Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Nasi pecel


__ADS_3

Seperti biasa, alarm bawah sadarku membangunkan ku di pagi hari. Kulihat mas Bagas masih terlelap. Sejenak aku terdiam mengumpulkan kesadaran ku...


Dimana aku sekarang?


Ku edarkan pandangan ke seputar ruangan. Eh, iya... aku sekarang ada di rumah sakit.


Eh, ayah...


Aku segera menoleh ke arah ayah. Sepertinya ayah sudah bangun. Beliau menoleh kearahku. Sesaat kami saling pandang.


"Ayah..." Panggil ku pelan.


"Anna..." beliau balas memanggil.


Pelan-pelan aku keluar dari rengkuhan tangan mas Bagas dan berjalan mendekatinya.


"Ayah ada perlu sesuatu...?" Tanyaku.


"Ayah mau ke toilet..." Jawabnya.


"Oh, ayo aku bantu...?" Kataku. Lalu aku membantu ayah untuk duduk, lalu turun dan berjalan ke toilet.


"Aku bantu sampai dalam atau aku tunggu di sini saja?" Tanyaku, saat kami sudah sampai pintu toilet. Ya, kebiasaan membantu mas Bagas, aku jadi enggak begitu canggung lagi untuk membantu orang di toilet. Pokoknya pas di dalam menunduk dan mengabaikan segala macam "back sound" amanlah... 😅


"Enggak usah, kamu tunggu di sini saja." Jawab ayah. Aku mengangguk.


"Jangan dikunci pintunya, ya..." Kataku. Aku takut kalau dikunci, aku enggak sanggup mendobraknya kalau ada apa-apa. Gantian ayah yang mengangguk.


Pintu ditutup. Aku berdiri di samping pintu bersandar pada dinding. Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Ayah keluar dari sana. Kelihatannya, selain buang hajat, beliau juga sudah mencuci mukanya. Wajahnya terlihat lebih segar kini.


"Ayah bisa sendiri..." Kata ayah saat aku hendak membantunya kembali ke menuju pembaringan.


Aku mengurungkan niatku untuk membimbing ayah, tapi aku tetap mengikutinya hingga beliau duduk kembali diatas pembaringan.


"Ayah ada yang diperlukan lagi?" Tanyaku sambil merapihkan selimut yang ayah gunakan.


"Ayah lapar..." Jawab ayah sambil tersenyum seperti malu.


"Oh..."


Jam segini cari makanan dimana?


"Ayah mau makan apa?" Tanya ku lagi.


"Ayah mau nasi pecel... Rasanya sudah lama ayah enggak makan nasi pecel." Jawab ayah yang langsung membuat otakku berputar. Jam empat pagi, mau cari nasi pecel dimana?


"Emmm sebentar aku carikan, yah. Ayah tunggu aja sambil tiduran..."


"Ayah capek tiduran... "


"Oh, ya sudah, duduk saja..." Kataku, lalu aku menumpuk beberapa bantal untuk digunakan sebagai sandaran punggung ayah.

__ADS_1


"Ayah, aku cuci muka sebentar ya, sebelum keluar mencari nasi pecel." Ayah mengangguk.


Aku lalu masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Ya, cuci muka saja dulu, sepertinya waktu shubuh belum datang. Jadi mandinya nanti saja kalau sudah mau shubuhan.


Selesai cuci muka dan merapihkan rambut sekedarnya, aku lalu berpamitan pada ayah.


"Aku keluar sebentar ya..." Kataku. Ayah mengangguk.


"Jangan lama-lama, kalau memang enggak ada, enggak apa-apa, nanti saja agak siangan, pasti restoran sudah buka." Kata ayah saat aku menuju pintu. Aku mengangguk.


Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Aku tidak tahu kemana harus mencari nasi pecel sepagi ini. Mau cari lewat aplikasi, aku enggak punya aplikasinya. Mau tanya punya ayah malu. Punya mas Bagas? Aku malah enggak tahu, mas Bagas punya aplikasi model ginian atau enggak. Biasanya yang pesan makanan beginian kan pak Agus...


Eh, gimana kabar pak Agus ya?


Mendadak aku teringat pada supir suamiku itu. Seingatku, pak Agus masih tinggal di bengkel kemarin sore.


Saat hendak masuk lift yang akan membawa ku ke lantai dasar. Aku berpapasan dengan seorang OB yang baru muncul dari tangga. Aku langsung mendapat ide...


" Mas... mas...!" Panggil ku. Laki-laki petugas OB itu seketika menghentikan langkahnya dan menghadap ke arahku.


"Iya, mbak. Ada apa ya?" Tanyanya sopan.


"Mas tahu enggak, di sekitar sini yang jualan nasi pecel?" Tanyaku. Sejenak dia berpikir mengingat-ingat.


"Oh, ada mbak... Di kantin belakang rumah sakit..." Jawab laki-laki itu.


"Eh? Kantin rumah sakit bukannya ada di samping kanan?" Tanyaku lagi. Aku tahu, karena kemarin saat hendak menuju ruang farmasi, ada anak panah menunjukkan arah kantin rumah sakit.


"Mbak mau beli sendiri atau mau saya belikan, mbak... " Tiba-tiba laki-laki itu menawarkan.


"Mas e bisa membelikan?" Aku memastikan.


"Kalau sekarang bisa, mbak. Sebentar lagi sudah mulai jam sibuk, saya malah enggak bisa membantu..." Kata laki-laki itu.


"Oh, ya sudah... tolong belikan ya." Putus ku kemudian. " Ini uangnya..." Aku memberinya uang biru satu lembar.


"Cukup enggak?" Tanyaku.


"Minta berapa nasi pecel nya?"


"Tiga... "


"Oh, cukup. masih ada kembalian kayaknya..."


"Ya, sudah... bawa saja daripada kurang." Kataku.


"Diantar ke kamar mana, mbak...?"


"Kamar dua kosong enam."


Sejenak dia berpikir, mungkin membayangkan dimana persisnya kamar 206 itu.

__ADS_1


"Ruang VVIP?"


Aku mengangguk. Melihat aku mengangguk, sekarang gantian dia yang mengangguk.


"Baik mbak... saya pergi dulu..." Katanya.


Aku manatap punggung laki-laki itu berjalan menjauh, kembali turun lewat tangga. Setelah laki-laki itu menghilang di kelokan tangga, aku berbalik lagi ke kamar ayah, bertepatan dengan suara adzan subuh berkumandang di masjid dekat rumah sakit.


Aku masuk kembali ke kamar rawat ayah. Kulihat mas Bagas sudah bangun dan sudah duduk diatas kasurnya. Sementara ayah... dia memegang remot dan sedang memindah- mindah chanel. Entah apa yang beliau cari.


"Dari mana, Nur...?" Tanya mas Bagas.


"Dari luar cari nasi pecel... " Jawabku.


"Nasi pecel? Siapa yang mau makan nasi pecel pagi-pagi begini?" Tanya mas Bagas lagi dengan kening berkerut.


"Aku yang mau makan, kenapa?" Sahut ayah dengan nada yang seperti tersindir.


"Oh, ya enggak kenapa-kenapa... cuma takut saja, bapak kan baru saja sehat, takut perutnya kaget kalau pagi-pagi dikasih nasi pecel... " Ucap mas Bagas sekedar mengingatkan.


"Aku enggak apa-apa... Badanku itu sehat..." Ucap ayah lagi seakan tidak terima kalau mas Bagas menasehati.


Mas Bagas cuma angkat bahu berusaha menghindari kesalah pahaman.


"Gimana? Dapat nasi pecel nya?" Tanya ayah beralih padaku.


"Eung... sedang dipesankan, yah... Mungkin tak lama lagi diantar ke sini..." Jawabku.


"Mas, ayo... aku bantu bersih-bersih..." Perhatianku berpindah ke mas Bagas.


"Memangnya dia enggak bisa sendiri..." Ucap ayah tiba-tiba menghentikan semua aktivitas kami. Aku yang sudah mengangkat lengan mas Bagas untuk berpindah ke kursi roda seketika menatap ayah. Begitu juga mas Bagas.


"Mas Bagas bisa kok sendiri... aku hanya ingin membantunya saja..." Jawabku segera.


Terlihat ayah mendengus sambil mengalihkan perhatiannya kembali ke TV LCD besar, yang terpasang di dinding kamar, pas di depan pembaringan ayah.


"Manja..." Terdengar gumaman lemah, saat aku mendorong kursi roda mas Bagas ke kamar mandi.


Aku pura-pura tidak mendengar dan berharap mas Bagas malah benar-benar tidak mendengar gumaman itu.


Ya Allah... sepertinya bakal ada masalah baru ini....


...*...


...*...


...*bersambung*...


...*...


...*...

__ADS_1


__ADS_2