotan, dengan bantalan kursi kotak diatasnya.


Satu persatu mereka duduk.


"Yulia, minta pelayan untuk membawakan minuman buat tamu kita... " Perintah nyonya Supami pada menantunya. Sesaat kening Yulia berkerut.


"Inggih, bu." Katanya dan langsung berbalik pergi.


"Santi... dimana suamimu?" Tanya nyonya Supami pada menantunya yang lain.


"Eh.. Sepertinya tadi pagi, mas Wawan pamit mau lihat sawahnya yang di Kedung..." Jawab Santi.


"Coba telpon. Katakan di rumah ada tamu... " Perintah nyonya Supami.


"Inggih, bu..." Sahut Santi segera. "Maaf, saya permisi dulu..." Santi berpamitan sebelum beranjak pergi.


"Inggih monggo silahkan... " Ucap ibu mewakili.


Setelah Santi pergi, nyonya Supami kembali menghadapi tamunya.


"Alhamdulillah, Nurul sudah bisa bertemu dengan keluarganya... Bagaimana ceritanya...?" Tanya nyonya Supami sambil mengedarkan pandangannya bergantian pada masing-masing tamu.


"Iya, nyonya... Alhamdulillah... Semua berawal dari mobil nak Bagas yang mengalami kerusakan.. Kersaning Allah(1), bengkel yang dipanggil kok ya bengkel bapaknya ini... " Cerita ibu penuh semangat, sambil menunjuk pada suaminya.


"Iya, nek... Disana mbak Anna bertemu dengan ibu. Ibu yang shock melihat mbak Anna tahu-tahu ada di depannya malah pingsan.. " Lanjut Yoga yang langsung disusul oleh tawanya. Padahal pas kejadian itu sama sekali enggak lucu. Panik yang ada.

__ADS_1


"Waktu itu, saya nolongin ibu e, menggotongnya masuk ke rumah, Yoga yang nyusul Anna yang sepertinya ketakutan sudah bikin orang pingsan. Waktu itu ... entah bagaimana, Anna malah ikutan pingsan, hingga nak Bagas membawanya ke rumah sakit... " Lanjut Ruswanto.


"Sesaat kami bingung, karena tidak tahu, kemana nak Bagas membawa Anna. Hingga kemudian kami teringat pada supir nak Bagas yang masih tinggal di bengkel karena menunggui mobilnya yang masih diperbaiki. Kami minta dia untuk menelpon nak Bagas dan bertanya, kemana nak Bagas membawa Anna. Dari supir nak Bagas, kami diberitahu nama rumah sakitnya..."


"Enggak disangka... ternyata Anna dibawa ke rumah sakit tempat ayahnya sedang dirawat... " Sambung bunda.


"Sik... sik... Sebentar... Ini bapaknya Anna...?" Tanya nyonya Supami sambil menunjuk Ruswanto. Ruswanto mengangguk.


"Lalu... njenengan(2) ini...? Ayahnya?" Tanya nyonya Supami lagi belum mengerti. Gantian Yudhis kini yang mengangguk.


"Oalah, Rul... Nurul... Bejo kowe ndhuk (3) dari tidak punya keluarga, sekarang tahu-tahu kamu punya keluarga yang sangat lengkap..." Komentar nyonya Supami sambil tertawa kecil.


"Iya nyonya..." Sahut Nurul sambil mesem.


"Lah, terus..?" Nyonya Supami kembali meminta tamunya untuk melanjutkan cerita.


"Njenengan sakit apa kok sampai dirawat di rumah sakit?" Tanya nyonya Supami pada Yudhis.


"Ya itu... Kepikiran anaknya yang enggak tahu nasibnya. Dicari sampai berbulan-bulan enggak juga ketemu, membuat ayahnya ini agak stres dan kondisi badannya jadi lemah, hingga akhirnya pingsan waktu ada acara perusahaan... " Retno yang menjawab.


"Oalah..." Komentar nyonya Supami ikut terhanyut dengan cerita Retno.


"Bu... mas Wawan sudah dalam perjalanan pulang, mungkin sebentar lagi sampai..." Ucap Santi yang sudah muncul lagi dari dalam rumah memberi tahu sang mertua.


"Oh iya..." Jawab nyonya Supami.


Bersamaan dengan itu, Yulia juga sudah datang lagi diikuti oleh Maya yang membawa beberapa gelas minuman diatas nampan.


"Nurul...! " Panggil Maya kelepasan agak keras saking gembiranya bertemu lagi dengan Nurul.


"Hai...!" Sambut Nurul hampir tanpa suara. Tapi ekspresi dan lambaian tangannya menunjukkan kalau dia juga sama-sama senang bisa bertemu Maya. Hanya saja dia masih saja sungkan pada ketiga nyonya di depannya kini.


...🌹🌹🌹bersambung 🌹🌹🌹...


-----


Kersaning Allah(1)\= Dengan Kuasa Allah


Njenengan(2)\= anda


Bejo kowe ndhuk(3) \= Beruntung kamu nak


...

__ADS_1


__ADS_2