
"Udah deh... jangan kelamaan mikir... jangan sampai aku berubah pikiran..." Kataku lagi.
Wanita itu tampak berpikir sebentar sebelum meraih anaknya dalam gendongan dan mengikuti langkahku masuk ke mobil...
***
Hari ini, semua yang aku lakukan sungguh diluar rencana.
Awalnya, waktu aku bangun tidur tadi pagi, aku berencana untuk menghabiskan waktu dengan Ramdan. Enggak masalah apakah kami mau jalan-jalan... nonton bioskop... makan-makan... Atau sekedar duduk santuy di rumah. Yang penting aku bisa berduaan dengan tunangan ku itu. Siapa yang menduga, kalau aku bakal mendapat kejutan yang teramat sangat menyebalkan.
Menyebalkan?
Ya, menyebalkan.
Marah?
Iya jelas lah.
Siapa yang enggak marah dikhianati oleh dua orang yang kamu percaya sekaligus. Kalau saja mereka mau terus terang kalau mereka itu sebenarnya saling suka, maka dengan rela nya aku akan mundur.
Sungguh, aku enggak pura-pura. Aku akan menyerahkan Ramdan dengan rela pada Jihan, kalau saja mereka jujur padaku. Tapi kalau caranya seperti ini... sama saja dengan mereka menusukku dari belakang. Boro-boro mau rela... sekarang mah pengennya melakukan pembunuhan aja. Sesek rasanya hati ini.
Tapi kalau dipikir-pikir lagi. Masa iya, aku harus jadi seorang kriminal hanya gara-gara orang seperti Jihan sama Ramdan.. .? Rasanya kok kebagusan banget mereka...
Enggak! Aku enggak mau rugi dua kali. Cukup hatiku saja yang sakit, jangan sampai masa depanku ikutan hancur hanya gara-gara orang-orang yang enggak tahu diri itu....
Akhirnya, aku memilih untuk duduk di sebuah restoran, bersama dua orang yang sama sekali tidak aku kenal... menjadi tempat curhatan seorang wanita yang ditinggal kawin lagi oleh suaminya, jadi orang yang sok perhatian... padahal aku sendiri yang lagi butuh pengalih perhatian...
"Kalau sudah kayak gini ini aku bingung, mbak... Walaupun berat sebenarnya aku ingin pisah saja sama bapaknya anak-anak... tapi mau ngomong itu, aku kepikiran... kalau aku pisah sama bapaknya, anak-anak ini mau dikasih makan apa...?"
"Ya dikasih makan batu aja..." Jawabku sekenanya.
Aslinya, aku suka sebel sendiri kalau ada situasi seperti ini. Dilema seorang istri yang ditinggal mendua... bikin nyesek, bikin sebel. Amit-amit, jangan sampai aku mengalami kejadian seperti ini... Diduain pacar aja udah sakit, apalagi diduain suami... Salah enggak sih kalau aku ingin sunat habis tuh cowok?
"Udah lah... Enggak usah diharapkan lagi laki-laki kayak gitu... Mendingan sekarang kamu belajar mandiri aja... bisa balikan lagi syukur... kalau kamu masih mau balikan... Kalaupun enggak juga, minimal kamu udah enggak tergantung sama dia..." Kataku sok nasehatin.
"Kalau kataku, sih... laki-laki seperti itu udah enggak bisa diharapkan... Dipercaya untuk pergi cari rezeki malah cari bini... " Lanjutku penuh emosi.
"Lah terus untuk penghidupan anak-anak ku gimana?" Perempuan itu masih kelihatan bingung.
__ADS_1
"Ya, kamu kerja apa kek, gitu... sedapetnya, toh suami kamu juga enggak bisa diandelin... Sekarang kamu pikir... Kamu ngandelin suami, sama kamu mulai belajar mandiri, lebih baik mana? Kalau aku jadi kamu sih, mendingan bikin persiapan aja, sebelum jadi janda beneran... " Kataku lagi tanpa rada toleransi sedikitpun.
Kulihat perempuan itu merenungi ucapanku.
"Kalau anak-anak tanya bapaknya gimana?"
"Ya terserah kamu ... mau bilang bapaknya kerja, atau bapaknya punya istri baru... Walaupun awalnya sakit... tapi nanti lama-lama juga terbiasa..."
Aku tahu, ucapanku itu kejam sekali, tapi hatiku sendiri memang masih sakit gara-gara penghianatan, jadi jangan salahkan aku kalau kasih nasehat yang rada ngaco seperti itu.
Telepon berdering. Aku segera meraih HP ku. Nama Ram Say tertera di layar. Tanpa pikir panjang, aku langsung me-reject panggilan itu dan aku blokir nomornya.
"Udah siang, kamu mau kemana?" Tanyaku.
"Emmm mau pulang... "
"Terus...?" Tanyaku saat mendengar nada menggantung di kalimatnya.
"Eng... saya ingin pulang, tapi rumah saya jauh.. kami tadi kehabisan bekal. Tadinya saya mau minta bapaknya anak-anak untuk ongkos pulang... " Sahut perempuan itu bingung.
Aku sudah menduga, pasti karena hal itu...
"Kampung mu dimana?"
"Kampung Hullu..."
"Aku bayarin ongkos pulang kamu.. tapi aku ikut, boleh?"
"Heh? Mbak mau ikut saya ke kampung?"
"Iya... kenapa? Enggak boleh?" Tanyaku langsung.
"Bukan enggak boleh... tapi... eng..." Sepertinya perempuan itu kebingungan mendengar niatanku yang tiba-tiba itu.
Jangankan dia, aku sendiri aja bingung kok. Intinya aku itu cuma ingin pergi sementara waktu dari kota ini. Aku males ketemu orang yang sudah bikin aku muak dan sakit hati. Aku butuh waktu untuk menyendiri dan mengalihkan perhatianku dari rasa merana dan nelangsa.
"Gimana? boleh?" Tanyaku lagi.
"Eh, eng... boleh... boleh mbak... " Jawab perempuan itu cepat.
__ADS_1
Aku tersenyum puas. Untuk sementara waktu aku akan lari dari kenyataan, menganggap diriku sedang berwisata, ke negeri antah berantah. Dimana orang-orang yang mengenalku (yang pasti akan mencari) tidak bisa menduga keberadaanku.
Dan begitulah... akhirnya aku ikut dengan perempuan beserta anaknya pergi ke kampung Hullu. Aku telepon orang rumah dan mengatakan kalau aku mau pergi liburan, tanpa mengatakan kemana tujuannya. Aku juga menitipkan mobilku ke kantor polisi dekat terminal, lalu pergi bersama ibu dan anak itu dengan naik bis.
Lalu....
Ingatanku melompat pada kejadian saat bis melintas di sebuah daerah... Tiba-tiba aku merasa, ada seseorang yang menarik tanganku, menyuruhku untuk segera turun dari bis itu. Aku sampai terhuyung-huyung mengikuti tarikan tangannya berjalan di sela barisan kursi. Belum juga aku berteriak menyuruh sopir supaya berhenti, tiba-tiba...
JEDHUER....!
Bis terasa oleng dan seketika los kontrol. Kejadian berikutnya aku enggak tahu pasti. Yang aku ingat, Bis tiba-tiba terhenti dengan mendadak, membuat aku yang sedang berdiri di dekat tangga turun depan pintu keluar tersentak. Tubuhku terlontar menembus kaca jendela depan yang retak dengan suara PRANGGG yang keras.
Kurasakan tubuhku menghantam sebatang pohon, setelah itu aku tidak ingat apa-apa.
Flashback Off.
Ya, sekarang aku ingat, kenapa aku bisa ada di rumah sakit ini... pasti karena kecelakaan bis itu. Pihak rumah sakit pasti telah berhasil menghubungi keluargaku, hingga mereka sekarang ada di sini.
Pasti aku tidak sadarkan diri lama sekali, mengingat jauhnya jarak yang harus mereka tempuh, untuk mencapai daerah ini.
"Berapa lama aku pingsan?" Tanyaku sambil menatap orang-orang yang ada di ruangan itu.
"Lumayan lama... sekitar satu jam.. " Jawab ibu yang di benarkan oleh yang lain dalam bentuk gumaman enggak jelas.
"Satu jam?!" Tanyaku enggak percaya.
Masa satu jam sih? Jarak yang aku tempuh dengan bis itu sudah lewat dari empat jam sebelum kecelakaan terjadi. Aku ingat, karena aku bolak balik tanya, "masih jauh?" pada wanita itu, sambil lihat jam tanganku, dan wanita itu juga bolak balik jawab "enggak".
" Assalamu'alaikum.... " Salam orang-orang yang baru masuk ke ruangan. Aku menoleh kearah mereka dan keningku langsung berkerut...
"Kok... mereka?"
...❄❄❄bersambung ❄❄❄...
\=\=\=iklan... 🤭🤭🤭
...🙏🙏🙏monggo silahkan mampir 🙏🙏🙏...
__ADS_1