
Obrolan berlangsung seru, Masuk waktu ashar, obrolan terjeda untuk sholat, setelah selesai sholat, mereka membentuk grup masing-masing untuk bisa lebih akrab, sekalian memberi waktu sopir agar cukup istirahat, karena rencananya, mereka akan kembali hari itu juga. Begitu juga dengan Yoga. Lepas sholat ashar, dia memilih bersantai setengah merem gitu di gazebo halaman depan, berbarengan dengan sopirnya Yudhistira.
"Mas, enggak ikut ngobrol di sana?" Tanya sopir Yudhistira yang bernama Tomo.
"Enggak lah, pak Tomo. Aku mau tidur dulu, biar ntar kalo pulang enggak ngantuk...." Jawab Yoga sambil memposisikan diri senyaman mungkin.
"Lah... kalau kayak gitu mah, pak Tomo ikutan mas... " Kata pak Tomo sambil ikut merebahkan diri di samping Yoga dengan tertawa. Yoga ikutan tertawa, dia menepi sedikit memberi ruang untuk pak Tomo.
Sementara itu, Darmawan, Yudhistira, Ruswanto dan Bagas asik ngobrol soal bisnis masing-masing. Darmawan bangga dengan bisnis pertaniannya, Ruswanto bangga dengan bisnis bengkelnya sedang Yudhistira yang memegang usaha diberbagai bidang lebih banyak berbagi cerita tentang masalah manajerial. Bagas sendiri, dia banyak belajar dari percakapan itu.
Di daerahnya ini, usaha Bagas sudah termasuk besar. Tapi usaha pemeliharaan ayam potong beserta bisnis ayam olahan nya itu, kalau dibandingkan dengan usaha Yudhistira, enggak ada 10 persennya.
Mereka berbicara sambil berkeliling seputar rumah. Darmawan malah mengajak tamu-tamunya itu mengunjungi kandang ayam dibelakang rumah.
"Berapa kapasitas ayam di kandang ini...?" Tanya Yudhistira, saat mereka berdiri diantara bangunan kandang yang tertutup dengan terpal berwarna biru.
"Ini satu kandang kapasitasnya tujuh ribu ayam... terbagi dua, atas dan bawah... " Bagas yang menjawab.
"Memang harus ditutup rapat begitu ya?" Tanya Ruswanto sambil memperhatikan terpal biru yang menutup rapat kandang itu.
"Oh, itu... itu karena kami menggunakan mesin blower (kipas) untuk mengatur sirkulasi udara di dalam kandang." Jawab Bagas lagi.
Ruswanto dan Yudhistira menyimak informasi itu. Yudhistira memang usahawan di berbagai bidang, tapi tidak bergerak dalam bidang ini. Jadi informasi baru ini cukup bermanfaat baginya.
Mendadak terdengar suara dengung keras di sekitar mereka. Yudhistira dan Ruswanto saling bertukar pandang, seakan saling bertanya, suara apa itu...?
Tapi belum sempat pertanyaan itu keluar dari mulut mereka, Bagas segera menerangkan.
"Oh... itu anak kandang sedang nge-pel kandang... " Katanya. Setelah bicara begitu, dia mengarahkan kursi roda nya kearah pintu kandang yang di bawah. Yudhistira dan Ruswanto ikut melongok kan kepala ke dalam.
__ADS_1
Di dalam kandang, ada beberapa orang yang sedang membersihkan lantai kandang dengan mesin penyemprot air tekanan tinggi.
Karena terlalu berisik, mereka tidak lama berada di sana. Mereka melanjutkan "tour" mereka ke area kandang yang lain.
"Kandang ini tiangnya terbuat dari kayu?" Tanya Yudhistira setelah memperhatikan bagian dalam kandang.
Kandang dua lantai itu tiang-tiangnya memang terbuat dari kayu gelondongan utuh. Dilihat dari bentuknya yang memang tidak ada cat atau plitur, mereka bisa menebak kalau tiang itu diambil dari potongan batang pohon kelapa. Sementara bagian atas, lantainya terbuat dari rangkaian bambu yang dipaku serupa anyaman.
"Iya pak... Ini merupakan kandang pertama kami, makanya dibuat dengan memanfaatkan pohon kelapa dan bambu yang kami punya... Awalnya kami hanya punya satu kandang ini... tanpa menggunakan kipas blower juga.
Kami menyebutnya kandang terbuka, karena untuk mengatur sirkulasi udara di dalam kandang, kami perlu membuka dan menutup tirainya pada saat-saat tertentu....
Tapi kandang begitu ternyata membuat ayam lebih rentan sakit dan mati. Selain itu polusi udara untuk perumahan sekitar, karena bau kotoran ayam begitu menyengat hingga mengundang lalat-lalat beterbangan di sekitarnya.
Karena itu kemudian kami mencoba untuk membuat kandang tertutup ini.. Alhamdulillah, hasilnya jauh lebih baik..." Bagas dengan senang hati setengah bangga menerangkan soal kandang yang dia miliki.
"Berapa ukuran kandang ini?" Tanya Yudhistira penasaran. Jiwa wirausaha nya seketika berontak. Menimbang dan meng kalkulasi.
"Kandang ini panjangnya sekitar empat puluh meter, sedang luasnya delapan meter... "
Dalam batin Yudhistira dan Ruswanto langsung menghitung... delapan kali empat puluh.... kali tiga kandang... belum lagi area kosong yang digunakan untuk operasional.. dan kebun disekitarnya. Wow... betapa luasnya lahan area kandang ini...
"Punya berapa kandang kamu, Gas?" Iseng-iseng Ruswanto bertanya.
"Kalau yang di area ini ya.. cuma ini, pak. Tapi yang serupa ini ada dua lagi di area lain.... " Jawab Bagas.
"Dan dia sudah berencana untuk membuat kandang serupa di lahan yang baru dia beli.. " Imbuh Darmawan bangga.
Ya, orang tua mana yang enggak bangga kalau anaknya sudah bisa mandiri dan sukses dalam usahanya. Satu hal lagi... Walaupun mereka tidak sekaya Yudhistira... tapi yang pasti mereka jauh dari kata kekurangan.
__ADS_1
Di sisi yang lain, Santi, Yulia, Retno dan Sofia asik mendengar cerita dari nyonya Supami tentang keluarganya.
"Bu, maaf... kalau boleh tahu... kenapa nak Bagas itu pakai kursi roda? Apakah dia sakit sedari kecil atau gimana?" Tanya Retno hati-hati pada ketiga nyonya rumah.
Yulia terdiam. Santi menghela nafas panjang hampir bersamaan dengan nyonya Supami.
Santi lalu bercerita tentang Bagas yang ditinggal pergi tunangannya... lalu kecelakaan yang menimpanya hingga menyebabkan kelumpuhan.
Sambil bercerita itu, nampak Santi menahan dukanya. Sesekali dia mengusap genangan air di sudut matanya.
Ya, dia yang menjadi ibu tentu saja bersedih, saat melihat anaknya terluka sedemikian rupa, apalagi saat Bagas begitu terpuruk dan seakan kehilangan semangat hidup.
"Aku sungguh bersyukur... keberadaan Nurul yang amnesia itu bisa menggugah semangat hidup Bagas lagi. ... Maaf, bukan maksudku bersyukur atas kecelakaan Nurul... " Imbuh Santi buru-buru, takut membuat orang lain salah paham.
"Ya, aku bilang sama Bagas... Gas, lihatlah gadis itu... dia baru saja selamat dari maut, dia kehilangan semuanya, bukan cuma pacar atau tunangan... tapi semuanya... hartanya, keluarganya... bahkan kenangannya...
Bisa diibaratkan, dia itu bagai layangan putus... enggak tahu kemana arah angin akan membawanya, enggak ada tempat untuk berpijak, tapi lihatlah... dia masih bersemangat untuk menjalani hidup.. Dia bahkan mau disuruh-suruh orang hanya supaya bisa bertahan hidup dengan harga dirinya yang masih tersisa.
Waktu itu pertama kali saya melihat Nurul itu di rumah sakit bu... Dia diperbantukan menjadi staf bersih-bersih, karena memang tidak tahu kemampuannya dimana. ...
Saya lihat dia disuruh ini itu sama petugas rumah sakit, atau diupah oleh orang yang menunggu pasien. Disuruh beli ini... beli itu... atau bahkan disuruh membersihkan ruangan kamar pasien yang kotor..."
Kini gantian Sofia dan Retno yang mengusap sudut matanya. Membayangkan anak kesayangan mereka harus menjalani hidup dengan kondisi yang sangat "rendah". Padahal dia itu anak seorang konglomerat, terbiasa dimanja dan dihormati.
"Saat kami lihat Nurul pertama itu sebelum Rara bercerita tentang dia. Setelah Rara cerita, dan memastikan kalau yang Rara maksud adalah orang yang sama dengan yang kami temui di rumah sakit, kami langsung setuju untuk membawanya ke rumah ini..." Lanjut Santi.
...❤️❤️❤️bersambung dulu❤️❤️❤️...
.
__ADS_1