Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Diajak Nyonya


__ADS_3

Aku menghampiri kotak itu dengan antusias. Nyonya bilang tadi aku disuruh pakai ini untuk mendampingi nyonya Supami. Mau kemana nyonya super besar akan mengajakku? Sampai-sampai harus pakai baju khusus. Baju model apa itu?


Dan setelah aku buka.... WOW...! Baju yang indah sekali... berwarna putih dengan renda-renda putih, lengkap dengan selendang yang juga berwarna putih.


Enggak sabar untuk memakainya, aku segera pergi ke kamar mandi. Nyonya Santi tadi sudah membolehkan aku pakai kamar mandi di kamar ini kan... Jadi aku cepat-cepat mandi.


Ih... mimpi apa apa aku semalam, bisa mandi di kamar mandi yang mewah ini. pakai sabunnya tuan juga malah hemmm wangi... (abis.. masa mandi enggak pakai sabun? Enggak lengkap kan jadinya...) ๐Ÿ˜… Usai mandi, aku segera berpakaian.


Enggak pake make up - make up an... enggak ada soalnya, cuma rambutku saja yang disisir biasa, diikat buntut kuda yang ditekuk, lalu pakai kerudung yang ada bersama pakaian tadi. Warna putih juga! ๐Ÿ˜… So... jadilah seperti ini... (gambar 1) Cantik kan...? โ˜บ



Setelah merasa siap, aku pastikan keadaan kamar rapih seperti sebelumnya, setelah itu, sesuai petunjuk nyonya Santi, aku bergegas pergi teras depan, tempat dimana nyonya Supami sudah menungguku.


Di teras depan, aku melihat Nani berdiri seperti menunggu. Dia juga pakai pakaian putih, tapi polosan, enggak ada rendanya. Kalau dibandingkan sih, jauh lebih bagus punyaku lah... ๐Ÿ˜‚


Nani menatapku seperti jengkel.


"Lama banget sih... " Gerutunya.


"Maaf... " Sahut ku. Terlepas dari rasa bersalah karena telah membuatnya menunggu, Nani itu senior ku, jadi aku harus 'hormat' padanya. Aku mengangguki nya sebagai tanda hormat, lengkap dengan cengiran ku sebagai tanda minta maaf.


"Tunggu di sini... " Katanya kemudian, padaku. Aku mengangguk tanda patuh. Setelah itu dia berbalik pergi masuk ke dalam rumah.


Aku berdiri di teras memperhatikan pak supir yang sedang melap body mobil sambil memanaskan mesinnya. Di teras itu ada kursi, tapi aku enggak berani duduk di sana, takut sewaktu-waktu Nani kembali bersama nyonya Supami.


Nah, tuh kan. Baru saja di batin... eh, orangnya muncul. Aku melihat nyonya Supami berjalan diiringi oleh Nani di belakangnya. Aku segera menepi sambil setengah membungkuk hormat saat nyonya mendekat kearah ku.


"Sudah siap?" Tanya nyonya.


"Eng... sudah nyonya... " Jawab ku sedikit ragu. Siap untuk apa ya? Untuk pergi? Siaplah...


Nyonya Supami menepuk pundakku pelan kemudian melanjutkan langkah menuju mobil. Pak supir segera membukakan pintu mobil untuk nyonya.


"Yang lain sudah berangkat? " Tanya nyonya pada pak supir, sebelum beliau masuk ke dalam.

__ADS_1


"Sudah nyonya... " Jawab pak supir. Nyonya mengangguk tanda puas.


"Nani... kamu duduk di depan... Ada yang akan aku bicarakan dengan Nurul..." Perintah nyonya. Nani mengangguk patuh. Setelah nyonya masuk ke dalam mobil, Nani menyuruhku segera masuk dengan isyarat dagunya. Setengah canggung, aku masuk dan duduk di samping nyonya.


Pak supir menutup pintu di sebelahku. Bersamaan dengan itu, aku melihat Nani naik dan duduk di jok depan di samping supir. Pak supir juga menutupkan pintu di samping Nani, sebelum berjalan memutar untuk duduk di pos nya, di belakang kemudi.


Perlahan mobil melaju. Aku memperhatikan jalanan yang kami lalui. Jalanan biasa... bukan jalanan yang dipadati perumahan, karena kami memang tidak tinggal di lingkungan padat penduduk.


Rumah majikanku ini sedikit terpisah dengan perumahan, karena usaha majikanku yang bergerak di bidang peternakan ayam potong, mengharuskan kami tinggal sedikit menjauh dari lingkungan penduduk.


Enggak sampai dua puluh menit, mobil semakin melambat. Aku jadi berpikir... "Emang sudah sampai, ya?" Baru saja berpikir begitu, tahu-tahu mobil sudah masuk ke pelataran parkir sebuah masjid besar, yang merupakan bagian dari sebuah pondok pesantren. Di sana sudah banyak orang-orang yang juga berpakaian putih dengan berbagai model dan variasi. Intinya dress code acara hari ini... putih.


Aku jadi semakin bertanya-tanya, ada acara apa sih, ini? Tapi mana berani aku mengeluarkan suara untuk bertanya. Aku cuma bisa bertanya dalam hati, sambil mengamati orang-orang di sekitar.


Begitu nyonya Supami turun, banyak orang yang menyalaminya. Karena tahu diri, aku segera menepi dan menjaga jarak. Nani melakukan hal serupa.


"Nani... kamu temui bu Nganti, bantu apapun yang dibutuhkan... Nurul, ayo temani aku menemui bu Nyai... " Perintah nyonya.


Aku dan Nani mengangguk.


"Baik nyonya... " Sahut kami hampir bersamaan.


Rumah itu cukup besar dan interiornya cukup mewah. Di ruang depan, kami sudah disambut oleh seorang wanita muda yang langsung meraih tangan nyonya dan menciumnya. Nyonya tersenyum.


"Assalamu'alaikum nyonya... " Salamnya.


"Waalaikum salam... bu Nyai...?" Sahut nyonya dengan nada menggantung.


"Ada di dalam... semua sedang menunggu nyonya... " Jawab wanita itu. Tapi pandangannya terarah padaku. Aku mengangguk menyalami. "... Mari nyonya..." Lanjut wanita itu sambil memberi isyarat dengan tangannya, agar kami mengikutinya.


Nyonya mengangguk dan melangkah mengikuti wanita itu, masuk lebih jauh ke ruang dalam.


Di ruang dalam... yang aku perkirakan adalah ruang keluarga di rumah itu... telah berkumpul beberapa orang yang duduk di atas karpet tebal (Aku enggak akan kaget kalau karpet itu asli dari Turki) โ˜บ. Orang-orang itu duduk berkelompok, wanit dengan wanita dan di seberangnya laki-laki dengan laki-laki.


Agak mengejutkan juga buatku, karena selain beberapa orang yang memang aku belum kenal, ternyata di sana juga ada tuan Darmawan bersama nyonya Santi dan nyonya Yulia. Juga tuan Nugraha beserta istrinya. Dan yang paling menarik perhatianku... tentu saja... tuan Bagas.

__ADS_1


"Eh, enggak pulang semalam, ternyata dia malah ada di sini..." Kataku dalam hati.


"Assalamu'alaikum... " Salam nyonya Supami yang langsung dijawab...


"Waalaikum salam... " Oleh semua orang yang ada di sana.


Nyonya langsung mengambil tempat duduk di samping wanita berusia sekitar lima puluhan. Usianya berada di bawah usia nyonya Supami, tapi sepertinya dia cukup disegani oleh orang-orang. Mereka bersalaman dan cipika cipiki sebentar. Aku segera duduk bersimpuh di dekat pintu masuk lebih mendekat ke kelompok para wanita, tidak berani mendekat pada nyonya.


"Ehem... " Dehem seorang laki-laki menarik perhatian semua orang. Seketika dengung obrolan orang dengan kelompok bicara masing-masing terhenti. Sekarang semua memperhatikan laki-laki itu.


"... Jadi... inikah yang bernama Nurul?" Tanya laki-laki itu tiba-tiba sambil menatapku.


DEG...!


Jantungku serasa berdenyut aneh saat laki-laki itu menyebutkan namaku.


Seketika pandanganku beredar memperhatikan keadaan sekelilingku. Ragu-ragu aku mengangguk.


"Iyya... " Sahut ku lirih.


"Sudah... tidak perlu tegang begitu.. " Ucap laki-laki itu berusaha membuat candaan yang memang disambut tawa kecil oleh orang-orang yang ada di sana, tapi tidak denganku. Asli, aku tidak merasa ada yang lucu dari ucapan laki-laki itu.


"Begini... karena waktu istigosah akan segera tiba, sebaiknya kita segerakan saja rencana yang sudah kita bicarakan tadi... " Ujar laki-laki itu kemudian, sambil matanya beredar menatap para hadirin di hadapannya. "Bukan begitu pak Darmawan... nak Bagas...?" Lanjut laki-laki itu sambil matanya menatap tuan Darmawan dan berhenti lama pada tuan Bagas.


"Iya, ustadz... silahkan dimulai... " Sahut tuan Darmawan.


"Bagaimana nak Bagas...?" Tanya laki-laki yang dipanggil ustadz oleh tuan Darmawan sambil tetap menatap Bagas, seakan tanpa jawaban darinya, dia tidak akan melanjutkan acara apapun yang telah mereka rencanakan sebelum kedatangan ku tadi.


Mendadak tuan Bagas menoleh kearah ku. Aku yang sedari tadi memang sedang kepo dengan apapun yang sedang mereka bicarakan itu tentu saja kaget, saat tiba-tiba dipandang begitu rupa oleh tuan Bagas. Sedetik rasanya pandangan kami bertemu, sebelum aku menundukkan wajah karena menyadari semua orang kini sedang menatapku.


Duh... ini sebenarnya ada apa sih...? Kok jantungku jadinya deg deg an enggak karuan gini...


.... ...


.... ...

__ADS_1


...๐Ÿ‘‰bersambung๐Ÿ‘ˆ...


...๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน ...


__ADS_2