
"Nurul...! " Panggil Maya kelepasan agak keras saking gembiranya bertemu lagi dengan Nurul.
"Hai...!" Sambut Nurul tapi hampir tanpa suara. Hanya dari ekspresi dan lambaian tangannya menunjukkan kalau dia juga sama-sama senang bisa bertemu Maya. Cuman, dia masih saja sungkan pada ketiga nyonya di depannya kalau mau ikutan heboh menyambut Maya.
Semula Nurul sudah mau minta izin untuk pergi ke belakang bersama Maya guna menemui teman-temannya, tapi perhatian mereka semua langsung teralih, saat mendengar suara mobil mendekat.
"May, katakan pada bu Surti. Minta disiapkan camilan untuk sore ini..." Perintah Santi sedikit berbisik. Maya yang sebenarnya masih ingin kangen-kangenan dengan Nurul enggak punya pilihan lain, selain bilang...
"Baik, nyonya... " Juga dengan suara pelan.
Setelah itu, dia langsung berbalik masuk kembali ke bagian dalam rumah. Nurul sendiri jadinya batal ikutan ke belakang.
Aslinya dia agak bingung. mau tetap disana sungkan dan enggak nyaman, tapi mau ikutan ke belakang juga enggak enak, yang sekarang bertamu ini kan orang tuanya, akhirnya dia cuma bisa duduk anteng di samping Bagas.
Sementara itu, orang-orang yang sedang berbincang juga menghentikan obrolannya dan menengok ke luar. Dari jendela tempat mereka duduk, terlihat Darmawan turun diikuti oleh Windu, asistennya.
"Win, kamu langsung saja temui pak kades, katakan yang tadi disampaikan oleh pak Samsul... Aku akan menemui tamuku dulu..." Ucap Darmawan sambil menatap deretan mobil yang terparkir berdampingan dihalaman rumahnya.
"Baik, tuan..." Sahut Windu sambil mengangguk. Setelah itu dia balik lagi masuk ke dalam mobil, sementara Darmawan berbalik dan melangkah menuju rumah.
"Assalamu'alaikum..." Salamnya saat mencapai teras rumah. Dari pintu yang terbuka dapat dilihat dengan jelas, kalau ada beberapa orang yang sedang duduk-duduk di ruang tamunya.
"Waalaikum salam... " Sahut orang-orang yang berada di dalam hampir bersamaan.
Darmawan berdiri sesaat di depan para tamunya dan mengedarkan pandangannya, tamu-tamunya juga bangkit berdiri untuk sekedar menghormati sang tuan rumah.
"Wan... Kita kedatangan tamu dari jauh..." Nyonya Supami memberi tahu.
"Iya... tadi saya ditelpon katanya ada orang tuanya Nurul datang..." Darmawan kembali memindai, menebak-nebak, yang mana yang orang tuanya Nurul.
Yudhis yang sudah berdiri, mendahului keluarganya untuk menyalami Darmawan.
__ADS_1
"Kenalkan, saya Yudhistira... saya ayahnya Anna. " Katanya sambil menunjuk Nurul, seakan memastikan kalau yang Darmawan panggil Nurul itu sebenarnya bernama Anna.
"Darmawan..." Ucap Darmawan ikut memperkenalkan diri.
"Ini istri saya... " Lanjut Yudhis sambil menunjuk Retno yang berdiri di sampingnya.
"Itu, ibunya Anna, dan itu suaminya... " Berganti menunjuk Sofia dan Ruswanto. Yang disebutkan namanya bergantian menyalami Darmawan sambil mengulang menyebutkan namanya.
"Oh, iya... Selamat datang di rumah kami sederhana ini... " Sahut Darmawan.
"Saya adiknya Mbak Anna... " Celetuk Yoga, saat dia tidak juga diperkenalkan setelah beberapa detik berlalu. Padahal kalau mau tidak perlu selama itu untuk memperkenalkannya.
"Oh, ya..." Sambut Darmawan menerima uluran tangan Yoga sambil tertawa kecil agak geli melihat sikap Yoga yang seperti tidak terima diabaikan. Padahal di benaknya masih terfokus pada kata yang tadi didengarnya.
Darmawan yang mendengar kata "istri" dan kata "ibunya Anna" sedikit mengernyitkan dahinya.
Dari ucapan Yudhis tadi dia bisa menyimpulkan kalau ibunya Anna itu mantan istrinya Yudhis, tapi yang menarik perhatiannya, mereka semua itu seperti tidak ada beban dengan kata "mantan" yang mereka sandang.
Biasanya seorang suami/istri akan merasa tidak nyaman atau setidaknya tidak betah lama-lama dengan mantan dari pasangannya. Tapi dari keempat orang dihadapannya ini seperti enggak ada masalah sama sekali.
"Terima kasih... " Ucap mereka sambil kembali duduk.
"Begini pak Darmawan, serta ibu... maksud kedatangan kami kemari ini, karena kami ingin berterimakasih kepada keluarga bapak dan ibu, karena keluarga ini sudah mau menampung dan merawat putri kami Anna.
Akibat kecelakaan yang menimpanya, Anna kehilangan ingatannya, sehingga dia tidak bisa menghubungi kami untuk meminta pertolongan, saat terjadi kecelakaan itu.
Beruntung sekali Anna bertemu dengan keluarga anda sekalian, sehingga nasibnya tidak terlantar..." Ucap Yudhis.
"Sama-sama, pak... bu... Berita kecelakaan itu sempat jadi bahan perbincangan yang hangat beberapa bulan lalu di daerah ini. Tapi memang tidak semua orang tahu kalau ada korban selamat. Sebagian besar menganggap kalau korbannya meninggal semua. Hingga Rara cerita kalau dia telah bertemu dengan korban selamat dari kecelakaan itu...." Cerita nyonya Supami.
"Siapa Rara?" Tanya Sofia.
__ADS_1
"Rara... dia salah satu anggota keluarga kami... " Jawab Santi.
"Iya, Rara cerita padaku kalau sudah bertemu dengan seorang gadis di rumah sakit. Kasihan dia, kata Rara... gadis itu sampai enggak tahu namanya sendiri... Dia juga kebingungan, mau tinggal di mana setelah selesai masa perawatannya, masa mau tinggal dirumah sakit terus.... " Lanjut nyonya Supami sambil menirukan ucapan Rara waktu itu.
Mendengar penuturan nyonya Supami, semua jadi terhanyut dan haru. Ibu bahkan sampai menangis dan langsung memeluk Nurul. Nurul sendiri yang terkenang pengalamannya yang menyedihkan itu juga jadi ikutan menangis lagi. Ya, semuanya jadi ikut-ikutan meneteskan air mata. Hanya saja Yudhis dan Ruswanto berhasil menahan air mata itu hingga tidak sampai jatuh. Mereka berdua langsung membuang pandangan mereka jauh ke depan.
"Ya, setelah itu, Rara meminta izin pada kami untuk membawa teman barunya itu kemari...." Santi melanjutkan ceritanya.
"Pada dasarnya enggak ada masalah buat kami menerima siapapun dirumah kami, asalkan anaknya tidak manja.
Alhamdulillah, Nurul ini tipe anak yang bisa menitipkan diri. Dia rajin membantu pekerjaan teman-temannya, walaupun memang kelihatan, kalau dia bukan anak yang terlatih untuk pekerjaan rumah, tapi dia mau dan tidak malu melakukannya.
Saya selalu menilai orang-orang yang tinggal di rumah ini. Selama saya amati, sifat Nurul itu baik, jujur dan mau belajar, karena itu, saya menyukainya dan akhirnya mengangkat dia jadi menantu kami..." Nyonya Supami kembali menyambung cerita.
"Alhamdulillah... Terima kasih tak terhingga untuk kebaikan ibu..." Ujar Sofia.
"Sehubungan dengan pernikahan antara Anna dan nak Bagas..." Yudhis menjeda ucapanya dan menatap orang-orang yang ada di hadapannya.
"Begini... Dikarenakan kemarin itu, sewaktu menikah, Anna tidak menggunakan identitas yang sebenarnya, jadi saya pikir pernikahan mereka itu tidak sah ... Ya, saya paham karena situasinya tidak memungkinkan untuk itu...." Yudhis buru-buru menambahkan sebelum ada yang salah paham.
"Tapi sekarang... identitas Anna sudah jelas. Dan saya sebagai ayah kandungnya juga masih ada, karena itu, saya ingin pernikahan anak saya di ulangi secara resmi.
Saya ingin, Anna menikah dengan identitas sebagai Widiana, putri dari seorang Yudhistira... Karena dia satu-satunya anak keturunan saya... Saya ingin payung hukum yang jelas untuk anak saya..." ujar Yudhis tegas.
Sesaat keluarga Darmawan diam memikirkan usulan Yudhis.
"Ya... Saya setuju jika pernikahan mereka diulang, bagaimanapun, identitas resmi gadis itu sekarang sudah jelas. Dia Anna, bukan Nurul, jadi akad-nya juga memang berubah..." Ujar Darmawan menyetujui.
Yudhis puas, dia secara pribadi memang ingin nama Yudhistira tetap hidup.
"Baiklah... kalau kita sepakat, kalau pernikahan mereka memang musti diulang..." Yudhis menyimpulkan.
__ADS_1
...🌹🌹🌹bersambung 🌹🌹🌹...
.