
"Mas... Apakah mas Bagas mau pergi meninggalkan aku?" Tanyaku balik.
"Rasanya seperti itu... "
"Mas...!" Potongku tercekat. Enggak menyangka sekali kalau mas Bagas akan menjawab seperti itu. Seketika air mata sudah menggenang di pelupuk mataku.
"Mas... Mas kok tega sekali sih mau ninggalin aku... Salah aku apa...?" Tanpa terasa aku sudah mulai menangis dan merajuk. Hatiku sakit rasanya mengetahui kalau mas Bagas kepikiran buat ninggalin aku.
"Eits... Jangan salah paham dulu..." Bujuk mas Bagas sambil mendekat dan berusaha menarik aku dalam pelukannya. Tapi aku segera mengelak.
"Enggak salah paham gimana... Mas sendiri tadi yang bilang kalau ada kemungkinan mas bakal ninggalin aku..." Tanpa sadar aku mulai menaikan suaraku karena terbawa emosi.
"Iya makanya dengerin dulu aku ngomong sampai selesai... "
"Mau ngomong apa lagi? Jangan bilang karena ayahku enggak suka sama mas Bagas, lalu mas Bagas mau pergi begitu saja..."
"Ya... Ada benernya juga sih... "
"MAS...!" Tanpa sadar aku berteriak saking kesalnya. Bagaimana enggak kesal coba. Masa dia bicara seperti itu tadi sambil cengengesan. Sebegitu senangnya kah dia, punya alasan buat pergi ninggalin aku?
"Mas Bagas emang enggak mau gitu memperjuangkan aku... Aku udah mau ikut mas Bagas kemana saja tanpa syarat... Masa mas Bagas mau nyerah gitu aja... Mas Bagas jahat.. !" Aku langsung balik badan saking kesalnya.
Ah, tau gitu kenapa juga dulu dia bersikukuh memperlakukan aku sebagai seorang istri sungguhan. Padahal aku sudah mengelak dan menerima peranku sebagai seorang pelayan berbaju istri. Sekarang, giliran aku sudah terlanjur sayang, dia malah mau pergi ninggalin aku... Apalagi aku lihat tadi pas ngomong itu, ekspresi wajah mas Bagas nyantai gitu...
SEBEL... SEBEL... SEBEL....!!!
Tanpa sadar aku menghentak-hentak lantai. Tapi reaksi mas Bagas malah nyebelin. Masa dia malah tersenyum lebar gitu melihat aku merajuk.
"Nur... Nur... Nurul...!" Panggil mas Bagas berulang kali dengan nada lembut merayu, sambil tetap berusaha untuk menarik ku kedalam pelukannya. Aku menepis tangannya.
"Ishh... Jangan buru-buru marah... Dengarkan dulu aku bicara sampai selesai. Setelah itu, baru pikirkan dan putuskan... Apa yang akan kau lakukan selanjutnya." Kata Mas Bagas lagi. Kali ini aku sudah tidak ingin menjawabnya. Kesel beneran, sungguh.
"Gini, Nur... Istriku sayang... "
Sayang-sayang... Tapi mau ninggalin...
"Kamu ingat enggak tujuan kita kesini itu apa?"
Aku mulai berpikir. Ya, tujuan awal kami datang ke kota ini kan mau bertemu dokter yang akan menyembuhkan kaki mas Bagas. Gara-gara ketemu dengan keluargaku, perhatian kami, atau paling tidak perhatianku, jadi teralihkan.
Aku yang semula sudah balik badan karena kesal, kembali menghadap ke mas Bagas.
"Ada kabar apa?" Tanyaku. Masih dengan nada merajuk. Mas Bagas meraih telapak tanganku dan menguncinya dalam genggaman nya. Aku tadi sempat menarik tanganku. Tapi aku kalah kuat. Jadi aku biarkan saja dia menggenggam tanganku.
"Ya, itu... Dokter Tony kan memberiku dua pilihan. Mau operasi atau terapi akupuntur.. . . Setelah aku pertimbangkan. Aku memilih akan menjalani terapi akupuntur saja.. . "
__ADS_1
Mas Bagas mengambil jeda. Aku biarkan sebelah tangannya yang bebas mengusap bekas air mata di wajahku.
"Lalu... ?"
"Ya... Kemarin dia, dokter Tony bilang melalui dokter Ridwan, kalau aku mau ikut akupuntur, aku disarankan untuk terbang bersama dokter Tony lusa, setelah dokter Tony selesai memberi materi seminar di sini.. . "
"Terbang ke mana?"
"Tiongkok."
"Tiongkok? Bukannya dokter Tony itu tinggalnya di Singapura?"
"Iya, tapi dia sekarang sedang mendalami ilmu akupuntur, sebagai salah satu cara pengobatan alternatif. .. Di Tiongkok dia punya suhu yang jauh lebih mumpuni dari dia soal akupuntur.. . "
"Lalu aku.. . ?" Kini aku mulai mengerti, maksud mas Bagas.
"Ya itulah.. . Kamu pahamkan, kalau pergi kesana harus punya dokumen lengkap. Tidak cukup hanya dengan selembar kertas keterangan penduduk dari pemerintah desa, seperti yang kamu bawa itu... "
Ya, kemarin dulu... Aku memang diberi surat keterangan dari pemerintah setempat yang menyatakan kalau aku adalah warga mereka, mengantikan fungsi KTP yang masih dalam proses pembuatannya.
"Sekarang aku tanya.. . Kamu kalau mau pergi kesana memakai identitas siapa? Anna atau Nurul.. . ? Kalau sebagai Nurul, jelas kamu harus menunggu hingga proses pembuatan dokumen pribadimu selesai.. .
Kalau kamu pergi sebagai Anna... Aku yakin, semua dokumen pribadimu sudah lengkap, bahkan walau ada masalah sekalipun, ayahmu pasti akan dengan mudah mengurusnya. Tapi masalahnya... Mau kah ayahmu membiarkan kamu pergi bersamaku...?"
"Tapi aku mau ikut mas Bagas... "
Kini aku termenung. Apa yang harus aku lakukan..
"Aku harus gimana, mas?" Tanyaku akhirnya.
"Sudah, tenanglah.. . Nanti aku bicara pada ayahmu.. . "
"Kalau ayah enggak membolehkan aku ikut gimana?"
"Ya berarti aku pergi tanpa kamu.. . "
"Aaaa, kok gitu sih.. . Mas Bagas bener-bener ingin ninggalin aku ya... ." Aku kembali merajuk.
"Ya, bukannya gitu.. . Kalau ayahmu enggak kasih izin kamu untuk pergi. Ya, kamu tunggu dokumen kamu atas nama Nurul selesai, jadi kamu bisa nyusul aku.. . " Jawab mas Bagas.
Aku mendengus antara kesal dan bingung. Tanpa sadar, entah kapan dan bagaimana aku melakukannya, ternyata kini aku sudah berada dalam pelukan mas Bagas.
"Atau gimana kalau proses pengobatannya ditunda saja sampai dokumen kamu selesai.. . ?" Tanya mas Bagas kemudian memberi alternatif yang langsung aku gelengi kepala.
"Ya, jangan dong.. . Semakin lama lagi nanti mas Bagas sembuhnya.. ."
__ADS_1
"Terus... ?"
Aku tidak menemukan jawaban untuk pertanyaan itu. Beberapa lama kami saling diam.
"Mas.. . Sambil mencari solusi dari masalah ini, boleh aku pamit dulu...?" Tanyaku sambil menarik diri dari pelukannya.
"Mau kemana?" Tanya mas Bagas sambil melepas pelukannya.
"Aku ingin melihat kamarku... Barangkali saja ada cuilan ingatan yang bisa kudapatkan."
"Oh... Ya, pergilah. Aku akan menunggumu sambil istirahat disini. Sekalian telpon pak Agus, gimana kabarnya mobil itu..."
"Mas Bagas enggak akan kemana-mana kan?" Tanyaku. Entahlah, rasanya aku kok jadi takut kehilangan gini. Padahal aku cuma mau ke lantai atas doang.
"Iya.. Memangnya mau kemana?" Mas Bagas malah balik bertanya bingung.
"Ya, enggak tahu... Pokoknya mas jangan kemana-mana... "
"Masa ke toilet aja enggak boleh... "
"Mas Bagas... " Rengek ku menanggapi gurauan mas Bagas.
"Iya... Iya... Percayalah, aku enggak akan kemana-mana tanpa kamu." Janji mas Bagas.
Aku tersenyum senang.
"Terima kasih... " Kataku sambil memeluk mas Bagas dan langsung melepaskannya setelah berhasil mencuri kecupan di pipinya.
"Udah...? Cuma gitu doang?" Tanya mas Bagas menggoda.
"Ya, sekarang gitu aja dulu.. Ntar lagi aku kasih bonus... " Sahut ku dengan gaya sok genit.
"Ya... salam... pergilah sekarang. Kalau enggak jangan salahkan aku kalau berubah pikiran dan membuatmu tidak bisa keluar dari kamar ini... "
Kami tertawa.
Muach
Ku lemparkan ciuman jauhku sambil melangkah pergi.
...*...
...*...
...*bersambung*...
__ADS_1
...*...
...*...