
"Silahkan dimulai ustadz... " Ujar tuan Bagas kemudian sambil menarik pandangannya dariku, dan kembali menatap ustadz.
Dalam posisi menunduk, aku melirik. Dan dari ekor mataku, aku lihat ustadz itu tersenyum.
"Ehem.... Baiklah, mari kita mulai.... Sebelumnya, biar saya jelaskan dulu rencana ini pada yang bersangkutan... Nurul..." Ujar ustadz memanggil namaku.
"Eh, iya... " Sahut ku. Reflex mendongak menatap wajah ustadz itu.
"Begini nak... mentindak lanjuti usulanmu pada nyonya Supami kemarin... Kamu ingat apa usulan mu? " Tanya ustadz menjeda penjelasannya.
"Usulan... " Aku berpikir, mengingat-ingat apa yang sudah aku katakan pada nyonya Supami kemarin... "Usulan...."
Mendadak aku ingat, pernah mengatakan kalau sebaiknya tuan Bagas dinikahkan saja... Ingat itu, seketika aku menutup mulut ku padahal aku belum mengatakan apa-apa untuk menjawab pertanyaan ustadz. Reflex juga mataku mengarah pada tuan Bagas...
Aduh... apa tuan Bagas marah sama aku karena mengusulkan hal itu...? "Mati aku..." Makiku dalam hati. Tuan Bagas tetap meluruskan pandangannya ke arah ustadz. Aku jadi ikutan menatap laki-laki itu. Ustadz tersenyum melihat kepanikan di wajahku.
"Tenang saja... nak Bagas enggak marah kok. Dia malah menyambut baik usulan itu... bukan begitu, nak Bagas...?" Tanya ustadz pada tuan Bagas. Tuan Bagas tidak menjawab, dan itu diartikan 'IYA' oleh para hadirin.
"Begini... karena usulan mu itu, akhirnya nak Bagas memutuskan untuk menikah... dengan mu..."
DEG lagi.
Spontan aku menunjuk hidungku sendiri. Ustadz mengangguk.
"Sekarang... " Imbuh ustadz membuatku tambah melongo.
"Hah?! "
Sumpah, waktu itu rasanya aku enggak karuan banget. Enggak ada angin enggak ada hujan... enggak mimpi apa-apa sebelumnya, tau-tau mau dinikahi oleh orang yang sebelum ini dalam mimpi pun tidak berani aku harapkan untuk bisa bersanding.
"Bukankah katamu, kamu bersedia untuk mengabdi pada anakku...?" Sela nyonya Santi, seakan mengingatkan ucapan ku sebelumnya. Saat dilihatnya ekspresi bingung di wajahku. Ya, siapa yang enggak akan bingung kalau tiba-tiba ditembak untuk nikah. "Apakah kamu akan menarik kembali perkataan mu? " Tanya nya.
__ADS_1
Ya, aku memang mengatakan bersedia mengabdi pada tuan Bagas, tapi tidak pernah berpikir untuk menikah dengannya.... Dan kalau aku sampaikan hal itu sekarang di depan umum, tidakkah hal itu malah akan mempermalukan tuan Bagas dan keluarganya?
Aku menoleh kearah tuan Bagas. Tuan Bagas ternyata sedang menatap ku dengan tajam. Ada makna peringatan di dalam tatapan nya.
"Saya tidak akan menarik ucapan saya nyonya..." Jawabku akhirnya sambil kembali menunduk.
"Apakah kamu yakin ananda Nurul... " Tanya ustadz memastikan. Aku kembali mengangkat wajah dan menghadap ustadz.
"Saya yakin ustadz... " Jawab ku.
Ya, sudah kepalang sampai disini... Aku juga sudah merelakan hidupku untuk mengabdi pada keluarga nyonya Supami. Kalau sekarang aku malah akan jadi istri tuan Bagas... Aku niatkan hal ini sebagai suatu bentuk pengabdian ku. Entah bagaimana jadinya nanti, yang penting aku tidak ingin menjadi biang keonaran untuk keluarga ini...
"Baiklah, jika ananda memang sudah yakin... " Lanjut ustadz. "Berhubung kondisi ananda Nurul yang saat ini tengah amnesia, hingga tidak diketahui dimana keluarga nya, maka saya, dalam hal ini akan menjadi wali hakim sekaligus mewakili keluarga dari ananda Nurul.
Nurul, ananda tidak keberatan kalau saya yang menjadi walimu? " Tanya ustadz sambil menatapku.
"Tidak ustadz... " Jawab ku.
"Terima kasih... " Ujar ustadz... Setelah itu, ustadz lalu menghadap ke arah tuan Darmawan serta tuan Bagas.
Pertanyaan ustadz itu langsung dijawab oleh pihak keluarga tuan Bagas dengan memastikan kalau mereka berdua memang tidak mempunyai hubungan kekeluargaan denganku.
"Baik... berarti syarat kedua, cek. Ketiga, asal usul wali nikah jelas... Sekarang tolong saksikan... saya, Mansyur, Ustadz pondok pesantren Al Fattah, mengangkat ananda Nurul sebagai anak kami, dan saya akan menjadi wali hakim atas pernikahan ananda Nurul dengan ananda Bagas, apakah hal ini bisa diterima? " Kembali ustadz itu bertanya.
"Diterima ustadz... " Jawab yang hadir.
"Jadi syarat ketiga, cek. Syarat ke empat, kedua mempelai tidak sedang melaksanakan ibadah haji... cek, ya..."
"Cek! " Sahut hadirin spontan.
"Syarat ke lima, tidak ada paksaan dalam pernikahan ini... Apakah kalian berdua menerima?" Kali ini tidak ada yang bersuara. berpasang-pasang mata mengarah pada kami berdua secara bergantian.
__ADS_1
Sekilas aku menatap tuan Bagas dengan hati kebat kebit menduga apa yang akan dia katakan. Tuan Bagas masih setia dengan posisinya, tidak melirik kearah ku sedikitpun. Yang lain ikutan memperhatikan tuan Bagas, ada helaan nafas yang tertahan di dada saat menunggu jawaban dari laki-laki itu.
"Saya menerima... " Terdengar suara tuan Bagas, yang langsung membuat hembusan nafas terasa lega dari dada beberapa orang. Termasuk aku!
"Bagaimana, ananda Nurul ... ?" Tanya ustadz yang kini sudah menatap kearah ku.
"Saya menerima... " Jawabku. Tapi sungguh, aku mendengar suaraku sendiri seperti jauh entah dari mana...
"Alhamdulillah... Kelima syarat sah nikah sudah terpenuhi... Untuk rukun nikah juga sudah ada... apakah perlu saya uraikan rukun nikahnya?" Tanya ustadz yang langsung dijawab 'Tidak' oleh para hadirin. Ustadz tersenyum memaklumi.
"Untuk ananda Nurul... mohon maaf, dikarenakan ananda tidak mempunyai dokumen yang bisa digunakan untuk mengurus surat nikah, maka ananda hari ini hanya bisa dinikahkan secara siri... Tapi nak Bagas tentu akan mengurus masalah surat menyurat ini kan? "
Terlihat tuan Bagas mengangguk.
"Baiklah, karena hari sudah menjelang sore, warga istighotsah juga sudah menunggu kabar baik ini, sebaiknya akad nikah ini kita segera langsungkan... " Ucap ustadz.
Menutup ucapannya, ustadz menatap beberapa orang yang duduk di dekatnya. Beberapa orang bergerak memperbaiki posisi duduknya. Tuan Darmawan duduk mendampingi tuan Bagas. Diseberang tuan Darmawan, yang artinya di samping pak ustadz, duduk seorang pria lain. Dari bisik-bisik yang aku dengar, beliau adalah adik dari pak ustadz sendiri. Mereka berdua yang akan menjadi saksi nikah kami.
Pak ustadz menggenggam tangan tuan Bagas. Beliau mengucapkan ijab nikah dan langsung disambut kabul oleh tuan Bagas. Dan begitu ucapan 'SAH' bergema di sepenjuru ruangan. Air mataku seketika mengalir.
Aku segera menghapus air mata itu... Orang bilang, sangat umum seorang pengantin meneteskan air mata disaat pernikahannya. Tapi lebih dari itu, hatiku sakit, kala mengingat ucapan ijab kabul tadi... Bagaimana tidak... Pada saat ijab kabul tadi, namaku disebut sebagai.... Nurul binti Fulan!
Ya Allah... dimana orang tua ku...?
Dari sekian banyak penderitaan yang aku rasakan akibat penyakit amnesia ini, baru sekarang rasanya rasa sakit itu terasa hingga ke dalam relung jiwaku.
.... ...
.... ...
...👉bersambung👈...
__ADS_1
...😢...
.