
Wajah sang pengusaha itu hanya tersorot sebentar di layar TV, karena ramainya kerumunan orang yang mendatangi bazar itu. Tapi kilasan itu terasa mencubit hati Nurul. Ada rasa nyeri yang tidak bisa dia pahami alasannya. Tanpa sadar, dia mencengkram lengan Bagas sementara matanya terus menatap TV, berharap bisa melihat wajah orang itu lagi. Tapi harapannya tidak terkabul. hingga ganti berita, sosok itu tidak muncul lagi.
"Ada apa?" Tanya Bagas saat merasakan tangannya dicengkram Nurul.
"Heh?" Tanya Nurul balik tanpa mengalihkan perhatinnya dari layar TV.
"Kamu kenapa mencengkram tanganku?" Tanya Bagas lagi.
"Heh?" Nurul masih belum sadar dengan yang telah dia lakukan pada lengan Bagas. Seakan enggan, perlahan dia menoleh kearah Bagas. Bagas menunjuk lengannya yang masih dicengkram Nurul dengan tatapan. Nurul mengikuti arah pandang Bagas dan seketika dia terjengit sendiri karena terkejut.
"Masya Allah...! Tuan, maaf... sungguh saya tidak sengaja..." Ucap Nurul cepat-cepat sambil segera melepaskan cengkramannya.
Ada gurat merah bekas jarinya di lengan tuannya itu. Bahkan ujung kukunya memberi tanda yang begitu jelas disana.
"Sakitkah tuan?" Tanya Nurul sambil refleks mengusap-usap guratan itu. Bagas menggeleng, tapi Nurul tidak melihatnya, dia terus sibuk mengusap-usap lengan Bagas. "Mohon maafkan saya, saya sungguh tidak sengaja melakukannya tuan...." Katanya terkesan panik.
"Kamu kenapa?" Bagas mengulangi pertanyaannya. Kali ini tangan Bagas sambil mengangkat dagu Nurul membawanya untuk menatap kearahnya. Ada kegelisahan di mata itu.
"Ada apa?" Tanya Bagas untuk kesekian kalinya. Tapi kali ini nadanya lembut sekali, berusaha menenangkan Nurul.
Nurul menggeleng bingung.
"Apa yang mengganggumu perasaanmu?" Tanya Bagas. Dia yakin ada sesuatu yang telah mengganggu Nurul, hingga Nurul sampai mencengkram lengannnya begitu rupa.
Nurul menoleh kembali kearah TV. Saat ini tayangan TV sudah ganti dan menayangkan sebuah film box Office dari mancanegara.
"Orang yang diberita tadi... saat melihat wajahnya, seperti ada sesuatu yang menyelinap di hati saya...." Ucap Nurul lirih.
"Apakah kau mengenalnya?" Bagas kembali bertanya.
"Tidak tahu... saya hanya merasakan sesuatu yang lain saat melihatnya... entahlah... cemas... takut... sedih ...tapi juga... hangat..." Nurul berusaha menjabarkan perasaannya, tapi dia sendiri juga tidak tahu pasti, apa yang dia rasakan.
"Sepertinya, kamu mengenal orang itu..." Ucap Bagas menebak kemungkinan yang ada.
"Mungkinkah?" Nurul balik bertanya.
"Aku enggak tahu pasti, tapi ini bisa jadi langkah awal untuk mulai mengorek identitas kamu sebenarnya."
__ADS_1
Nurul termangu mendengarnya. Mungkinkah dia bisa menemukan kembali keluarganya yang sejati? Kenapa hatinya malah menjadi takut menghadapi kemungkinan itu?
"Hushh... Jangan takut... sekarang ada aku disini..." Ucap Bagas saat menyadari tubuh Nurul seperti gemetar tiba-tiba. Dia meraih tubuh Nurul kedalam rengkuhannya. Nurul tidak berkata apapun. Lupa akan kecanggungan yang biasa dia rasakan setiap kali mereka bersentuhan, kini dia malah merapatkan tubuhnya, seakan dia ingin berlindung di sana.
Beberapa saat keduanya saling diam. Arah pandang tertuju ke TV, tapi pada kenyataaannya, keduanya hanyut dalam pemikiran masing-masing.
"Nur..." Panggil Bagas setelah beberapa saat kemudian.
"Ya..."
"Sebelum terjadi salah paham diantara kita.... sepertinya ada yang harus aku jelaskan padamu..." Ucap Bagas menarik perhatian Nurul yang sempat mengembara, menjajaki semua kemungkinan yang terpikir di benaknya tentang sosok di TV tadi.
"Tentang apa?" Tanya Nurul. Kali ini dia sudah berani menatap wajah tuannya itu tanpa ragu.
"Tentang hubungan kita ini..." Ucap Bagas yang seketika membuat Nurul bergerak sedikit menjauh dari rengkuhan Bagas.
"Apakah Bagas memutuskan untuk mengakhiri hubungan pernikahan ini?
Apakah hal ini dipengaruhi oleh sosok yang barusan dia ceritakan?"
Berbagai dugaan seketika memenuhi pikirannya.
Sungguh. Dia memang ingin mengetahui tentang latar belakang dirinya, tapi dia sama sekali tidak ingin hal itu mempengauhi kehidupannya yang saat ini sedang dia jalani. Mungkinkah hanya karena masa lalunya yang belum pasti, dia juga akan kehilangan masa depannya bersama Bagas saat ini?
"Dikatakan kalau hal ini ada kaitannya dengan orang yang kamu bicarakan ... bisa jadi begitu...."
Baru sampai sini Bagas bicara, tapi rasanya dada Nurul sudah sesak rasanya.Tanpa sadar dia menghela nafas bagai orang terluka. Ditatapnya wajah Bagas seakan menunggu suara 'DOR' dari seorang sniper.
"Hei... jangan sedih gitu ..." Ucap Bagas sambil menarik tubuh Nurul kembali kepelukannya.
"Tuan... jika tuan memang bermaksud untuk meninggalkan saya, mohon jangan terlalu bersikap manis pada saya ..." Ucap Nurul sambil berusaha menolak rengkuhan Bagas. Tanpa terasa sudut matanya sudah kembali tergenang. Hanya tinggal mengedip sedikit saja sudah bisa dipastikan bakal tercipta anak sungai di pipinya.
"Hush, yang ngomong mau ninggalin kamu itu siapa?" Ucap Bagas sambil berusaha tersenyum untuk mencegah terjadinya banjir bandang di wajah manis itu. Wajah wanita yang tanpa diduga sudah menjadi fokus perhatiannya selama beberapa minggu terakhir.
"Lalu maksud tuan sebenarnya apa?" Tanya Nurul akhirnya sedikit kesal.
"Makanya kalau ada orang ngomong dengerin dulu, jangan langsung mikir yang macam-macam...."
__ADS_1
"Maksudku... Sepertinya, untuk sementara waktu, aku tidak bisa memenuhi kewajibanku memberi nafkah batin padamu, karena...." Bagas segera mengimbuhkan kata KARENA saat dilihatnya mulut Nurul sudah siap-siap untuk menyela ucapannya. Benar saja, mendengar kata karena, mulut Nurul langsung mingkem lagi tidak jadi menyela.
"Karena.... Kamu ini seperti tumpukan uang bergambar proklamator yang aku temukan di tengah jalan..."
"Heh?!"
Bagas tertawa melihat reaksi dan ekspresi wajah Nurul saat mendengar dirinya disamakan dengan tumpukan uang berwarna merah itu. Itu apa maksudnya?
"Maksudnya?" Tanya Nurul refleks.
"Ya... seperti kamu kalau nemu uang di tengah jalan... apa yang kamu lakukan?" Bagas mencoba beranalogi untuk membuat Nurul berfikir dan tidak hanyut dengan perasaan yang kadang malah membawanya berpikir yang tidak-tidak.
"Biasanya kalau orang nemu uang, kita harus mencari pemilik dari uang itu..." Jawab Nurul.
"Ya, seperti itulah..."
"Jadi tuan akan mencari siapa pemilik saya, gitu?"
"Semacam itu..."
"Tapi tuan, saya kan manusia... bukan barang yang bisa begitu saja diserah terimakan...."
"Justru karena kamu itu manusia, aku ingin memiliki kamu dengan cara yang terhormat..." Bagas menjeda ucapannya sambil berusaha merangkai kata yang tidak akan membuat Nurul kembali salah paham.
"...Awalnya, aku ingin langsung memilikimu... toh, tidak ada hal lain yang bisa dipertimbangkan yang bisa menghalangi kita. Tapi, saat mendengar ceritamu tadi, yang mengatakan seolah kamu mengenal orang lain diluar sana, berarti ada satu celah yang harus diselidiki.
Aku terpikir akan seseorang yang saat ini mungkin sedang kehilangan anak gadisnya... atau mungkin istrinya..." Ucap Bagas dengan nada yang sangat pelan diujung kalimat
Nurul kembali termenung mendengar uraian Bagas.
"Tuan... jika kelak nanti terbukti kalau saya ini istri orang... akankah tuan melepaskan saya?"
"Entahlah.... Maukah kamu saya lepaskan?" Bagas malah balik bertanya. Lagi-lagi Nurul dibuat termenung mendengar ucapan Bagas.
🎲
🎲
__ADS_1
🎲Bersambung🎲
🎲