
Aku pergi ke kamar mandi. Untung saja enggak ada antrian, mungkin karena aku yang paling akhir bersih-bersih di waktu dzuhur ini kali ya...🤔ðŸ¤
Aku mandi dengan cepat, takut waktu sholat dzuhur keburu habis. Selesai berpakaian, aku segera kembali ke kamar.
"Nur, kamu punya HP?"
Pertanyaan dari Tati langsung menyambut ku begitu aku masuk ke dalam kamar.
"Euh? Eh, iya..." Sahutku. Agak bingung juga, dari mana dia tahu kalau aku punya HP? Soalnya tentang HP ini aku belum cerita atau menunjukkannya pada siapapun.
"Itu tadi HP nya bunyi... " Ucap Tati kemudian memberi tahu.
"Oooh." Aku mengucapkan oh itu tanpa suara. Pantas saja dia tahu aku punya HP. Lah, barangnya bunyi.
Sekilas aku mengecek, siapa yang telepon, nama Bagas tertulis pada daftar misscall. Usai membaca nama itu, baru aku engeuh. Harusnya aku enggak perlu melakukan itu... siapa lagi yang telepon aku kalau bukan tuan Bagas? kan cuma ada nomor dia doang di HP itu... 😅
"Telepon balik enggak ya? Tapi nanti lama, waktu dzuhur udah mepet lagi..." Pikirku.
"Ah, sholat dulu aja lah, Dimarahin tuan masih lebih mending daripada dimarahin sama Allah..." Putus ku kemudian.
Akhirnya aku memakai segera mukena dan menggelar sejadah di samping pembaringanku lalu berusaha abai dengan sekitar untuk beberapa waktu. Tapi baru saja satu rakaat, HP itu kembali berdering.
"Fokus... fokus... " Pikirku lagi menyela untaian bacaan sholatku. Untung saja deringnya enggak terlalu lama. Aku kembali meng-khusyu-kan diri untuk sholat.
Usai sholat dan membaca doa singkat, aku segera meraih HP itu.
"Dari siapa?" Tanya Tati lagi. Rupanya dia masih ada di kamar ini. Kulihat dia sedang duduk melipat pakaiannya yang sepertinya baru dia ambil dari jemuran.
"Euh? Oh ini... tuan Bagas..." Jawabku.
Sekarang gantian Tati yang mengucapkan O panjang tanpa suara.
Masih dengan memakai mukena, aku menelpon balik pada tuan Bagas.
Tuuut... tuuut... tuuut
Terdengar nada memanggil.
"Halo... " Terdengar sahutan dari tuan Bagas.
"Halo, tuan assalamu'alaikum..." Sapaku.
"Waalaikum salam. Kamu ini kemana saja... sudah dibilangin HP nya jangan ditinggal-tinggal... "
Omelan tuan berhenti, aku lihat tuan meminta panggilan video. Aku tarik gambar video itu ke atas meng-oke-kan permintaan.
"Dimana kamu sekarang?" Tanya tuan.
Sepertinya dia sedang memindai suasana background tempat aku sekarang. Spontan aku juga memperhatikan background tempat tuan berada sekarang. Enggak jelas gambarnya, enggak tahu dimana. Dan aku juga enggak berani bertanya, ada dimana dia sekarang.
"Di kamar saya tuan..."
"Kamu habis sholat?" Tanyanya lagi. Mungkin karena dia melihat aku masih memakai mukena.
"Iya, tuan... " Sahutku.
"Jam berapa ini? Kenapa baru sholat sekarang? Ngapain aja kamu sampai jam segini baru sholat? Ini sholat dzuhur atau ashar? "
__ADS_1
Beuh... banyak sekali pertanyaannya. Seperti rentetan peluru di game FF... 🤠Belum juga pertanyaan itu aku jawab, sudah muncul lagi pertanyaan baru.
"Ada siapa bersamamu sekarang?" Tanya tuan.
"Itu ada Tati, sedang melipat pakaian..." Jawabku sambil memindah fungsi lensa ke kamera belakang, menunjukkan gambar Tati. Tati yang semula memperhatikan ku sedikit terkejut. Dia mengangguk sungkan saat kamera HP aku arahkan padanya. Padahal dia sendiri tidak melihat refleksi gambar dia di layar HP itu. Cuma sebentar, setelah menunjukkan keberadaan Tati, aku kembali menggunakan lensa kamera depan.
"Nur, coba tanyakan pada anak kandang... " Ucap tuan Bagas kemudian, saat kami sudah berhadapan lagi lewat layar HP.
"Itu sekemnya, sudah selesai di angkut belum... Kalau sudah, suruh cepat-cepat di pel. Minggu depan ayam baru akan datang... " Lanjut tuan.
"Baik tuan... Selesai melepas mukena ini, saya akan langsung ke kandang... " Jawab Nurul.
"Hem... ya sudah... assalamu'alaikum..." Salam tuan.
"Waalaikum salam..."
Sambungan telepon terputus. Aku segera membuka dan melipat mukena yang aku pakai. Aku gulung mukena itu bersama sejadah nya, lalu aku letakkan di atas kasur.
"Tat, aku ke kandang dulu..." Kataku pada Tati. Tati mengangguk.
"Nanti kalau ketemu Sulis, bilangin aku ada disini ya... " Pesan Tati. Aku yang sudah mau lanjut melangkah terhenti sejenak.
"Kalian mau ngapain?" Tanya ku kepo.
"Biasa... merancang untuk bikin video tik tok..." Jawab Tati sambil terkekeh. "Kamu mau ikutan?" Tambahnya bertanya.
"Eng... enggak tahu, bisa atau enggak ya? Lihat ntar aja deh..." Putus ku.
Tati cuma menggedikkan bahu tanda "terserah".
" Yuk ah, aku pergi dulu... " Pamit ku.
HP aku masukkan ke dalam saku baju. Dengan langkah agak cepat, aku pergi ke kandang lewat pintu dapur.
"Belum selesai?" Sapaku pada temanku yang masih mencetak kue pukis, saat aku melintas di sana.
"Eh, Hai. Tinggal sedikit lagi..." Katanya sambil menunjukkan panci tempat adonan dengan dagunya. Tangannya masih sibuk mencukit kue yang sudah matang dari cetakannya.
"Baunya harum banget... " komentarku.
"Mau cicip? Ambillah... " Tawar temanku itu sambil tersenyum.
"Iya, tapi nanti dulu. Aku mau ke kandang dulu..."
"Mau ngapain?"
"Disuruh tuan... "
"Oh... Eh, nanti kalau ketemu Sulis, bilangin. Bikin pukis udah mau selesai. Tugas dia yang menyusun kue ini dan mengantarkannya ke masjid..."
"Memangnya Sulis kemana?" Tanyaku.
"Biasa... menyambangi kakang Teguh nya..." Jawab temanku itu sambil tertawa. Aku ikutan tertawa mengingat sikap Sulis yang kadang bucin, tapi sok jual mahal gitu pada Teguh.
"Harus diantar segera ya? " Tanyaku iseng. "Itu kan masih panas..."
"Sambil nanti diwadahin ke kotak kue kan juga dingin, Nur. Itu kata bu Modin, kuenya minta diantar jam tiga-an..." Terang temanku. Aku mengangguk.
__ADS_1
Sekedar informasi, Modin itu bukan nama orang, tapi sebutan untuk seorang petugas/perangkat desa. Nama aslinya aku enggak tahu, Orang-orang memanggilnya bu modin, karena dia istri dari sang perangkat desa.
"Dah, aku pergi dulu, ya." kataku kemudian. Temanku mengangguk.
Aku kembali melangkah. Baru saja mencapai area kandang, HP di saku sudah terdengar berdering lagi.
"Iya, assalamu'alaikum tuan... " Sapaku setelah menyambungkan panggilan.
"Waalaikum salam. Gimana sudah selesai belum? " Tanya tuan langsung.
"Baru juga sampai kandang tuan. Saya belum sempat tanya... " Jawabku. Mataku segera beredar mencari anak kandang yang bisa ditanyai.
"Ya, sudah. Sambungkan langsung saja ke anak kandang. Aku mau bicara sendiri.. " Perintah tuan.
"Ya, tuan sebentar... "
Aku mempercepat langkah menuju ke pondok tempat anak kandang biasa beristirahat.
Terdengar suara beberapa orang sedang mengobrol seru dari dalam sana. Belum jelas apa yang mereka bicarakan hingga mereka tertawa begitu senangnya.
tok tok tok
Aku mengetuk pintu yang memang terbuka lebar untuk sekedar memberi isyarat, menunjukkan kehadiranku. Serta merta semua kepala menoleh kearah pintu.
"Ya, ada apa Nur?" Tanya Teguh.
"Tuan Bagas mau bicara..." Jawabku sambil menyerahkan HP yang masih tersambung pada Teguh.
Teguh segera bangkit dari duduknya untuk menyambut sambungan telepon itu.
"Inggih, tuan... " Sapa Teguh.
Beberapa saat Teguh berbicara dengan tuan. Sementara aku bergabung dengan Sulis yang memang ada di sana, duduk bersama dua anak kandang lain.
"Ada apa?" Tanya Sulis pelan setengah berbisik saat aku mengambil kursi yang semula diduduki Teguh, dan aku pindah ke samping Sulis.
"Enggak tahu... Soal sekem kayaknya..." Jawabku enggak terlalu pasti. Sulis cuma manggut sekilas mendengar jawabanku.
"Lis, kamu ditungguin tuh. Kue pukis nya udah mau selesai, nunggu dianterin..." Kataku kemudian setelah berhasil mengambil tempat.
"Oh, iya... " Jawab Sulis.
Beberapa saat, kami ngobrol berbasa-basi, sambil menunggu HP ku yang masih dipakai oleh Teguh.
Selesai, berbicara. Teguh mengembalikan HP itu padaku.
"Kamu sekarang jadi asisten tuan Bagas, Nur?" Kata Teguh sambil menyerahkan HP itu.
"He he he... sepertinya sih begitu..." Timpal anak kandang lain.
"Lah iya. Biasanya langsung telpon aku, kok sekarang malah lewat kamu.. " Ujar Teguh memberi alasan.
Aku cuma bisa meringis tanpa bisa mengelak tudingannya.
...®bersambung®...
...*®*...
__ADS_1
...*®*...
...*®*...