
Walaupun ada yang tidak sama, seperti potongan rambut dan gaya berpakaiannya. Tapi aku merasa, kalau perempuan yang berfoto bersama Yoga itu adalah aku. Dan Yoga terus men-scroll layar HP nya menunjukkan foto-foto lainnya.
Jadi benarkah mereka keluarga ku?
"Kalian benar-benar keluargaku?" Tanyaku ragu-ragu.
"Ya Allah Anna... Aku ini ibumu... aku yang melahirkan kamu... Apa perlu kita cek NDA... eh, apa itu pak namanya... yang buat ngetes itu... biar bisa tahu itu anaknya asli atau enggak itu, pak..." Ujar ibu Sofia sedikit gemas kayaknya, karena diragukan olehku.
"DNA, bu..." Ucap Yoga membenarkan.
Aku menatap mas Bagas. Mas Bagas juga balik menatap ku.
"Mungkin memang benar, kamu adalah anak mereka, Nur..." Ujar mas Bagas pelan.
Aku beralih kembali menatap ketiga orang itu.
"Anna..." Ucap Ibu Sofia, lalu dia bergerak cepat mendekat dan langsung menubruk ku. merengkuh ku dalam pelukannya yang sangat erat, disertai tangisannya yang sudah tidak terbendung.
Aku terpaku. kebahagiaan serta kelegaan membuncah di hati.
Aku punya ibu... aku punya keluarga... ibu dan keluarga asli ku... aku tidak sebatang kara lagi...
Aku tergugu. Ingin menangis keras-keras tapi enggak bisa. Yang ada hanya isak yang menyesak di dada.
"Ibu..." Panggil ku lirih.
"Iya, sayang... ini ibu nak... Maafkan ibu, tidak bisa menjagamu dengan baik... sampai-sampai kamu harus mengalami nasib seperti ini... " Ujar ibu di sela tangisnya.
"Mas... aku punya ibu..." Tiba-tiba aku beralih pada mas Bagas yang masih setia duduk di dekatku.
Walaupun aku dalam pelukan ibu, tapi tanganku tak lepas menggenggem tangan mas Bagas.
"Iya, sayang.... Alhamdulillah, kita sudah bisa bertemu dengan ibu..."
"Mbak Anna..." Yoga ikut mendekat dan memeluk kami berdua.
"Apakah kau, adikku?" Tanyaku.
Yoga mengangguk cepat.
"Ya, aku adikmu.... adikmu satu-satunya." Jawabnya dengan nada seperti bangga diawal kalimat, tapi mendadak memelas diakhirnya.
"Kenapa kamu enggak mirip denganku?" Tanyaku lagi.
"Karena aku menolak mirip denganmu..."
"Kumat..." Cetus Pak Ruswanto sambil tersenyum.
"Apanya yang kumat?" Tanyaku pada pak Ruswanto...
"Ya kalian itu... Mau mirip ataupun enggak mirip, kalian tetap anak-anak ku... tapi tetap saja hal itu jadi bahan perdebatan kalian..." ibu Sofia yang menjawab.
"Memangnya kami sedang berdebat?" Aku kembali bertanya.
__ADS_1
"Ah, udah... yakin aku. Enggak usah pakai tes DNA - Tes DNA an segala... Ini udah pasti mbak Anna..." Ujar Yoga kemudian, tapi dengan nada seperti mengeluh. Pak Ruswanto dan ibu Sofia tertawa kecil. Tapi lucunya, mereka tertawa sambil menghapus lelehan air mata di pipi.
"Kenapa nadamu seperti sedih begitu... Tidak jadi kakakmu juga enggak apa-apa..." Ucapku.
Sebenarnya enggak ada niatan sama sekali untuk mengingkari keberadaan Yoga sebagai adikku. Tapi entah kenapa, dorongan untuk mendebat nya muncul begitu saja.
"JANGAN...!" Seru Yoga tiba-tiba memotong ucapan ku.
"Tetaplah jadi mbak ku... Jangan pergi lagi..." Katanya sambil kembali memelukku erat.
"Hei...! Hati-hati peluk-peluk orang... aku ini seorang wanita yang bersuami..."
"Enggak apa-apa.... Mas, aku pinjam mbakku sebentar... masih kangen..." Ujar Yoga sambil menoleh kearah mas Bagas.
Mas Bagas terlihat mengangguk sambil tersenyum. Sungguh... hatiku rasanya hangat sekali hari ini...
"Dari sini kalian mau kemana?" Tanya pak Ruswanto kemudian memutus candaan kami.
"Kami hendak kembali ke hotel tempat kami menginap..." Jawab mas Bagas.
"Kalau mau, kalian bisa ikut pulang bersama kami, ada banyak sekali barang-barangmu di rumah, yang mungkin bisa membuatmu kembali mengingat kami..." Ujar pak Ruswanto kemudian mengusulkan.
"Ngomong-ngomong... bagaimana kalian bisa tahu kalau kami di sini?" Tanya mas Bagas menyelidik.
"Kami tanya ke sopir anda di bengkel." Jawab pak Ruswanto. Bapak ini sepertinya agak canggung dengan mas Bagas. Aku maklum sih... Pembawaan mas Bagas memang begitu kharismatik. Orang yang baru mengenalnya biasanya akan merasa segan untuk sekedar menyapanya.
"Bengkel itu adalah rumah sekaligus tempat usaha kami... Anna, kamu dulu sering bantu bapak bekerja di bengkel... adakah ingatanmu tentang itu...?" Lanjut pak Ruswanto.
"Ya, sudah... tidak apa-apa kalau kamu tidak ingat... tapi maukah kamu kembali pulang ke rumah, nak... kami sudah rindu sekali padamu..."
Sekali lagi aku menatap mas Bagas. Aku meminta pertimbangamnya. Beberapa saat mas Bagas berfikir dan menimbang-nimbang.
"Bolehlah... kita pergi ke rumah keluargamu, tapi kita harus ke hotel dulu untuk mengambil perlengkapan kita..." Jawab mas Bagas memutuskan. Aku hanya mengangguk setuju.
Kami berjalan beriringan menyusuri lorong rumah sakit. Ya, kami harus membereskan urusan administrasi kepulangan ku dulu. Karena tidak ada yang bisa disuruh, maka kami mengurusnya sekalian keluar untuk pulang.
Di meja administrasi ada sedikit antrian, jadi kami harus menunggu beberapa saat.
"Ga, sebaiknya sambil menunggu, kamu siapkan mobilnya... tunggu kami di dekat pintu keluar..." Perintah pak Ruswanto.
"Okelah..." Sahut Yoga.
"Ibu, mau ikut bareng sekarang enggak?" Tanya Yoga pada ibu. Sejenak ibu menatap ku.
"Ngurusin administrasinya enggak akan lama kan?" Tanya ibu.
"Enggak... antriannya enggak banyak kok..." bapak yang menjawab.
"Ya sudah, ibu tunggu di mobil bareng Yoga, ya. Kamu mau bareng sekalian?" Ibu malah mengajak aku.
"Aku bareng mas Bagas..." Jawab ku.
Ibu menatap kami sejenak bergantian. Entah apa yang terlintas di kepalanya sekarang. Tapi kemudian terlihat beliau menghela nafas.
__ADS_1
"Ya sudah... ibu duluan ya..." Katanya kemudian. Kami mengangguk.
Akhirnya ibu dan Yoga melangkah meninggalkan kami menuju tempat parkir mobil.
Beberapa menit kami menunggu, akhirnya urusan administrasi kami selesai, tapi masih ada resep yang harus kami tebus. Entahlah, aku tidak merasa sakit, tapi kok masih dikasih obat ya...?
"Sudah, ditebus saja, dokter lebih tahu yang terbaik untuk kesehatan kita..." Kata Mas Bagas.
Aku enggak bicara apa-apa lagi untuk menyanggah.
"Mas, kita ambil obatnya sekarang?" Tanyaku. Mas Bagas mengangguk. Tapi dia tidak menjawab karena perhatiannya teralih oleh dering HP di sakunya.
"Siapa?" Tanyaku tanpa suara.
"Dokter Ridwan..." Jawab mas Bagas pelan setelah membaca nama yang tertera di layar HP.
"Biar bapak yang tebus obatnya...." Ucap bapak sambil meminta kertas resep dari dokter. Ku berikan kertas itu, tapi kami mengikutinya ke ruang farmasi.
Bapak mengantri obat. Mas Bagas menerima telepon dari dokter Ridwan. Dan aku... aku pengen ke kamar kecil... ðŸ¤
"Pak, aku ke toilet dulu ya..." Pamit ku pada bapak. Aku enggak pamit pada mas Bagas karena takut mengganggu pembicaraannya.
"Perlu diantar?" Tanya bapak.
"Enggak usah, pak..." Jawab ku. Setelah itu aku cuma memberi isyarat pada mas Bagas kalau aku mau ke toilet. Kelihatannya Mas Bagas enggak begitu paham dengan maksudku, tapi fokusnya masih tertuju pada suara dokter Ridwan di sambungan telepon.
Ditinggal sebentar enggak apa-apa kali ya... cuma ke toilet doang...
Aku berjalan menuju toilet. Jangan ditanya bagaimana aku tahu arahnya. Aku hanya merasakan saja. Sepertinya aku pernah berada di sini...
Dari ruangan farmasi tadi, ambil arah kiri. Lurus terus sampai mentok, lalu belok kiri lagi. Disana ada beberapa petak toilet untuk pengujung rumah sakit, berdekatan dengan ruang linen.
Berbeda dengan ruang farmasi yang ramai, dibagian sini suasananya agak sepi.
Kebetulan enggak perlu antri...
Aku masuk ke salah satu ruangan dan menyelesaikan hajatku.
Setelah selesai, seperti biasa. Sebelum kembali menemui bapak dan mas Bagas, aku berkaca dulu. Merapihkan rambutku dengan telapak tangan yang sudah kubasahi.
Saat tengah berkaca itu, samar-samar aku mendengar suara aneh. Serta merta aku celingukan, memperhatikan keadaan sekitar. Memastikan...
Suara apa itu...?
...*...
...*...
...*bersambung*...
...*...
...*...
__ADS_1