Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Ke kandang


__ADS_3

Nurul melangkah dengan ringan ke arah kamar Rara, tapi sepanjang jalan, kepalanya tak henti celingukan, mewaspadai kalau-kalau Rara ada di sekitar jalan yang dilalui. Terlihat kesibukan dari orang-orang dia lalui. Ada yang masih merapihkan perabotan, Ada yang merangkai bunga di vas yang besar, ada juga yang hilir mudik membawa makanan dan menatanya di meja yang lebih besar dan panjang.


"Sulis...! Kamu lihat Rara enggak? " Tanya Nurul saat melewati Sulis yang sedang membawa sejumlah sajian kue diatas nampan. Sulis menghentikan langkahnya dan kelihatan sedang berpikir sebentar.


"Kayaknya dari tadi pagi belum lihat, Nur. Mungkin belum pulang kuliah dia..." Jawabnya. Nurul mengigit-gigit bibir bawahnya berpikir.


"Oh, ya udah... makasih ya... " Ucap Nurul sambil bersiap akan berlalu.


"Nur...! " Panggil Sulis menahan langkahnya.


"Ya... " Sahut Nurul sambil berbalik kembali menghadap Sulis.


"Bos kamu kemana...? " Tanya Sulis. Alis Nurul sedikit terangkat mendengar pertanyaan itu.


"Ada, sedang istirahat sekarang. Ada apa?" Tanya Nurul.


"Kalau kamu sedang enggak sibuk, tolong aku dong..." Ucap Sulis agak pelan, seperti sedang berhati-hati.


"Kenapa?" Tanya Nurul lagi sambil ikutan memelankan suaranya. Belum sempat Sulis menjawab, terdengar suara yang sangat mereka kenal yang mampu membuat mereka terdiam seketika. Bu Surti!


"Kalian kenapa malah berdiri di situ? Enggak lihat, ini sudah jam berapa? Acara sudah akan dimulai... Malah enak-enakkan ngobrol... Cepat! Selesaikan tugas kalian...! " Omel Bu Surti yang seketika membuat keduanya ingin segera beranjak menjauh.


"Baik, bu... Saya permisi ke kamar dulu untuk ganti baju... " Ucap Nurul sekalian memberi kode pada Sulis agar menemuinya di kamar. Sulis mengangguk samar, setelah itu melanjutkan langkahnya ke arah meja makan untuk menaruh kue-kue yang sejak tadi di pegangnya.


Bu Surti memperhatikan keduanya sampai benar-benar yakin kalau Nurul dan Sulis kembali bekerja dan bukannya ngobrol.


Setelah tubuh Nurul menghilang di belakang tembok "asrama" para pelayan, Bu Surti mengalihkan perhatiannya pada para pelayan lain yang bekerja di sekitar area itu. Suara khas nya menggema membuat para pelayan bekerja lebih cepat. Bukan karena kerajinan... tapi karena ingin segera menyingkir dari sana... 😂


Di kamarnya, Nurul segera ganti baju. Di rumah ini, ada aturan tidak tertulis, kalau perempuan harus memakai rok panjang, dan celana panjang tipis untuk dalemannya. Celana panjang tebal seperti jeans, hanya boleh dipakai kalau mau ke luar rumah saja. Makanya, tadi bu Surti mengizinkan Nurul untuk berganti pakaian.


Nurul menyisir rambutnya dan mengikatnya model buntut kuda. Agak gerah sih. Inginnya sih mandi dulu, tapi rasanya bakal kelamaan kalau harus mandi dulu, jadi dia hanya cuci muka dan membasahi seputar lehernya agar terasa lebih segar.


Baru saja dia selesai mengikat rambutnya, terdengar suara pintu diketuk dan langsung terbuka dari luar tanpa menunggu sahutan darinya. Sulis, dia melangkah mendekat.


"Nur, aku mau minta tolong... " Katanya langsung.


"Tolong apa? " Tanyaku.


"Ini... Kang Teguh mau pulang sore ini, tapi kemarin HP nya aku ambil. Tadinya siang ini aku mau kesana ngembaliin. Tapi semakin sore malah semakin banyak kerjaannya... Aku minta tolong, anterin HPnya ke dia ya... " Kata Sulis menerangkan.


Nurul tahu, Teguh itu pacarnya Sulis yang bekerja di kandang ayam belakang rumah. Biasanya, setiap selesai panen, dan sambil menunggu periode ternak selanjutnya, anak kandang (julukan untuk orang-orang yang kerja mengurus ayam) diperbolehkan untuk pulang/liburan ke rumah/kampung halamannya.

__ADS_1


"Kenapa enggak kamu aja yang kesana...?" Tanya Nurul.


"Enggak bisa... Bu Surti dari tadi udah ngabsen orang yang lewat pintu belakang.... " Jawab Sulis.


"Lah, kalau gitu aku juga bisa kena omel dong, kalau aku keluar... " Ucapku.


"Ya... kamu kan bisa bilang kalau kamu disuruh tuan... " Ujar Sulis memberikan alasan.


Nurul menghela nafas. Bingung dia. Nurul mau nolongin, tapi dia takut dimarahi sama bu Surti. Nurul ngerti, Teguh enggak bakal berani mendekat ke area rumah, apalagi dalam keadaan sibuk seperti ini... Tapi kalau dia pergi tanpa hpnya, bisa-bisa Teguh kesusahan juga. HP itu kan perlu buat komunikasi. Bukan komunikasi dengan pacar saja, tapi juga dengan para mandornya...


"Lagian, kenapa juga HP itu kamu ambil segala sih... " Gerutu Nurul.


"Habis aku curiga, dia chatingan sama di Maya..." Jawab Sulis ikutan menggerutu kesal.


"Emang, beneran dia chatting sama dia? " Nurul terbawa kepo.


Sulis meringis.


"Iya sih, tapi ternyata si Maya mau minta dikenalin sana Yanto... "


"Yanto, siapa? "


"Anak kandang yang baru... " Sahut Sulis sambil terkekeh. "Kamu mau ikutan dikenalin? " Goda Sulis, yang langsung dijawab leletan lidah oleh Nurul.


Sulis menyerahkan bungkusan kresek. Nurul menatap kresek itu curiga. Ukurannya lebih besar kalau hanya berisi sekeping HP. Melihat tatapan Nurul, Sulis cengengesan.


"Mbok Darmi udah nyuruh bikin kuenya banyak banget kok... " Ucap Sulis tanpa ditanya. Nurul hanya menggedikkan bahu mendengarnya.


Udah bukan berita baru... Para pelayan sering mengirimi pacar-pacar mereka yang jadi anak kandang makanan dari rumah induk. Para majikan enggak akan tahu. Soalnya para "senior" pelayan memang selalu memerintahkan untuk membuat makanan lebih dari porsi yang dibutuhkan. Alasannya... Lebih baik makanan berlebih dari pada kurang.


"Bisa jadi aib, kalau acara yang digelar keluarga Darmawan sampai kekurangan stok makanan untuk menjamu tamu mereka.... " Begitu pedoman yang dipegang para senior. Dengan berbagai alasan, semua mendukung pendapat itu. 😂


Akhirnya, Nurul melangkah keluar kamar diikuti Sulis. Mereka langsung menuju pintu belakang. Pintu itu merupakan pintu antara dapur kotor dengan halaman belakang.


Berbaur dengan para pelayan lain yang sibuk masak diatas tungku beton di dapur itu, juga para pelayan yang hilir mudik membawa menu jamuan untuk acara yang akan digelar sore ini, Nurul menyelinap keluar dari pekarangan belakang.


Sulis menatap tubuh Nurul menghilang dibalik tembok pagar tinggi yang mengelilingi halaman itu. Setelah yakin Nurul aman, dia lalu segera melanjutkan pekerjaannya. Dan dia buru-buru menyelinap pergi saat dilihatnya bu Surti melangkah ke arah dapur.


***


Nurul melangkah agak tergesa menuju kandang. Engga jauh sih, cuma sekitar 100 meter kandang itu dari tembok pagar. Tapi jalan kearah sana melewati pematang kebun tebu, jadi Nurul sedikit hati-hati, takut tergores. Daun tebu itu cukup tajam dan akan perih rasanya kalau sampai tergores.

__ADS_1


Nurul berhasil mencapai area kandang, saat terdengar suara truk mendekat ke area itu.


"Trus... trus... kiri... kiri... heup! " Seru sebuah suara memberi aba-aba. Suara Teguh. Nurul yang semula ingin segera menyerahkan titipan Sulis jadi menunda dulu niatnya itu, saat dilihatnya Teguh sedang bercakap-cakap dengan sopir truk itu.


Posisi truk itu membelakangi pintu kandang, Dari atas truk turun dua orang laki-laki. Masing-masing membawa gulungan karung dan garu.


"Udah habis semua ayamnya, Kang? " Tanya salah satu dari mereka.


"Udah... " Jawab Teguh yang rupanya sudah mulai beranjak mendekati mereka.


"Gimana, bagus ayamnya? " Tanya mereka lagi basa-basi.


"Baguslah... enggak bagus bisa dipecat aku..." Seloroh Teguh menjawab pertanyaan itu. mereka tertawa. Saat itulah, Teguh baru melihat keberadaan Nurul di sana.


" Dah, silahkan kalau mau mulai, aku kesana dulu.." Pamit Teguh sambil menunjuk kearah Nurul dengan dagunya. Kedua orang tadi menoleh ke arah yang ditunjuk. Mereka tersenyum. Nurul balas tersenyum. Teguh berjalan mendekat.


"Ada apa, Nur? " Tanya Teguh sambil berjalan mendekat.


"Ini... " Jawab Nurul langsung menyerahkan bungkusan yang dititipkan Sulis.


"Dari Sulis? " Ucap Teguh memastikan.


"He eh... Truk apa itu? " Tanya Nurul basa-basi sambil memperhatikan orang-orang yang masuk ke kandang.


"Oh, itu truk sekam... kirain mau datang besok... Eh, udah sore gini malah datang... " Ucap Teguh sedikit menggerutu.


Nurul manggut-manggut paham. Setahu dia, setiap selesai periode pemeliharaan, sekam-sekam bekas yang sudah bercampur dengan kotoran ayam itu memang diambil untuk diganti dengan sekam baru jika periode pemeliharaan akan dimulai lagi.


"Kang Teguh jadi pulang sekarang?" Tanya Nurul ganti topik pembicaraan.


"Sepertinya enggak bisa sekarang... Lah itu... ada truk sekam. Aku harus nunggu sampai mereka selesai, atau si Yanto sama Munir pulang... "


"Memang mereka kemana? " Tanya Nurul lagi.


"Munir nganter Yanto beli HP ke kota. Pulangnya paling-paling lewat maghrib. Ya, jadi aku yang kena untuk nunggu kandang sampai pekerjaan mereka selesai... " Terang Teguh.


.... ...


.... ...


.... ...

__ADS_1


...bersambung...


.... ...


__ADS_2