
Dengan sedikit mengabaikan ayah yang sepertinya keberatan aku membantu mas Bagas, aku menunaikan tugasku. Enggak selengkap biasanya kalau kami sedang sendiri sih... Sepertinya mas Bagas cukup tahu diri untuk tidak "bermanja" padaku pada situasi seperti ini.
Selesai mas Bagas bersih-bersih, menyusul aku yang bersih-bersih. Setelah semua beres, lalu aku meminta mas Bagas untuk mengimami sholat shubuh kami pagi ini. Sebelumnya aku meminta ayah untuk jadi imam, tapi sepertinya beliau sedang tidak siap untuk mengimami. Beliau malah sempat menatap heran padaku, saat aku meminta beliau untuk menjadi imam sholat shubuh ini.
"Sholat? Kalian duluan saja... Pakaian yang ayah pakai enggak cukup bersih untuk sholat." Jawab ayah tadi.
Aku tahu, itu cuma alasan ayah untuk menghindar dari sholat. Seharusnya aku sedikit memaksanya ya, supaya mau sholat bersama kami... tapi enggak tahu kenapa, aku takut untuk melakukannya. Takut dianggap kurang ajar atau sok tahu gitu... Akhirnya cuma kami berdua yang sholat. Ayah mungkin cuma memperhatikan kami dari pembaringan nya.
Baru saja kami mengucap salam di rokaat terakhir, terdengar suara pintu diketuk. Aku biarkan beberapa saat, sambil menyelesaikan dzikir pendek kami. Tapi rupanya orang yang datang itu tidak akan masuk seperti juga dia tidak akan pergi begitu saja, jika tidak dibukakan pintunya. Karena itu, masih dengan menggunakan mukena, aku melangkah mendekati pintu dan membukanya.
"Oh... mas e yang datang..." Kataku senang saat melihat, kalau yang datang ternyata di petugas OB yang tadi aku titipin untuk beli nasi pecel.
"Iya mbak... ini pesanannya..." Ujar lelaki itu sambil menyerahkan bungkusan kresek hitam. Aku menerima kresek itu.
"Ini kembaliannya... " Lanjutnya sambil menyerahkan sejumlah uang yang dia ambil dari saku seragam kerjanya.
"Enggak usah, itu buat mas e aja..." Ujarku. "Emmm tunggu sebentar, ya." Lanjut ku buru-buru, takut petugas OB itu keburu pergi.
Aku segera melangkah untuk mengambil tas tanganku. Aku ambil selembar uang biru lagi dan segera kembali mendekati si OB.
"Mas... makasih ya. Maaf, ini sekedarnya untuk tambah beli lauk sarapan..." Kataku sambil memberikan uang yang sudah aku lipat kecil itu ke tangannya.
"Eh, enggak perlu mbak..." Tolak petugas itu sungkan.
"Sudah ambil saja. Biar enak saya kalau nanti mau minta tolong lagi..."
"Insya Allah, mbak. Kalau bisa pasti saya tolong... emmm makasih ya, mbak..."
"Sama-sama... " Jawabku sambil tersenyum seramah mungkin.
Petugas itu lalu mengangguk untuk permisi. Aku menunggu hingga dia menjauh, baru menutup pintu.
"Ayah... nasi pecel nya sudah datang..." Kataku memberi tahu.
"Beli nasi pecel dimana?" Tanya ayah sambil memperhatikan kantung kresek yang aku bawa. Dahinya sedikit berkerut seperti orang yang curiga atau gimana gitu, saat memperhatikan kalau keresek yang aku bawa ukurannya kebesaran dari isinya serta sudah ada tanda bekas pakai.
Jelas sekali kalau penjual nasi pecel ini bukan pedagang profesional yang memperhatikan estetika kemasan produknya.
__ADS_1
"Beli di sekitar sini saja... " Jawabku. Aku meletakkan keresek itu di atas meja pantry.
Aku melepas mukena yang aku pakai, lalu melipat sekedarnya. Aku letakkan mukena itu di ujung pembaringan, sebelum membongkar isi kresek nya.
"Di sekitar sini memangnya ada restoran yang buka jam segini...?" Tanya ayah memastikan.
"Ya, ada yah... Ini buktinya. Ayah belum tahu saja..." Jawabku ngasal. Aku tahu. Definisi restoran yang dimaksud ayah enggak sama dengan yang aku maksud.
Buat ayah mungkin yang disebut restoran itu tempat makan elite yang dilengkapi dengan segala macam table manners nya. Berbeda dengan yang aku maksud.
Buatku, asal tempat itu menjual makanan dan menyediakan tempat untuk menikmatinya, bisa saja aku sebut restoran. Ya... model warteg sekalipun bisa saja kan, disebut restoran...? ðŸ¤
Aku membuka salah satu bungkusan nasi itu.
Hmmm lengkap juga isinya...
Aku alasi bungkusan yang sudah terbuka itu dengan piring lalu membawanya mendekati ayah.
"Ini yah, nasi pecel nya... " Kataku sambil menyerahkan makanan yang masih dilapisi daun pisang sebagai alasnya.
Sesaat ayah memperhatikan makanan yang di depannya.
"Sepertinya enak, yah..." Komentar ku berusaha meyakinkan. Setelah itu aku berbalik kembali ke meja pantry untuk membuka bungkusan yang lain.
Aku menyiapkan juga nasi untuk mas Bagas dan aku sendiri. Semuanya aku beri sendok dan alas piring supaya lebih aman saat makan.
"Mas... ayo makan sekalian... " Ajak ku sambil membawakan nasi untuk mas Bagas ke meja bundar di depan meja pantry, yang biasa dipakai sebagai meja makan.
"Kayak mau sahur, makan jam segini..." Komentar mas Bagas sambil mengarahkan kursi roda nya mendekati meja.
"Iya, tapi sayangnya enggak bisa dianggap sahur... ini sudah lewat shubuh... " Sahutku. Mas Bagas tertawa.
"Iya.... aku tahu..." Katanya.
Mas Bagas sudah menghadapi makanannya. Aku juga sudah menghadapi jatah nasiku. Tapi sebelum makan, aku ingat harus menyiapkan air minum untuk dua orang laki-laki di ruangan itu. Karena itu, aku ambil gelas dan mengisinya dengan air dari dispenser yang tersedia di kamar itu. Aku atur supaya airnya hangat supaya lebih nyaman di perut.
__ADS_1
"Ayah... ini air minumnya..." Aku meletakkan segelas air putih di nakas terdekat dengan ayah. "Ini air minum mas Bagas..." Lanjut ku sambil melangkah mendekati mas Bagas dan menaruh gelasnya di atas meja di hadapan mas Bagas.
"Makasih." Ucap mas Bagas. Dia langsung menyambar gelas itu dan meminumnya sedikit sebelum mulai makan. Aku tersenyum sebagai ganti ucapan "kembali kasih" padanya.
"Ayo duduk... " Ucap mas Bagas sambil menunjuk kursi di samping kirinya dengan dagu.
"Iya, mas sebentar..." Sahutku sambil menoleh lagi kearah ayah, memastikan kalau tidak ada lagi yang harus aku siapkan untuk beliau.
Ayah sudah mulai makan. Saat aku menoleh ke mas Bagas, kulihat dia juga sudah mulai menyendok nasinya.
Oke, beres... sekarang aku bisa makan...
Baru saja aku menghenyakkan bokongku di kursi, terdengar suara gumaman yang terlalu keras untuk disebut gumaman. Tapi terlalu pelan kalau untuk ucapan itu ditujukan pada kami....
"Siapa yang pagi-pagi begini mau makan nasi pecel?"
Seketika aku menatap mas Bagas. Sementara mas Bagas, tangannya yang hendak menyuap terjeda di udara. Arah pandangnya tertuju ke nasi diatas piringnya.
Aku beralih menoleh kearah ayah.
Apa sebenarnya maksud ayah?
Ya... Siapa lagi yang bicara barusan kalau bukan ayah... lengkap dengan tiruan intonasi yang mas Bagas gunakan saat bertanya tadi.
Kembali kutatap mas Bagas. Kelihatannya dia berusaha mengabaikan ucapan ayah barusan. Hanya saja, saat dia menggigit peyek, aku lihat dia mengeluarkan tenaga lebih dari yang seharusnya. Kini aku tahu, sedikit banyak mas Bagas terpengaruh juga dengan celetukan ayah.
Kuraih lengan mas Bagas dan ku remas sedikit menunjukkan perhatian dan memintanya bersabar. Mas Bagas menoleh kearahku singkat sambil tersenyum, lalu dia melanjutkan makannya.
Kami mulai makan lagi dalam diam..
Ayah... Ayah kenapa sih...?
...*...
...*...
...*bersambung*...
__ADS_1
...*...
...*...