
"Iya... kita akan segera pulang, setelah minta izin dari dokter... " Jawab Mas Bagas.
Perlahan aku mengangguk.
"Nur, ayo makan dulu... Sedari tadi kamu belum makan. Ini sudah lewat waktu makan siang..." Ucap mas Bagas mengalihkan perhatianku, sambil menunjuk ke nampan makanan yang tergeletak di atas nakas, di samping ranjang pasien ku.
Aku menoleh kearah yang ditunjuk.
Menu rumah sakit....
"Boleh minta makanan lain enggak, mas?" Tanyaku kembali menatap mas Bagas.
"Mau makan apa?" Tanya Mas Bagas. Tangan kanannya masih menggenggam tanganku, sementara tangan kirinya merapihkan anak-anak rambut di dahiku yang sedikit serabutan menutupi mata.
"Emmm apa ya? Eh, mas sendiri sudah makan belum?" Tanyaku tiba-tiba karena teringat, kalau biasanya aku yang menyiapkan makanan untuk mas Bagas.
Mas Bagas bukannya menjawab malah tersenyum.
"Ayo, kita pesan makanan untuk kita berdua..." Katanya.
Aku mengangguk.
Belum sempat kami menghubungi siapa-siapa untuk minta dibelikan makanan, dokter dan seorang perawat perempuan datang untuk melakukan pemeriksaan.
Aku kembali disuruh tiduran di ranjang pasien. Dokter menyentuh nadiku dengan jarinya, lalu memeriksa dengan menggunakan stateskop. Dia juga memeriksa pupil mataku.
"Apa ada keluhan...?" Tanyanya kemudian. Seketika aku menggeleng.
"Pusing atau sakit kepala...?"
Sekali lagi aku menggeleng.
"Bagaimana keadaan istri saya, dokter?" Tanya mas Bagas meminta kepastian.
"Istri bapak tidak apa-apa... mungkin dia tadi pingsan karena terlalu berusaha untuk mengingat... menurut cerita bapak tadi, istri bapak terkena amnesia...?" Ujar dokter itu. Mas Bagas mengangguk.
"Ya, sebaiknya diusahakan jangan terlalu memaksakan diri... Biarkanlah ingatan itu kembali secara perlahan."
Beberapa saat dokter itu memberikan nasehat medis, sebelum akhirnya membolehkan kami untuk pulang.
Aku tersenyum senang. Begitu dokter itu pergi, aku langsung meloncat turun dari ranjang pasien.
"Mas, enggak perlu order makanan... kita makan diluar sekalian pulang aja ya..." Kataku sambil menghampiri mas Bagas. Mas Bagas mengangguk sambil tersenyum.
"Kita pulang sekarang...?" Tanya ku memastikan.
"Iya... udah? Enggak ada yang ketinggalan?" Mas Bagas memastikan.
"Ketinggalan apa? Emang saya tadi bawa apa?" Kataku sambil celingukan mencari sesuatu yang mungkin memang milikku...
"Eh, tas tanganku mana?" Tanyaku tiba-tiba teringat dengan barang pinjaman itu.
__ADS_1
"Itu... didalam nakas...untung inget..." Jawab mas Bagas. Aku segera membuka pintu nakas dan mengambil tas tanganku.
Alhamdulillah... enggak jadi ilang...
Baru saja aku menutup pintu nakas dan hendak berdiri, terdengar suara langkah kaki berderap. Kalau dari suaranya, aku tebak, yang datang lebih dari satu orang dan mereka berjalan dengan tergesa-gesa.
Aku bertukar pandang dengan mas Bagas. Dari ekspresinya, sepertinya dia juga berpikir sama denganku. Sama-sama berpikir "Siapa... Ada apa?"
Hanya selang beberapa detik, suara langkah itu berhenti di depan pintu kamarku yang memang sudah terbuka, karena setelah dokter tadi keluar, kami tidak menutupnya.
Kulihat ibu yang tadi pingsan kini berdiri di sana. Dibelakangnya, ada dua pria. Yang satu pemuda yang tadi sempat mendekatiku saat aku hendak naik ke taksi, yang satu lagi pria yang lebih tua. Mungkin suami si ibu tadi...
"Anna... " Panggil ibu itu lirih dengan suara bergetar.
Seketika aku bergerak kebelakang mas Bagas berusaha mencari perlindungan.
"Mas..." Tanpa sadar aku merengek.
Mas Bagas segera meraih tubuhku mendekat disampingnya. Aku merunduk mensejajarkan tinggiku dengan tinggi mas Bagas yang duduk di kursi roda. Dipeluknya aku erat. Berusaha menenangkan diriku.
"Kalian siapa...?" Tanya mas Bagas dengan suara mantap penuh kewaspadaan.
"Anna... ini ibu nak... " Ucap wanita itu.
Aku menatap ketiga orang itu bergantian.
"Apa yang terjadi padamu, nak... kenapa kamu tidak mengenali ibu...?"
"Bu, berhenti disitu... anda membuat istriku ketakutan..." Ucap mas Bagas berusaha menghentikan ibu itu untuk terus mendekat.
Mendengar ucapan mas Bagas, ketiga orang itu perhatiannya langsung tertuju padanya.
"Istri...?" Tanya pria yang lebih tua.
"Ya, dia istriku, kenapa? ... Siapa kalian?" Tanya mas Bagas lagi.
"Em... sebaiknya kita bicara baik-baik..." Ucap pria yang lebih tua lagi.
"Bu... bersabarlah. Ada yang harus dijelaskan disini... Jangan membuat anak itu menjadi bingung karena ketidak sabaranmu..." Lanjutnya lagi pada sang wanita. Sepertinya benar, wanita itu adalah istrinya.
"Anna..." Ucap wanita itu lagi dengan suara lirih. Tapi dia menuruti saran suaminya. Dia tetap ditempatnya walaupun matanya terus menatapku sendu.
"Boleh kita berbicara sambil duduk...?" Tanya pria itu. Mas Bagas mengangguk, tapi kami tidak beranjak dari tempat kami.
"Silahkan bicara..." Ucap mas Bagas saat ketiganya sudah duduk di sofa yang disediakan di kamar itu.
"Begini... Pertama-tama, sebaiknya kami memperkenalkan diri dulu. Aku Wanto... Ruswanto, itu istriku Sofia dan ini anakku Yoga..." Ujar pria itu pada mas Bagas, sambil menunjuk orang yang dimaksud.
Aku mengikuti arah yang dia tunjuk dengan pandangan.
"Mbak Anna..." Panggil pemuda yang tadi diperkenalkan bernama Yoga.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, mas e namanya siapa ya?" Lanjut pak Ruswanto bertanya pada mas Bagas.
"Saya Bagas... ini istri saya, Nurul..." Jawab mas Bagas, tapi belum selesai mas Bagas bicara ibu itu sudah memotong.
"Enggak mungkin... dia bukan Nurul, dia Anna anakku...!"
"Ibu..." Terdengar pak Ruswanto memperingatkan istrinya.
"Tepi aku yakin, dia Anna... dia pasti Anna, anakku..." Ujar ibu itu bersikeras.
"Mas Bagas, boleh saya minta informasi tentang istri anda...? Sekedar memastikan kalau kami memang sudah salah orang..." Pinta Pak Ruswanto dengan nada suara yang hati-hati, tekut menyinggung lawan bicaranya.
Diminta seperti itu, mas Bagas cuma bisa menghela nafas panjang. Aku tahu apa yang memberatkan hatinya. Ya, karena dia sendiri tidak tahu banyak soal aku. Sama dengan aku sendiri. Tidak tahu apa-apa soal diriku sendiri.
"Apa yang menyebabkan kalian berfikir kalau dia Anna...?" Mas Bagas membalik pertanyaan.
"Karena dia memang Anna. Kami enggak mungkin salah. Berbulan-bulan dia menghilang tak tentu rimbanya. Tiba-tiba saja dia muncul disini, tentu saja kami kaget. Apalagi saat menyadari kalau dia tidak mengenali kami..." Terang pak Ruswanto. Terlihat kedukaan diwajahnya.
Mendengar uraian itu, tanpa sadar aku meremas tangan tuan yang masih aku genggam.
"Mas... benarkah mereka itu keluargaku...?" Bisikku pada Mas Bagas.
Mas Bagas nampak berpikir sejenak.
"Apakah ada bukti kalau dia ini Anna keluarga kalian?" Tanya mas Bagas lagi.
"Ada...!" Sahut Yoga cepat, membuat perhatian kami langsung terarah padanya.
Kulihat dia meraih sesuatu di saku celananya. Sebuah HP. Beberapa saat dia men-scroll layar HP nya, hingga kemudian...
"Mbak... lihat ini... ini terakhir kali kita berfoto bersama... ini waktu acara perpisahan SMA ku..." Ujar Yoga sambil menunjukkan foto-foto yang menggambarkan sebuah acara sekolah. Di belakang orang-orang yang berpose itu terlihat tulisan besar...
...Acara Perpisahan...
...SMA Negeri Sembilan...
...Tahun ajaran sekian-sekian....
Ku amati foto itu dengan seksama.
Walaupun ada yang tidak sama, seperti potongan rambut dan gaya berpakaiannya. Tapi aku merasa, kalau perempuan yang berfoto bersama Yoga itu adalah aku. Dan Yoga terus men-scroll layar HP nya menunjukkan foto-foto lainnya.
Jadi benarkah mereka keluarga ku?
...*...
...*...
...*bersambung*...
...*...
__ADS_1
...*...