Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Tidak ada yang berubah.


__ADS_3

Keduanya melanjutkan obrolan dengan santai sambil menyuapi Sasa hingga nasi di piring itu habis. Pada kesempatan itu juga, keduanya sepakat, kalau apapun yang akan terjadi, mereka tidak akan merubah status persahabatan mereka.


"Nur...! " Panggil dua suara hampir bersamaan, membuat Nurul dan Rara menoleh seketika. Tak jauh dari mereka, nampak Sulis dan Yudi berdiri bersebrangan. Sulis berdiri diambang pintu dapur menuju ke luar pagar. Sedangkan Yudi berdiri diambang pintu menuju ke dalam rumah.


"Ada apa? " Tanya Nurul sambil menoleh bergantian pada keduanya yang berjalan mendekat.


"Itu... bapaknya anak itu jemput... " Ucap Sulis.


Setelah mendengar jawaban Sulis, Nurul menoleh kearah Yudi menunggu jawaban darinya.


"Kamu dicariin tuan Bagas, mereka menunggumu di perpustakaan... " Jawab Yudi, yang paham akan arti tatapan Nurul.


"Yang cari tuan Bagas? " Tanya Nurul memastikan.


"Iya... " Jawab Yudi.


"Kok kamu bilang, mereka...? " Nurul mempertanyakan kata ganti orang yang dipakai Yudi tadi. Kalau pakai kata mereka, berarti tuan Bagas enggak sendirian, kan?


"Tuan Bagas bersama nyonya Supami...." Terang Yudi.


Mulut Nurul seketika membulat mengucapkan "Oooh" panjang tanpa suara.


"Ya, udah... Sulis, tolong antarkan Sasa ke ayahnya ya. Aku harus masuk dulu... " Ucap Nurul yang langsung diangguki oleh Sulis.


" Sasa... Sasa sama mbak Sulis dulu ya, mbak Nurul ada perlu sebentar... " Pamit Nurul pada Sasa. Semula Sasa diam saja saat mendengar Nurul berpamitan, tapi saat melihat Nurul melangkah meninggalkannya, dia mulai mencebik.


Nurul tahu, Sasa sebentar lagi pasti menangis. Sebenarnya dia enggak tega untuk meninggalkannya, tapi panggilan dari tuannya lebih penting untuk dilaksanakan. Apalagi di sana sudah ada Sulis dan Rara.


"Udah... sana cepat masuk... " Perintah Rara sekaligus memberi isyarat, agar Nurul enggak usah risau soal Sasa. Nurul cuma tersenyum berterima kasih lalu bergegas pergi, sebelum dia mendengar suara tangis Sasa dan membuatnya lebih tidak tega untuk meninggalkannya.


▶▶▶


Nurul melangkah menuju perpustakaan. Sepanjang ruangan yang dilaluinya, para pelayan lain sedang sibuk membereskan sisa-sisa perjamuan tadi.

__ADS_1


Sekilas muncul pemikiran di kepala Nurul... Ini sebenarnya acaranya siapa sih? Kenapa dirinya sama sekali tidak merasa berhubungan sama sekali dengan acara yang barusan berlangsung? Seolah-olah, acara ini diselenggarakan untuk orang lain, dan dirinya hanyalah seorang pelayan seperti biasanya. Bedanya cuma karena sekarang, dia tidak ikut disuruh-suruh untuk melakukan pekerjaan itu... Kok, rasanya aneh campur ngenes gitu ya?


Tanpa sadar Nurul menghela nafas panjang. Entahlah, apakah hal ini suatu kemajuan dari kehidupannya sekarang atau bukan. Tapi semoga, dia tidak salah melangkah. Bukankah sejak awal niatnya hanya untuk mengabdi...? Supaya dia tidak hidup sebatang kara lagi?


Langkah Nurul berhenti di depan sebuah pintu yang berplitur coklat keemasan. Di pintu itu enggak ada tulisan "PERPUSTAKAAN" seperti yang ada di sekolah-sekolah atau instansi lainnya, tapi semua orang yang tinggal di rumah ini tahu, kalau itu ruangan perpustakaan.


"Bismillah... " Gumamnya lirih, lalu dia mengetuk pintu yang sudah ada dihadapannya sekarang. Terdengar sahutan menyuruhnya masuk. Sekali lagi Nurul menghela nafas, sebelum memutar handle pintu dan mendorongnya.


"Assalamu'alaikum... " Salamnya.


"Waalaikum salam... " Sahut orang-orang yang sudah berada di dalam. Nurul melihat, selain tuan Bagas dan nyonya Supami, ternyata disana juga sudah ada nyonya Santi dan nyonya Yulia...


Kedua nyonya duduk di kursi yang bersebrangan, terhalang oleh meja kayu panjang yang membentang di tengah ruangan. Di kursi yang berada di ujung meja, duduk nyonya Supami. Sementara tuan Bagas, seperti biasa, duduk di kursi rodanya, mengambil posisi di samping kursi ibunya.


"Ya, Allah... ada apa ini...?" Tanya Nurul dalam hati. Tanpa diminta, tanpa disuruh, juga tanpa bisa ditahan, seketika jantung Nurul berdentum tanpa irama yang jelas. Apalagi menerima tatapan dari keempat orang itu, rasanya seperti mau di sidang gitu... tegang banget.


"Duduklah, Nur... " Perintah Nyonya Supami.


Nurul cuma bisa mengangguk takjim. Entahlah, tenggorokannya mendadak seperti kering hingga hanya untuk bilang "baik nyonya" pun tak sanggup.


Nurul mendudukkan dirinya perlahan, rasanya takut sekali bila sampai mengeluarkan suara ditengah heningnya suasana di ruangan itu.


Beberapa detik mereka diam saling tatap, seakan bingung, bagaimana cara memulai pembicaraan ini. Nurul sendiri sudah pasti tidak akan berani memulainya. Hingga tiba-tiba, nyonya Santi bersuara, tapi bukan untuk menyampaikan sesuatu pada Nurul...


"Bu, saya pamit dulu... " Katanya sambil berdiri.


Nyonya Supami baru saja hendak menjawab ucapan nyonya Santi, ketika nyonya Yulia juga tiba-tiba ikut bersuara dan menyampaikan hal serupa.


"Saya juga, pamit bu... " Katanya. Pandangan nyonya Supami seketika teralih, dari nyonya Santi pada nyonya Yulia.


Nyonya Supami menghela nafas...


"Ya... " Jawabnya pendek. Kedua menantunya itu kemudian melangkah menuju pintu keluar. Nyonya Yulia berjalan agak didepan, sementara nyonya Santi masih sempat menepuk dan meremas pundak Nurul lembut, seakan menyampaikan dukungannya lewat sentuhan itu. Tidak ada satu katapun terucap dari mulutnya, tapi Nurul merasakan kehangatan di hatinya.

__ADS_1


Pintu ruang perpustakaan itu sudah kembali tertutup. Kini tinggal mereka bertiga yang ada di ruangan itu. Nurul memberanikan diri menatap wajah nyonya Supami serta Bagas sepintas, hanya untuk bisa membaca situasi. Tapi ekspresi mereka datar, tidak banyak yang bisa ditebak dari ekspresi itu. Nurul kemudian menunduk kembali.


"Ya, sudahlah... yang akan terjadi... terjadilah..." Bisik hati Nurul pasrah.


"Nurul... ada yang harus aku sampaikan padamu, sehubungan dengan status barumu di rumah ini..." Ucap nyonya Supami, memulai pembicaraan. Nurul mengangguk lemah. Menunjukkan kalau dia siap mendengarkan apapun yang akan disampaikan oleh majikannya itu.


Sebenarnya nyonya Supami berbicara panjang lebar dengan gaya bahasanya yang anggun khas seorang ningrat, tapi dari sekian panjangnya ucapan nyonya, yang masuk ke otak Nurul, yang merupakan inti dari pembicaraannya itu adalah...


"... Status pernikahanmu dengan cucuku Bagas itu sah secara agama. Hanya saja, untuk sah secara hukum negara, Bagas masih memproses dokumen yang diperlukan untuk itu...


" .. Dan selama semua proses itu berlangsung, mohon maaf, statusmu sebagai istri Bagas untuk sementara harus disimpan dulu... "


Sampai sini, dada Nurul rasanya seperti sesak. Bukan... bukan karena status pernikahannya yang membuatnya merasa begitu. Ya... memang ada juga pengaruhnya sih, tapi bukan yang utama. Yang paling bikin nyesek itu karena seketika dia teringat, kalau dirinya itu orang tanpa identitas. YOU ARE NOBODY!


Nurul meremas jari-jarinya sendiri yang berada dipangkuan. Fokusnya mendadak hilang. Suara nyonya Supami bagaikan back sound enggak jelas di kejauhan. Hingga tiba-tiba dia merasa ada tangan lain yang meraih tangannya. Menariknya ke pangkuan lain.


Mata Nurul mengikuti arah gerakan tangannya. Dengan kening berkerut dia mendongak, untuk melihat, siapa yang menarik tangannya itu. Tuan Bagas. Entah sejak kapan, laki-laki itu sudah berada di sampingnya.


"Kamu enggak apa-apa kan, dengan hal yang disampaikan oleh nenek? " Tanya Bagas pelan.


"Heh...?! " Nurul sedikit enggak nyambung. "Oh, iya." Sahut Nurul agak asal.


Aslinya, dia enggak begitu nangkep apa yang dikatakan nyonya Supami terakhir. Tapi sepertinya poinnya enggak jauh beda dengan yang beliau katakan di awal tadi (kayaknya).


Intinya, tidak ada perubahan drastis hanya karena pernikahannya dengan sang majikan. Nurul sekarang, masih sama dengan Nurul yang kemarin... masih tetap seorang PELAYAN.


...*⃣...


...*⃣...


...⏭bersambung⏮...


...*⃣...

__ADS_1


__ADS_2