Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Di rumah sakit


__ADS_3

KLONTANG....!


"Astagfirullah..." Kataku terkejut sambil menoleh kearah asal suara.


Kulihat sebuah rantang menggelinding kearahku, dan sudah menumpahkan isinya. Tak jauh dari sana ada seorang ibu tengah berdiri terpaku menatapku, Tatapannya persis seperti orang yang melihat hantu disiang hari. Pucat dan penuh keterkejutan.


"Loh, bu... bu... ibu kenapa?" Tanyaku, seraya bergegas setengah berlari mendekat. Tubuh ibu itu seperti limbung, dan untungnya pas dia jatuh, aku sudah di dekatnya.


Setengah mati aku berusaha menopang tubuhnya supaya tidak terbentur lantai paving di bawahnya.


"Tolong...! Tolong...!" Seruku panik.


Ibu-ibu itu ternyata jatuh pingsan, mungkin karena itulah, bobot tubuhnya terasa berat sekali. Aku sampai jatuh terduduk dengan tangan masih memeluk wanita itu, berusaha agar tubuhnya tidak terbanting bersama merosotnya tubuhku karena tidak kuat menopangnya.


Wanita yang semula duduk di meja kasir itu melongok kan kepalanya kearahku. Tapi sialnya, dia bukannya cepat bangkit dan menolongku, malah ikutan teriak... "tolong... tolong...!"


Beberapa lelaki berlarian mendekat. Dalam waktu singkat aku sudah dikerubuti oleh para pria yang tengah berusaha mengangkat tubuh wanita itu dari pangkuan ku.


"Ini kenapa, mbak?" Tanya seorang pria yang mengangkat wanita itu dibagian pundak. Ya, ada tiga orang yang berusaha mengangkat tubuh wanita itu. Masing-masing memegang di bagian pundak, perut dan bagian kakinya.


"Enggak tahu... Tiba-tiba saja dia jatuh pingsan..." Jawabku hampir menangis.


Aku takut, nanti disalahkan oleh mereka. Padahal aku kan enggak ngapa-ngapain tadi. Selain itu, aku juga kasihan sama ibu itu... apakah ibu itu sedang menderita suatu penyakit? Hingga bisa membuatnya tiba-tiba pingsan seperti itu?


Mendengar jawabanku, tiba-tiba pria itu menoleh dengan cepat kearahku.


"Mbak... mbak..."


Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu, tapi temannya sudah melangkah membawa tubuh wanita itu menepi, mencari tempat teduh. Ya, hari itu kebetulan cuaca memang pas, panas-panasnya. Maklum tengah hari...


"Nurul... " Panggil mas Bagas dari ambang pintu antara area bengkel dan area belakang ini.


"Mas... sungguh, aku enggak ngapa-ngapain... ibu itu jatuh begitu saja..." Ucapku sambil berlari kecil mendekati mas Bagas.


"Iya... iya... sudah kamu tenang saja..." Ucap mas Bagas sambil menggenggam tanganku erat, berusaha meyakinkan diriku kalau semua akan baik-baik saja.


"Kita tunggu disini saja..." Kata mas Bagas sambil sedikit menarik ku untuk duduk di area tamu bengkel.


Pak Agus yang semula masih bersama seorang petugas bengkel segera mendekat. Dilihatnya aku masih setengah cemas menatap kearah pintu tembusan tadi, sementara tanganku digenggam oleh mas Bagas.


"Ada apa, tuan? Eng... Nurul kenapa?" Tanya pak Agus. Kelihatannya pak Agus masih agak bingung dengan kedekatan aku dan mas Bagas yang terlihat tiba-tiba untuknya.


"Tadi sepertinya saya mendengar suara Nurul berteriak minta tolong... "


"Nurul enggak apa-apa... itu tadi ada seorang wanita pingsan yang kebetulan ditolong sama Nurul... " Mas Bagas yang menjawab.


"Oh... " Gumam pak Agus.


"Gimana mobilnya?" Tanya mas Bagas mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Iya, tuan... itu bosh arm nya karetnya sobek, minta diganti..."


"Lalu...?"


"Ya, Sepertinya bakalan lama pengerjaannya... "


"Kalau gitu, aku tinggal ke hotel saja enggak apa-apa kan? Kamu urus mobil itu sampai selesai..." Putus mas Bagas kemudian.


"Iya, enggak apa-apa tuan. Sebaiknya tuan istirahat saja di hotel. Disini kurang nyaman..." Ujar pak Agus setuju.


"Saya pesankan taxi ya, tuan..." Lanjut pak Agus. Mas Bagas mengangguk.


"Sudah... kamu enggak usah cemas... ibu itu sudah banyak yang merawatnya." Ucap mas Bagas lagi saat melihat aku masih terus menatap kearah pintu tadi.


"He em..." Kataku.


Entahlah, rasanya ada yang tercubit di hati ini saat mengingat kondisi si ibu tadi.


Setelah menunggu beberapa menit, taxi yang dipesan pak Agus sampai di halaman bengkel. Baru saja aku selesai membantu mas Bagas duduk di taxi, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berlari disusul seruan keras...


"Mbak Anna...!"


Serta merta aku menoleh.


Seorang pemuda yang nafasnya masih tersengal, tiba-tiba mendekatiku dan mencengkram tanganku.


"Hei... siapa kau, berani-beraninya memegang tangan istriku...!" Sentak mas Bagas setengah marah.


Pria itu menoleh kearah Mas Bagas dengan tatapan tidak percaya, begitu juga dengan pak Agus. Kedua orang itu menatap kami bergantian mencari kejelasan, benarkah apa yang sudah mereka dengar barusan?


Aku segera melepas cekalan tangan pria itu.


"Mbak Anna... Mbak Anna mau kemana? Itu ibu pingsan karena kaget bertemu mbak Anna..." Kata pria itu membuatku bingung.


"Mbak Anna siapa? Ibu itu siapa? Kenapa beliau pingsan karena bertemu denganku?" Tanyaku tidak mengerti.


"Mbak Anna... Jangan marah lagi sama ibu.. tolong kasihani ibu, mbak..." Kata pemuda itu tambah membuatku bingung.


Sungguh, kejadian seperti ini membuatku sangat frustasi. Aku ingin mengingat, siapa orang-orang ini? Apa hubungannya denganku? Dan apa sebabnya, ibu itu sampai pingsan hanya gara-gara melihat ku?


Berfikir... berfikir... mengingat... mengingat...


ARGHH...


Kepalaku rasanya sakit sekali. Pandanganku juga mendadak berkunang-kunang. Kupejam mata, tapi tetap saja, rasanya semua benda seakan berputar disekitarku. Hingga tiba-tiba semuanya hitam.... gelap...


* * *


Entah, sudah berapa lama waktu berlalu. Yang pasti, saat aku membuka mata, semua yang kulihat bernuansa putih.

__ADS_1


Bau ini...


Seketika rasa takut menyerangku. Bau ini sangat ku hafal. Bau desinfektan. Ini bau rumah sakit. Seketika gambaran saat aku terbangun di rumah sakit beberapa bulan lalu kembali membayang.


Jangan-jangan semua kebahagianku selama ini hanya bayanganku saja... Jangan-jangan, kalau aku bangun sekarang, ternyata aku masih tetap sendiri, tidak punya teman... majikan.. ibu... suami...


"Mas Bagas...!" Teriakku ketakutan sambil segera bangkit duduk.


Sumpah! Aku takut... Aku takut kalau aku akan kehilangan lagi orang-orang yang ku kenal.


"Nurul... Nurul... tenang sayang... tenang... ada aku di sini..."


"Mas Bagas..." Aku melihat mas Bagas duduk di atas kursi rodanya di sampingku.


Serentak aku turun dari pembaringan dan menubruk mas Bagas. Tak ku perdulikan jarum infus yang tertarik lepas dari tanganku dan membuatnya mengeluarkan darah.


"Mas... Aku takut... " Kataku sambil berlutut memeluknya erat.


"Tenang... Tenang... Apa yang membuatmu takut... Ada aku disini... ayo minum dulu..." Ucap mas Bagas berusaha menenangkan ku. Sementara tangannya berusaha menggapai gelas air dari atas nakas di samping pembaringan ku tadi.


"Nih, minum dulu..." Lanjutnya sambil menyerahkan gelas air itu.


Aku menerimanya dan langsung meneguk nya hingga tinggal sedikit.


"Sudah merasa lebih baik?" Tanya mas Bagas kemudian. Aku mengangguk.


"Kalau begitu, sebentar... aku akan memanggil dokter..." Kata mas Bagas sambil berusaha meraih tombol yang dihubungkan dengan pos para petugas kesehatan rumah sakit itu.


"Kenapa kita di rumah sakit?" Tanyaku bingung. Sepintas tadi terfikir, kalau mas Bagas yang sakit. Tapi segera kusadari, kalau aku lah, yang terbaring di ranjang pasien, bukan mas Bagas.


"Ya... karena kamu sepertinya kurang sehat..." Jawab mas Bagas berusaha santai.


"Aku sehat kok... enggak sakit apa-apa..." Elak ku. Aku terdiam sesaat, memakai semua panca indraku. Berusaha mendeteksi, apa kira-kira dari tubuhku ini yang sakit.


"Tuh, enggak terasa apa-apa, kok. Kita pulang sekarang ya..." Ajakku.


"Iya... kita akan segera pulang, setelah minta izin dari dokter... " Jawab Mas Bagas.


Perlahan aku mengangguk.


...*...


...*...


...*bersambung*...


...*...


...*...

__ADS_1


__ADS_2