
"Tuan... jika nanti terbukti kalau saya ini istri orang... akankah tuan melepaskan saya?"
"Entahlah.... Maukah kamu aku lepaskan?" Bagas malah balik bertanya. Lagi-lagi Nurul dibuat termenung mendengar ucapan Bagas.
"Sudahlah... jangan terlalu difikirkan sekarang.... Kita jalani saja semuanya dengan sebaik-baiknya... Semoga Allah memudahkan urusan kita. Percayalah, Allah akan memilihkan yang terbaik untuk kita... " Hibur Bagas sambil meraih Nurul semakin dekat.
Tak banyak yang mereka bicarakan selanjutnya. Tapi kebisuan itu bukan berarti mereka sudah pasrah dengan keadaan. Justru dalam kebisuan itu, mereka membangun kasih sayang antara mereka, karena ternyata hanya dengan menatap mata masing-masing, serta merasakan dekapan yang semakin erat antara keduanya, mereka seperti saling mengukuhkan perasaan mereka.
* * *
Pagi hari, seperti biasanya, alarm alam Nurul membangunkannya dari kelelapan tidurnya. Beberapa detik otaknya loading, merasa ada sesuatu yang salah tapi tak tahu apa...
Ditolehnya wajah Bagas yang berada sedikit diatas kepalanya karena ternyata tanpa dia sadari, semalam dia sudah menyusupkan kepalanya ke dada Bagas. Dihirupnya aroma tubuh Bagas yang terasa begitu menenangkan.
Apakah ini yang dirasa salah? Tidak... Dia sadar, dia sudah menikah dengan Bagas. Kalau suami istri tidur sambil berpelukan itu bukan sesuatu yang salah kan?
Apakah berhubungan dengan obrolan mereka semalam tentang seseorang yang mungkin mengenalnya dan mengetahui tentang masa lalunya? Bukan, rasanya bukan itu yang salah... Lalu apa ya? Kok rasanya ada yang mengganjal gitu di hatinya...
Berfikir....berfikir.... Tiba-tiba sesuatu mengejutkannya.
"Ya, ampun...!" Katanya.
Secara refleks, dia menepuk dahinya sendiri dengan kesal.
Karena posisi mereka begitu rapat, tak heran kalau gerakan refleks Nurul jadi mengusik kelelapan tidur Bagas.
"Ada apa?" Tanyanya masih dengan mata terpejam dan suara malas.
"Tuan... kenapa saya tidur disini...?" Tanyanya seperti menyesali.
"Maksudnya?" Tanya Bagas lagi. Kelopak matanya mulai terbuka dan langsung menatap Nurul. Otaknya ikutan bekerja mencari kesalahan dengan kebersamaan mereka saat ini. "Ini kamar kita sekarang... Kamu istriku kan? Kamu lupa hal itu?" Imbuhnya sekaligus bertanya. Nadanya menyiratkan peringatan, seakan mengancam kalau Nurul sampai lupa hal itu.
"Bukan, bukan itu tuan... itu..." Nurul sampai bingung sendiri untuk menerangkannya. "Saya enggak lupa kalau saya ini istri tuan sekarang... Tapi, enggak semua orang tahu soal itu, terutama teman sekamar saya...Mereka pasti bertanya-tanya, tidur dimana saya semalam...." Ucap Nurul akhirnya. Mendengar keterangan Nurul, Bagas langsung paham.
"Ambilkan air minum itu..." Perintah Bagas, sambil menunjuk segelas air putih yang ada diatas nakas di samping pembaringan. Nurul bergerak mengambil gelas itu dan menyerahkannya pada Bagas.
Bagas menerima gelas itu dan langsung meminumnya hingga tinggal separuh.
"Jam berapa sekarang?" Tanyanya sambil menyerahkan gelas itu kembali pada Nurul. Tapi sepertinya hal itu hanya karena kebiasaan saja. Nyatanya matanya sendiri langsung menoleh ke jam dinding di atas pintu.
"Hampir jam empat..." Jawab Nurul. Menerima gelas itu dan menaruhnya kembali ke atas nakas, setelah menghabiskan sisa air itu. Dia butuh Aq*a untuk bisa konsentrasi berfikir... π€£
"Sekarang kamu telpon Rara, bilang kamu mau meneruskan tidur di kamarnya..." Perintah Bagas.
__ADS_1
Nurul menghela nafas masygul.
"Tuan... saya kan enggak punya HP..." Ucap Nurul pelan sambil sedikit merengut.
Ya, dia memang enggak punya HP. Selain harganya yang mahal, selama ini dia juga merasa tidak terlalu memerlukan benda itu. Mau nelpon siapa coba? Dia tidak punya kenalan yang perlu dia telpon. Kalau anak-anak di rumah ini saja sih, buat apa telpon? Dengan teriak atau pakai pesan berantai saja sudah cukup. π
Sekarang giliran Bagas yang menarik nafas panjang. Tak habis pikir dia. Hari gini masih ada yang enggak punya HP.
"Ya sudah aku telpon dia sekarang. Kamu segera bersiap sana..." Ucap Bagas akhirnya memutuskan. Maksudnya memberi waktu kalau Nurul mau cuci muka atau sikat gigi dulu, atau mau apalah gitu, tapi...
"Apanya yang harus saya siapkan, tuan?" Nurul malah dengan polosnya bertanya, wajahnya yang menunjukkan kebingungan seketika membuat Bagas gemas.
"Siap-siap ini..." Sahutnya. Lalu dengan tiba-tiba dan tanpa diduga oleh Nurul. Bagas serentak bangun dari posisi tidurnya dan menerjang tubuh Nurul yang semula sudah setengah duduk, hingga terjengkang kembali keatas kasur.
"Agkhh.." Pekik Nurul kaget. Tapi Bagas tidak memberi kesempatan untuk Nurul menarik perhatian siapapun dengan pekikannya itu. Diserangnya bibir mungil yang sejak semalam sudah begitu mengoda. Bibir milik seorang gadis yang mulai menunjukkan kecerewetannya, tapi justru itu yang Bagas sukai.
* * *
Nurul melangkah diam-diam kearah kamar Rara. Sepanjang jalan menuju kesana, matanya beredar, memastikan tidak ada orang lain yang melihatnya berjalan di waktu sepagi ini ke kamar Rara.
"Ra..." Panggil Nurul lirih sambil langsung mendorong pintu kamar Rara. Rara yang sudah ditelepon oleh Bagas memang sudah membuka kunci pintu kamarnya, hingga Nurul bisa langsung masuk ke dalam.
"Ehem... asiknya pengantin baru... sampai lupa kalau harus jaga rahasia..." Sindir Rara langsung begitu tubuh Nurul muncul di pintu kamarnya. Nurul cuma bisa nyengir menahan malu. Dia langsung menuju kasur Rara dan berbaring, mengambil posisi di sebelahnya.
"Enggak usah nyindir... tidur sendiri emang enggak sehangat tidur sambil kelonan..."
"Kamu tuh ngomong apa sih?" Nurul menepuk bahu Rara untuk menutupi rasa malu karena digoda sahabatnya itu.
"Emang bener kan... Dikelonin tuan Bagas anget kan?"
"Anget banget. Makanya males tadi waktu disuruh pindah ke sini..."
"Dasar...!" Seketika Rara membalas menepuk bahu Nurul keras.
"Aawww..." Pekik Nurul sambil mengusap-usap bahunya yang dipukul
"Aleman..." (\=Manja) Maki Rara sambil tertawa.
"Hei, pukulanmu tadi memang sakit, tahu."
"Sakit mana dengan digigit sama tuan?"
"Emang kapan tuan gigit? " Kening Nurul berkerut.
__ADS_1
"Emang kenapa itu bibir sampai bengkak gitu...?" Balik Rara dengan nada judesnya.
Nurul spontan terkekeh malu sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan. Dia benar-benar enggak menyangka kalau ulah tuannya itu akan meninggalkan bekas di bibirnya.
Rara melengos setengah iri setengah jengkel.
"Katanya mau diam-diam, tapi seenaknya aja bikin jejak..." Gumamnya senewen.
"Maaf.... " Ucap Nurul. Dia sendiri enggak tahu pasti untuk apa dia bilang maaf.... Entah karena telah membuat Rara terganggu karena harus menutupi pernikahannya... atau karena telah dengan tidak sengaja membuat Rara merasa sebagai seorang Jones? π
"Eh, Ra... aku kemarin membelikan kamu sesuatu... tapi lupa belum dikasihin. Sekarang barangnya ada di kamar... " Ucap Nurul kemudian mengalihkan pembicaraan.
"Membelikan apa? " Tanya Rara kembali menghadap ke arah Nurul.
"Ada deh... nanti saja kamu lihat sendiri... " Jawab Nurul ber-rahasia.
"Daripada nanti-nanti... mendingan kamu ambil aja deh sekarang... udah siang ini..." Ucap Rara sambil pura-pura mendorong Nurul supaya bangun.
"Kamu dorong-dorong aku supaya bangun, kamu sendiri enggak bangun..." Protes Nurul. Karena dilihatnya Rara malah merapatkan selimutnya.
"Aku masih ngantuk... semalam sibuk bikin tugas... emang kamu enak-enakan pacaran...." Elak Rara.
"Dasar curang...!"
"Eh, enggak curang ya... emang kamu mau dicariin bu Surti karena enggak kelihatan muncul pagi ini...?"
Mendengar ucapan Rara, bibir Nurul seketika mengerucut.
Benar ucapan Rara. Untuk bu Surti, dirinya tetap seorang pelayan yang harus bangun pagi-pagi, melakukan semua aktivitas apapun itu. Jangan sampai bu Surti melihatnya bermalas-malasan di kamar pada pagi hari... bisa kena babad omelan nya yang pedas, sampai genderang telinga kamu terasa sakit kalau mendengarnya.
"Ya sudahlah... aku balik ke kamarku dulu... " Ucap Nurul akhirnya, berusaha mengabaikan kehangatan selimut yang sudah membelit tubuhnya. Malas-malasan dia bangkit dari kasur Rara.
"Hem... Tolong tutup pintunya lagi..."
"Inggih nDoro..." Sahut Nurul menyindir, tapi untuk Rara itu enggak pengaruh. Dia malah hanya menunjukkan jempolnya sambil bergulir kembali menyamankan tubuhnya untuk kembali tidur.
...π ...
...π ...
...π ...
...π Bersambungπ ...
__ADS_1
...π ...