
"Ngomong-ngomong Rara udah pulang belum?" Tanya Nurul saat teringat sahabatnya itu.
"Ada sih kayaknya... Dia pulang lepas ashar tadi.. " Jawab Tati.
"Emm kalau gitu, aku nemuin dia dulu ya. Kita ajak tik tok an bareng." Kata Nurul sambil bangkit dari duduknya.
"Okelah... jangan lama-lama ya..."
Nurul mengangguk dan melangkah pergi.
Nurul melangkah penuh semangat untuk bertemu Rara. Ada banyak hal yang ingin dia ceritakan pada sahabatnya itu.
Tentang nama aslinya... Keluarganya ... juga rencana pernikahannya dengan Bagas. Semua itu sudah memenuhi pikirannya dan ingin segera dia tumpahkan pada Rara.
Tok tok tok
Nurul mengetuk pintu kamar Rara. Tidak ada sahutan.
Tok tok tok
Sekali lagi dia mengetuk. Masih belum ada sahutan.
"Anak itu ada di kamarnya atau enggak sih?" Tanya hati Nurul. Tapi untuk memastikannya, Nurul lalu mendorong pintu kamar Rara perlahan.
"Rara..." Panggil Nurul hati-hati. Masih tetap tidak ada sahutan. Tapi, dia melihat Rara ada di situ...
Nurul termangu sesaat di ambang pintu. Dia melihat Rara duduk di kursi menghadapi buku yang terbuka di atas meja di depannya, tapi pandangan temannya itu entah sedang bertandang ke mana. Pandangannya terlihat kosong.
"Rara..." Panggil Nurul lagi lebih hati-hati sambil berjalan mendekat.
"Eung..." Terdengar sahutan dari Rara, nadanya seperti orang yang merasa dipanggil orang dari kejauhan. Padahal Nurul yang memanggilnya sudah berada di kamarnya. Dan begitu dia menoleh dan melihat Nurul sudah berada di dekatnya, dia terlihat kaget.
"Nurul...!" Panggilnya seperti tidak percaya.
"Rara...!" Nurul tak kalah seru memanggil nama sahabatnya. Dia langsung merentangkan tangannya mengajak berpelukan.
Rara segera bangkit dan balas memeluk Nurul.
"Hai Ra, aku kangen...!" Kata Nurul.
"Aku juga..." Sahut Rara
"Eh, iya... Kapan datang?"
"Tadi siang..." Jawab Nurul. Pelukan mereka terurai lalu mereka duduk berhadapan di atas kasur.
"Pulang bareng tuan Bagas?" Tanya Rara basa-basi.
__ADS_1
"Ya iyalah bareng mas Bagas... tapi enggak cuma sama dia... " Jawab Nurul membuat kening Rara sedikit berkerut.
"Cie... udah panggil mas sekarang...?" Olok Rara sambil tertawa.
"Lah dia yang minta..."Nurul seperti mengelak malu.
" Enggak apa-apa lah... namanya sama suami. masa mau panggil tuan terus....
Eh, sama siapa lagi tadi? Dokter Ridwan?" Tebak Rara. Soalnya setahu dia pas berangkat kemarin dokter Ridwan memang ikut bersama mereka.
"Enggak. Dokter Ridwan masih tinggal di kota." Jawab Nurul semakin membuat Rara penasaran.
"Terus sama siapa lagi?" Tanya Rara akhirnya.
"Kamu tadi lewat depan masuknya?" Nurul balik bertanya. Rara mengangguk.
"Kamu enggak lihat siapa-siapa di sana?" Tanya Nurul lagi.
"Enggak... aku lihat ada mobil sih, terparkir di halaman. Tapi aku pikir itu mobil tamunya tuan Darmawan."
"Memang iya... mereka tamunya tuan Darmawan. Tapi mereka juga adalah keluarga ku... " Sahut Nurul penuh semangat.
"Keluarga mu? Maksudmu, kamu sudah menemukan keluarga mu?"
Nurul mengangguk masih penuh semangat.
"Bagaimana ceritanya, kamu bisa ketemu sama keluarga kamu? Emangnya penyakit amnesia mu sudah sembuh?" Tanya Rara beruntun.
"Ceritanya panjang banget, lain kali aja aku cerita. Eh, mumpung inget... Aku mau minta nomor HP kamu." Kata Nurul sambil mengeluarkan HP yang dikasih Bagas.
"HP baru?" Tanya Rara sambil mengambil HP itu dan mengetikkan nomornya.
"Bukan, ini hpnya mas Bagas... di kasih ke aku beberapa hari lalu, sebelum aku pergi ke kota. Tadinya mau minta nomor kamu dari kemarin, tapi enggak sempat ketemu kamu sampai kami pergi kemarin."
"Ohh... " Rara lalu mencoba menelpon ke nomornya sendiri lewat HP itu.
"Udah tuh..." Katanya. Dia mengembalikan HP Nurul dan mengambil hpnya sendiri. Memeriksa daftar misscall dan membuat kontak baru.
"Eh... Gimana keluarga kamu...?" Tanya Rara mengalihkan topik pembicaraan dengan antusias.
"Mereka sepertinya baik... Entahlah, aku tidak mempunyai kenangan apa-apa tentang mereka." Jawab Nurul.
"Ya... pelan-pelan nanti pasti kenangan kamu bakal balik lagi... Yang penting sekarang kamu bukan orang yang sebatang kara lagi... ada orang tua... saudara... teman... suami.... " Rara berusaha membesarkan hati Nurul.
"Iya... alhamdulillah... walaupun pernikahanku dengan mas Bagas harus diulang... "
"Diulang?" Beo Rara.
__ADS_1
"Iya... ayah bilang, identitas ku sudah jelas. Jadi menurutnya pernikahanku yang memakai nama Nurul enggak sah. Jadi harus diulang. Lagian katanya ayah yang jadi wali aku masih hidup, jadi harus dia yang menikahkan aku, bukan wali hakim...." Jelas Nurul. Rara yang mendengarkan jadi manggut-manggut.
"Jadi, nama mu siapa sekarang?" Tanya Rara lagi.
"Katanya, namaku Widiana... mereka memanggilku Anna... "
"Oh... Nona Anna... kenalkan, aku Paramitha..." Ucap Rara kemudian sambil mengulurkan tangan pura-pura mereka baru kenalan.
"Senang berkenalan denganmu nona Paramitha... " Sahut Nurul ikutan ber-drama, hingga mereka tertawa bersama. Setelah itu keduanya terdiam. Dua-duanya memainkan HP ditangan masing-masing.
Nurul ingin cerita tentang rencana pernikahannya itu, tapi saat mendongak dia seperti melihat kabut di wajah Rara.
"Ra... ada apa?" Tanya Nurul, membuat Rara seketika menoleh padanya.
"Apanya?" Rara balik bertanya dengan ekspresi bingung. Tapi Nurul paham, itu cuma akting Rara untuk menutupi kegundahan hatinya.
"Kamu kenapa? Kok seperti sendu gitu?"
"Sendu? Seneng Duit? Pastilah..." Sahut Rara disusul tawanya. Nurul ikutan tertawa, tapi Nurul bisa merasakan keringnya tawa Rara.
"Ra... Kita memang belum lama banget temenan. Tapi aku udah paham sifat kamu... Aku enggak maksa sih, tapi kalau memang ada yang mau kamu omongin, aku siap kok ngedengerin."
Sesaat Rara menghela nafas... Dia tertunduk. kegalauan kembali terlihat di raut wajahnya. Sebenarnya dia enggan untuk cerita. Tapi dia merasa dadanya demikin sesak oleh sejuta rasa yang selalu dia pendam sendiri.
"Aku enggak tahu musti ngomong gimana, Nur..." Katanya kemudian sambil memainkan kedua ibu jari di pangkuannya.
"Soal...?"
"Danu..." Rara berkata lirih. Sangat lirih hingga Nurul harus memastikan pendengarannya tidak salah dengar.
"Danu...? Tuan Danu...?"
Rara tidak menjawab, tapi dengan diamnya itu seakan membenarkan pertanyaan Nurul.
"Ada apa dengan tuan Danu?" Tanya Nurul dalam hati.
Otak Nurul langsung bekerja. Kalau tuan Danu macam-macam pada Rara sepertinya enggak. Majikannya yang satu itu termasuk orang yang taat dengan tata krama. Kenapa Rara sampai ada masalah dengan tuan Danu? Atau... mungkinkah...?
"Ra... kamu beneran ada feeling sama tuan Danu?" Tebak Nurul langsung. Rara yang mendengar ucapan Nurul tidak menjawab tapi malah menangis dan memeluk Nurul kembali.
"Loh... Loh... Ra..." Nurul kebingungan.
Beberapa saat dia biarkan Rara menangis di pundaknya.
"Aku udah berusaha untuk membuang rasa itu, Nur... Tapi enggak bisa. Semakin hari perasaan itu malah semakin kuat.
Aku sadar aku ini siapa, dia itu siapa. Aku udah coba untuk mengalihkan perhatianku darinya, tapi tetap saja enggak bisa.... " Ucap Rara disela isak nya.
__ADS_1
...❤️❤️❤️bersambung ❤️❤️❤️...
.