Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Haruskah memilih?


__ADS_3

"Nur... bukan maksudku merusak suasana, tapi ada yang harus aku katakan padamu... " Ucap mas Bagas kemudian sambil menatap lekat padaku. Seketika aku balik menatap mas Bagas penuh perhatian.


Ada apa lagi ini...?


"Ada apa, mas?" Tanyaku.


"Soal..." Baru saja ngomong itu, mas Bagas harus menghentikan ucapannya saat tiba-tiba terdengar suara pintu kamar diketuk orang dari luar. Spontan aku dan mas Bagas menoleh ke arah sana.


"Em... Sebentar ya, mas." Kataku, lalu bangkit dan melangkah menuju pintu.


Aku membuka pintu kamar, di depanku kini berdiri seorang gadis yang sepertinya usianya tidak jauh beda denganku. Dia memakai pakaian putih dan rok biru dongker, lengkap dengan celemek berwarna biru laut. Pakaian yang sama dengan pelayan yang menyambut kami di depan pintu tadi.


Di tangannya terdapat nampan berbahan stainless yang berkilau kinclong dengan sebuah pitcher kristal berisi air putih dan dua gelas yang juga terbuat dari kristal di atasnya.


"Permisi, Non. Saya disuruh bik Nah untuk mengantarkan air minum..." Kata gadis itu dengan sopannya.


"Ah, iya... Makasih ya. Eh, siapa namamu?" Tanyaku sambil menerima nampan itu.


"Nining..." Ujar gadis itu.


"Oh iya, makasih ya, Ning..."


"Sama-sama, Non..." Gadis itu tersenyum sungkan.


Agak canggung juga mendapat panggilan "NON". Setelah terbiasa aku menyebutkannya untuk orang lain.


Melihat Nining menyebut non padaku, seketika aku membayangkan diriku yang menyebut non pada putri keluarga Darmawan. Non Sabrina, siapa lagi. Dia satu-satunya pengguna panggilan Non di keluarga itu. Bahkan mungkin di seluruh kawasan daerah itu.


Ya, siapa yang tahu apa yang akan terjadi kemudian? Beberapa hari yang lalu aku masih seorang pelayan yang harus patuh melakukan apapun yang diperintahkan majikanku. Tapi hari ini... Ada orang yang harus mematuhi semua ucapanku. Aku bahkan mungkin menjadi orang yang jauh lebih kaya dari orang-orang yang aku layani kemarin.


Roda nasib memang selalu berputar. Tidak akan selamanya akan berada di atas, juga tidak selamanya akan selalu dibawah. Contohnya aku ini...


Melihat kondisiku sekarang ini, mungkin dulu aku adalah seorang nona muda dari suatu keluarga kaya raya. Punya harta berlimpah, keluarga serta dua pasang orang tua yang (mungkin) sangat menyayangiku.


Lalu melalui sebuah kecelakan lalu lintas, hanya dalam sekedip mata kemudian, aku kehilangan semuanya. Harta... Keluarga, bahkan ingatanku... Semua lenyap tanpa jejak. Entah apa maksud Allah dengan memberikan takdir seperti ini padaku, otakku belum mampu mencernanya.


Tapi alhamdulillah, Allah masih sayang padaku. Aku tidak dibiarkan lama-lama dalam keterpurukkan dan kesedihan. Sedikit demi sedikit, aku mulai bisa membangun kebahagianan ku sendiri, walau hanya dari hal yang kecil sekalipun.

__ADS_1


Tidak tahu, bagaimana sikap dan tingkah lakuku di masa lalu, Mungkin aku ini seorang gadis yang sombong dan arogan (seperti kata bik Nah), tidak pernah menghargai pekerjaan orang lain, merasa diri selalu benar dan tidak pernah mau mengucapkan kata maaf.


Sekarang aku tahu, kalau mendapat ucapan terima kasih atas apa yang telah kita berikan atau lakukan itu sangatlah menyenangkan, dan menerima kata maaf dari orang lain itu sangatlah melegakan.


Tanpa sadar, aku sekarang juga bisa merasa bahagia hanya karena mampu melakukan sesuatu dengan tanganku sendiri. Seperti memasak mie instan atau membuat minuman kopi untuk mas Bagas.


Aku ingat betul, betapa nikmatnya menyantap mie instan yang aku masak sendiri saat malam telah larut. Waktu itu aku masih tinggal di rumah sakit. Karena kelelahan setelah bekerja sepanjang hari, aku jatuh tertidur pada saat menjelang malam.


Aku terbangun hampir tengah malam dengan perut kelaparan. Aku pergi ke dapur untuk mencari makanan. Tapi malam-malam begitu, sudah tidak ada jatah karyawan yang tersisa. Untungnya, oleh petugas instalasi gizi, aku diberi sebungkus mie instan dan disuruh memasaknya sendiri.


Kamu tahu, untuk memasak sebungus mie instan itu, aku harus membaca petunjuk penyajian berulang kali agar tidak salah masak. Dan akhirnya, saat mie sudah terrhidang... Aku menikmatinya dengan sedikit lelehan air di sudut mata...


Aku berhasil masak mie...! Dan mie ini enak sekali .....


Ya, mie di malam itu rasanya memang enak sekali. Entah karena memang benar-benar enak, atau karena aku yang sedang kelaparan.


"Masih ada yang bisa saya bantu, Non?" tanya Nining menarik fokus ku kembali.


"Eh, enggak. Sudah cukup, makasih ya..." Ucapku.


"Sama-sama Non. Kalau begitu saya permisi dulu..." Pamit Nining. Aku mengangguk. Nining lalu membungkuk sedikit sebagai tanda permisi.


"Mas tadi mau bicara apa?" Tanyaku, sambil kembali duduk diatas kasur tempat ku semula duduk. Saat itu, kulihat mas Bagas seperti termenung, matanya menatap jauh melewati jendela dan pemandangan taman di baliknya.


"Hemmm..."


Mas Bagas menghela nafas panjang sebelum kembali menghadap padaku. Seulas senyum tersungging di bibirnya. Tapi aku merasa ada yang ditutupi oleh senyum itu.


"Siapa tadi...?" Tanya mas Bagas. Aku yakin itu cuma pertanyaan basa basi, karena aku juga yakin, mas Bagas bisa menebak siapa yang sebenarnya datang.


"Pelayan, dia mengantarkan air putih untuk minum... mas mau minum?" Tawarku. Tapi sebelum mas Bagas menjawabnya, aku sudah bergerak mendahului, mengambilkan segelas air putih untuknya.


"Terima kasih..." Katanya saat kuserahkan gelas itu. Sesaat dia memperhatikan gelas itu. Gelas yang langsung berkilau jika terkena cahaya. Mas Bagas meminumnya sedikit, lalu menyerahkan gelas itu kembali padaku.


Kuletakkan gelas itu kembali ke atas meja, dan kembali duduk di tempat semula.


"Bagaimana...? Bahagia kah kamu sekarang? Sudah bisa bertemu kembali dengan keluargamu?" Tanya mas Bagas memulai pembicaraan.

__ADS_1


"Bahagia... iya. Tapi entahlah... aku masih merasa asing dengan semua ini..." Jawabku jujur.


"Ya... mungkin karena amnesia mu...kalau ingatanmu kembali, pasti akan sangat menyenangkan, kan?" Ujar mas Bagas sambil tertawa kecil. Ada Ironi di sana. Aku hanya bisa menggedikkan bahu tanda pasrah.


Beberapa detik kami saling diam.


"Nur... Aku lihat, sikap ayahmu seperti tidak suka padaku... " Mas Bagas memulai lagi pembicaraan.


"Hem..." Aku tidak tahu harus berkomentar apa.


"Kalau seandainya, beliau menyuruhmu untuk pergi meninggalkan aku, apa yang akan kau lakukan?" Tanya mas Bagas. Kali ini netranya menatap fokus padaku. Aku termenung memikirkan apa yang harus aku katakan.


"Mas...Aku kebingungan untuk menjawab.


"Dan seandainya aku harus pergi, maukah kamu ikut denganku...?" Tanyanya lagi.


Aku termenung. Dua-duanya benar-benar bukan pilihan yang menarik.


"Mas... Apakah mas Bagas mau pergi meninggalkan aku?" Tanyaku balik.


"Rasanya seperti itu... "


"Mas...!" Potongku tercekat. Enggak menyangka sekali kalau mas Bagas akan menjawab seperti itu. Seketika air mata sudah menggenang di pelupuk mataku.


"Mas... mas Bagas enggak serius kan?"


...*...


...*...


...*bersambung*...


...*...


...*...


\=\=\=\=

__ADS_1


KK " pembaca ku sayang, makasih ya sudah menyempatkan waktu untuk membaca cerita recehan ini...


ILU IMU INU... 😘😘😘


__ADS_2