Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Mbak babu


__ADS_3

(POV Nurul)


Menjelang siang hari. Aku baru selesai membantu mencuci perkakas di dapur yang dipakai para koki untuk menyiapkan makan siang.


Di dapur ini ada dua kelompok juru masak. Yang satu kelompok bertugas untuk memasak makanan para juragan. Yang satu lagi kelompok yang bertugas memasak makanan untuk para pekerja, karyawan, buruh dan sejenisnya.


Yang pasti masakan kelompok yang pertama makanannya lebih istimewa dong, dari masakan kelompok yang kedua. Enggak heran kalau para pelayan kadang sampai sedikit berebut untuk membersihkan perkakas yang dipakai kelompok ini, hanya untuk bisa mencicipi sedikit makanan yang tersisa di perkakas itu... 😂


Kalau kelompok yang kedua hanya memasak menu standar cenderung sederhana. Cuma, jumlahnya yang banyak, karena ternyata kalau dikumpulkan semua, ada sekitar lima puluh orang yang harus mereka siapkan jatah makanannya. Mulai dari para pekerja di kandang, di sawah dan di ladang serta para pelayan yang ada di rumah itu sendiri mestinya.


Tidak semuanya para pekerja itu adalah pekerja tetap. Jika suatu pekerjaan sedang banyak atau harus segera diselesaikan, Tuan Darmawan biasanya akan mengambil pekerja tambahan untuk merawat sawah dan ladangnya. Begitu juga untuk merawat kandang ayam yang berisi ribuan ekor itu. Makanya, di rumah besar itu suasana dapur tidak pernah sepi.


Selesai masak untuk makan pagi, lanjut ke menu makan siang, lalu lanjut lagi ke menu makan malam. Enggak heran kalau para pelayan dirumah itu juga banyak supaya mereka bisa silih berganti pekerjaannya. Apalagi untuk pekerjaan di dapur, seperti enggak ada habisnya.


Belum lagi kalau ada acara di mesjid atau tetangga dekat. Nyonya Supami pasti akan menyuruh para pelayan untuk membuat beberapa masakan atau beberapa jenis kue basah untuk suguhan yang hadir, sebagai bentuk shodaqoh dari keluarga mereka.


Itu juga yang menjadi salah satu sebab para pelayan dirumah ini seneng bekerja di rumah keluarga Tuan Darmawan. Karena walaupun gajinya kecil, tapi kebutuhan pokok mereka terjamin. Dan untuk para para pelayan wanita, bekerja dirumah itu seperti tempat kursus memasak gratis. Karena kecuali untuk makanan para juragan, semua orang yang mau belajar memasak diperbolehkan untuk ikut terlibat. Jadi belajar sambil bekerja gitu... Makanya aku suka ikutan membantu pekerjaan di dapur. Tapi kenapa ya? sering-seringnya, aku kok cuma mendapat tugas cuci perkakas... 😅


"Enggak apa-apa lah... sambil nyuci aku bisa mengamati teman-teman bekerja..." Begitu pikirku.


Aku meraih lap tangan yang tergantung di tiang dapur besar untuk mengeringkan tanganku yang sudah sedikit mengeriput jarinya karena kelamaan di air, saat terdengar namaku disebut.


"Nur...!" Panggil seseorang yang walaupun hanya mendengar suaranya saja tanpa melihat wajahnya, sudah sanggup membuat perutku mules.


"Dalem, bu." Sahutku sambil segera menoleh untuk sekedar cari aman. Jangan sampai ada bahan omelan yang bisa bu Surti temukan hanya karena kelambanan ku ber reaksi atas panggilannya.

__ADS_1


"Nur, bawakan sup itu ke kamar nyonya Silvia..." Perintah Bu Surti saat matanya mendapatiku yang masih berdiri di dekat tiang sambil mengeringkan tangan.


"Ke kamar nyonya Silvia, bu?" Tanyaku memastikan.


"Iya, haruskah aku mengulang perintah ku?" Ucap bu Surti dengan kedua alis menukik hampir bertemu.


"Eh? Enggak bu." Sahutku mulai waspada.


Sebenarnya aku sudah merasa letih. Kakiku juga sudah pegal-pegal ingin segera duduk selonjor. Apalagi kalau sambil makan kue pukis yang masih hangat duh, nikmat bener kayaknya. Aku bisa ngebayangin kue pukis karena saat ini di dapur sedang bikin kue pukis. Katanya untuk acara istighotsah di masjid nanti, lepas maghrib. Duh... itu aromanya enak banget.... 🤤


"Bolehkah saya yang mengantarkannya, bu? Nurul baru selesai mencuci perkakas... " Ucap Tati yang sedari tadi duduk dibangku kayu panjang sambil memoles sendok-sendok yang sudah selesai dicuci, agar kelihatan tetap kinclong tanpa noda air. Dia sebenarnya sudah bosan duduk terus disana dan ingin berjalan-jalan melemaskan kakinya yang sedari tadi tertekuk.


Aku menoleh kearahnya sedikit berharap. Aku enggak keberatan kok duduk disana menggantikan pekerjaan Tati memoles perkakas dari logam. Yang penting aku bisa duduk sebentar sambil selonjoran. Beneran, lututku rasanya pegel banget karena sedari tadi duduk melipat kaki sambil mencuci perkakas.


"Apa lagi yang kamu tunggu?" Tanya bu Surti tiba-tiba kembali mengarah padaku. Aku yang semula memperhatikan percakapan singkat Tati dan bu Surti seketika terhenyak.


"Tidak ada, bu..." Sahutku sambil segera mendekati meja tempat semangkuk sup yang masih mengepulkan asap terletak, beralaskan nampan berwarna silver. Di atas nampan itu, disamping mangkuk sup sudah tersedia mangkuk kecil lengkap dengan serbet dan sendok sup.


"Sudah lengkap begini, tinggal nganterin aja, kenapa juga harus nyuruh orang lain... dasar sok nge-boss... " Gerutuku dalam hati.


Aku segera mengangkat mangkuk sup itu dan bergegas pergi menuju kamar nyonya Silvia. Lebih aman segera menjauh dari sana sebelum petasan di mulut bu Surti meletus. Ucapan bu Surti itu kadang terdengar halus, tapi nyelekit di telinga....


Dengan tangan kiri menopang nampan di depan dada, tangan kananku mengetuk pintu kamar nyonya Silvia yang sudah sedikit terbuka.


tok tok tok

__ADS_1


Aku enggak berani mengetuk terlalu keras, takut nyonya Silvia nanti kaget terus marah.


"Masuk...!" Terdengar seruan dari dalam.


Perlahan juga ku dorong daun pintu agar terbuka lebih lebar.


"Permisi nyonya... " Salamku, lalu melangkah masuk.


Kulihat nyonya Silvia sedang duduk diatas pembaringannya. Punggungnya bersandar pada headboard, sementara kakinya berselonjor. Seorang ibu-ibu agak sepuh duduk di dekatnya sambil memijit-mijit kakinya.


"Loh, mbak Nurul toh, yang mengantar sup nya... " Ujar nyonya Silvia saat melihat aku masuk. Aku mengangguk canggung. Nada suara nyonya itu terdengar manis. Tapi aku menjadi ngeri saat melihat hanya satu sudut bibir nyonya itu yang sedikit terangkat saat tersenyum. Ada kesan sinis dalam pancaran matanya.


"Mau diletakkan dimana sup nya nyonya?" Tanyaku yang masih berdiri di depan pintu tidak berani beranjak lebih jauh.


"Taruh di meja itu saja, mbak... " Jawabnya. Terdengar dia menekankan kata mbak di akhir kalimat. Sepertinya dia ingin menunjukkan pada ibu-ibu yang sedang memijit kakinya itu, kalau dia menghargai seorang pelayan dengan memanggilnya dengan sebutan "mbak". Tapi sekaligus ada nada pelecehan kurasa.


Ya, aku tahu, nyonya Silvia memanggil mbak bukan karena statusku sebagai istri dari kakak iparnya, tapi cuma sebagai panggilan biasa layaknya seorang juragan memanggil mbak-mbak babunya.


...®bersambung ®...


...*®*...


...*®*...


...*®*...

__ADS_1


__ADS_2