Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Masih bertukar cerita


__ADS_3

Sofia dan Retno mengusap sudut matanya. Membayangkan anak kesayangan mereka harus menjalani hidup dengan kondisi yang sangat "rendah". Padahal dia itu anak seorang konglomerat, terbiasa dimanja dan dihormati.


"Saat kami lihat Nurul pertama itu sebelum Rara bercerita tentang dia. Setelah Rara cerita, dan memastikan kalau yang Rara maksud adalah orang yang sama dengan yang kami temui di rumah sakit, kami langsung setuju untuk membawanya ke rumah ini..." Lanjut Santi.


"Selain karena permintaan Rara, kami berharap, keberadaan Nurul bisa menularkan semangatnya pada Bagas. Alhamdulillah, Bagas memang terpancing semangatnya melihat Nurul, hingga saat iseng-iseng ibu menjodohkan Bagas dengannya, anak itu malah setuju... " Santi tertawa mengakhiri ceritanya. Dia sama sekali tidak mengungkit kalau alasan sebenarnya dari perjodohan itu awalnya adalah karena tantangan dari maru-nya.


"Ya, urusan jodoh... rezeki dan pati itu memang urusan Gusti Allah..." Sambung nyonya Supami.


"Contohnya ya, Bagas itu... sudah bertunangan sekian tahun, tiba-tiba harus putus dengan cara yang tidak disangka-sangka.


Lah, dijodohkan dengan Nurul yang bisa dibilang enggak dia kenal sama sekali kok malah bisa langsung menikah.


Ya, apapun alasannya, pernikahan sudah berlangsung. Dan jika saat ini pernikahan itu harus diulang, tidak berarti mereka tidak berhasil dalam pernikahan mereka, kan?" Lanjut nyonya Supami lagi.


"Aku do'a kan, semoga rumah tangga mereka nanti bisa langgeng sampai maut memisahkan."


"Aamiin..." Sahut semuanya yang ada di sana.


"Terima kasih, ibu atas do'anya. Terima kasih juga, karena ibu mau ber menantu kan Anna, padahal ibu tidak mengenal Anna sama sekali... " Ucap Sofia merendah.


"Bukan tidak mengenal sama sekali... Selama berada di sini, anak itu aku amati.... " Koreksi nyonya Supami.


"Dari pembawaannya, aku bisa menilai, dia itu anak yang baik. Aku tidak perlu tahu bibit, bebet dan bobot seseorang untuk jadi menantu... cukup dari karakter anaknya saja...


Bibit yang baik kalau pertumbuhannya nyeleneh jadinya juga enggak bagus. Bebet nya baik kalau enggak pintar mengatur juga habis... sedangkan bobot..? Kalau karakter anaknya baik, bobotnya bisa terus dikembangkan semaksimal mungkin... Kalaupun punya bobot yang bagus, tapi tidak diimbangi dengan sifat yang baik juga jadinya angkuh... sombong... merasa benar... Lah, bagaimana mau jadi makmum yang baik kalau begitu... " Ucap nyonya Supami panjang lebar.


"Intinya dalam menjalani hidup ini ya satu... Ojo dumeh.... Jangan merasa kamu itu.... kaya, cantik, pintar... Semua itu tidak kekal.


Orang kaya bisa langsung melarat dalam sekejap. Yang cantik juga gitu... kalau sudah tua enggak akan dibilang cantik lagi... udah keriput, ompong... koyok aku... " Ucap nyonya Supami langsung terkekeh sambil menutup mulutnya. Yang lain ikut tertawa mendengar banyolan orang tua itu.


Ya, buat mereka itu memang cuma banyolan. Nyonya Supami itu walaupun sudah berumur, tapi kecantikannya masih terlihat, Ya memang ada sedikit keriput, tapi tidak ompong. Giginya masih terlihat rapih, walaupun tidak putih. Apalagi bibirnya, bibirnya terlihat merah walaupun tanpa lipstik.


"Tapi ibu, walaupun sudah terbilang sepuh, ibu itu masih terlihat cantik..." Kata Sofia menanggapi ucapan nyonya Supami.


"Mosok sih?" Sahut nyonya Supami sok kemayu yang langsung disambut tawa semuanya.


"Oalah nduk... guyon-guyon (bercanda) ... Aku itu cuma mencoba menikmati hidup. Apa yang ada ya disyukuri... Enggak usah banyak pikir. Banyak pikir, bikin pikiran tambah ruwet. ... Kalian tahu lagu ini...?"


Lalu dengan gaya lucunya, nyonya Supami bernyanyi.


🎶


...Joko Tingkir ngombe dawet...


...Jo dipikir marai mumet...


...Ngopek jamur nggone Mbah Wage...

__ADS_1


...Pantang mundur, terus nyambut gawe...


^^^🎶^^^


yang lain langsung menimpali...


🎶


Pantang mundur, terus nyambut gawe


^^^🎶^^^


Usai itu mereka tertawa bersama.


"Ancen iyo kok, makanya kalau punya masalah enggak usah dipikir ngantek njeleput. Nanti malah nggarai mumet..." Lanjut nyonya Supami lagi.


(\=Memang iya, kalau punya masalah jangan terlalu dipikir bisa membuat pusing)


"Tapi bu, kalau enggak dipikir gimana masalah mau selesai...?" Tanya Retno minta petunjuk.


"Makanya jangan dipikir... cukup dijalani..." Sahut nyonya Supami membuat kening Retno sedikit mengerut.


"Maksudnya gimana sih, bu...?" Tanyanya.


"Maksudnya...? Gini nih... Misalnya nduk ini susah punya anak kok bandel...


Anak nek bandel itu di nasehati... di kasih contoh yang baik... di do'akan... Kalau hanya dipikir, apakah anak itu tahu? Apakah anak itu akan berubah?"


Retno manggut-manggut mulai paham.


"Kalau sudah dinasehati, sudah dikasih contoh dan sudah didoakan enggak berubah juga?" Tanya Retno belum puas.


"Kipat no ae..." Sahut nyonya Supami sambil kembali terkekeh. Yang mendengar malah jadi mesem sendiri.


Maksudnya "Kipat no ae" itu kan buang saja. Tapi masa iya anak mau dibuang?


"Oalah nduk... Anak itu buatan Gusti Allah... Walaupun sampean yang cetak, sejatinya kan yo itu buatan Gusti Allah...


Ya, kalau sampean punya masalah sama produk suatu pabrik, ya protesnya sama pabriknya. Seperti juga anak sampean, kalau sampean merasa tidak cocok, ya ngadu saja sama yang bikin.


Gusti Allah, Njenengan kasih saya anak kok bandel begini ya Allah... mbok tolong diperbaiki..." Jelas nyonya Supami dengan gayanya yang khas.


"Asal jangan minta retur aja ya... " Imbuhnya cepat dan langsung disambut tawa lagi oleh semuanya.


* * *


Di sisi lain, Nurul yang tahu kalau dia harus ikut keluarganya kembali ke kota malam itu juga, menyempatkan diri bertemu dengan teman-temannya di belakang.

__ADS_1


Dia melangkah melalui ruang makan sambil celingukan. Dia ingin bertemu dengan temannya, tapi kalau bisa enggak usah bertemu dengan bu Surti. Bukan karena ada dendam, hanya saja dia enggak ingin kalau bu Surti itu nanti merusak moodnya.


"Tati...!" Panggil Nurul saat masuk ke area dapur dan melihat temannya itu sedang bekerja bersama beberapa teman lain.


Yang dipanggil segera menoleh...


"Nurul...!" Balas Tati enggak kalah seru. Dia segera meletakkan piring yang sedang dia serbeti dan berlari heboh menuju Nurul.


Keduanya berpelukan bagaikan sudah berbulan-bulan enggak ketemu.


"Huh... dasar lebay..." Ejek teman yang lain. Tapi tetap saja saat Nurul mendekat, mereka berpelukan ala-ala teletubbies...


"Hei.. aku dengar kamu sudah bertemu dengan keluargamu?" Tanya Tati yang langsung mendudukkan Nurul di bangku panjang tempat dia tadi me-lap piring.


"Iya... Alhamdulillah..." Ucap Nurul senang.


"Alhamdulillah... Jadi, kamu enggak akan tinggal di sini lagi dong?" Tanya Tati dengan gaya yang seperti sendu gitu. Nurul cuma bisa tersenyum penuh misteri. Ya, habis dia sendiri enggak tahu.


Kalau dia jadi menikah dengan Bagas, apakah Bagas akan membawanya pindah kerumah yang dulu itu, tetap tinggal disini... Kalau enggak jadi nikah? (amit-amit... Nurul langsung mengetuk kan jarinya ke atas bangku) Kalau enggak jadi nikah dia tentu harus ikut keluarganya di kota.


"Mumpung sekarang aku di sini... kita nikmati aja..." Ujar Nurul akhirnya. Walaupun masih dengan muka cemberut akhirnya mereka menerima usul Nurul.


"Hei... kita bikin tik tok lagi yuk..." Ajak Maya kemudian.


"Yuk..." Sahut sebagian yang lain..


"Yaaa... Aku masih harus nyiapin makan malam ini..." Ucap sebagian yang lain lagi.


"Nur, kamu ikutan ya." Ajak Maya pada Nurul.


"Boleh, mo bikin tik tok apa? Eh, ngomong-ngomong Rara udah pulang belum?" Tanya Nurul saat teringat sahabatnya itu.


"Ada sih kayaknya... Dia pulang lepas ashar tadi.. " Jawab Tati.


"Emm kalau gitu, aku nemuin dia dulu ya. Kita ajak tik tok an bareng." Kata Nurul sambil bangkit dari duduknya.


"Okelah... jangan lama-lama ya..."


Nurul mengangguk dan melangkah pergi.


...❤️❤️❤️bersambung ❤️❤️❤️...


.


.


__ADS_1


__ADS_2