
Munir nganter Yanto beli HP ke kota. Pulangnya paling-paling lewat maghrib. Ya, jadi aku yang kena untuk nunggu kandang sampai pekerjaan mereka selesai... " Terang Teguh.
Nurul cuma bisa manggut-manggut mendengar penuturan Teguh. Ya habis mau gimana lagi? Mau menawarkan diri menggantikannya mengawasi kegiatan pembersihan kandang? Ih, enggak lah. Masih ada pekerjaan lain yang lebih menarik untuk dilakukan daripada hanya ngejongkrok dikandang.
Baru saja dia membuka mulut untuk berpamitan, tiba-tiba terdengar suara anak kecil menangis dengan kencangnya. Nurul langsung bertukar pandang dengan Teguh. Anak siapa itu? Kok ada di sekitar kandang?
Karena suaranya terdengar dari arah truk, segera saja mereka mendekat ke sana. Dari pintu yang jendelanya terbuka, mereka melihat seorang anak kecil duduk sambil celingukan dan menangis keras.
"Ibu.... Ibu.... " Panggilnya sambil menangis. Air matanya deras membasahi pipinya yang terlihat sedikit kotor. Sepertinya anak itu tadi memang tidur di jok mobil, terlihat disana sehelai sarung yang sepertinya tadi digunakan untuk menyelimutinya.
"Sayang... anak siapa ini, baru bangun ya... cup.. cup... jangan nangis lagi ya... " Ucap Nurul yang seketika merasa kasihan melihat anak itu. Dia segera masuk dan meraih anak itu dalam pelukannya.
"Anak siapa ini Kang? " Tanyanya pada Teguh, sambil tangannya terus membelai punggung anak kecil yang belum juga berhenti menangis.
"Ibu.... ibu... " Anak itu terus memanggil ibunya.
"Enggak tahu... sebentar... " Sahut Teguh, dan berbalik untuk bertanya pada orang-orang pengangkut sekam tadi. Tapi baru saja satu langkah dia berjalan, dari dalam kandang, keluar seorang pria, salah satu dari orang yang tadi membawa gulungan karung.
"Anakku bangun ya, kang...?" Katanya sambil berjalan cepat mendekat.
"Iya, itu... nyariin ibunya... " Kata Teguh.
Pria itu lalu mendekati Nurul dan meminta anaknya dari gendongan Nurul. Anak itu berpindah ke pelukan laki-laki itu. Tapi tetap menangis mencari ibunya.
"Cup... cup... sayang... ini sama bapak dulu ya... Eh, itu jajan punya Sasa... Sasa mau makan jajan yang mana...? " Bujuk laki-laki itu berusaha mengalihkan perhatian anaknya dari mencari ibunya.
"Kok tumben, anaknya ikut...? " Tanya Teguh.
"Embah nya lagi sakit, kasihan kalau masih harus ngurus anakku... " Jawab laki-laki itu.
"Lah, ibunya? " Celetuk Nurul tanpa tertahan.
"Ibunya minggat. Sudah seminggu enggak pulang..." Jawab laki-laki itu sambil tersenyum. Senyuman kecut. Wajahnya menunduk mengarah pada sang anak. Tangannya agak gemetar, tapi dia terus mengusap-usap kepala anak itu. Kelihatan sekali, kalau dia sedang berusaha menahan emosinya.
Mendengar jawaban itu, Nurul spontan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
__ADS_1
"Lah, terus... kamu kerja sambil bawa anak ini kemana-mana? " Tanya Teguh.
"Ya... mau bagaimana lagi. Mau ditinggal juga kasihan, ya sudah aku bawa saja... " Jawab laki-laki itu.
"Eng... memangnya kenapa ibunya bisa sampai minggat, mas? " Tanya Nurul hati-hati. Dia penasaran, tapi juga takut menyinggung perasaan laki-laki itu.
"Enggak tahan jadi orang miskin, mbak... Ternyata dengan penghasilanku ini, dia tidak merasa tercukupi, jadi ya... minggat... " Jawab laki-laki itu dengan perasaan marah campur sedih.
"Padahal semua pendapatan ku sudah aku berikan semua, ada hasil sedikit dari sawah juga dia yang pegang... tapi ya... mungkin memang masih kurang untuk dia.... " Cerita laki-laki itu mendadak curhat. Nurul sampai menghela nafas panjang mendengar cerita itu. Kasihan sekali....
Anak kecil itu sudah tidak menangis. Dia asik mempermainkan sebungkus kue yang sepertinya isinya sudah hancur gara-gara dia remas. Tapi sewaktu bapaknya menaruh dia kembali ke jok mobil, dia kembali menangis.
"Sasa sayang... Sasa main disini dulu ya... bapak mau lanjut kerja. Biar cepat selesai terus cepat pulang... " Bujuk laki-laki itu.
"Ibu... ibu... " Anak kecil yang dipanggil Sasa itu malah kembali memanggil-manggil ibunya.
"Duh, kalau seperti ini bapak enggak bisa kerja, sayang... " Kata laki-laki itu kebingungan.
"Ibu.... ibu... " Sasa terus menangis. Karena enggak tega, Nurul lalu berusaha membujuk.
"Sasa sayang... ikut mbak yuk... bapaknya biar kerja dulu... " Bujuk nya. Sesaat Sasa masih menangis. Tapi saat tangan Nurul meraih dan mendekap nya, tangis Sasa berhenti.
"Emen... " Sahutnya.
"Emen...? Oh, iya... permen... mau berapa permennya...? "
"Anyak... "
"Sip... Nanti bapak beli permen yang banyak ya, buat Sasa... tapi jangan langsung dihabisin ya... nanti gigi Sasa sakit... "
Mendengar kata gigi Sasa langsung meringis menunjukkan giginya yang masih rapih. Nurul tertawa melihatnya.
"Sudah, mas... kalau mau kerja silahkan kerja. Sasa biar sama aku dulu... " Ujar Nurul pada laki-laki itu.
Laki-laki itu sesaat ragu.
__ADS_1
"Emangnya enggak akan merepotkan, mbak?"
"Udah... tenang saja... " Kata Nurul.
"Ya, sudah... saya titip Sasa ya, mbak... Makasih sebelumnya... " Ucap laki-laki itu akhirnya. Nurul tersenyum dan mengangguk.
Laki-laki itu melangkah kembali ke arah kandang. Ditolehnya anaknya sekali lagi, sebelum akhirnya dia masuk dan kembali melakukan pekerjaannya.
Sepeninggal bapaknya Sasa, Nurul masih sempat bermain diatas truk itu sebentar, sampai tiba-tiba Teguh menegurnya.
"Nur... di rumah induk sedang ada acara apa sih? kok bikin kue banyak? " Tanyanya sambil menggigit sepotong kue, yang tadi dibawakan Sulis.
"Astaghfirullah... " Seketika Nurul tersadar, lalu memukul keningnya sendiri.
Nurul benar-benar lupa dengan acara yang sedang berlangsung di rumah. Apa kata tuannya nanti? Sudah berapa lama dia berada di kandang ini?
Lebih menakutkan lagi, bagaimana kalau nyonya sampai marah...?
Nurul menatap Teguh dan Sasa bergantian. Bagaimana dengan acara yang sedang digelar sekarang? Kalau Sasa dititipkan ke Teguh... rasanya kok enggak bertanggung jawab ya... Dia tadi sudah bilang sanggup menjaga Sasa, sampai bapaknya selesai kerja... Lalu, berkalau Sasa dibawa ke rumah?
"Hei...! Ditanya kok malah bengong sih?" Tegur Teguh karena Nurul tidak segera menjawab pertanyaannya.
"Kang... aku sepertinya harus segera kembali ke rumah deh... Sasa aku bawa, nanti Kang Teguh bilangin ke bapaknya, kalau sudah selesai, telpon Sulis aja, nanti Sasa aku anterin lagi ke sini.... " Ucap Nurul. Dia segera menggendong Sasa, dan mengemas jajanannya, takut nanti Sasa memintanya pas sudah sampai rumah.
"Oh... he eh... " Sahut Teguh sambil memperhatikan Nurul yang bergerak tergesa-gesa. Untung Sasa enggak nangis lagi. Dia anteng saja berada di pelukan Nurul.
"Hati-hati...! " Seru Teguh, saat melihat Nurul berjalan setengah berlari sambil menggendong anak kecil.
Nurul tidak menjawab, tapi dia sedikit memperlambat langkahnya.
"Ya Allah... semoga tuan enggak marah... semoga nyonya enggak marah... semoga semuanya baik-baik saja... " Doa Nurul dalam hati. Sementara Sasa malah tertawa kecil merasa Nurul mengajaknya bermain......
...๐...
...๐...
__ADS_1
...๐bersambung ๐...
...๐...