Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
PENUTUP


__ADS_3

Anna menghela nafas. Berusaha meredakan segala emosi yang tiba-tiba saja membebani nya.


Dia begitu kesal, marah, sedih juga... Cemburu? Tanpa sadar, dia mempertanyakan kembali perasaannya pada Bagas. Sudah ada kah rasa cinta itu hadir dihatinya? Tapi jika tidak cinta... kenapa harus cemburu?


Memang segitunya ya, sampai cemburu?


Memang aku cemburu? Untuk apa aku cemburu? Toh mas Bagas sudah mengakui dan memperkenalkan aku sebagai istrinya pada perempuan itu. Malah pakai peluk-peluk segala lagi...


Tapi tetep saja... Dia menatap wanita itu seperti penuh rindu...!


Anna bermonolog dalam hati. Rasanya Anna enggak terima, kalau dalam hati Bagas masih ada tempat untuk perempuan lain.


Inginnya sih, menyalahkan Bagas soal ini. Tapi mau bagaimana lagi? Biar bagaimanapun, Wulan itu pernah hadir dalam kehidupan Bagas. Malah setahu Anna mereka sudah berhubungan lama dan sampai bertunangan. Parahnya lagi, perpisahan mereka itu bukan karena saling benci. Hanya keadaan yang memaksa mereka untuk berpisah.


Seketika terbayang kembali awal pertemuannya dengan Bagas. Bagaimana prosesnya, hingga mereka akhirnya bisa menjadi sepasang suami-istri. Dan dalam proses itu, benar-benar jauh dari kata romantis.


Mereka tidak pernah pacaran, tidak ada rindu-rinduan. Yang ada hanya deg-deg an akan sesuatu yang terbilang tabu. Dan karena untuk menghindari tabu itulah, akhirnya mereka menikah.


"Anna... kamu mikir apa sih?" Tanya Anna pada dirinya sendiri. Dia juga menepuk dahinya sendiri karena kesal, sudah berpikir ngelantur dan bikin susah sendiri.


Tidak... Entah karena alasan cinta atau harga diri. Yang pasti Anna tidak akan menyerahkan Bagas pada perempuan manapun.


Fokus... fokus... pernikahan sudah di depan mata.


Kembali Anna bermonolog, menasehati dirinya sendiri.


Suara notifikasi pesan di ponsel nya berbunyi.


Bagas : [Dek, mas sudah bawa baju gantinya... mau turun atau mas yang naik? ]


Anna diam berpikir sejenak.


Lihatlah... seorang Bagas kini malah sudah begitu merendahkan dirinya, mau pulang pergi dari hotel ke rumah dan balik lagi, hanya untuk mengambilkan nya baju ganti.


Bagas : [Dek... ayo jangan ngambek lagi... ini, mas bawakan sarapan dari rumah.]


Anna meluruh hatinya. Seorang Bagas yang penuh kharisma, yang mempunyai banyak anak buah, bahkan sampai membawakannya bekal untuk sarapan...


Bagas : [Dek... ayolah, jangan ngambek. Mas sayang sama adek. Enggak mau kehilangan kamu... ]


Tanpa sadar mata Anna berkaca-kaca membaca semua pesan itu.


Lupa untuk membalas pesan Bagas, Anna segera berlari keluar kamar dengan setengah membanting pintu menuju Bagas.


Dilantai bawah, dilihatnya Bagas sedang duduk menekuri ponsel yang hanya menunjukkan wallpaper dirinya. Entah kapan gambar itu Bagas ambil. Anna tidak tahu. Sementara di pangkuannya terdapat dua paper bag.


Perlahan Anna mendekat.


"Kamu benar-benar marah, Nur?" Ucap Bagas lirih. "Aku sungguh sudah tidak ada apa-apa dengan perempuan itu...." Gumamnya lagi dengan penuh perasaan, seakan dia memang benar-benar tersiksa. Anna sampai merasa tidak tega untuk membiarkan Bagas terlalu lama mengharapkan "maaf" darinya.


"Mas...!" Panggil Anna.


Seketika Bagas mengangkat wajahnya. Begitu tahu kalau Anna sudah berdiri di dekatnya, senyum Bagas seketika mengembang. Tanpa tunggu lama lagi, dia segera mendekat. Menaruh kedua paper bag begitu saja di lantai dan menarik Anna ke pelukannya.


"Nurul... Aku benar-benar tidak ingin kehilangan kamu..." Katanya dengan penuh perasaan di telinga Anna.


Anna tentu saja merasa senang diperlakukan seperti itu, tapi sesungguhnya dia juga malu. Masa peluk-pelukan di tempat umum sih?


"Mas, katanya tadi bawa sarapan." Anna mengalihkan perhatian.

__ADS_1


"Em, iya..." Tanpa melepaskan pelukannya, dengan satu tangan, Bagas mengambil paper bag yang tadi dia bawa.


"Ini..." Kata Bagas sambil menyerahkan paper bag itu pada Anna.


"Kita makan bareng yuk." Ajak Anna.


Bagas mengangguk. Mereka lalu masuk ke dalam lift menuju kamar Anna.


"Aku juga enggak mau kehilangan kamu, Mas." Ucap Anna saat mereka di lift.


Bagas meremas tangan Anna yang masih dia genggam.


"Aku tahu, kamu memang wanita yang paling mengerti aku... Terima kasih, kamu mau memahami aku." Ucap Bagas. Dia lalu menarik tangan Anna dan menciumnya lembut.


"Terima kasih juga, mas mau menerima aku apa adanya, tanpa embel-embel apapun, di belakang namaku...." Sahut Anna.


"Tentu saja, karena hanya nama Bagas Darmawan yang cocok untuk nama belakangmu. Bukan yang lain." Ucap Bagas dengan jumawa.


Mendengar itu Anna langsung meleletkan lidahnya.


"Narsis sekali dikau tuan..." Cela Anna.


"Bukannya narsis, tapi memang begitu adanya." Bela Bagas.


Anna mencebik.


Bagas tertawa.





Acara digelar di dua tempat. Kota tempat kediaman Yudhis juga tempat kediaman Darmawan.



Saat resepsi di kota kediaman Bagas, orang-orang yang mengenal Nurul, juga teman-teman sesama pelayan banyak yang kaget melihat Nurul duduk bersanding dengan Bagas di pelaminan.



Sempat muncul opini buruk, kalau Nurul memanfaatkan kecantikannya untuk memperdaya Bagas yang "tidak sempurna" tapi kaya raya. Tapi kemudian mereka menjadi shock, saat mengetahui, kalau latar belakang keluarga Nurul bukan keluarga sembarangan.



Orang-orang yang semula sempat melecehkan Nurul menjadi tercengang, dengan banyaknya bingkisan dan karangan bunga yang menunjukkan hubungan si pengirim dengan Yudhistira dan bukan Darmawan



Ya, ada juga sih karangan bunga yang ditujukan atas nama, Bagas putra Darmawan. Tapi jumlahnya kalah jauh dengan yang bertuliskan nama Anna putri Yudhistira.



Seminggu seusai acara resepsi pernikahan, Bagas membawa Anna ke Tiongkok. Selain untuk berobat, mereka juga mau honey moon di sana.



Apapun niat awal mereka menikah, intinya setelah peresmian itu, mereka bermaksud memperbaikinya.

__ADS_1



Keduanya bertekad, untuk membina rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah. Bukan hanya seperti suatu simbiosis mutualisma. Tapi juga sebagai sarana penyempurnaan agama mereka.



Aamiin, semoga niat mereka diridhoi oleh Allah SWT, ya.



...~~~ TAMAT~~~...



Sampai di sini dulu cerita CUMA SEORANG PELAYAN.



Kalau kalian suka tolong beri like, komen n gift (kalau ada) 🤭



Terima kasih yang tak terhingga, karena kalian sudah setia membaca cerita recehan ini. Semoga para pembaca terhibur dan mendapat manfaat dari tulisan alakadarnya ini.



Penulis juga memohon maaf jika dalam penyajian ceritanya, penulis banyak kekurangan atau bahkan berlebihan.



Akhir kata,


Wasalam mualaikum, wr. wb.



P. S.



Jangan lupa untuk mengintip sekuel cerita ini ya. CUMA SEORANG PELAYAN 2 sudah rilis.


Semoga kalian menyukainya.



Tengkyu B4.



...❤️❤️❤️🌹🌹🌹❤️❤️❤️...



![](contribute/fiction/3617714/markdown/14436271/1672331224059.jpg)



...❤️❤️❤️🌹🌹🌹❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2