Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Selamet... Selamet...


__ADS_3

"Ya Allah... semoga tuan enggak marah... semoga nyonya enggak marah... semoga semuanya baik-baik saja... " Doa Nurul dalam hati. Sementara Sasa malah tertawa kecil merasa Nurul mengajaknya bermain......


Nurul baru mau masuk ke gerbang belakang, saat Sulis mendadak keluar dari pintu itu.


"Astaghfirullah... ! " Keduanya serentak beristighfar sambil mundur selangkah, sama-sama kaget.


"Sulis...! " Seru Nurul setengah kesal karena sudah dibuat kaget.


"Nurul... kamu ngapain dulu sih... tuan Bagas sama nyonya nyariin kamu dari tadi...." Ucap Sulis cepat.


"Waduh... gawat... gimana ini...? " Nurul jadi semakin panik rasanya. " Kamu sih, pake minta aku nemuin Kang Teguh, jadi aja... "


"Loh, aku cuma minta tolong kamu nganterin HP, terus ngapain kamu sampai lama di sana?" Sulis enggak terima disalahkan.


"Ah, udah deh. Enggak usah ngebahas itu sekarang, percuma... " Tukas Nurul, lalu dia kembali melanjutkan langkahnya.


"Nur.... kamu mau kemana? " Tanya Sulis sambil mengikuti langkah Nurul.


"Nemuin tuan Bagas lah... mau apa lagi..? " Sahut Nurul.


Nurul terus melangkah, sementara Sulis masih mengikutinya.


"Nur... itu anak siapa? " Tanya Sulis sambil melangkah. Belum sempat Nurul menjawab. Terdengar suara seseorang memanggil nama Nurul dengan nyaring.


"Nurul....! "


Nurul celingukan mencari arah asal suara. Sulis ikutan juga celingukan. Di sana, dari arah pintu penghubung ruang laundry sama dapur, terlihat Rara berjalan cepat mendekatinya.


"Eh, Rara... " Sambut Nurul senang.


"Kamu ini, baru enggak ketemu satu hari, sudah bikin sensasi... " Ucap Rara. Ucapannya mendadak terhenti saat matanya menangkap sosok kecil dalam gendongan temannya itu.


"Anak siapa ini? " Tanya nya.


"Aduh... ceritanya nanti aja lah... aku lagi ditungguin tuan ini... " Ucap Nurul setengah putus asa, benar-benar enggak kebayang deh, apa yang bakal dia terima dari tuan dan nyonya nya... yang pasti bukan sesuatu yang bagus kayaknya.


Setelah mengatakan itu, Nurul kembali melangkah. Sulis dan Rara saling bertukar pandang.


"Ada apa? " Tanya Rara berbisik pada Sulis.


"Dia dari tadi dicariin tuan sama nyonya... " Jawab Sulis sambil ikutan berbisik.


"Emangnya dia dari mana? kok sampai dicariin?" Rara bertanya lagi.


"Dari kandang... "

__ADS_1


"Heh?! Ngapain...? " Rara menatap Sulis bingung.


"Eh, eng... itu... " Sulis jadi takut juga untuk menjawabnya. Walau bagaimanapun, semua ini dia yang mengawalinya.


"Eh, nyonya dimana Lis.? " Tanya Nurul saat masuk ke area ruang makan. Dia bingung, mau ke ruang tamu atau ke kamar nyonya.


"Tadi sih ada di ruang tamu... " Rara yang menjawab.


Nurul langsung mengarahkan langkahnya ke sana.


Dari ambang pintu, Nurul melihat nyonya Supami tengah berdiri di dekat pintu, menjawab salam para tamu yang berpamitan pulang. Rupanya acara kenduri sudah selesai. Ya, cuma acara kenduri, bukan acara model resepsi pernikahan ya.


Nurul ragu-ragu untuk berjalan mendekat, dia hanya bisa berdiri mematung di samping pintu masuk hingga sebuah suara menarik perhatiannya.


"Dari mana saja kamu? " Tanya nyonya Silvia yang tahu-tahu sudah berada di belakang mereka. Ketiganya hampir berjingkat karena kagetnya. Terutama Nurul, karena dia mendengar nada yang begitu dingin dari pertanyaan itu. Kalau nada marah sih, dia sudah siap menerimanya, dia sadar kalau dia salah. Tapi nada dingin itu seperti mengisyaratkan sesuatu yang lebih mengkhawatirkan.


"Oh.. nyonya... saya... "


Belum selesai Nurul bicara, terdengar suara lain menegurnya.


"Nur... ! "


Nurul menoleh. Terlihat Bagas sudah berada tak jauh dari mereka. Tatapan matanya tajam, tapi keningnya sedikit berkerut saat melihat Nurul menggendong seorang anak kecil.


"Tuan... saya mohon maaf... sungguh saya tidak berniat.... "


"Eh...? Sulis... aku titip anak ini dulu ya... " Kata Nurul sambil berusaha menyerahkan Sasa ke gendongan Sulis.


"Kok aku sih? " Tanya Sulis seperti keberatan, tapi dia tetap membuka tangannya untuk menerima Sasa.


Tanpa diduga, Sasa malah menangis keras tidak mau melepaskan pelukannya pada tubuh Nurul.


"Ibu... ibu... " Tangisnya lagi sambil memanggil ibunya.


Suaranya yang melengking tinggi menarik perhatian semua orang yang ada di sana. Nurul jadi sempat panik karenanya.


" Ish.... cup... cup... jangan nangis... ya sudah enggak sama mbak Sulis juga enggak apa-apa..." Bujuk Nurul sambil menarik kembali Sasa dalam pelukannya. Agak dibenamkan nya wajah Sasa ke dadanya supaya bisa meredam suara tangis anak itu. Sekilas dia menoleh kearah tuan Bagas. Didapatinya tuannya itu tengah menatapnya dengan tatapan seperti memperingatkan.


"Ma-ti aku... " Gumamnya lirih, tapi bisa didengar oleh Sulis dan Rara yang masih berada di dekatnya.


"Udah temui saja mereka segera, terangkan apa alasannya... mereka pasti paham kok...." Hibur Rara sambil sedikit mendorong punggung Nurul supaya melangkah.


Sesaat Nurul menatap mata Rara berusaha meyakinkan diri, kalau yang dikatakan Rara memang benar.


"Kami tunggu di belakang..." Kata Sulis menambahkan. Setelah itu dia dan Rara berbalik dan pergi ke bagian dalam rumah.

__ADS_1


Nurul menghela nafas panjang sebentar lalu mulai melangkah mendekati tuan Bagas yang sedang duduk bersama beberapa tamu.


"Assalamu'alaikum... " Salam Nurul saat sudah berada di dekat mereka.


"Waalaikum salam... " Sahut mereka bersamaan.


"Wah... pengantin wanita, kemana saja..." Goda bu Nyai yang duduk disamping suaminya.


"Maaf, bu Nyai. Ada sedikit masalah ini... " Jawab Nurul.


"Anak siapa itu, Nur?" Tanya suatu suara menghentikan Nurul berbicara. Nyonya Supami!


Seketika Nurul menunduk takjim.


"Nyonya, ini... "


"Duduklah dulu... " Perintah nyonya Supami, sambil mendudukkan dirinya sendiri di kursi di samping bu Nyai. Sesaat Nurul menoleh ke arah Bagas. Bagas melirik singkat kearah kursi di sampingnya. Perlahan Nurul mendudukkan dirinya di sana. Setelah duduk, segera Nurul menceritakan semuanya tentang Sasa, anak yang membuatnya sampai lupa pada hajat penting untuknya dan Bagas.


"... Sungguh saya mohon maaf... " Nurul menutup uraiannya dengan sedikit membungkuk memohon maaf.


"Kasihan... anak sekecil ini kok ditinggal sama ibunya... " Ucap bu Nyai bersimpati. "Nur, bilangin sama bapaknya. Kalau dia kerepotan untuk mengasuhnya, boleh dititipkan di pondok... " Tambah Bu Nyai.


"Memangnya ada kelas khusus untuk anak sekecil ini bu Nyai? " Tanya Nurul.


"Ya enggak. Di pondok kelas paling rendah SD... kalau anak ini mah, jadi momongan ibu. Sudah lama enggak momong anak kecil, rasanya kok kangen... " Sahut bu Nyai sambil tertawa. Yang lain jadi ikutan tertawa.


"Mam mam... " Celetuk Sasa tiba-tiba menarik perhatian. Semua mata mengarah padanya.


"Lapar nak?" Tanya ustadz dengan nada ringan sambil bergurau.


"Mam mam mam... " Sahut Sasa seakan menekankan maksudnya.


"Nur, lebih baik kamu suapi dulu anak itu, kasihan, pasti dari siang tadi belum makan..." Perintah nyonya Supami pada Nurul. Nurul mengangguk lalu permisi ke belakang untuk mengurus Sasa.


"Tenang Gas... kamu enggak akan merasa tersaingi sama anak kecil itu kan?" Terdengar suara ustadz menggoda Bagas. Terdengar juga suara Bagas yang mendengus menanggapi godaan itu.


"Alhamdulillah.... selamet... selamet... " Gumam Nurul pelan sambil berjalan masuk kedalam.


...💓...


...💓...


...💓...


...⏩bersambung⏪...

__ADS_1


...💓...


__ADS_2