
" Assalamu'alaikum.... " Salam orang-orang yang baru masuk ke ruangan. Aku menoleh kearah mereka dan keningku langsung berkerut...
"Kok... mereka?"
Ku perhatikan orang-orang yang baru datang itu menyalami anggota keluarga ku.
Aku tahu mereka... Bukankah mereka itu tokoh-tokoh dalam mimpiku? Tapi kok, keluarga ku seperti sudah mengenal mereka... berarti mereka itu bukan sekedar tokoh dalam imajinasiku kan? Ku tepuk pipiku sendiri agak keras beberapa kali. Tak ku perdulikan pandangan aneh dari perawat yang sejak tadi tekun menjadi pengamat.
Anna... ini bukan mimpi... kalau mimpi, enggak mungkin mereka kenal dengan keluargamu...
Aku berusaha meyakinkan diri sendiri. Tentang bagaimana kejadian realnya, aku memang masih belum nyambung, tapi harus diyakini. Semua kejadian yang aku anggap cuma mimpi itu sebenarnya adalah hal nyata.
Mereka datang berempat. Seorang nenek, sepasang suami istri dan seorang laki-laki dengan kursi roda. Ku fokuskan perhatianku pada seseorang yang memakai kursi roda... Aku tahu namanya Bagas. Ku perhatikan dia, seakan ini merupakan perjumpaan pertama kami. Bagaimanapun, rasanya hidupku sekarang bertalian dengannya. Bukankah dia yang akan menjadi calon suamiku?
Laki-laki itu sepertinya sudah cukup dewasa. aku tebak usianya kurang lebih tiga puluh tahunan. Aku melihat kematangan berpikirnya dari gurat wajahnya.
Wajahnya ganteng, sama sekali jauh dari kata imut. Apalagi dengan jambang yang terawat rapih di kanan kirinya... Anjay...! Kenapa aku jadi feeling something gini... 🤭
Eh, dia mendekat padaku...
"Bagaimana keadaan mu, dek..." Tanyanya dengan nada penuh perhatian.
Aku terlongoh mendengar sebutan itu. "DEK..." Sepertinya ini kali pertama, ada orang yang memanggilku dengan sebutan "DEK". Kedengarannya kok Alay banget ya? Tapi aku juga merasakan kesan penuh sayang sekaligus dihormati dalam panggilan itu.
"Bagaimana keadaannya, dok?" Tanya orang itu lagi, saat aku hanya terbengong mendengar pertanyaannya, tapi pertanyaan itu kini dia tujukan pada dokter yang masih berdiri di sana, sedikit terkesima dengan acara cipika cipiki para ibu yang hadir.
"Eh!? Oh, iya... Mbaknya enggak apa-apa... mungkin ada sedikit shock.... tapi secara umum semuanya baik-baik saja... " Jawab dokter itu.
Lalu setelah memastikan sekali lagi kalau semuanya baik, dokter itu lalu berpamitan pergi.
"Apa pasien harus tinggal di rumah sakit atau sudah boleh pulang, dok?" Tanya Pak Ruswanto sebelum dokter sempat meninggalkan ruangan.
"Pada dasarnya, pasien sudah boleh pulang. Tapi ini sudah larut malam, apakah pasien akan tetap langsung dibawa pulang?" Dokter balik bertanya.
Sesaat bapak dan ayah saling bertukar pandang.
"Ya... kalau memungkinkan, pasien akan kami bawa pulang, malam ini juga..." Sahut ayah akhirnya.
"Baiklah, kalau begitu. Sus, tolong dibantu untuk persiapan kepulangan pasien... " Perintah dokter pada perawatnya.
__ADS_1
"Baik dok." Sahut perawat itu sambil mengangguk hormat.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, bapak... ibu..." Ucap sang dokter sambil menangkup kan kedua telapak tangannya di depan dada tanpa lupa tersenyum.
"Terima kasih, dok..." Ucap beberapa orang mengantarkan dokter keluar kamar.
Se perginya dokter dan perawat itu, suasana kamar seketika mendengung ramai. Satu persatu mereka saling bertukar cerita asal muasal aku bisa sampai di rumah sakit ini.
Menurut apa yang aku dengar, katanya aku tiba-tiba saja berteriak dan langsung jatuh pingsan. Kenapa ya...?
Berpikir.... berpikir...
Setelah beberapa detik, akhirnya aku ingat... aku ingat seraut wajah, yang muncul begitu saja di depan jendela mobil. Perlu diingat ya.. mobil itu dalam keadaan melaju! Bisa muncul mendadak gitu kan ajaib!
Seketika bulu roma ku berdiri.
Aku ingat-ingat lagi... Orang itu juga yang menarik-narik tanganku sesaat sebelum bus yang aku tumpangi menabrak sesuatu dan jatuh ke jurang.
Seketika aku bergidik.
Apa maksud orang itu? Apakah dia tahu apa yang akan terjadi dan bermaksud untuk menyelamatkan aku? Kalau dulu aku terselamatkan dari suatu kecelakaan, lalu kalau sekarang apa? Kenapa dia muncul lagi?
"Eh? Aku enggak apa-apa, kok..." Sahutku sambil menatap kearah laki-laki yang kini stay disebelahku.
Kami saling pandang. Ku gali ingatanku tentang laki-laki ini... Yang terbayang malah adegan saat kami di kamar mandi... melepas celananya... memandikannya.... menyiapkan pakaiannya... makan bersama... lalu kami tidur bersama. Benar-benar tidur ya... enggak tidur dalam tanda kutip.
Ya... walaupun memang kami tidur dengan saling berpelukan sih. Tapi kami tidak melakukan hal-hal "aneh" lainnya. paling-paling ciuman.
Eh, benerkan, cuma itu? Memory ku enggak melakukan sensor adegan 18+ kan?
Lagi-lagi aku bertanya sendiri dalam hati.
"Dek..." Panggil Bagas.
"Hemm." Gumamku menyahuti panggilannya.
Ada degup aneh merambah hatiku. Degup yang akan kamu rasakan, jika kamu mendapat perhatian dari orang yang kamu taksir. Tapi emang aku naksir dia? Tapi kalau enggak... terus kenapa pipi ini rasanya panas begini? Aku segera membuang wajah, menyembunyikan rasa malu yang mendadak terasa.
Tangannya terulur untuk mengusap kepala ku.
__ADS_1
"Pulang ke rumah kan?" Tanya Bagas seperti memastikan.
"Eng.. enggak tahu. Aku ikut aja..." Jawabku.
Ya ampun...! Sungguh, baru kali ini rasanya aku merasa se gugup ini bersentuhan dengan seorang laki-laki...
Aku punya banyak teman cowok, aku juga pernah pacaran. Tapi bersentuhan dengan mereka, rasanya tidak penuh sensasi seperti ini. Bagas ini cuma mengusap kepala ku, tapi rasanya berdenyut hingga ke jantung.
"Bu, telpon orang rumah. Suruh menyiapkan kamar tamu..." Ucap orang yang aku ingat kupanggil tuan Darmawan pada istrinya, nyonya Santi, seakan mendengar ucapan anaknya.
"Baik... " Ucap nyonya Santi, tapi hampir bersamaan dengan itu, terdengar suara ayah menyela.
"Maaf, terima kasih, tapi kami tadi sudah reservasi di hotel terdekat..." Kata ayah.
"Loh, kok di hotel...? Di rumah kami masih ada banyak kamar yang bisa dipakai..." Ucap nyonya Santi seperti kurang rela kalau kami tidak menginap di rumahnya.
"Maaf... tapi, tadi maksudnya, sambil menunggu Anna sadar, sebagian dari kami akan beristirahat di hotel saja, Tidak mungkin kan kami bergerombol terus di sini... " Terang ibu.
Mungkin saja kalau ini rumah sakit besar seperti yang ayah miliki...
Cetus pikiranku seketika menanggapi ucapan ibu. Tapi nyatanya, rumah sakit ini hanya rumah sakit daerah yang lengkap dengan keterbatasannya.
"Alhamdulillah, Anna malah sudah sadar sekarang... sudah boleh pulang lagi. Jadi bisa kita ajak pulang sekarang?" Lanjut bunda. Kelihatannya bunda sudah lelah dan ingin segera beristirahat.
Mengingat privasi yang dibutuhkan calon besannya, akhirnya pihak keluarga Bagas tidak memaksa kami untuk menginap di rumah mereka.
Akhirnya setelah semua urusan pengobatan dan pembayaran selesai. Rombongan kami lalu keluar dari area rumah sakit.
Kegelapan malam menyambut kami di luar area rumah sakit. Ku edarkan pandanganku ke seputar area parkir rumah sakit ini. Yang terlihat benderang hanya seputar area rumah sakit sampai area parkir. Di luar itu hanya terlihat kelapa kelip lampu dari perumahan warga yang memang tidak terlalu banyak di sekitaran.
Aku sudah berdiri di samping pintu mobil yang terbuka, bersiap untuk masuk. Para ibu masih berbasa-basi berpamitan dengan ibu-ibu dari keluarga Bagas.
"Dek... " Panggil Bagas. Aku yang semula memperhatikan percakapan para ibu menoleh kearahnya.
"Ya... " Sahutku. Ucapanku terjeda saat tanpa sengaja, aku melihat seseorang melintas di belakang Bagas. Seseorang yang menoleh kearahku dan melempar senyum sambil lalu...
\=\=\=\=
...Maaf banget ya para reader... author nya belum bisa konsisten nulis cerita... ada kesibukan di RL yang menyita waktu dan perhatian author..Terima kasih masih setia menyimak cerita ini... ...
__ADS_1
...🙏🙏🙏😘😘😘❤️❤️❤️...