
"Alhamdulillah... sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri... Nurul... " Panggil ustadz, menarik perhatianku yang sempat hilang gara-gara merenungi ucapan 'Nurul binti Fulan' tadi.
"Eh, iya ustadz... " Sahut ku.
"Ananda kemarilah... " Perintahnya. Aku lalu beringsut mendekat. "Ananda Bagas, silahkan mas kawinnya ananda serahkan pada istrinya." Perintah ustadz lagi, kali ini pada tuan Bagas.
Terlihat nyonya Santi menyerahkan sesuatu pada tuan Darmawan, yang kemudian lanjut diserahkan kepada tuan Bagas. Sebuah kotak perhiasan. Tuan Bagas membuka kotak itu. Isinya sesuai dengan yang diucapkan dalam ijab kabul. Terdapat satu set perhiasan emas di sana.
Tuan Bagas lalu mengambil sebuah cincin. Dia meraih tangan kiri ku. Aku sedikit terkesiap saat kulit kami bersentuhan. Tuan Bagas menyematkan cincin itu dijari manisku.
"Mau aku pasangkan semua sekarang?" Tanyanya. Seketika aku menggeleng. Aku tidak mau mendadak seperti toko mas berjalan. Mendengar jawabanku, tuan Bagas lalu menutup kembali kotak itu dan menyerahkannya padaku. Aku menerima dan meletakkannya di pangkuan (aku kan enggak bawa tas... enggak tahu juga bakal dikasih barang se berharga ini...) ðŸ¤
"Silahkan ananda Nurul mencium tangan suaminya... " Petunjuk ustadz.
Aku mendongak sebentar, menatap wajah tuan Bagas yang duduk dekat denganku. Wajahnya terlihat datar. Entah apa yang dia dipikirkan saat ini. Dengan hati masih takut-takut, ku beranikan diri mengulurkan tangan, dengan telapak tangan menghadap ke atas, meminta dia untuk membalas uluran tanganku.
Kutatap telapak tanganku sendiri yang sedikit bergetar, mengharap ada tangan lain yang menyambutnya. Hanya beberapa detik proses menunggu itu sebenarnya, tapi rasanya bagai berjam-jam, sebelum aku merasakan ada tangan yang hangat menggenggam tanganku.
Begitu tangan itu menggenggam tanganku, terasa seperti ada aliran listrik kecil yang mengalir ke seluruh tubuhku. Kulitku meremang, dan jantungku yang semula sudah berdetak tak beraturan kita malah berdetak lebih cepat.
Aku mencium punggung tangannya. Lalu kurasakan tangan lain menyentuh pipiku. Dengan gerakan lembut, tangan itu membuat aku mendongak, menatap wajah tuannya.
Deg... deg... deg... Waktu seakan-akan berhenti saat pandangan kami kembali bertemu. Ada keheningan yang aku rasakan. Tatapan tuan yang semula seperti penuh peringatan kini terlihat teduh. Aku terhanyut di dalamnya. Mengikuti intuisi kebiasaan, kalau pandangan kami bertemu, maka aku akan segera menunduk. Tapi karena tangan tuan menahan dagu ku untuk menunduk, , maka aku hanya bisa memejamkan mata.
Cup...!
Sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh keningku.
Hei...! Apakah barusan tuan mencium keningku? Segera aku membuka mata kaget. Tapi tentu saja kejadian itu berlangsung hanya dalam hitungan detik.
Yang aku lihat hanya wajah tuan yang menjauh, serta sorak sorai di sekitarku yang mengalihkan perhatianku.
Ustadz mengucapkan selamat kepada kami atas pernikahan ini. Yang lain satu persatu juga menghampiri kami, dan memberi ucapan serta doa serupa.
__ADS_1
"Alhamdulillah.... " ucap Ustadz kemudian membacakan doa penutup. Beliau meminta maaf tidak bisa mendampingi serta berbincang lebih lama, karena acara istighotsah yang sedianya akan dimulai setelah sholat ashar akan segera dimulai. Aku juga mendengar adzan ashar sudah dikumandangkan dari masjid yang berada dekat dengan rumah.
"Nah, adzan sudah terdengar... mari kita segera sholat ashar... Setelah sholat, yang mau ikut istighotsah silakan bergabung dengan jamaah lainnya ... " Ucapnya.
Setelah mendengar ucapan ustadz, orang-orang mulai bergerak pergi. Aku menatap nyonya Supami, bermaksud menunggu dan mengikutinya, karena ditengah banyak orang itu, hanya nyonya Supami yang bisa membuatku merasa nyaman. Tapi saat nyonya berada di dekatku, beliau malah bilang...
"Untuk kali ini, sebaiknya kau dampingi suamimu. Ikut istighotsah dari sini saja..." Perintahnya.
Sesaat aku menatap wajah nyonya Supami untuk memastikan, kalau yang aku dengar barusan bukan suatu kesalahan. Tapi aku malah melihat kalau nyonya Supami mengangguk meyakinkan.
"Baik nyonya... " Ucapku sambil mengangguk.
Nyonya Supami tersenyum dan menepuk bahuku. Lalu dia menghadap ke arah Bagas.
"Sekarang dia istrimu... perlakukan dia dengan baik... " Katanya pada tuan Bagas. Tuan Bagas hanya mengangguk singkat mendengar pesan dari neneknya itu.
Satu persatu orang yang ada di ruangan itu meninggalkan kami. Bu Nyai sempat mempersilahkan kami untuk menikmati hidangan yang tersedia di ruangan itu sebelum ikut pergi.
Satu detik... dua detik... entah sudah berapa lama kami saling berdiam, hingga ketika tuan Bagas tiba-tiba mendehem... seperti ada petasan yang meletus di tepi kaki, aku sampai terjingkat kaget karenanya.
Kutatap wajah tuan Bagas (spontan) dengan perasaan kesal karena telah membuat aku terkejut. Tapi yang ditatap malah balik menatap lengkap dengan seringai geli nya. Akhirnya aku malah tidak bisa marah (mana berani aku marah sama dia) dan jadi tersenyum geli mengingat kekonyolan barusan.
"Tugas yang aku berikan sudah selesai?" Tanya tuan Bagas akhirnya memulai pembicaraan.
"Sudah tuan... " Jawab ku.
"Ada kesulitan? "
"Tidak tuan... hanya saja ada hasil kalkulasi yang tidak cocok... Mungkin tuan harus memeriksa untuk mengetahui aspek mana yang membuat ketidak cocokan itu... " Sahut ku. Tuan Bagas manggut paham...
Beberapa menit kami berbincang tentang pekerjaan, obrolan mengalir ringan, hingga tiba-tiba tuan Bagas bertanya...
"Kenapa kamu mau menikah dengan ku?"
__ADS_1
Aku termenung, memikirkan jawaban apa yang harus aku berikan. Enggak mungkin kan, aku bilang, 'Karena orang tuamu yang nembak aku untuk nikah denganmu...' Bisa rusak harga dirinya kalau aku ngomong gitu...
Aku juga enggak akan mau ngomong... 'Karena aku mencintaimu... ' Ih, boong banget itu. Kalaupun aku suka sama tuan, belum sampai tahap cinta kales...
Ku beranikan diri menatap wajahnya.
"Karena aku pikir... inilah jalan yang terbaik untukku... " Ucapku akhirnya. Nampak kening tuan Bagas sedikit berkerut.
"Kenapa kamu pikir ini jalan terbaik...?"
"Ya... karena tugas melayani tuan harus dilakukan oleh orang yang memang diperbolehkan untuk menyentuh tuan... Saya tidak keberatan dengan status saya sebagai pelayan tuan... saya hanya ingin pekerjaan yang saya lakukan untuk tuan itu legal di mata hukum... Tentang masalah anda akan benar-benar menganggap saya istri tuan atau tidak, saya tidak masalah... Asalkan tuan tidak menganiaya saya, saya sudah merasa cukup tuan... " Jawabku panjang lebar.
"Dan kenapa kamu mau melakukan itu semua?" Tuan Bagas bertanya lagi.
"Dan kalau saya tidak melakukannya... apa yang saya dapat?" Aku balik bertanya... Mustinya dia tahu. Jika aku menolak menikah... aku akan merasa bersalah setiap kali harus melayani tuan. Jika aku menolak melayani tuan... aku akan mengecewakan majikanku... (masih untung kalau enggak diusir) Dan jika majikanku kecewa, aku tentu harus pergi dari rumah itu... Sekarang pertanyaannya... Kalau aku pergi dari situ... Aku mau kemana?
"Apakah kamu merasa terpaksa...?"
"Jangan sebut hal ini sebagai suatu pemaksaan tuan... Anggaplah ini sebagai suatu pengabdian... " Kataku lagi...
"Apakah tuan sendiri merasa terpaksa...?" Ku beranikan diri bertanya balik. Sesaat tuan Bagas terdiam. Pandangan matanya seperti menerawang jauh entah ke mana....
"Seperti ucapanmu... anggaplah ini sebagai suatu bentuk pengabdian... " Katanya kemudian.
.......
...👉bersambung👈...
.
.
.......
__ADS_1