Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Makan... makan...


__ADS_3

tok tok tok


"Masuk...!" Seru suara dari dalam. Suara siapa lagi, pasti suara tuan Bagas lah...


"Permisi... " Salamku sambil mendorong pintu kamar tuan Bagas, dan langsung melangkah masuk. Aku lihat, tuan Bagas sudah berada di depan meja kerjanya, di depan tumpukan file yang kemarin aku susun.


Aku tidak menutup rapat pintu kamar itu. Sengaja aku biarkan sedikit terbuka, agar dapat mengurangi rasa grogi yang kurasakan, saat aku membayangkan, kalau kami hanya berdua di dalam ruang tertutup itu.


Kini aku berdiri dekat tuan Bagas... masih jarak aman ya gaes... sekitar 2 meter gitu... tetap dengan sikap takjim. Kepala menunduk dan kedua tangan berpaut di depan.


"Apa yang bisa saya bantu, tuan?" Tanya ku, sambil mengangkat wajah sebentar menatap tuan dan langsung menunduk lagi, seakan takut ketahuan telah berbuat kurang ajar padanya.


"Nur, kamu bisa pegang komputer enggak?" Tanya tuan.


"Pegang...? Maksudnya...?" Aku balik bertanya. Kalau cuma PEGANG biasa sih siapa yang enggak bisa?


"Maksudnya mengoperasikan komputer... kamu bisa enggak?" Ujar tuan Bagas menjelaskan. Dari nada suaranya terdengar ada nada jengkel disana. Mungkin dia pikir aku ini begitu bodoh ya, sampai tidak mengerti maksud ucapannya.


"Mungkin bisa tuan... program apa?" Aku balik bertanya. Aku merasa, aku familiar dengan yang namanya komputer.


"Ya, program Microsoft Office biasa... Kamu dulu sekolah atau kerja pakai komputer?" Tanya tuan lagi.


Reflex otak ku bekerja menggali kuburan ingatan di kepala... aduh, kok malah bikin nyut-nyutan ya...


"Saya enggak tahu tuan..." Jawab ku akhirnya. Aku menyerah deh. Tambah digali malah tambah sakit. Lebih baik biarkan ingatan itu kembali sendiri.


Sesaat aku merasa tuan Bagas menatap ku. Entah sedang berempati, atau sedang mengukur kemampuanku.


"Coba kamu sini... tolong kamu baca laporan ini, lalu datanya kamu input ke sini... " Perintah tuan Bagas akhirnya.


Aku mendekat.


"Duduk di situ... " Perintahnya lagi sambil menunjuk kursi di sampingnya. Perlahan dengan sedikit canggung aku duduk.


"Ini... disini ada beberapa kelompok data, coba kamu baca, dan masukkan sesuai dengan kolomnya... " Tuan Bagas memberi instruksi sambil menunjukkan bagian-bagian mana yang harus aku perhatikan.


Aku berusaha fokus dan mengabaikan debaran jantung yang sempat menggila saat menyadari, kalau kami sudah duduk terlalu rapat dalam mencermati selembar kertas yang sama. Tapi untungnya fokus ku kembali. Bahkan aku seperti merasa nyaman melakukan tugas ini. Lebih dari sekedar familiar, aku merasa.... Entahlah, mungkin seperti inilah pekerjaanku dulu.


Aku melakukan pekerjaanku, dengan tuan Bagas duduk memeriksa dokumen lain, tidak jauh dari tempatku duduk. Hingga tiba-tiba...


KRIUKK...

__ADS_1


Ada suara kelaparan menginterupsi kekhusyukan kami bekerja. Suara dari perutku. Begitu jelas terdengar di tengah keheningan kami.


Seketika aku mengangkat wajah menoleh ke arah tuan sekedar untuk memastikan dan berharap kalau tuan tidak mendengar senandung penuh derita itu.


Kening tuan Bagas terlihat berkerut.


Aku meringis menutupi rasa malu yang muncul begitu saja.


"Kamu belum makan?" Tanya tuan Bagas. Aku mengangguk dan kembali menunduk. Malu iya, tapi percuma berbohong, karena aku memang benar-benar sudah lapar. Ku lirik jam dinding. Sudah jam sepuluh lewat.


Kudengar suara helaan nafas tuan Bagas. Lalu aku lihat dia menekan-nekan keypad ponselnya.


"Antarkan makanan ke kamarku... "


"..."


"Iya." Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup telponnya.


Boleh Ge eR enggak sih aku, kalau berpikir tuan Bagas memesan makanan untuk aku... πŸ˜…


"Lain kali, kalau memang sudah waktunya makan, seharusnya kamu bilang dan minta waktu untuk makan. Aku enggak mau pekerjaan kamu ngaco gara-gara kelaparan... " Ucap tuan Bagas. Entah itu menasehati atau memerintah... Yang pasti jawabannya sama saja...


"Baik tuan..." Ujarku sambil melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda sesaat. Mengabaikan rasa lapar yang mendadak juga begitu menyiksa saat fokus kerjaku teralih.


"Permisi tuan... " Salamnya. Dia tidak bisa mengetuk pintu karena kedua tangannya dipakai untuk memegang nampan. Melalui pintu yang memang sudah terbuka, dia bisa melihat kami yang sedang berkutat dengan berbagai berkas di atas meja.


"Tuan, saya mengantarkan menu makan siang anda, tuan..." Katanya. Sementara matanya langsung mengarah padaku, seperti meminta bantuan dengan bawaannya.


"Hem... " Sahut tuan Bagas, menanggapi ucapan Yudi.


Hanya mendapat 'Hem' dari tuan membuat Yudi canggung untuk melangkah lebih jauh masuk ke dalam. Yudi memberi isyarat padaku, agar aku segera mengambil alih nampan di tangannya.


"Maaf, permisi sebentar tuan..." Kata ku sambil bangkit dari duduk ku untuk membantu Yudi. Tuan Bagas tidak menjawab, tapi dia bergeser untuk memberi keleluasaan ku bergerak.


Aku menerima nampan dari Yudi, lalu membawa dan meletakkannya di meja, di depan sofa tunggal yang ada di seberang pembaringan.


"Ada yang masih bisa saya bantu tuan...?" Tanya Yudi sambil menghadap tuan Bagas.


"Bawakan aku kopi... kamu mau minum apa, Nur?" Perintah tuan Bagas sekaligus bertanya padaku.


"Heh? Saya...?" Aku balik bertanya ragu. Enggak nyangka banget bakal ditanya seperti itu. Aku mah, cuma pelayan, dapet sisa jus dari gelas blender pesanan para juragan aja udah seneng banget. Ini lagi sampai ditanya mau minum apa... πŸ˜…

__ADS_1


"Biasanya, Nurul suka, kalau dapet sisa blanderan jus tuan... " Celetuk Yudi membuat aku spontan mendelik kearahnya. Yudi seketika menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ekspresi wajahnya menunjukkan kalau dia menyesal sudah nyeletuk seperti itu...


"Kamu suka, jus? Ya udah minta saja mau jus apa, supaya dibawakan sekalian kemari nanti..." Ujar tuan Bagas sambil menatapku. Aku seketika melempar pandangan ke arah Yudi. Yudi meringis.


"Jus sembarang aja deh, Yud." Kata ku akhirnya membebaskan pilihan. Biasanya kalau sedang senggang kerja gitu, aku suka mengkhayal segarnya minum jus buah apa gitu... tapi pas ditanya kenapa malah bingung sendiri... πŸ€¦β€β™€οΈ


"Baik. Permisi tuan.. Yuk, Nur..." Pamit Yudi. Aku mengangguk.


"Makasih, Yud..." Seru ku, sebelum Yudi mencapai ambang pintu. Yudi menoleh kearah ku sebentar dan tersenyum. Senyumnya itu seakan mengatakan "bukan masalah..."


Sepeninggal Yudi, kini aku menghadap ke arah tuan Bagas.


"Silahkan tuan, kalau tuan mau istirahat makan siang dulu, saya tata sekarang ya...?" Ujarku sambil mengambil piring yang ada di nampan itu. Tuan Bagas tidak menjawab apa-apa, tapi dia mendekat dan memperhatikan menu yang dibawa Yudi tadi.


"Ambilkan aku nasi dan ayam itu, tumisnya juga..." Perintah tuan sambil menunjuk lauk berupa ayam kecap dan tumis kangkung dicampur udang kecil-kecil.


Aku mengambilkan nasi untuk tuan sambil setengah mati menahan air liur yang rasanya sudah berada diujung lidah....


"Ini tuan..." Kata ku sambil menyerahkan piring tuan.


Tuan Bagas menerima piringnya dan bergerak ke arah meja kerjanya. Dia menyingkirkan kertas-kertas yang ada, sekedar untuk memberi tempat baginya menaruh piring.


Aku bergegas mendekat dan membantunya. Ya, meja di sofa itu memang terlalu pendek untuknya, sementara dia juga tidak bisa makan kalau tidak pakai meja.


"Ya, cukup. Terima kasih... sekarang ambillah makanan untukmu sendiri... setelah selesai makan, nanti kita lanjutkan pekerjaan kita." Ujar tuan Bagas membuatku lega bukan main. "Alhamdulillah..." Syukurku dalam hati.


"Terima kasih tuan..." Kata ku. Lalu, mengabaikan rasa malu dan canggung, aku segera mendekat ke nampan, dan mengambil nasi untukku sendiri...


Wuih...


Kalian tahu rasanya makan nasi dengan ayam kecap dan tumis kangkung? Kalaupun kalian tahu rasanya, aku jamin, enggak ada yang lebih nikmat rasanya dari yang sedang aku makan sekarang.... πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


.......


.......


...πŸ‘‰bersambungπŸ‘ˆ...


Penulisnya ikutan lapar, mau makan dulu... πŸ˜‚


.... ...

__ADS_1


.


__ADS_2