
Aku enggak tahu, apa peran ayah di rumah sakit ini. Tapi yang pasti, semua seperti tunduk dengan ucapannya. Dibilang suruh telpon dokter, aku pikir cuma omong kosong saja, karena ayah memang sudah ingin pulang. Tapi ternyata, bunda benar-benar menyuruh pihak rumah sakit untuk menelpon sang dokter! Dan mereka menurutinya! 😯
Untung saja dokter tersebut memang sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit, jadi enggak terlalu lama ayah menunggu. Enggak kebayang, kalau masih harus menunggu lebih lama... pasti bakal ada episode tambahan drama omelan ayah... ðŸ¤
Pemeriksaan dilakukan, dokter menyatakan kalau ayah sudah boleh pulang. Ibu langsung menyuruh bik Nah untuk mengemas semua perlengkapan yang sudah mereka bawa dari rumah. Enggak banyak sih, paling-paling cuma baju ganti, selimut dan perlengkapan mandi.
Perlengkapan mandi ini sebenarnya sudah disediakan oleh rumah sakit, tapi ayah memilih untuk memakai perlengkapan mandi pribadinya dari pada yang disediakan oleh rumah sakit. Selain itu enggak ada lagi yang harus dikemas, karena hampir semua perlengkapan yang dipakai ayah merupakan fasilitas dari rumah sakit.
Setelah hampir satu jam setelah dinyatakan boleh pulang oleh dokter, dan selesai mengurusi segala tektek bengek administrasi dan lain-lain, akhirnya kami semua bisa pulang.
Mobil meluncur meninggalkan kawasan rumah sakit. Bergerak melintasi jalanan yang sudah ramai oleh kendaraan yang hilir mudik dengan tujuan masing-masing, hingga setelah sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil masuk ke kawasan perumahan elit.
Untuk masuk ke kawasan itu, harus melalui palang yang melintang dan dijaga oleh dua orang satpam. Tapi rupanya mobil yang kami naiki sudah cukup dikenal oleh mereka, buktinya tanpa banyak bicara, saat melihat mobil ini mendekat, mereka langsung membukakan palangnya.
Tidak ada basa-basi yang terjadi, mobil melintasi gerbang berpalang itu begitu saja. Aku sempat menoleh dan menyaksikan kedua orang satpam itu menatap mobil kami berlalu sambil menutup palang kembali.
Mobil terus bergerak, berbelok ke kanan dan berhenti di samping gerbang sebuah rumah mewah tidak terlalu jauh dari gerbang tadi.
Rumah itu berpagar besi tinggi dan hampir separuhnya tertutup tanaman merambat, hingga sulit untuk melihat bagian dalam pagar. Aku bisa bilang kalau rumah itu rumah mewah, karena bagian atapnya yang memang terlihat indah dan megah.
Seseorang membukakan pintu gerbang dari dalam dan mobil pun kembali bergerak masuk. Didepan gerbang sudah terlihat bangunan rumah yang enggak salah lagi... M E W A H.
Aku menoleh kearah mas Bagas. mas Bagas kelihatannya biasa saja. Tapi aku yakin, dia sedang berusaha untuk tenang. Kami saling menggenggam.
Mobil berhenti di depan pintu utama. Dua orang pelayan sudah bersiap dan sedia menyambut dan membantu membawakan barang bawaan kami.
"Selamat datang kembali, tuan... nyonya... Nona..." Sambut mereka. Ayah dan bunda terlihat berjalan begitu saja melintasi mereka tanpa menoleh. Bik Nah yang kemudian sibuk menyuruh mereka membawa barang-barang di bagasi.
"Anna... " Panggil ayah, saat melihat aku masih berdiri disamping mobil, menunggu mas Bagas yang masih harus berpindah ke kursi rodanya.
"Iya ayah..." Sahut ku menoleh sekilas pada ayah tapi langsung kembali memperhatikan mas Bagas. Memastikan kalau semua sudah beres, baru aku mendorong pelan kursi roda itu untuk masuk ke rumah.
Ayah terlihat menghela nafas panjang sebelum berbalik kembali melanjutkan langkahnya memasuki bangunan itu.
"Ah, leganya sudah kembali pulang..." Kata ayah sambil mendekati sofa besar di ruang tamu dan duduk di sana. Karena tidak tahu harus kemana dan bagaimana, akhirnya kami, Mas Bagas dan aku sendiri, ikutan mendekat ke sofa itu.
Rumahnya mewah, furnitur yang melengkapinya juga indah... Sedikit berbeda kelas dengan rumah keluarga Darmawan. Rumah keluarga Darmawan itu berkesan antik klasik, sementara rumah ini berkesan modis modern.
"Bagaimana... adakah yang kau ingat tentang rumah ini...?" Tanya ayah sambil memperhatikan aku yang masih duduk anteng menatap ke sekelilingku. Perlahan aku menggeleng.
__ADS_1
Rumah ini... memasuki rumah ini rasanya lain dengan saat masuk ke rumah ibu... Walaupun sama-sama tidak mengenali, tapi saat masuk ke rumah ibu kemarin, aku merasakan sedikit kehangatan yang familiar. Di sini... semua terasa asing.
"Bik Nah... antarkan Anna ke kamarnya..." Perintah bunda pada bik Nah yang sudah membereskan semua bawaan kami dan berniat untuk kebelakang.
"Baik nyonya... Neng Anna, mari... " Ucap bik Nah sambil memberi isyarat dengan tangannya, agar aku mengikutinya.
Aku bangkit dari duduk ku dan langsung mengambil posisi di samping kursi roda mas Bagas. Beberapa langkah kami mengikuti bik Nah, hingga saat melihat kedepan, aku seketika menghentikan langkahku. Di depanku ada anak tangga menuju ke lantai atas.
"Mas..." Bisikku bimbang. Mas Bagas terdiam sesaat.
"Kalau kamu mau lihat kamarmu, pergilah... Aku tunggu di sini..." Ucap mas Bagas.
"Emmm... Tunggu sebentar..." Kataku, lalu aku berbalik ke ruang tamu lagi untuk menemui ayah dan bunda.
"Ayah..." Panggilku. Ayah yang tengah duduk bersender dengan mata setengah terpejam, segera membuka matanya lagi.
"Ada apa?" Tanyanya.
"Bolehkah aku meminta kamar di lantai bawah saja...?" Tanyaku. Sesaat ayah seperti berpikir.
"Pakailah kamar tamu dulu, sebelum kamar untukmu disiapkan." Jawab ayah kemudian.
"Terima kasih, ayah..." Ucapku. Maunya aku segera berbalik kembali ke tempat mas Bagas menunggu, tapi aku merasa, ucapan terima kasih saja tidak cukup, jadi aku melangkah mendekati ayah dan mencium pipinya. Tidak merasa cukup, aku juga memeluk erat ayah.
"Ayah rindu anak ayah... " Katanya dengan suara bergetar. Aku merasakan aliran emosi di sana.
Pelukan terurai, kulihat mata ayah sedikit berkaca-kaca dan menatapku penuh rindu.
"Aku ada disini, ayah... " Ucapku sambil menggenggam tangan ayah.
"Ya, kamu memang sudah ada disini..." Kata ayah lagi, tapi nadanya terdengar menggantung. Sepertinya ada hal yang batal beliau katakan padaku.
"Sudahlah... Anna, ajak Bagas istirahat di kamar tamu... Tinggallah disana sampai kamar untuk kalian siap... " Ucap bunda sambil menepuk pundakku.
"Baik, bunda. Terima kasih... " Ucapku. Setelah mengucapkan terima kasih aku segera kembali ke tempat mas Bagas.
Bik Nah lalu mengajak kami ke sebuah kamar di dekat ruang makan. Kamar yang luas dengan pemandangan langsung ke taman samping.
"Silahkan, neng Anna... tuan..." Kata bik Nah setelah membukakan pintu untuk kami.
__ADS_1
"Terima kasih, bik. " Ucapku.
"Sama-sama, neng. Ada lagi yang neng Anna dan tuan butuhkan?" Tanya bik Nah.
"Minta air putih, boleh?" Tanyaku.
"Iya, neng. Sebentar lagi air minum nya akan diantar." Jawab bik Nah.
"Terima kasih... "
Bik Nah tersenyum tambah lebar mendengar aku mengucapkan terima kasih untuk kesekian kalinya.
"Bibik suka dengan perubahan neng Anna yang ini... " Katanya. Setelah itu bik Nah berbalik pergi.
Aku mengikuti mas Bagas bergerak mendekati jendela. Mas Bagas masih duduk di kursi rodanya, Sementara aku duduk ditepi pembaringan. Beberapa saat kami menatap ruangan kamar dan taman di depan jendela.
"Mas suka kamar ini?" Tanyaku berusaha memulai pembicaraan.
"Suka... " Jawab mas Bagas dengan nada datar.
"Kata ayah, kita bisa tinggal di kamar ini sampai kamar kita siap... " Ucapku menyampaikan seperti yang dikatakan ayah.
"Hem... " Gumam mas Bagas.
"Perlukah kita mengambil barang-barang kita di hotel, mas?" Tanyaku terpikir akan barang-barang yang masih hotel, juga pak Agus yang masih di bengkel.
Sudah selesai belum ya service mobilnya...?
Mas Bagas tidak langsung menjawab. Kelihatannya ada sesuatu yang dia pikirkan.
"Nur... bukan maksudku merusak suasana, tapi ada yang harus aku katakan padamu... " Ucap mas Bagas kemudian sambil menatap lekat padaku. Seketika aku balik menatap mas Bagas penuh perhatian.
Ada apa lagi ini...?
*
*
*bersambung *
__ADS_1
*
*