Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Sepiring Berdua


__ADS_3

"Emmm... seger bener..." Gumam Nurul pada dirinya sendiri, sambil melangkah keluar dari kamar mandi dan menggosok rambutnya dengan handuk kecil.


"Lama banget mandinya... apa aja sih yang digosok...? " Sebuah suara yang enggak jelas apakah itu kalimat tanya atau keluhan, seketika membuat Nurul menoleh ke arah asal suara.


"Astaghfirullah...! Kaget saya tuan..." Ucap Nurul saat mendapati Bagas sedang menatap kearahnya.


Cek


Bagas mendecak melihat Nurul yang kaget itu.


"Ayo cepat, perutku sudah lapar... " Perintah Bagas sambil berbalik menghadap ke arah meja pendek di dekat sofa. Nurul mengikuti pergerakan Bagas dengan matanya, dan di sana... Di atas meja itu... Sudah tersaji beberapa menu makanan yang kelihatannya enak banget.


Bagaikan mendapat petunjuk, seketika perut Nurul terasa lapar.


"Wah, makanannya enak kelihatannya..." Gumam Nurul seraya mendekat.


Dilihatnya, menu makanan lengkap sudah tersaji di atas meja. Ada nasi lengkap dengan beberapa jenis lauknya, secangkir kopi, segelas jus... serta... ih, puding jagung



Glek....


Melihat makanan kesukaannya itu, tanpa terasa Nurul menelan ludah.


"Makanannya kelihatannya enak bener, tuan..." Ucap Nurul. Dia segera membungkus rambutnya dengan handuk kecil itu, lalu melangkah mendekati meja.


"Hem... " Sahut Bagas. "Kamu enggak harus mengeringkan rambutmu dulu kan?" Tanya Bagas saat melihat rambut Nurul masih terbungkus handuk.


"Enggak, tuan. Kalau tuan tidak keberatan, biarkan saja begini... nanti juga kering sendiri... " Ucap Nurul. Dia tahu, tuannya itu sudah lapar, sama seperti dirinya, karena kalau diingat-ingat, terakhir mereka makan itu waktu sepulang dari kantor tadi, sudah berjam-jam lalu. Sementara sekarang sudah menjelang malam.


"Ya, sudah... ambilkan untukku..." Perintah Bagas.


Nurul lalu mengambilkan sepiring nasi lengkap dengan lauknya.


"Tuan mau sama petenya?" Tanya Nurul.


"Enggak..." Jawab Bagas.Sementara tangannya malah sibuk dengan ponselnya.


"Tuan mau saya taruh makanan ini di meja itu?" Tanya Nurul sambil menunjuk meja di tempat komputer.


"Kenapa di sana? aku kan duduk disini..." Jawab Bagas sambil menatap Nurul dengan kening berkerut.

__ADS_1


"Euh?!" Nurul balik menatap Bagas tidak mengerti. Bukannya biasanya Bagas makan di meja yang agak tinggi kan?


"Udah, enggak usah berkerut gitu keningnya. Tinggal kamu suapin aku bereskan..." Ucap Bagas sekaligus memberi tahu apa yang seharusnya Nurul lakukan.


Mendengar ucapan Bagas, kening Nurul malah tambah berkerut.


"Jadi maksudnya dia ini mau minta disuapin gitu?" Pikir Nurul.


"Tuan mau saya suapi?" Tanya Nurul memastikan.


"Ya, kenapa? Kamu enggak mau?" Bagas balik bertanya dengan nada seperti mengancam.


"Ya, bukan enggak mau..." Jawab Nurul menggantung bingung mau ngomong apa. Padahal dalam hati dia mau bilang, kalau dia sendiri juga lapar ingin cepat ikutan makan....


Nurul mulai menyendok nasi serta lauknya, lalu dia suapkan ke mulut Bagas. Bagas menerima suapan itu masih sambil asik dengan ponselnya. Nurul kepingin ngedumel tapi enggak berani. Jadi dia diam saja, sampai tiba-tiba perutnya benar-benar berdemo, berteriak karena merasa diacuhkan oeh tuannya.


KRIUK...


Bagas seketika mengangkat wajah dari layar ponselnya. Perlahan dia menoleh kearah Nurul.


"Kamu lapar?" Tanyanya seperti orang yang heran mendengar suara seperti itu. Nurul tidak berani menjawab, tapi dia nyengir kuda mengiyakan pertanyaaan Bagas.


"Kalau lapar ya makan, makanan sudah didepan mata kok masih nunggu perutnya bunyi dulu baru mau dikasih makan...." Ujar Bagas seperti menggerutu.


"Nunggu apa lagi?" Tegur Bagas saat dilihatnya Nurul masih diam, belum bergerak untuk makan, malah sedikit mengaduk makanan diatas piring, menyiapkan suapan selanjutnya untuk Bagas.


"Kan saya masih nyuapin tuan." Jawab Nurul akhirnya berusaha mengambil nada datar.


"Emang kamu enggak bisa nyuapin aku sambil nyuapin diri kamu sendiri?" Tanya Bagas lagi dengan nada superiornya.


"Emang boleh, tuan?"


"Siapa yang enggak ngebolehin?" Bagas malah balik bertanya. Seketika senyum Nurul mengembang. "Makanan sudah tersedia diatas meja. Piring dan sendok sudah kamu pegang, kenapa masih bingung juga." Imbuh Bagas seketika membuat senyum Nurul memudar. Otaknya segera bekerja mencerna ucapan Bagas. Ini maksudnya dia harus makan sepiring berdua gitu dengan tuannya?


"Saya makan pakai piring ini juga tuan?" Tanyanya ragu.


"Terserah..." Jawabnya, membuat Nurul jadi tambah ragu.


"Cuminya itu nak loh, coba kamu rasain..." Ucap Bagas. Setelah itu dia kembali menghadap ponselnya.


Nurul menatap Bagas tak percaya. Beneran dia boleh makan satu piring dengan tuannya itu? Mencoba keberuntungan, Nurul lalu menyuap isi sendok yang semula dia persiapkan untuk tuannya sambil sedikit berbalik, menyambunyikan mulutnya yag menganga lebar saat menyuap.

__ADS_1


"Ih, beneran enak banget..." Katanya dalam hati sambil mengunyah dengan mulut tertutup.


"Aaa..." Ucap Bagas tiba-tiba sambil membuka mulut minta diisi. Masih dengan menggunakan sendok yang sama, Nurul segera menyendok lagi nasi dan lauknya dan segera menyuapkannya ke mulut Bagas. Keren!!! Bagas tidak menolak suapan itu. Padahal dia tahu sendok yang sama sudah masuk ke mulut Nurul!


Akhirnya, dengan alat makan yang sama mereka melanjutkan acara makan mereka dalam diam. Tidak ada yang merusak momen makan sepiring berdua itu dengan obrolan. Dari bahasa tubuh dan pancaran mata mereka, kelihatan sekali kalau mereka berdua menikmati kebisuan itu. Nyatanya, hidangan yang tersedia di atas meja hampir tandas oleh mereka.


"Alhamdulillah...." Gumam Nurul pelan saat sendawa kecil meluncur dari mulutnya.


"Sudah kenyang?" Tanya Bagas. Nurul otomatis mengangguk.


"Alhamdulillah, sudah tuan. Terima kasih banyak untuk makan malamnya, tuan..." Sahut Nurul.


"Hem..." Sahut Bagas.


Nurul mengemasi peralatan dan sisa makan mereka. Sementara Bagas sudah mengambil tempat diatas kasurnya.


Bagas mengambil remote dan menghidupkan TV. Sambil bersih-bersih sisa makan mereka, Nurul ikutan melirik kearah TV yang chanelnya masih dipindah-pindah oleh Bagas. Ada acara sinetron yang biasa Nurul tonton bersama para pelayan lain di ruang belakang, tapi Bagas cuma berhenti sebentar di channel itu. Dia masih terus memijit keypad remote itu.


"Nyariin acara apa sih...?" Tanya Nurul dalam hati. Ya, cuma dalam hati. Nurul enggak berani tanya langsung. Nanti dibilang ngelunjak lagi. Dia pergi ke kamar mandi untuk menjemur handuk yang dia pakai tadi sekalian menyisir rambutnya. Masih sedikit basah, tapi dia yakin sebentar lagi pasti kering.


"Sudah beres?" Tanya Bagas, saat dilihatnya Nurul sudah keluar dari kamar mandi dan hanya berdiri diam sementara matanya ikut terarah ke TV.


"Euh? Eh, sudah tuan." Sahut Nurul sambil matanya celingukan kesekitarnya, memastikan kalau pekerjaaannya memang sudah benar-benar selesai.


"Kalau sudah duduk di sini... ngapain masih berdiri saja di sana?" Ucap Bagas, sambil melirik ruang kosong di sampingnya.


Mendengar ucapan Bagas, tanpa banyak bicara, Nurul langsung mendekat dan duduk di samping Bagas seperti kemarin.


"Kamu suka nonton acara apa?" Tanya Bagas.


"Sembarang tuan... Apa yang sedang distel saya tonton...." Jawabnya sambil tertawa kecil. Terbayang keriuhan yang selalu terjadi diruang belakang saat mereka menonton TV. Teman-temannya selalu rebutan remote untuk bisa menonton acara yang mereka sukai.


Sambil berbicara itu, matanya terus terarah ke TV yang kebetulan sedang menampilkan acara berita di salah satu TV swata. Berita seputar bisnis. Tentang kenaikan harga serta kelangkaan beberapa komoditi di pasaran. Juga beberapa berita tentang para pelaku bisnis.


Bagas, dia fokus mendengarakan berita itu. Sementara untuk Nurul yang tidak terlibat dalam masalah bisnis apapun, dia mendengarkannnya hanya sambil lalu, hingga tiba-tiba matanya menangkap suatu gambar, seorang pengusaha yang dikabarkan dilarikan ke rumah sakit gara-gara mendadak pingsan saat melakukan bazar sembako murah di sebuah kawasan permukiman yang mayoritas berekonomi lemah.


Wajah sang pengusaha itu hanya tersorot sebentar di layar TV, karena ramainya kerumunan orang yang mendatangi bazar itu. Tapi kilasan itu terasa mencubit hati Nurul. Ada rasa nyeri yang tidak bisa dia pahami alasannya. Tanpa sadar, dia mencengkram lengan Bagas sementara matanya terus menatap TV, berharap bisa melihat wajah orang itu lagi. Tapi harapannya tidak terkabul. hingga ganti berita, sosok itu tidak muncul lagi.


๐Ÿ”†


๐Ÿ”†

__ADS_1


๐Ÿ”†bersambung๐Ÿ”†


๐Ÿ”†


__ADS_2