Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Gubrak!


__ADS_3

Jam empat pagi. Alarm bawah sadar ku membangunkanku dari kelelapan tidur ku. Seperti biasa, bangun tidur, aku langsung ke kamar mandi. Menyelesaikan ritual pagi yang sudah menjadi kebiasaan sejak aku tinggal di rumah ini. Kawan sekamar ku juga sudah bangun. Kami bergantian bersih-bersih dan sholat.


Usai memenuhi kewajiban pribadi ku. Aku keluar kamar. Biasanya habis sholat, aku bantu-bantu pelayan lain menyapu halaman rumah yang luasnya kalau disatukan rasanya melebihi luasnya lapangan sepak bola.


Saat ini aku ingat, kalau aku sudah punya tugas khusus untuk melayani tuan Bagas, tapi ini kan masih pagi. Tuan Bagas pasti masih tidur. kalau aku kesana sekarang, nanti malah akan mengganggu tidur tuanku itu. Karena itu, aku lalu memutuskan untuk melakukan rutinitas menyapu saja.


Sekian lama aku menyapu, mataku tiba-tiba melihat tuan Danu keluar dari pintu rumah utama. Melihat pakaian yang dikenakannya, aku bisa menduga kalau dia pasti mau lari pagi.


"Pagi, Nur... " Sapa tuan Danu saat melintas di dekatku.


"Pagi tuan... " Jawabku sambil mengangguk penuh hormat.


Syukurlah, tuan Danu itu walaupun dia seorang tuan muda, dia tidak sungkan untuk menyapa anak buah dan para pelayannya lebih dulu. Makanya aku bisa mengerti saat Rara cerita kalau dia kepincut habis dengan juragan muda nan tampan itu. Sudah ganteng enggak ketulungan, ramah pula... kaya mah, jangan ditanya.... 😂


"Rasanya aku rela walaupun cuma jadi selir dia... " Begitu katanya padaku dulu. Ya, kalau jadi istrinya sih, Rara sendiri enggak berani bermimpi sampai kesana. Dia sadar diri kalau dirinya hanyalah keturunan seorang pembantu di keluarga bangsawan ini...


Aku enggak tahu pasti, apa dia bicara begitu itu sungguh-sungguh atau hanya bercanda... Masa iya cita-cita cinta kok jadi selir... 🤭


BeTeWe... Teringat akan tuan Danu yang sudah pergi untuk berolahraga... kemungkinan besar tuan Bagas juga sudah bangun kan? Waduh! Aku harus cepat-cepat ini...


Ku percepat pekerjaan menyapuku. Setelah cukup terkumpul sampahnya, aku segera mencari Jono untuk memintanya melanjutkan membuang sampah. Biasanya aku menyelesaikan tugas ini sampai tuntas, tapi sekarang ada tanggungjawab lain yang harus aku lakukan.


Aku segera mencuci tangan dan kakiku, sebelum pergi ke kamar tuan Bagas. Sampai di depan pintu, aku menghela nafas terlebih dahulu sebelum memberanikan diri mengetuk pintu.


Tok tok tok


Tidak ada jawaban. Sesaat aku ragu. Haruskah aku terus mengetuk sampai dibukakan oleh tuan Bagas? Atau aku harus memberanikan diri langsung membukanya? Lah, kalau tuan Bagas belum bangun sih enggak apa-apa, lah kalau dia kesulitan membuka pintu...? Dia kan pakai kursi roda...


Duh, gimana ini... Akhirnya aku beranikan diri menyentuh handle pintu.

__ADS_1


"Dikunci atau enggak ya...?" Tanyaku dalam hati pada diri sendiri.


Ceklek... Pintu bisa terbuka. Berarti enggak dikunci ya... 🤭 Aku meringis senang. Aku melongok dari celah pintu yang sedikit kubuka. Penerangan kamar itu agak temaram. Lampu penerangan mati, sedangkan tirai jendela belum terbuka.


"Tuan... " Panggil ku hati-hati. Pandangan ku langsung mengarah ke kasur besar yang ada di ujung ruangan. Bed cover di kasur itu bergulung enggak karuan. Tidak ada sahutan. "Apa masih tidur ya...?" Tanya hatiku lagi.


"Tuan..." Panggilku lagi sedikit lebih keras.


"Kalau mau masuk, ya masuk aja. Berisik amet." Sahut tuan Bagas tak urung membuatku kaget.


Kulihat gulungan bed cover itu bergerak, lalu terlihat tuan Bagas bangun dari balik gulungan itu dan duduk menatap ku.


"Mau masuk enggak?" Tanya tuan Bagas lagi, saat aku hanya berdiri terpaku di ambang pintu.


"Eh iya... " Sahut ku sambil melangkah canggung ke dalam kamar. Aku masih bingung apa yang harus aku lakukan terlebih dulu.


"Emm... itu, tirainya boleh saya buka sekarang, tuan?" Tanyaku akhirnya. Ya, sebelum memulai pekerjaanku, setidaknya aku harus bisa melihat keadaan sekitarku, kan?


Bermodal 'Hem' -nya tuan Bagas, aku pun memulai pekerjaanku. Membuka tirai, merapihkan semua yang terlihat berantakan, menyapu, bahkan menyiapkan air mandi untuk tuan.


Jam enam lewat. Tuan Bagas masih juga tidur. Seingatku, acara sarapan biasanya dimulai sekitar jam setengah tujuh. Soalnya Non Sabrina harus sudah berangkat sekolah jam tujuh. Tuanku ini mau ikut sarapan bareng enggak, ya? Aduh jadi bingung sendiri aku...


"Ehem... tuan... tuan... " Panggilku. Sedikit ragu sih. Tapi aku juga takut salah kalau enggak ngebangunin tuan. Yang dipanggil masih belum keliatan ber-reaksi. Karena enggak yakin harus dibangunin atau enggak, dan orangnya juga sesudah dipanggil tidak ber-reaksi, ya sudah. Akhirnya aku tinggal keluar kamar sekalian untuk membuang sampah yang ada.


Baru beberapa langkah meninggalkan kamar tuan Bagas, Nani, temanku sesama pelayan berjalan mendekat dari arah yang berlawanan.


"Rul, aku disuruh kasih tahu, kalau tuan Bagas ditunggu Nyonya Supami sebelum sarapan..." Katanya kepadaku.


"Heh?" Aku sedikit bingung, itu pesan buat tuan Bagas kan? kok bilangnya ke aku?

__ADS_1


"Kok malah bengong sih? Udah sana kasih tahu Tuan Bagas nya..." Ucap Nani dengan nada yang bossy banget karena melihat aku sempat terlongoh bingung.


"Eh, iya... sebentar... " Ucapku bagai disadarkan. Aku segera berbalik lagi ke kamar. Meletakkan keranjang sampah di dekat pintu dan berjalan mendekat ke arah pembaringan.


"Tuan... tuan... mohon segera bangun, tuan ditunggu Nyonya Supami sekarang... " Kataku berusaha membangunkan, tapi masih dalam jarak aman... (sekitar dua meter dari pembaringan) karena masih takut kalau nanti tuan Bagas marah.


"Tuan... " Panggilku lagi. Kali ini aku lebih mendekat. Takutnya tuan Bagas enggak kedengeran, soalnya aku manggilnya juga enggak keras. Ya, habis... aku takut tuan Bagas kaget. Nanti malah marah-marah sama aku. Tapi... aduh, gimana sih ini... kok tuan Bagas enggak bangun juga sih...?


"Tuan... " Sekali lagi aku memanggil. Kali ini aku sudah melangkah lagi dan berdiri tepat di samping pembaringan.


Cahaya matahari sudah masuk ke dalam kamar, membuat kamar itu cukup terang untuk bisa menatap wajah tuan Bagas dengan jelas. Wajah tampan dan polos khas orang sedang tidur.


Deg deg deg...


Jantungku rasanya bertalu kencang menatap wajah itu. Kuraba dadaku merasakan kerasnya dentuman di dalamnya. Sumpah aku rasanya grogi sendiri. Padahal aku enggak melakukan apa-apa. Tuan Bagas juga jelas enggak. Cuma menatap saja kok bisa seperti ini rasanya.


"Tuan..." Panggil ku tanpa sadar malah semakin pelan dari suaraku semula. Setengah berbisik malah. Tapi badanku sudah condong ke bawah, dengan tangan yang seakan ingin menyentuh lengan tuan Bagas. Aku ingin mengguncangnya tapi masih tertahan oleh rasa ragu dan takut.


"Tuan... " Semakin lirih.


"Heem...! "


GUBRAKK.


Aku terjerembab karena kaget.


Bagaikan papan jungkat jungkit. Begitu Aku terjatuh, tuan Bagas serentak terduduk bangun.


"Kamu ngapain?" Tanyanya spontan setengah gusar sambil menatapku. Aku buru-buru berusaha bangkit dari posisi yang pasti membuatnya curiga itu. Hadeh... Sopan enggak sih, kalau aku sekarang langsung kabur dari hadapannya? 🥴

__ADS_1


...👉bersambung👈...


__ADS_2