
Anna : Pulang gih, Bawain aku baju ganti. Udah gatel nih...
Bagas menatap pesan itu dengan kening sedikit berkerut.
Diperhatikan nya pesan itu berulang-ulang. Seumur hidupnya, belum ada yang pernah main perintah seperti ini padanya. Kecuali orang tuanya tentu saja.
Apakah dirinya marah....?
Tidak.
Apakah dirinya tersinggung...?
Juga tidak.
Bagas menghela nafas lalu tersenyum.
Dia mengerti. Istrinya pasti sedang marah dan cemburu.
Pasti dia terlalu gengsi untuk menyatakan perasaannya, jadi dia uring-uringan...
Bagas : Iya, tunggu ya. Perlu dibawakan apa lagi? π
Tidak ada jawaban.
Akhirnya Bagas berbalik dan pergi.
Bagas menyiapkan semua keperluan istrinya. Bukan hanya pakaian lengkap, tapi termasuk alat make up yang ada di lemari sang istri yang terlihat masih baru walaupun sudah terbuka segelnya.
Selain itu, dia juga meminta pelayan di rumah untuk membungkus makanan untuk sang istri. Dia tahu, Nurul tidak jadi makan karena tadi keburu ngambek.
Sementara menunggu makanan siap di kemas, Bagas duduk di depan kamarnya sambil memberi makan ikan. Saat itulah, nyonya Supami lewat di sebrang pintu rumah utama dan melihatnya disana.
Nyonya Supami mendekat.
"Le... Bukannya kamu tadi pergi untuk sarapan dengan bojomu?" Tanya nyonya Supami sambil berjalan makin dekat. Bagas menoleh.
"Oalah... inggih Yang. Tadi saya sudah dari sana, tapi kemudian pulang lagi..." Jawab Bagas sambil menghela nafas panjang.
"Lah, kenapa?"
Nyonya Supami duduk di tembok tepi kolam sambil memperhatikan wajah cucunya. Bagas terdiam sesaat, menimbang-nimbang. Perlukah masalah Wulan yang ingin kembali padanya itu disampaikan?
__ADS_1
Akhirnya, untuk mencegah terjadinya salah paham, akhirnya Bagas memutuskan untuk bercerita pada sang nenek.
"Anu, Yang... Wulan...."
"Wulan...?" Nyonya Supami sedikit terheran mendengar nama Wulan di sebut.
"Begini, Yang... "
Bagas lalu menceritakan kejadian tadi pagi, saat dia tanpa di duga ternyata malah bertemu dengan Wulan di hotel tempat Nurul menginap.
Dia bercerita lengkap, termasuk Wulan yang minta kembali padanya, serta Nurul yang jadi ngambek gara-gara itu.
"Oalah... Yo mesti ae, Nurul nesu... Lah, kamu sendiri enggak berusaha menjelaskan tah?" Ucap sang nenek.
"Belum sempat, eyang. Nurul sudah keburu ngambek." Jawab Bagas.
"Yo wes... segera luruskan salah paham ini, jangan sampai berlarut-larut. Eh, ngomong-ngomong, urusan kamu sama Wulan memang sudah selesai, kan?" Nyonya Supami berusaha memastikan.
Ya, walau bagaimanapun, cara berpisah cucunya dengan mantan tunangannya itu bukan karena perasaan keduanya yang sudah berubah. Justru mereka berpisah karena keadaan yang memaksa mereka. Sang nenek takut, ada cerita yang belum selesai diantara mereka yang bisa mempengaruhi kelanjutan pernikahan Bagas dan Nurul.
Sesaat Bagas terdiam. Dia berusaha jujur dengan dirinya sendiri dulu sebelum berani menjawab pertanyaan sang nenek.
"Gas... Bojomu iki bukan perempuan biasa. Jangan pernah mencoba untuk mempermainkan nya. Kalau Nurul yang dulu, mungkin hanya seorang perempuan tanpa identitas... tanpa kasta. Kalaupun kamu berbuat macam-macam padanya, dia mungkin tidak akan banyak memberi masalah padamu.
"Aku enggak pernah berpikir mau macam-macam kok sama Nurul." Jawab Bagas kemudian.
"Kekuatan cinta kami mungkin tidak sekuat kekuatan cinta antara aku dan Wulan... Tapi aku punya keyakinan, dan aku harap Nurul juga begitu... Kami yakin kalau kami bisa melanjutkan pernikahan kami dengan modal niat baik yang tulus untuk membentuk suatu keluarga yang sakinah mawaddah warohmah.... "
"Aamiin.... Mugi Gusti Allah meridhoi niat baik kalian. Berdoa lah, semoga kalian memang berjodoh... " Sahut nyonya Supami sambil menepuk punggung tangan Bagas yang ada di pegangan kursi.
"Kamu tahu Gas..." Ucap nyonya Supami lagi setelah sesaat mereka saling diam.
Bagas tidak menjawab, tapi pandangan dan perhatiannya terarah pada sang nenek, menunggunya menyelesaikan ucapannya.
"Beberapa hari sebelum Nurul datang... Aku mimpi didatangi kakek buyutmu... Eyang Wongso Warsini..." Nyonya Supami menjeda ucapannya. Bagas semakin memfokuskan pikirannya mendengar nama buyutnya itu.
Buyutnya itu merupakan, kakek dari ibunya. Sahabat dari ayahnya nyonya Supami. Karena mereka berdua lah, makanya ibunya, Santi. Bisa menikah dengan ayahnya, Darmawan.
Mereka dijodohkan dengan ancaman keduanya tidak akan menerima warisan jika mereka tidak menikah. Padahal waktu itu Darmawan sudah punya pacar, Yulia.
Hanya Bagas sendiri yang tahu cerita itu, karena Santi sendiri yang menceritakannya beberapa tahun lalu, saat Bagas mulai mempertanyakan, kenapa ibunya itu sampai "mau" dimadu.
__ADS_1
Ibunya wanti-wanti berpesan, agar cerita ini berhenti padanya, jangan sampai adik-adiknya tahu. Ibunya tidak ingin ada masalah diantara anak-anak yang tidak paham situasi orang tua mereka.
Sebagai anak sulung, Bagas kadang tidak terima saat melihat ibunya seperti berduka saat ada masalah dengan sang ayah. Ibunya itu seperti tidak punya tempat untuk curhat. Terlebih lagi saat kondisi Bagas sedang drop kemarin. Waktu itu, Santi sempat punya ucap...
"Aku sudah merelakan hidupku untuk berbagi suami... untuk menyelesaikan amanat orang tua... Tapi aku tidak akan rela, jika anak-anakku harus tersingkir dan menjadi kacung dia..."
Bagas paham siapa yang dimaksud "dia" oleh ibunya. Dia juga paham bagaimana sakit hati ibunya, yang walaupun menjadi "permaisuri" sang ayah, tapi bukan yang menguasai hatinya...
Karena itu, dia setuju saja menerima "tantangan" untuk segera menikah, untuk membuktikan kemampuannya, agar bisa segera menduduki kursi kepemimpinan mengantikan ayahnya.
"Apa pesan eyang buyut?" Tanya Bagas.
"Beliau memberiku, seekor burung dara berwarna coklat keemasan, yang sayapnya patah. Aku disuruh ngerumat burung itu...
Katanya, rumaten doro itu, Semua amal kebaikan akan berbuah kebaikan, dan dia bukan makhluk yang tidak tahu membalas budi..."
Bagas menghela nafas mendengar cerita neneknya.
Entah apa rahasia Pangeran dengan hidupnya. Tapi satu dia yakini... Semuanya tentu untuk kebaikannya.
"Jangan sia-siakan kebaikan orang, Gus. Apapun niat awal pernikahanmu, mulai sekarang, tetapkan hati, perbaiki niat itu, semoga kebahagiaan selalu menyertaimu... "
"Inggih Eyang. Mohon doa nya..."
"Selalu, Gus... Do'a ku selalu menyertaimu... "
Bagas meraih telapak tangan neneknya dan menciumnya.
"Wes, ndang budal temoni bojomu..."
"Inggih Yang. Nah, itu pesananku datang... " Jawab Bagas saat melihat seorang pelayan mendekat dengan kantung bekal di tangan.
...πbersambungπ...
Catatan author...
Alhamdulillah, setelah sekian waktu tersita karena masalah kesibukan dan kesehatan... akhirnya author berhasil melanjutkan cerita ini.
Dikarenakan sudah terlalu lama terjeda juga, maka kali ini author hanya mau bikin bab-bab ending dari cerita ini ya...
Insya Allah, bakal ada Cuma Seorang Pelayan season 2, tapi fokus cerita sudah bukan soal Nurul dan Bagas lagi. Mereka nanti paling jadi tokoh tamu.
__ADS_1
Semoga tetap suka ya. πππ