Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Nasehat nyonya Supami.


__ADS_3

"Aku udah berusaha untuk membuang rasa itu, Nur... Tapi enggak bisa. Semakin hari perasaan itu malah semakin kuat.


Aku sadar aku ini siapa, dia itu siapa. Aku udah coba untuk mengalihkan perhatianku darinya, tapi tetap saja enggak bisa.... " Ucap Rara disela isak nya.


"Aku harus gimana lagi coba?" Tanya Rara sambil membersit hidungnya yang sudah berair. Ditanya seperti itu Nurul jadi bingung juga menjawabnya.


"Kalau tuan Danu sendiri gimana? Ada respon atau gimana gitu... sama kamu?" Tanya Nurul minta kejelasan.


"Ya.. tuan Danu mah kan gitu... Dia itu baik sama semua orang. Sama nenek-nenek aja murah senyum, apalagi sama nona manis..." Jawab Rara setengah jengkel. Nurul yang mendengar jawaban itu spontan tertawa.


"Lah, memang sudah suatu keharusan kan, kita ramah sama orang tua. masa mau diketusin, bisa kualat nanti. Ah, kamu mah ada-ada aja..." Ucap Nurul setelah puas tertawa.


"Ya habis... dia tuh suka bikin orang salah paham... Semua orang dia senyumin. Enggak tau apa dia... kalau senyum dia itu bisa bikin hati orang jungkir balik..." Keluh Rara yang lagi-lagi bikin Nurul tertawa.


"Kamu kok malah ketawa-ketawa gitu sih? Seneng apa, lihat aku merana gini..." Tuduh Rara.


"Bukannya seneng... tapi aku lega. Kalau kamu udah bisa ngomong seperti itu, berarti penyakit galau kamu udah sembuh..." Kilah Nurul.


"Penyakit galau ku belum sembuh Nur. Hanya saja aku enggak tahu lagi, gimana caraku menghadapi perasaan ini....


Kalau dia itu bukan juragan ku... Udah aku pepet dia supaya bisa berpaling padaku... Tapi kalau situasinya seperti ini... Aku harus tahu diri. Kalau enggak, aku bisa ditendang sama keluargaku sendiri..." Rara kembali terbawa galau.


"Ng.... Kalau misalnya kamu menjauh dulu sementara waktu gimana?" Tanya Nurul mencoba memberi solusi.


"Sebenarnya udah aku coba sih, Nur.. eh Anna..." Rara meralat sambil menutup mulutnya yang keceplosan bolak balik memanggil nama Nurul.


"Duh, udah panggil Nurul juga enggak apa-apa Ra... " Ujar Nurul sambil tertawa geli. Rara ikutan tersenyum.


"Iya, Nur... Beberapa hari lalu aku berniat menghindar. Aku mau ngekost aja dekat kampus, supaya aku enggak ketemu sama tuan Danu.


Tapi belum juga pindah, nenek kasih tahu, kalau permintaan ku untuk magang di perusahaan tuan Darmawan diterima. Dan kamu tahu...? Ternyata tuan Danu juga magang disitu. Cuma beda divisi aja. Lah terus buat apa aku pindah kalau akhirnya aku malah harus sekantor lagi sama dia... " Cerita Rara bingung.


"Lah, kalau kamu cari tempat magang lain?"


"Ya enggak enak lah sama tuan Darmawan... apa alasannya coba kalau aku mundur. .."


"Lagian... kenapa kamu malah minta magang di sana...?" Nurul setengah menyalahkan.


"Aduh Nur... pengajuan magang itu aku buat berbulan-bulan lalu... Aku enggak kepikir kalau hati ini bakal semakin dalam... Waktu itu ke pikirnya, aku bakal bisa bareng sama tuan, gitu aja..." Rara beralasan.


"Oalah, Ra... Ya sudah. Untuk sementara, nikmati aja kebersamaan kalian itu..." Nurul akhirnya nyerah. Enggak tahu musti ngomong apa lagi.


"Hei... Anak-anak ngajak tik tok an. Kesana yuk..." Ajak Nurul saat teringat rencananya bersama teman-teman lain. Kebetulan, bisa buat pengalih perhatian Rara.


"Tik tok an?" Rara seperti ragu.

__ADS_1


"Iya... udah yuk, dari pada kamu sendirian di sini mewek... "


Rara berpikir sebentar menimbang-nimbang.


"Heleh... kelamaan mikir, udah ayokk."


Setengah memaksa, Nurul menarik tangan Rara untuk berdiri. Mereka lalu pergi ke halaman belakang untuk bergabung dengan teman-teman yang tadi sepakat untuk tik tok an bareng.


* * *


Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Yudhistira memberi isyarat pada rombongannya untuk berpamitan pulang. Ya, karena keasikan ngobrol, makanya kepulangan mereka sampai molor hingga tanpa sadar hari malah sudah mau maghrib.


Tapi saat mereka berpamitan, nyonya Supami mencegah mereka untuk pulang dulu.


"Jangan pulang sekarang, sebentar lagi waktu maghrib. Ra elok (engga baik) bepergian wayah maghrib. Tunggu sampai waktu maghrib lewat." Katanya.


"Mana anak-anak...? Sudah masuk semua kah?" Tanyanya lagi sambil celingukan.


"Sampun, bu... Danu dan Sabrina sudah ada di kamarnya masing-masing..." Yulia yang menjawab.


"Anak bagus tadi kemana kok enggak kelihatan...?" Nyonya Supami masih celingukan.


"Anak bagus...?... Oh, maksudnya anak njenengan mbak.. itu siapa namanya...? Yoga... ah, iya Yoga..." Ucap Santi setelah berhasil menebak yang dimaksud mertuanya.


"Yoga... Eh, dia tadi tiduran di gazebo depan..." Sahut Sofia.


Melihat sikap nyonya Supami yang tegas seperti itu, Sofia segera keluar untuk memanggil anaknya.


"Suruh masuk semua... jangan ada yang ketinggalan...!" Seru nyonya Supami menambahkan. Yulia segera bangkit untuk menemani calon besannya itu keluar.


"Maaf, mbak... Ibu memang begitu... Kalau waktu maghrib, semua orang harus sudah ada di rumah... Katanya enggak baik, maghrib-maghrib ada di luar, apalagi keluyuran... " Kata Yulia menjelaskan.


Sofia tersenyum maklum. Ya, memang begitu adatnya kalau tinggal di kampung. Tradisi dan mitos masih dipegang teguh. Enggak seperti kalau tinggal di kota. Bekerja dan beraktivitas enggak kenal waktu. Mau shubuh, Dhuhur, maghrib atau tengah malam sekalipun enggak akan ada yang berani komentar apalagi melarang.


"Yoga... Yoga... ayo bangun. Masuk... Pak... Pak... Ayo masuk.... sudah mau maghrib..." Panggil Sofia sambil mengguncang tubuh Yoga.


Sekali dua kali Yoga tidak ber reaksi. Saat tubuhnya kembali di guncang, baru dia membuka mata.


"Engh... sudah pagi kah, bu?" Tanya Yoga sambil menggeliat.


"Sudah pagi apanya... orang mau maghrib kok malah tanya sudah pagi. " Sahut ibu sambil terkekeh geli. Begitu juga Yulia dan pak Tomo yang sudah lebih dulu bangun.


"Eh...?" Yoga bangkit duduk dan memperhatikan sekitarnya. Saking pulsanya dia tertidur, sampai-sampai dia kehilangan kesadaran akan hitungan waktu.


"Ayo masuk... Pak Tomo juga. Kata nenek, semua harus masuk rumah." Kata Sofia sambil menepuk pundak Yoga agar segera bangkit.

__ADS_1


Dengan otak yang belum begitu konek, Yoga mengikuti ibunya serta yang lain masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah, Yoga duduk bersandar. Matanya kembali memejam, rupanya rasa kantuknya masih belum hilang.


"Le... bangun le... cah bagus... jangan tidur lagi, sudah mau maghrib..." Cegah nyonya Supami.


Sofia segera menepuk paha Yoga supaya tidak kembali tertidur.


"Engh... kok masih ngantuk ya..." Kata Yoga sambil berusaha membuka matanya. Maunya sih lanjut tidur, tapi dia merasa sungkan dengan nyonya Supami.


"Ora elok, le... tidur wayahe maghrib..." Nasehat nyonya Supami.


"Memangnya kenapa, nek?" Tanya Yoga penasaran, apa alasannya kok enggak boleh tidur waktu maghrib. Dia sudah pernah sih mendengar mitos ini, tapi ya... itu kan cuma mitos.


Mau maghrib, mau ashar, mau shubuh. Kalau memang ngantuk ya tidur aja... ya kan?


Nyonya Supami tersenyum mendengar pertanyaan itu.


"Begini, le... Terlepas dari kamu percaya atau tidak dengan mitos... kamu tahu, kenapa orang kok enggak boleh tidur ataupun bepergian pas waktu maghrib?" Ucap nyonya Supami.


"Ya, enggak tahu. Kan, tadi aku juga tanya... kenapa?" Sahut Yoga.


Nyonya Supami kembali tersenyum bijak.


"Begini... Waktu menjelang malam.. ya waktu maghrib itu, ... adalah waktunya semua jin setan berkeliaran... Kenapa mereka berkeliaran? Karena mereka harus mencari tempat bersembunyi dari sesama mereka yang jahat.


Para jin dan setan itu, sekuat tenaga mencari tempat atau benda apa saja untuk bersembunyi. Makanya, kalau kalian punya benda kotor seperti pempers bekas atau barang apa saja yang mengandung najis, simpan atau buang dengan aman, supaya tidak jadi tempat persembunyian jin.


Begitu juga kalau kalian punya anak bayi... Sebaiknya saat maghrib begitu, anaknya digendong, dibacanya doa atau sholawat, supaya jin dan setan tidak mengganggunya dan membuat pokoknya jadi tempat persembunyian mereka.


Kalian juga disuruh menutup pintu, supaya mereka tidak masuk ke rumah..."


"Memang kalau sudah ditutup setannya enggak bisa masuk?" Celetuk Yoga.


"Enggak... Setan tidak akan membuka pintu yang tertutup. Apalagi setelah ditutup dengan menyebut nama Gusti Allah... "


"Lah hubungannya dengan enggak boleh tidur pas maghrib?" Tanya Yoga lagi.


"Karena kalau kamu tidur pas maghrib, badan kamu buat sembunyi setan, kamu jadi kerasukan setan... udah gitu kamu bakal nyusahin orang..." Celetuk sebuah suara dari arah belakang nyonya Supami.


...✌✌✌bersambung ✌✌✌...


.


\=\=\=\=

__ADS_1


Teori tentang setan dan jin yang cari tempat persembunyian ini cuma pengembangan dari mitos dan Hadist yang pernah author baca, jadi kalau ada salah ya mohon dimaafkan... 🙏🙏🙏


__ADS_2