
Aku menerima dokumen itu dengan kening sedikit berkerut. Ini bukti kepercayaan atau test kemampuan ya...? π€
Aku baca dokumen itu dan berusaha untuk memahami yang tertulis disana. Setelah beberapa saat, aku selesai membaca dan memahami maksudnya.
"So... gimana menurutmu?" Tanya tuan saat melihat aku mengangkat wajah dari bacaan dihadapanku.
"Em... ini poin yang mereka tawarkan untuk kerjasama ini?" Aku balik bertanya. Tuan mengangguk.
"Apakah ini awal kerjasama kalian, atau sebelumnya sudah pernah bekerja sama?" Aku bertanya lagi.
"Ini tawaran kerjasama mereka yang pertama..." Jawab tuan.
"Jadi bisa dibilang, kita belum punya pengalaman untuk bekerja sama dengan mereka, kalau begitu mungkin sebaiknya kontrak masa percobaan kerjasama ini jangan terlalu panjang. Tiga bulan rasanya cukup tuan, kalau kurang bisa diperpanjang, kalau sekiranya merugikan bisa segera diputuskan..."
Aku lalu menyampaikan semua pendapatku tentang isi kontrak kerjasama itu. Rasanya seperti sedang wawancara kerja atau ujian skripsi gitu. Tuan mendengarkan pendapatku tanpa banyak komentar. Entahlah, mungkin dia cuma sekedar menguji kemampuan ku. Aku sendiri juga sadar diri, pastinya semua yang aku sampaikan sudah terlintas dipikirannya. Aku cuma berusaha untuk menunjukkan, kalau setidaknya istrinya ini bisa berpikir. Entah itu benar atau salah, yang penting enggak seperti orang be*go aja.
Tak lama setelah selesai aku menyampaikan pendapatku, tuan Nugraha datang.
"Mas... " Sapanya saat melihat tuan Bagas ada di ruangan itu.
"Hem... baru datang kamu... " Sahut tuan Bagas.
"Aku tadi mampir ke kandang yang di komplek Pagelaran ... Mereka bilang ayam disana sudah siap untuk dipanen..." Jawab Nugraha memberi alasan keterlambatannya.
Sambil bicara, Nugraha menoleh kearahku, ada seulas senyum canggung dibibirnya saat mendapati keberadaanku disana. Spontan aku membalasnya dengan anggukan hormat.
"Jam berapa pihak Dirgantara akan datang?" Tanya tuan Bagas.
"Barusan mereka telpon, katanya mereka sudah didekat sini... " Jawab Nugraha.
Nugraha lalu menuju meja kerja dan duduk di sana. Menaruh tas kerjanya dan mencari sesuatu di tumpukan berkas yang ada di sana.
"Ini map punya Dirgantara... " Ucap tuan memberi tahu.
"Oh... Lalu, bagaimana keputusanmu mas?" Tanya tuan Nugraha.
"Bisa kita coba untuk bekerjasama dengan perusahaan swalayan ini, tapi ada beberapa poin yang harus dibicarakan lagi..." Jawab tuan Bagas. Tuan Nugraha manggut-manggut mendengarkan petunjuk kakaknya.
Tak lama kemudian, wanita yang tadi duduk di bangku dekat pintu, masuk dan memberi tahu, kalau tamu yang dinanti sudah datang dan menanti mereka di ruang rapat.
__ADS_1
"Kamu tunggu disini sebentar ya..." Ucap tuan Bagas padaku sebelum pergi. Aku mengangguk. Mereka lalu keluar ruangan meninggalkan aku sendiri. Boring? Pastinya. Untung wanita tadi tak lama kemudian muncul lagi dan membawakan aku secangkir teh dan sepiring kue basah untuk camilan.
"Em... mbak, maaf. Boleh tanya?" Ucap wanita itu padaku, saat dia mengantarkan camilan itu.
"Tanya apa, ya?"
"Mbak ini siapanya tuan ya...?" Tanya wanita itu.
"Oh.. Em... saya ini pelayan tuan... " Jawab ku. Tadinya aku mau bilang istrinya... tapi aku kok enggak se Pede itu untuk ngaku istrinya tuan ya? π€
"Tapi kenapa tuan membawa pelayan ke kantor? Mbak pasti pelayan istimewa ya?" Tebak wanita itu sambil tersenyum penuh arti. Aku cuma bisa tersenyum sambil menggedikkan bahu. "Terserah dia mau pikir apalah." Putus ku.
"Kenalkan, saya Saras, sekretaris tuan..." Ucap wanita itu lagi kini sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.
"Saya Nurul... " Sambut ku. "Mbak Saras sekretaris tuan Bagas...?" Aku bertanya.
"Sebenarnya sih, saya sekretaris tuan Bagas, tapi sejak tuan Bagas memilih untuk bekerja di rumah, secara official saya bekerja pada tuan Nugraha, sebagai wakil direktur yang mewakili tuan Bagas..."
"Oh jadi tuan Nugraha itu wakil sedang direkturnya tuan Bagas... " Ucapku perlahan menyimpulkan.
"Maaf mbak... saya harus segera ke ruang rapat, kita bicara lagi lain waktu ya..." Ucap Saras kemudian berpamitan. Aku mengangguk. Dan Saras pun berlalu dari ruangan itu.
"Siapkan draf kerjasamanya, setelah siap bawa padaku.... Sekarang aku pergi dulu... " Ucap tuan Bagas pada tuan Nugraha.
"Baik, mas..." Jawab Nugraha. Tuan Bagas memberi isyarat padaku untuk mengikutinya. Aku langsung bergerak, mengambil posisi, sedikit di belakang kursi tuan.
Kursi roda tuan meluncur keluar ruangan. Aku mengikutinya. Seperti tadi, sepanjang jalan yang aku lalui, Orang-orang saling bertukar pandang dengan teman di sebelahnya. Aku hampir yakin, kalau mereka pasti membicarakan aku. Bukannya aku mau berburuk sangka, Tapi kenapa ya, aku hampir yakin juga kalau pembicaraan mereka itu bernilai negatif. Aku bisa ditebaknya dari raut wajah mereka saat memandang ku. Tapi... Ah, sudahlah, yang penting aku tidak melakukan kesalahan kan?
Sesuai janjinya, tuan mengajakku berbelanja. Kami pergi ke sebuah mall besar. Dan kamu tahu? Aku sungguh dibuat terharu oleh tuan. Dalam kondisinya yang mengharuskannya duduk di kursi roda, tuan masih mau menemaniku, masuk ke mall.
"Tuan, Terima kasih... " Ucapku saat aku melangkah menjajarinya.
"Sudahlah, ayo kita berbelanja. Kamu biasanya beli baju dimana...?" Tanya tuan tanpa menoleh.
"Saya tidak ingat kalau saya pernah berbelanja, tuan... " Sahutku.
"Lalu, pakaian mu...?"
"Oh, itu... Teman-teman di rumah yang memberikannya. Sebagian karena sudah enggak muat, sebagian lagi karena sudah bosan dan enggak modis lagi katanya... " Jawabku jujur.
__ADS_1
Memang semua pakaian yang aku punya sekarang itu adalah pemberian orang. Karena seperti yang sudah aku ceritakan dulu, aku tidak punya apapun, walaupun hanya selembar kertas, yang bisa membantuku mencari identitas ku. Semua barang dan masa lalu ku bagai ikut terbakar bersama ledakan bis yang masuk jurang itu.
Kurasakan tangan tuan meraih tanganku. Aku menoleh, tapi tuan tetap menatap ke depan. Hanya genggamannya yang sedikit menguat yang kurasakan, seperti ingin mengatakan, kalau dia akan selalu ada disampingku.
Langkahku terhenti. Tuan juga jadi ikut berhenti, dia berbalik menatapku, keningnya sedikit berkerut seakan bertanya, kenapa aku berhenti.
Aku melangkah maju, seketika berlutut dihadapannya. Ku kecup tangan tuan yang menggenggam tanganku penuh rasa hormat dan terima kasih. Ya, aku sangat berterimakasih, karena tuan telah mau mengangkat derajat ku yang seperti gelandangan ini untuk berdiri disampingnya.
"Terima kasih tuan... " Ucapku lirih. Kurasakan tangan tuan Bagas yang lain menyentuh kepalaku. Tidak berkata apa-apa, tapi saat mendongak, aku melihat senyum tuan.
"Ayo... " Katanya kemudian. Aku kembali berdiri. Lalu kami kembali melangkah.
Tuan memimpin langkah kami menuju suatu butik yang ada di mall itu. Sepertinya butik itu adalah langganan tuan, karena kulihat, pemilik butik itu sendiri yang melayani tuan, dibantu beberapa pelayannya.
Pemilik butik itu seorang wanita setengah baya, mungkin usianya hampir sama dengan nyonya Santi. Beliau menyambut kami dengan ramah sekali tadi. Beliau menyuruh pelayannya untuk menunjukkan padaku koleksi pakaian mereka, sementara dia sendiri menemani tuan Bagas bercakap-cakap.
Aku cuma memilih dua stel baju di butik itu, tapi ternyata, tuan sendiri sudah menunjuk beberapa baju untuk ikut dikemas saat acara belanja itu selesai.
"Gas, selamat atas pernikahanmu... Semoga kalian menjadi pasangan yang sakinah mawaddah warohmah ya... " Ucap wanita itu saat kami berpamitan pulang.
"Terima kasih... " Sahut kami hampir bersamaan.
"Nurul... itu pakaian yang sudah kalian pilih, sedang ini... " Lanjut wanita itu sambil menunjukkan kemasan lain yang tersisih di meja kasir. "Ini hadiah ku atas pernikahan kalian... Semoga kamu suka ya... " Katanya lagi sambil menyerahkan bungkusan itu. Aku agak terkejut menerima hadiah itu.
"Terima kasih, nyonya... " Ucapku agak terbata.
"Sama-sama... " Sahut wanita itu sambil menepuk pundakku pelan.
"Terima kasih ya, Allah..." Bisik hatiku. Sebelumnya, aku tidak pernah berpikir hal lain saat memutuskan menikah, selain hanya untuk menghalalkan diriku untuk tuan Bagas. Tapi ternyata, pernikahan itu memberiku hal lain yang selama ini dalam mimpi pun tidak berani aku berharap.
Kini aku punya keluarga dan status, lengkap dengan tanggung jawab yang menyertainya.
.... ...
.... ...
...πbersambungπ...
...π π π...
__ADS_1