
"Ada dua cara yang bisa ditempuh oleh pak Bagas. Pertama, Pak Bagas bisa melakukan operasi, lalu dilanjut dengan terapi. Karena pak Bagas sudah terlalu lama tidak berjalan, tentu pak Bagas harus banyak latihan..."
"Yang kedua. Pak Bagas bisa melakukan terapi akupunktur. Tentu latihan juga, untuk membuat otot-otot kaki yang sudah lama tidak dipakai itu kembali kuat untuk menopang tubuh pak Bagas..."
"Bagaimana? Pak Bagas mau operasi atau mau akupuntur...?" Tanya dokter Tony kemudian.
"Menurut saran dokter bagaimana?" Bagas akhirnya balik bertanya.
"Em... Kalau operasi, mungkin bisa lebih cepat, sementara kalau akupunktur itu harus bertahap, tapi semua juga tergantung pada keyakinan serta ketekunan pak Bagas sendiri untuk berlatih..."
Mas Bagas menatapku dan dokter Ridwan minta pendapat.
"Pak Bagas silahkan pertimbangan dahulu saja dengan baik... Saya akan tinggal di sini untuk tiga hari ke depan. Setelah itu saya harus kembali ke Singapura..." Kata dokter Tony saat kelihatan kalau Mas Bagas masih perlu waktu untuk berfikir.
"Sementara pak Bagas menimbang-nimbang... saya minta maaf, rasanya harus pamit dulu, pak. Sebentar lagi saya harus mengisi seminar di sebuah universitas... " Akhirnya dokter Tony meminta diri.
Mas Bagas mengangguk, dia memang sudah tahu tentang rencana kegiatan dokter Tony hingga tidak bisa menahannya lebih lama.
"Kamu berangkat bareng aku, Wan?" Tanya dokter Tony pada dokter Ridwan.
Dokter Ridwan menoleh pada Bagas.
"Gas, aku akan berangkat langsung dengan Tony. Kamu enggak apa-apa kan aku tinggal?"
"Iya, enggak apa-apa..." Jawab Mas Bagas.
Akhirnya, sesuai kesepakatan, aku dan mas Bagas kembali ke hotel sementara dokter Ridwan tetap tinggal untuk pergi ke seminar bersama teman lamanya dokter Tony.
"Menurut kamu bagaimana Nur?" Tanya Bagas padaku saat kami dalam perjalanan kembali ke hotel.
"Tentang pengobatan itu, mas?" Tanyaku memastikan hal yang ditanyakannya. Mas Bagas mengangguk.
"Saya kok, lebih cenderung ke akupuntur ya, mas... Akupuntur memang mungkin lebih lama proses penyembuhannya daripada operasi, tapi resikonya lebih kecil...Mendengar kata operasi kok bayanganku ngeri gitu..." Jawabku jujur.
"Ngeri bagaimana...?" Tanya mas Bagas.
"Ya..."
Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba terasa laju kendaraan yang dikemudkan pak Agus sedikit oleng. Seketika perhatian kami beralih ke depan.
"Ada apa, pak?" Tanya mas Bagas pada pak Agus.
Pak Agus tidak segera menjawab, tapi dia segera menepikan kedaraannya.
__ADS_1
"Maaf, tuan... sepertinya ada masalah dengan bosh arm nya..." Kata pak Agus kemudian sambil keluar dari mobil untuk mengecek lebih jauh.
Aku menoleh kearah mas Bagas untuk melihat reaksinya. Terlihat dia menghela nafas panjang.
"Kok ya, ada-ada saja..." Katanya pelan.
Aku menoleh ke luar... Kuperhatikan keadaan di sekitarku.
"Kalau benar menurut pak Agus kalau bosh armnya yang rusak, kita harus panggil montir ini..." Kataku. Mas Bagas menoleh kearahku.
"Emang kamu tahu bosh arm itu apa?" Tanyanya.
"Tahu lah... Bosh arm itu bagian dari kaki-kaki mobil. Kalau bosh arm nya ada yang rusak, laju mobil juga oleng..." Jawabku enteng. Lain dengan mas Bagas yang langsung menatap dengan kening berkerut padaku.
"Kamu tahu dari mana?" Tanyanya.
"Tahu dari...." Seketika aku menggali ingatan. Enggak ada memori tentang itu.
"He he he... enggak tahu." Aku meringis "Tapi aku beneran kok tahu apa bosh arm itu..." Tambahku cepat meyakinkannya.
"Iya... iya..." Katanya sambil melengos. Aku cuma bisa angkat bahu melihatnya.
"Saya turun ya, mas..." Kataku. Mas Bagas mengangguk. Akupun lalu keluar dari dalam mobil.
Di samping pintu mobil yang masih terbuka, aku kembali mengedarkan pandangan. Pemandangan disekitarku ini rasanya tidak asing...
"Iya, pak... bapak punya aplikasinya?" Ternyata mas Bagas setuju dengan ide ku.
"Ada tuan... Sebentar, saya coba cari ojol dulu..." Ucap pak Agus.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya seorang sopir ojol datang. Pak Agus lalu minta diantar ke bengkel terdekat. Aku menunggu didalam mobil bersama mas Bagas.
Sebenarnya mas Bagas mengajakku kembali ke hotel dengan taxi, tapi aku bilang,
"Tunggu sampai mobil ini ditangani oleh orang yang benar, baru ditinggal. Kasihan pak Agus, kalau ditinggal sekarang..."
Mas Bagas setuju. Karena itu, kami pun menunggu hingga pak Agus kembali bersama petugas dari bengkel yang dia datangi.
Beberapa menit berlalu... hampir satu jam, baru pak Agus datang bersama dua orang pria yang memakai sepeda motor. Pak Agus ikut dengan salah satu dari mereka.
"Bagaimana?" Tanya mas Bagas langsung saat pak Agus baru turun dari sepeda motor itu.
"Begini, tuan... saya akan mengendarai mobil ini pelan-pelan menuju bengkel... mas-mas ini akan mengawal kalau ada apa-apa dijalan..." Kata pak Agus.
__ADS_1
"Enggak apa-apa memangnya? Apa enggak lebih baik panggil derek saja?" Tanya mas Bagas lagi.
"Sepertinya enggak apa-apa tuan, bengkelnya enggak jauh kok... semoga aman..." Kata pak Agus.
Akhirnya dengan penjagaan dari dua pemuda yang mengendarai sepeda motor, mobil melaju sangat perlahan menuju bengkel yang dimaksud.
Alhamdulillah... mobil aman sampai di bengkel.
Aku dan mas Bagas lalu keluar dari dalam mobil dan menunggu mobil diperiksa. Sementara mas Bagas duduk di tempat duduk tamu. Aku masih mengedarkan pandangan ke seputar area bengkel.
Bengkel itu cukup besar dan bersih. Di sebelah kiri pintu masuk, berderet etalase tempat berbagai macam spare part diletakkan, bersandingan dengan meja kerja yang sepertinya digunakan untuk meja kasir.
Sementara di sisi kanan pintu masuk ada alat untuk melakukan sporing dan balancing mobil, berhadapan dengan komputernya.
Di dinding dalam, terpajang berbagai merk ban mobil hampir memenuhi dinding. Hanya menyisakan sebuah jendela dan pintu tembusan ke dalam.
"Mas, saya permisi ke toilet dulu ya..." Kataku. Mas Bagas mengangguk, aku langsung melangkah. Melewati meja kasir yang orangnya sedang memperhatikan komputer di depannya.
Aku langsung melangkah melewati pintu tembusan itu, dan langsung berbelok ke kanan. Di sana ada beberapa petak toilet sederhana berjejer.
Aku masuk kesalah satunya. Buang air kecil, lalu mencuci muka. Ih, seger banget rasanya. Setelah sekitar satu jam lebih berpanas-panas di tepi jalan menunggu pak Agus tadi.
Keluar dari toilet, aku masih menyempatkan diri berkaca sebentar, melihat penampilanku.
Tetap cantik seperti biasanya...
Pujiku sambil tersenyum penuh percaya diri.
Aku berbalik dan akan melangkah kembali ke tempat mas Bagas menunggu, saat tiba-tiba...
KLONTANG....!
"Astagfirullah..." Kataku terkejut sambil menoleh kearah asal suara.
Kulihat sebuah rantang menggelinding kearahku, dan sudah menumpahkan isinya. Tak jauh dari sana ada seorang ibu tengah berdiri terpaku menatapku, Tatapannya persis seperti orang yang melihat hantu disiang hari. Pucat dan penuh keterkejutan.
...*...
...*...
...*bersambung*...
...*...
__ADS_1
...*...