Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Masih cerita versi Bagas.


__ADS_3

"Amnesia... Seandainya aku bisa amnesia..." Pikiran itu datang begitu saja dalam benak Bagas. Tanpa dapat dicegah, pikirannya langsung melayang pada alasan timbulnya keinginan itu. Wulan.


Wulan, adalah wanita yang pernah menjadi tunangan Bagas, tapi kini telah menikah dengan sahabatnya.


Bagas menghela nafas panjang. Setiap mengingat Wulan, Bagas merasa dadanya sesak. Ada rindu bercampur amarah. Ada juga kepedihan bercampur sesal dan rasa bersalah. Semua itu begitu menyiksanya. Rasanya lebih nyeri dari rasa sakit di kakinya.


Masih teringat jelas dalam benaknya peristiwa yang menyakitkan itu... Peristiwa yang mengawali semua kekacauan hidupnya...


* * *


Beberapa bulan, sebelum kecelakaan itu terjadi...


Setelah bertunangan dengan Wulan hampir dua tahun lamanya, Bagas bermaksud mengajak Wulan menikah. Hubungan mereka sudah begitu dekat. Wulan juga sudah menyelesaikan kuliah pasca sarjananya, karena alasan Wulan tidak mau langsung menikah setelah bertunangan dulu, adalah ingin menyelesaikan program S2 nya.


Tapi, setelah Bagas membuka pembicaraan tentang pernikahan, Wulan malah seperti menjaga jarak dengan Bagas. Tentu saja Bagas jadi mempertanyakan sikap Wulan.


Setelah diselidiki dan didesak, akhirnya muncullah pengakuan dari Wulan, kalau sebenarnya dia tidak bisa menikah dengan Bagas, karena dia sudah ternoda oleh teman mereka sendiri. Daniel.


Tentu saja Bagas menjadi marah dan kecewa pada Wulan. Wulan bilang, kalau mereka berdua tidak sengaja melakukan hal itu.


"Saat itu kami mabuk, dan tidak sadar melakukannya..." Ucap Wulan. Dia lalu meminta maaf sekaligus memutuskan hubungan mereka. Tentu saja tidak semudah itu Bagas menerimanya. Dia marah dan kecewa pada Wulan. Saking marahnya, Bagas mendorong tubuh Wulan yang tengah berusaha meraih tangannya untuk memohon maaf.


Tubuh Wulan terdorong mundur dengan keras hingga jatuh terjengkang. Wulan tidak terluka terlalu parah. Hanya saja tanpa disangka, tiba-tiba Wulan mengalami pendarahan. Dengan rasa was-was bercampur panik, Bagas membawa Wulan ke rumah sakit. Disana baru diketahui, ternyata Wulan tengah hamil muda, dan akibat dari dorongan Bagas, dia mengalami keguguran.


Wulan harus bedrest beberapa hari. Keluarganya yang tahu kalau semua itu akibat perbuatan Bagas, melarangnya untuk bertemu. Walaupun dalam hati Bagas masih marah pada Wulan, tapi bayangan tentang janin yang gagal hidup gara-gara perbuatannya menumbuhkan rasa bersalah yang dalam di hatinya. Apalagi saat dia di datangi Daniel.


Daniel bilang, kalau dia memang tidak sengaja menodai Wulan, tapi dia tidak menyesalinya. Dia juga kecewa atas apa yang dilakukan Bagas pada Wulan. Tapi dia mengerti alasan Bagas melakukannya.

__ADS_1


"Aku mohon maaf atas apa yang telah aku lakukan pada Wulan... tapi juga kecewa karena akibat tindakanmu, aku kehilangan calon anakku... Untuk selanjutnya, rasanya akan lebih baik, jika kita tidak usah saling bertemu... " Ucap Daniel sambil berusaha menahan emosi.


Mereka berdua DULU adalah sahabat. Namun dengan adanya kecelakaan itu, keduanya merasa kalau persahabatan diantar mereka ternyata tidak bisa dipertahankan.


Entahlah... mendengar ucapan Daniel, Bagas yang sudah terlanjur kesal dan marah pada Daniel tidak merasa keberatan, kalau memang mereka harus memutuskan silaturahmi diantara mereka. Tapi dalam hati Bagas ada rasa bersalah yang begitu dalam mendera soal janin itu, terutama pada Wulan.


Bagas ingin bertemu dengan Wulan, ingin mengungkapkan semua hal yang mengganjal di hatinya. Tapi dia sulit sekali untuk bisa bertemu dengan Wulan. Hingga tiba-tiba Bagas mendapat kabar kalau Wulan akan dibawa keluar negeri.


Bagas berusaha menemui Wulan, bahkan di waktu mendekati keberangkatannya, Bagas menyusulnya ke bandara. Tapi apa mau dikata. Malang tidak bisa ditolak, untung tak bisa diraih. Bukannya sampai ke bandara, suatu kecelakaan malah membawa Bagas ke rumah sakit.


Kecelakaan yang dialami Bagas membuat dia koma beberapa minggu... bahkan kelumpuhan sementara pada kakinya. Bagas tidak mengeluh untuk itu. Bahkan dia menerimanya sebagai bentuk hukuman atas kesalahannya pada Wulan.


Wulan... Wulan... dan Wulan. Hanya ada nama itu yang menjadi pusat perhatiannya. Rasa sesal, rasa marah dan rasa bersalah pada wanita itu, sanggup menghilangkan fokus hidupnya. Dia bagaikan mayat hidup. Menjalani hari demi hari tanpa tujuan jelas. Dan belakangan rasa bersalahnya semakin berkembang, karena ternyata kegalauan hatinya itu berimbas pada ketenangan rumah tangga orang tuanya..


Walaupun dari luar terlihat kalau rumah tangga kedua orang tuanya adem ayem saja, tapi bukan berarti tidak ada masalah... Diam-diam ada persaingan antara ibunya, nyonya Santi dengan nyonya Yulia.


Pada saat Bagas oleng dan rapuh, diam-diam Yulia berusaha untuk membuat Nugraha bisa memimpin menggantikan Bagas. Dengan alasan kalau Bagas sudah tidak mampu menjadi pemimpin. Bukan hanya dari kesehatan fisiknya, tapi juga psikologisnya.


Walaupun Santi sadar dengan kondisi kesehatan anaknya sekarang, tapi mana mau dia menyerahkannya begitu saja mahkota kepemimpinan pada keturunan dari madu-nya.


Bagi Santi, cukup dia yang mengalah, tapi tidak untuk anak keturunannya. Karena itu, Santi akan melakukan segala cara untuk mempertahankan status anaknya.


Dengan berbagai cara, Santi berusaha membuat Bagas move on dari kenangannya bersama Wulan. Menurutnya, asal Bagas sudah move on, masalah kesehatan akan mengikutinya.


Akhirnya, kesempatan itu datang...


Beberapa bulan lalu, Rara datang menghadap pada nyonya Supami dan menceritakan tentang kenalannya yang terkena amnesia di rumah sakit. Rara memohon izin untuk membawanya ke rumah itu dan bekerja pada keluarga Darmawan. Nyonya Supami merasa prihatin dan tidak keberatan dengan usulan Rara.

__ADS_1


"Ajaklah dia kemari... kalau dia memang cocok dan pantas untuk tinggal disini, rumah ini masih punya ruang yang luas untuk menampungnya. Tapi kalau dia memang tidak bisa dipercaya, kamu harus bertanggung jawab dan membawanya pergi dari sini... " Begitu ucapan nyonya Supami waktu itu. Rara setuju, dan begitulah jadinya hingga gadis amnesia berada di kediaman keluarga Darmawan.


Kedatangan gadis yang kemudian diberi nama Nurul untuk memudahkan orang yang memanggilnya itu, seakan memberi pencerahan untuk nyonya Supami, berkaitan dengan nasib cucunya Bagas yang kehilangan fokus hidup. Diam-diam, nyonya Supami menyusun suatu skenario untuk keduanya.


Nyonya Supami mulai intens mengevaluasi Nurul. Berdasarkan keterampilannya, sifat dan karakternya. Nyonya Supami lega, Nurul cukup memenuhi kriteria nya. Setelah yakin dengan Nurul, nyonya Supami melempar jerat pada Bagas.


Bagas "ditantang" untuk mau menikah dengan Nurul.


"Banyak alasan untuk mengharuskan kamu menikah. Kamu butuh orang untuk merawat kamu, kamu juga butuh orang yang bisa melanjutkan keturunan keluarga Darmawan. Kamu tahu, walaupun Nugraha sudah menikah, tapi istrinya kesulitan untuk mendapat keturunan....


Dan yang paling penting lagi.... kalau sikap kamu seperti ini terus.... bagaimana dengan perusahaan yang kamu pimpin selama ini... Apa kamu mau menyerahkan jabatanmu sebagai direktur utama pada adikmu Nugraha? " Tanya nyonya Supami pada Bagas.


"Tidak! " Tukas nyonya Santi spontan dengan berapi-api. Kebetulan beliau memang ada disana, menghadiri "rapat" intern yang diadakan oleh ibu mertua dan suaminya.


Bagas menatap ibunya yang dibalas tatapan nyonya Santi penuh peringatan sekaligus permohonan. Dia benar-benar tidak akan rela jika Nugraha yang menjadi direktur utama perusahaan keluarga mereka. Dan untungnya Bagas juga mengerti arti tatapan itu. Keputusannya kali ini berhubungan erat dengan harga diri ibunya.


Bagas mulai berfikir ulang. Masalah perjodohan memang sudah enggak jaman, apalagi dijodohkan dengan orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Benar-benar bukan pilihan yang menarik. Tapi mengingat kehidupannya sekarang memang seperti tidak ada tujuan. Apalagi kerisauan ibu tentang masa depannya. Setidaknya perjodohan ini bisa dijadikan awal dari kehidupannya selanjutnya.


Akhirnya, setelah ditimbang-timbang, lalu bertemu dengan Nurul yang ternyata orang yang sama yang dia temui di rumah sakit, Bagas akhirnya menyatakan setuju untuk menikah dengan Nurul.


.......


.......


...๐Ÿ‘‰bersambung๐Ÿ‘ˆ...


...๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–...

__ADS_1


__ADS_2