Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Pulang


__ADS_3

"Tuan... boleh saya pergi ke sana sebentar? Saya ingin membelikan sesuatu untuk Rara. " Tanyaku pada tuan Bagas, sambil menunjuk sebuah counter aksesoris yang ada ditengah selasar mall. Saat itu kami sedang menuju tangga turun untuk pulang. Kebetulan counter nya berada diarah belakang kami.


"Mau beli apa?" Tanya tuan.


"Belum tahu pasti tuan. Tapi pas terima uang dari nyonya dulu, saya sudah berniat ingin membelikan Rara sesuatu..."


"Nyonya siapa? Kasih uang untuk apa?" Tuan menatapku dengan kening berkerut.


"Nyonya Santi, katanya sih itu gaji bulanan saya..."


"Oo..." Mulut tuan membulat, tapi tak bersuara. Kami lalu menuju counter itu.


"Ini, mau pakai cash atau card...? " Tanya tuan sambil mengeluarkan dompetnya.


"Enggak, jangan tuan. Saya sudah berniat membelikannya dari uang gaji saya sendiri. Kalau tuan yang bayar, artinya nanti tuan yang kasih, bukan saya... " Tolak ku.


Untung tuan mengerti, setelah mendengar penuturan ku, tuan lalu memasukkan kembali dompetnya ke saku celananya. Aku lalu segera mengedarkan pandangan ke seputar counter itu, sementara tuan menunggu tidak jauh dari situ. Sambil mencari, aku masih bisa melihat keberadaan tuan ditempatnya menunggu.


Aku berusaha mencari sesuatu yang pantas untuk ku berikan pada Rara secepat yang aku bisa. Aku sebenarnya merasa enggak enak sudah membuat tuan menunggu, tapi kapan lagi aku bisa keluar untuk shoping seperti ini.


Setelah bingung sesaat untuk memilih antara scarf dan pasmina. Akhirnya aku putuskan untuk memilih pasmina berwarna dusty pink dengan bordiran bunga kecil-kecil di tepinya untuk Rara.


"Sudah...?" Tanya tuan saat aku melangkah mendekatinya dengan kantung plastik pink ditangan.


"Sudah..." Sahutku sambil tersenyum senang. Niatku memberi hadiah untuk Rara bisa segera dilaksanakan.


"Cuma satu? Untuk kamu sendiri enggak beli?" Tanya tuan saat melihat hanya ada satu kantung di tangan.


"Enggaklah tuan. Saya belum memerlukannya sekarang...." Jawabku. "Tuan terima kasih ya, sudah mau menunggu..."


"Iya.. Ya udah, ayo pulang.... " Ajak tuan sambil mendahului. Aku segera melangkah mengikutinya.


***


Tidak disangka, lepas waktu dhuhur, kami baru sampai rumah.


"Assalamu'alaikum... " Salam kami saat memasuki rumah.


"Waalaikum salam..." Jawab para pelayan yang sedang membereskan ruang depan. Aku lihat, kursi-kursi sudah ditata agak merapat ke dinding untuk memberi ruang yang cukup luas guna menggelar karpet.


Aku melanjutkan langkah mengikuti tuan. Ku anggukkan kepala sambil tersenyum pada setiap orang yang kebetulan bertemu pandang denganku. Mereka balas tersenyum. Ada yang tersenyum tulus, ada juga yang seperti iri saat melihat aku bisa berjalan mensejajari tuan. Apalagi dengan beberapa kantung belanja yang ada di tanganku.

__ADS_1


Bukan rahasia lagi, kalau salah satu job istimewa dirumah ini, yang menjadi incaran para pelayan adalah menjadi pelayan pribadi salah satu dari majikan kami. Menjadi pelayan pribadi hampir sama dengan mempunyai hak istimewa, selain karena sering kecipratan hadiah saat majikan mereka berbelanja, mereka juga bisa melakukan apapun dengan alasan diperintahkan oleh majikannya.


Ya, walaupun kami semua juga tahu, enggak semuanya yang pelayan itu lakukan atas perintah majikannya. Ada juga pelayan yang memanfaatkan posisinya untuk keperluan pribadi. Tapi bagi kami, selama semua itu wajar dan tidak berlebihan, kami tidak pernah mempermasalahkan.


Aku mengantar tuan sampai ke kamarnya. Tuan Bagas memintaku menyiapkan baju ganti yang lebih santai sementara dia sendiri masuk ke kamar mandi. Saat aku menyiapkan pakaian ganti, kudengar suara air mengalir dari kran. Dan...


"Nur...!" Panggil tuan berseru tiba-tiba.


"Ya... sebentar tuan... " Sahutku ikutan berseru. Aku segera meletakkan pakaian yang barusan ku ambil dari lemari dan setengah berlari menuju kamar mandi.


"Ada ap... " Aku tidak menyelesaikan pertanyaanku saat kulihat pakaian tuan basah kuyup. "Lah, tuan. Tuan kenapa? " Tanyaku cemas sambil mendekat.


"Kran ini.. tadi airnya mengalir kecil, tapi saat aku putar lebih, malah menyembur deras sekali... " Sahut tuan, dari nada suaranya terdengar kalau dia sedang menahan kesal.


"Saya bawakan baju gantinya kemari ya tuan...?" Tanyaku sekaligus menawarkan. Tuan mengangguk.


Aku lalu keluar kamar mandi untuk mengambil pakaian yang sudah aku siapkan tadi. Kembali ke kamar mandi, tuan sudah membuka bajunya dan bertelanjang dada. Tinggal celana panjangnya yang belum dilepas, tapi kancing dan ritsleting sudah terbuka. Aku tahu, aku harus menarik ujung celana itu untuk melepasnya.


"Mau mandi sekalian tuan?" Tanyaku.


"Enggak, cuaca terlalu panas untuk mandi sekarang... " Katanya.


Tuan lalu mencuci wajah, tangan dan kakinya. Sementara aku membereskan pakaian kotor tuan dan memasukkannya ke kotak laundry yang tersedia.


"Bajunya... " Ujar tuan saat aku hanya diam terpaku.


"Eh, Iya... " Ucapku tersadar dan segera menyerahkan pakaian tuan yang sejak tadi tersampir di bahuku.


"Bantu aku tukar kursi dulu, kursi ini sudah basah..." Ucap tuan. Aku mengangguk lalu meraih kursi roda lain yang ada di kamar mandi itu. Ya, tuan memang mempunyai beberapa kursi roda yang selalu dia gunakan secara bergantian saat tuan mandi. Sebenarnya ada satu yang khusus untuk mandi, jok kursinya tidak ada busanya. Tapi kadang-kadang ya seperti ini, karena ketidak sengajaan, kursi roda yang biasa untuk bepergian juga terkena air dan harus dikeringkan dulu.


Selesai membantu tuan berganti kursi, tuan memakai kaosnya. Saat aku hendak keluar untuk memberi tuan keleluasaan, tuan malah memanggilku.


"Nur... "


"Ya... "


"Kamu bantu aku.... " Katanya sambil mengacungkan celana pendek model kargo itu padaku.


"Heh?! "


Tidak memperdulikan kekagetan ku, tuan menggoyangkan celana itu, menyuruhku untuk segera mengambilnya. Perlahan dan dengan perasaan canggung, aku meraih celana itu. Berlutut di depan tuan, dan memasukkan kaki-kaki tuan ke lubang celana.

__ADS_1


Sambil menunduk setunduk-tunduknya, aku menarik celana itu naik. Jantungku? Jangan ditanya. Sepertinya kalau jantung ini produksi manusia, mungkin sudah lepas terlontar saking cepat dan kerasnya berdetak.


Dengan bertumpu pada pinggiran kursi roda, tuan mengangkat tubuhnya agar aku bisa menaikkan celana hingga ke pinggang. Dapat kuhirup aroma tubuh tuan dengan jelas. Campuran antara harumnya sabun, parfum serta keringat yang terkesan begitu maskulin. Sepertinya aku belum pernah menghirup aroma seperti ini dan dalam jarak sedekat ini, tapi aku tahu pasti, aku menyukainya.


"Sudah tuan..." Ucapku sambil menatap tuan. Cuma sedetik. Karena saat itu aku lihat tuan sedang mengancingkan celana lalu menarik ritsleting nya.


"Ya, makasih ya..." Katanya. Aku mengangguk. Kami lalu keluar dari kamar mandi.


Tuan langsung mengarah ke pembaringan. Aku membuntuti nya. Tuan pindah dari kursi ke atas kasur. Aku membantu mengangkat kaki tuan dan memposisikan hingga tuan merasa nyaman. Terlihat kelegaan di wajahnya saat dia sudah rebahan di sana.


"Tuan..." Panggil ku pelan.


"Ya, kenapa? " Sahut tuan sekaligus bertanya.


"Kalau tuan mengizinkan, sementara tuan beristirahat, bolehkah saya permisi ke kamar saya tuan? Saya mau ganti baju dulu sekalian memberikan hadiah untuk Rara tadi. "


"Bukannya baju kamu sudah ada disini?" Tanya tuan sambil menunjuk dengan dagunya kearah kantung-kantung belanja kami.


"Ya... cuma buat dirumah, sayang tuan kalau pakai baju baru... " Jawabku.


"Lalu, mau dipakai kapan baju-baju itu? " Tanya tuan sambil tertawa kecil,


"Ya, nanti kalau ada acara khusus atau bepergian lagi... " Jawabku polos.


"Nanti sore ada acara khusus... " Ucapnya mengingatkan.


"Oh, iya..." Kataku saat diingatkan pada acara yang akan digelar di rumah ini nanti. Seketika aku merasakan suatu denyutan aneh di dadaku. Denyutan yang aku sendiri sulit untuk menggambarkannya. Seperti perasaan cemas, senang, malu, tapi juga bangga. Wah, pokoknya nano-nano banget rasanya.


"Kenapa lagi? Kenapa malah bengong disana?" Tanya tuan kemudian saat menyadari aku masih berdiri diam di tempatku.


"Kalau begitu, saya mohon izin mencari Rara untuk memberikan hadiah yang sudah saya beli tadi... " Ucapku akhirnya.


"Ya, pergilah. Tapi jangan lama-lama... " Ucap tuan memberi syarat. Aku seketika mengangguk.


.


.


👉bersambung👈


.

__ADS_1


.


__ADS_2