Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Doa Rara


__ADS_3

"Sasa mau makan...?" Ucap Nurul menatap wajah Sasa yang berada di gendongannya. sementara kakinya melangkah ringan menuju dapur.


"Mam-mam..." Sahut Sasa dengan suara kecilnya.


"Mau makan sama apa? " Tanya Nurul lagi.


"Aco... "


"Heh...? aco...? Oh, baso... basonya sekarang enggak ada, sama soto aja ya... "


Nurul tidak mendengar jawaban Sasa, karena pada saat yang bersamaan terdengar suara seseorang memanggil namanya.


"Nur... !"


Yang memanggil Sulis, dia langsung berseru memanggilnya saat melihat Nurul muncul di ambang pintu dapur.


Nurul hanya menoleh sekilas, saat tahu kalau yang manggil tadi Sulis, dia melambaikan tangannya santai. Saat itu, dia sedang berusaha menangkap apa yang sedang dikatakan Sasa.


Dalam pandangan Nurul yang cuma sekilas itu, dia melihat Sulis sedang berdiri bersama beberapa teman yang lain. Nurul menyangka, kalau Sulis akan mengajaknya membuat video tik tok lagi. Makanya dia tenang-tenang saja.


"Nur...! " Panggil Sulis lagi. Kali ini enggak cukup cuman memanggil, tapi dia sudah mendekat lalu menarik lengan Nurul untuk segera duduk di kursi makan. Teman-teman yang lain langsung mengelilingi dan menatapnya penuh selidik..


"Eh... eh... ada apa ini? " Tanya Nurul agak panik menerima perlakuan itu. Ditatap nya wajah teman-temannya itu dengan bingung.


"Nur, tuan Bagas beneran sudah menikah?" Tanya Sulis langsung.


"Heh?!" Nurul hampir tidak percaya. Ternyata tindakan mereka yang sudah seperti Gangster itu hanya karena kepo masalah itu?


"Lah, tadi waktu kenduri diumumkan gimana? Aku kan enggak ada waktu itu... " Sahut Nurul hati-hati.


Dalam hati dia tidak berniat untuk berbohong, tapi statusnya yang melonjak cepat ini membuatnya. takut. Takut membuat iri teman-temannya, sekaligus takut membuat dirinya sendiri terlalu berharap... soalnya menikah dengan tuan Bagas itu seperti too good to be true gitu...


"Tadi aku denger nyonya Supami bilang, acara kenduri itu untuk syukuran atas menikahnya tuan Bagas... Dia menikah dengan siapa Nur?" Ucap teman yang bernama Maya.


"Aku dengar pengantin perempuannya bernama... Nur... Nur... " Sahut teman lain sambil berusaha mengingat-ingat.


"Nah, berarti aku dong... " Celetuk Nurul pura-pura sok yakin tapi sambil cengengesan.


"Huh... ngarep! " Tukas Maya sambil mencibir.


"Lah itu dia bilang namanya Nur.... " Nurul masih pura-pura bersikukuh.

__ADS_1


"Nur... Nurlita! Ya, pengantin perempuannya bernama Nurlita...!" Seru teman tadi dengan bangganya karena sudah berhasil mengingat nama sang pengantin.


"Nurlita? Nurlita siapa? " Tanya Nurul sekarang jadi bingung. Kok Nurlita sih?


"Loh, yang jadi aspri tuan Bagas kan kamu, mustinya kamu yang bilang, siapa itu Nurlita... " Tukas Maya lagi.


"Ya... aku jadi aspri kan baru dua hari... mana kenal semua kenalan tuan. Lagian... masa aku harus bilang sama tuan. ... Tuan kalau tuan mau menikah, bilang-bilang sama saya ya... Emang aku siapanya dia...?" Ujar Nurul sambil memperagakan sandiwara saat dia berbicara dengan tuan Bagas lengkap dengan ekspresinya, membuat yang melihatnya tertawa.


"Ah... udah-udah... orang amnesia ditanggap...(\=ditanya-tanyain) enggak ada gunanya..." Ledek seorang teman lain membuat teman-teman yang semula antusias untuk menginterogasi Nurul jadi mikir ulang untuk terus bertanya padanya.


Nurul meringis. Julukan orang amnesia memang sudah terlanjur melekat pada dirinya. Awalnya sempat merasa engga enak juga mendapat julukan itu, tapi lama-lama jadi biasa.


Teman-temannya disini memang senang memberi julukan pada sesama mereka. Hampir semua orang mempunyai nama julukan, tapi tentu saja tidak semua orang tahu nama julukan untuk dirinya sendiri, karena beberapa dari julukan itu dirahasiakan dan dipakai hanya untuk mengolok-olok orang yang punya nama...


"Ah, payah kamu Nur, enggak bisa diajak cari berita... " Keluh seorang teman sambil melangkah pergi. Yang lain menggumamkan persetujuan atas pernyataan itu.


"Ya... maaf... " Ucap Nurul pura-pura menyesal.


"Nur, ingat ya, kalau ada kabar kamu harus langsung kasih tahu... " Ucap Maya lagi yang langsung disambut anggukan oleh yang lain. Setelah itu mereka segera bubar dan kembali pada aktivitas mereka sendiri....


Nurul menatap mereka setengah bingung setengah takut. Gimana jadinya kalau mereka tahu kalau yang mereka sebut Nurlita itu adalah dirinya... Eh? Kenapa jadi Nurlita ya? Sejak kapan nama Nurul berubah jadi Nurlita? Atau jangan-jangan memang ada Nurlita yang lain...?


Tanpa sadar Nurul menepuk dahinya sendiri.


"Mam mam... " Sebuah suara kecil tiba-tiba mengejutkannya.


"Astaghfirullah... lupa aku... iya Sa, sebentar ya..." Ucap Nurul yang segera bangkit untuk mengambilkan makanan bagi Sasa.


Baru saja mau melangkah, sudah terdengar suara lain yang berbicara padanya.


"Nih... " Ucap sebuah suara itu menghentikan langkahnya.


Rara, gadis itu sudah berdiri dihadapannya sambil membawa sepiring nasi bercampur sayur dan lauknya.


"Ayo, disuapin di sana... ada yang harus kita bicarakan... " Ujar Rara agak pelan pada Nurul sambil menunjuk sebuah gazebo di taman belakang. Nada bicaranya serius, tapi ekspresi wajahnya yang mengarah pada Sasa terlihat seakan dia sedang bercanda dengan anak itu.


"Iya... " Sahut Nurul.


Keduanya lalu melangkah pergi ke gazebo.


Di gazebo... bisa ditebak. Rara mengkonfirmasi berita pernikahan tuan Bagas. Tapi berbeda dengan teman-teman yang lain, Rara tidak mempertanyakan siapa pengantin perempuannya. Dia sudah tahu!

__ADS_1


"Selamat ya, Nur... " Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.


"Selamat untuk apa? " Tanya Nurul pura-pura enggak ngerti.


"Kamu sekarang sudah jadi nyonya Bagas... "


"Kamu... ? " Nurul tidak melanjutkan ucapannya.


"Ya, aku udah tahu... Nenek yang kasih tahu..." Ujar Rara. Nurul menghela nafas panjang.


"Tindakan aku salah enggak sih...?" Tanya Nurul akhirnya pada Rara. Ya, pertanyaan itu sebenarnya sudah bercokol dikepalanya sejak kemarin... Sejak mereka menyerukan kata "SAH" malah. Tapi dia tidak punya orang lain di sampingnya yang bisa dia ajak bertukar pikiran.


"Disebut salah enggak pasti juga... yang pasti kamu sekarang punya tanggung jawab lain yang lebih mengikat dari sebelumnya. Dan yang pasti lagi yang harus kamu ingat, kamu harus sadar dengan siapa kamu menikah...


Tuan Bagas tidak hidup sendiri seperti kamu... ada keluarganya dibelakang dia... keluarga yang sudah punya adat kebiasaan dan cara pandang yang mungkin berbeda dengan kita.


Maaf Nur, aku hanya mengingatkan, Status masih dianggap penting di keluarga ini... Mungkin kamu memang sudah menikah dengan tuan, tapi hal itu tidak serta merta membuat statusmu menjadi setara dengan dia..." Ucap Rara panjang lebar.


Nurul kembali menghela nafas.


"Iya, Ra... aku sadar kok dengan statusku..." Ucap Nurul lirih.


Mereka saling pandang beberapa saat lamanya. Tiba-tiba entah siapa yang memulai duluan... Mereka saling berpelukan. Dalam posisi wajah yang saling membelakangi, keduanya menghapus titik air yang menggenang di sudut mata masing-masing.


"Apapun yang akan terjadi nanti... kamu tahu, kalau aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu..." Bisik Rara.


"Ya, aku tahu... Terima kasih, kamu satu-satunya keluarga yang aku punya sekarang..." Balas Nurul.


Pelukan terurai, keduanya tersenyum sambil kembali menghapus sisa air di sudut mata.


"Nur... kita ipar-an yuk...!" Cetus Rara tiba-tiba sambil tersenyum penuh arti dan mengedipkan sebelah matanya. Nurul merengut sedikit berpikir... dan serta merta keduanya tertawa terbahak-bahak...


...โค๏ธ...


...๐Ÿ’›...


...๐Ÿ’š...


...๐Ÿ’–bersambung๐Ÿ’–...


...๐Ÿ’™...

__ADS_1


__ADS_2