Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Enggak Sah Katanya.


__ADS_3

Makan siang sudah selesai, tapi kami masih duduk di meja makan. Ih, rasanya sudah lama sekali aku enggak penah makan di meja makan seperti ini. Maksudnya, makan ala-ala orang beradab gitu...🤭


Biasanya aku, atau kami (para pelayan) makan dimeja makan itu dengan sistem kebut. Kalau mau nyantai malah menyingkir dipojok dapur atau tempat terpencil lainnya, pokoknya tempat yang sekiranya aman dari bu Surti...😂😂😂


"Ayah, bunda, ada yang ingin kami bicarakan dengan ayah dan bunda...."Ucapku memulai pembicaraan, saat kulihat ayah sudah menyelesaikan suapan terakhirnya pada makanan penutup kami.


"Ya? Soal apa?" Tanya ayah, sambil meletakkan sendok kecil yang dipegangnya diatas piring desert yang sudah ludes. Sepertinya nafsu makan ayah meningkat drastis jika dibandingkan dengan hari kemarin. Mungkinkah hal itu disebabkan oleh kehadiran diriku?


"Soal kami..." Jawabku. Aku melirik mas Bagas, bertanya dengan isyarat, apakah aku atau dia yang akan menyampaikan maksud kami. Kulihat mas Bagas mengangguk dan menunjuk dirinya sekilas. Akupun balas mengangguk paham.


"Tuan Yudhistira, nyonya...." Mas Bagas memulai. Perhatian ayah dan Bunda seketika beralih padanya.


"Sebelumnya, izinkan saya memperkenalkan diri dahulu, karena kita memang belum sempat berkenalan secara resmi...


Nama saya Bagaskara Darmawan. Saat ini status saya adalah suami dari Nurul..."


"Nurul?" Ulang ayah dengan kening berkerut.


"Ya, itu adalah nama yang nenek saya berikan untuk istri saya ini..."


"Sebenarnya apa yang telah terjadi, kenapa Anna sampai amnesia begitu?" Tanya ayah lagi.


"Untuk itu, saya tidak bisa menjawab dengan pasti. Yang saya ketahuhi adalah, Nurul adalah satu-satunya korban selamat pada kecelakaan bis yang terjadi di sekitar daerah kami."


"Bagaimana bisa dia sampai ada disekitar situ?" Tanya bunda dengan kening berkerut.


"Hal itu juga tidak bisa saya jawab, hanya Nurul sendiri yang tahu alasannya."


Ayah dan bunda saling bertukar tatap. Lalu keduanya menatapku dengan pandangan penuh prihatin.


"Bun, kita harus membawa Anna ke dokter spesialis agar bisa memulihkan ingatannya." Ucap ayah dengan penuh keyakinan. Bunda spontan mengangguk setuju.


"Aku sekarang tidak apa-apa kok, ayah, bunda. Beruntung aku bertemu dengan orang-orang baik. Mereka banyak membantuku..." Kataku berusaha menenangkan mereka.


"Aku sudah menerima takdirku seperti ini, Alhamdulillah, Allah telah mengembalikan keluargaku. Walaupun aku tidak mengingat kalian, tapi kalian tetap sayang padaku..."


"Ya, tapi kita tetap harus berusaha untuk penyembuhanmu..." Ayah bersikeras.


Aku semula ingin mengatakan kalau hal itu tidak penting, karena fokusku saat ini adalah pada upaya penyembuhan kaki mas Bagas. Tapi aku melihat isyarat samar dari mas Bagas agar tidak mendebat ayah.


"Maafkan saya tuan, bukan maksud saya megabaikan tentang hal ini..." Ucap mas Bagas.


"Apa saja yang sudah kamu lakukan untuk menyembuhkan Anna?" Tanya ayah dengan nada memojokkan. Mas Bagas terdiam sesaat. Aku tak tahu apakah sempat terintas dalam benak mas Bagas soal penyembuhanku. Tapi aku sungguh tidak merasa perlu


"Ayah, saat ini, bukan halitu yang hendak kami bicarakan..." Selaku.

__ADS_1


"Kenapa tidak?" Ayah bersikukuh.


"Karena fokus kami saat ini adalah upaya penyembuhan untuk kaki mas Bagas." Jawabku tegas.


Ayah mengernyit menatap mas Bagas.


"Ada apa dengan kakinya...?" Tanya ayah kemudian dengan nada acuh.


"Mas Bagas akan melakukan terapi akupuntur, dan aku akan mendampinginya."


"Lalu?"


"Terapi itu akan dilakukan di Tiongkok, dan kami akan berangkat besok lusa..." Ucapku langsung.


"Besok lusa...!?" Ayah nampak terkejut. "Enggak! Kamu enggak boleh kemana-mana dulu..." Putus ayah seketika.


"Tapi yah..." Aku tentu saja tidak terima dengan keputusan ayah itu. Aku ingin mendebatnya, tapi mas Bagas lagi-lagi menahanku.


"Kamu enggak akan kemana-mana, Anna." Kembali ayah memberi peringatan.


"Tapi aku harus mendampingi suamiku, yah..."


"Aku tidak pernah menikahkan anakku dengan siapapun!" Potong ayah membuat aku seketika berdiri enggak terima.


"Apa maksud anda, tuan?" Tanyaku dengan nada yang dingin dan tajam.


Seketika ayah menatap tajam padaku.


"Anna..." Panggil ayah memperingatkan. Entah kenapa, sifat "jinak" ku selama ini mendadak hilang jika berhadapan dengan ayah. Aku malah balik menatapnya dengan tak kalah tajam.


"Tuan Yudhis, saya tahu dan sadar, kalau anda memang tidak menikahkan kami. Tapi dalam ketidak pastian status Nurul, kami memang sudah menikah. Sayang sekali saat itu anda tidak ada untuk menjadi wali nikah Nurul."


"Dan karena sekarang aku ada disii, maka aku putuskan kalau pernikahan kalian tidak sah..."


"Tuan...!"


"Ayah...!"


Seru kami terkejut hampir bersamaan. Bagaimana bisa ayah dengan semena-mena menyatakan kalau pernikahan kami tidak sah.


"Tentu saja tidak sah. Aku sebagai ayahnya, tidak pernah merasa menyerahkan anakku padamu. Selain itu, perempuan yang kamu nikahi itu identitasnya tidak sesuai dengan yang ada.


Yang kamu nikahi itu perempuan bernama Nurul. Sementara anakku bernama Anna. Widiana Yudhistira. Karena itu, aku mengatakan kalau pernikahan kalian itu tidak sah..."


Seketika kami terdiam bingung.

__ADS_1


"Kalau menjadi seorang Anna aku harus melepaskan statusku jadi istri mas Bagas, maka aku memilih untuk melepas statusku menjadi anak kalian." Putusku akhirnya. Sambil menatap ayah penuh keyakinan.


"Aku akan menjadi seorang Nurul, perempuan yang tidak punya apa-apa tapi punya harga diri untuk melaksanakan apa yang telah dijanjikannya..."


"Kau...!"


Kini gantian ayah yang menatap kami bergantian setengah tak percaya.


"Tuan... jika diumpamakan Nurul ini sebuah barang, anda sudah kehilangan barang itu. Kebetulan, sayalah yang sudah lebih dahulu menemukan barang anda...."


"Berarti kamu sadar kan kalau kamu harus mengembalikan barang itu..." Tuntut ayah dengan tersenyum seperti sinis, dibalas oleh mas Bagas dengan seyum penuh sabar.


"Seperti yang anda tahu, tuan. Jika menemukan suatu barang, kita memang dihadapkan dengan dua pilihan, dikebalikan pada pemiliknya, atau malah akan dimiliki sendiri.


Awalnya, saya memang berniat untuk mengembaliannya, tapi sekarang saya ragu, apakah saya benar-benar ingin mengembalikannya atau malah saya simpan sendiri...


Selain itu, yang saya temukan ini adalah barang yang hidup, dia bisa menentukan sendiri apakan dia mau dikembalikan atau tidak..." Ucap mas Bagas dengan nada santai. Dia menoleh dan menatapku sambil tersenyum. Rupanya dia cukup percaya diri akan pilihanku.


Ayah kini ikutan menatapku.


"Ayah, bunda... Maaf, bukan maksudku untuk kurang ajar. Tapi sejujurnya pilihanku lebih berat pada mas Bagas..." Ucapku.


"Anna, apa yang sudah dia berikan padamu, sehingga kamu lebih memilih dia daripada kami, orang tuamu...?"


"Maaf ayah... Bunda. Tapi saat ini yang ada dalam ingatanku hanya mas Bagas..." Jawabku jujur. Aku tidak ingin menjadi anak yang tidak tahu terima kasih, tapi aku juga tidak mau mas Bagas dilecehkan oleh keluargaku.


"Kalau bukan karena keluarga mas Bagas, mungkin sekarang aku sudah mati karena terlantar dan nelangsa..." Gumamku pelan seperti bicara pada diri sendiri.


"Jadi semua ini kamu lakukan karena rasa hutang budi?" Tanya ayah.


"Awalnya mungkin iya, ayah... Tapi seiring waktu, aku mulai menyayanginya..."


Ayah dan bunda saling padang.


"Ayah, jika memang engkau sayang padaku, tolong jangan pisahan kami." Pintaku akhirnya dengan nada memohon.


Kembali kami menerima tatapan ayah. Sepertinya beliau sedang berpikir tentang apa yang harus dilakukan.


"Tetap saja, bagi ayah, pernikahan ini tidak sah..."


...*...


...*...


...*bersambung*...

__ADS_1


...*...


...*...


__ADS_2