Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan
Masih belum bisa sarapan...


__ADS_3

Aku berjalan kembali ke arah kamar tuan Bagas. Saat melintasi ruang makan, aku mencuri lihat. Cuma ingin tahu, apakah acara makan pagi sudah dimulai... Mustinya sih sudah, sekarang sudah mau jam tujuh...


Ya, acara makan sudah dimulai. Mereka makan dengan tertib. Memang, sesekali ada yang bicara, tapi tidak ada yang berani bercanda sampai tertawa terbahak-bahak. Walaupun merasa geli dengan candaan yang terlontar, mereka cenderung menahan diri untuk tidak tertawa bebas di meja makan. Lain lagi kalau sedang di ruang keluarga, mereka bebas tertawa atau sampai guling-guling sekalipun. Ah, dasar para priyayi, mereka pandai sekali memanage emosi, beda banget dengan kami kaum jelata yang kadang suka lupa diri... ๐Ÿ˜…


Tapi.... eh, kok tuan Bagas enggak ada di sana ya? Nyonya super besar juga enggak ada. Aku berjinjit agar bisa melihat lebih jelas kedalam ruangan itu melalui lubang dinding ventilasi. Memang enggak ada. Di sana cuma ada tuan Darmawan beserta dua nyonya, non Sabrina, tuan Danu dan sepasang lagi adalah tuan Nugraha, biasa dipanggil Nunug beserta istrinya nyonya Silvia.


Tuan Nugraha ini anak mbarep (sulung) Nyonya Yulia. Kalau tuan Bagas mbarep nya nyonya Santi. Katanya sih, usia mereka tidak terpaut jauh, mungkin sekitar satu atau dua tahun. Katanya juga, tuan Nugraha ini sudah menikah lebih dari lima tahun, tapi belum juga di karuniai momongan. Alasannya kenapa? Ya... jangan tanya aku... aku mana tahu... he he he... Yang pasti tentang berbagai kemungkinan ini pun menjadi topik pembicaraan hangat di 'belakang'. Ya, untuk para pelayan sih, apa saja bisa jadi bahan perbincangan n gossip. Tapi belum ada yang bisa melampaui trand pembicaraan seputar tuan Danu. Secara dia itu orang yang paling available buat di gosipin n di khayalin.... ๐Ÿ˜…


Tengah asik mengintip itu tiba-tiba...


PUH...!


Terasa seseorang meniup dekat di telingaku. Aku terlonjak saking kagetnya.


"Astaghfirullah...!" Seru ku sambil seketika berbalik menghadap orang yang punya ulah. Tanganku memegang dada seakan jantung ini mau rontok sewaktu-waktu...


Ha ha ha


Ku lihat Rara tertawa sambil menutup mulut, dan memegangi perutnya. Mungkin kalau sekarang ini tidak sedang dekat dengan para juragan, dia pasti sudah terbahak-bahak mentertawakan aku yang kaget setengah mati.


Reflex aku memukul bahunya kesal.


"Aduh..! " Serunya sambil mengusap bahu yang aku pukul. Tapi ekspresi tawa belum hilang dari wajahnya.


"Lagi ngapain kamu di sini?" Tanyaku berusaha mengalihkan perhatian Rara yang terus tertawa.


"Yang mustinya tanya gitu itu aku... ngapain kamu di sini...?" Tanya Rara.


"Cuma mau lihat aja... " Jawab ku jujur.


"Udah sarapan belum? Dari tadi aku tunggu di belakang kok enggak datang-datang. Kamu enggak lapar?" Ujar Rara sekaligus bertanya. Kali ini dia sudah bisa mengendalikan tawanya.


"Laper lah... banget malah. Tapi ada yang harus aku kerjakan dulu... " Jawab ku.


"Gimana kerja sama tuan Bagas? Dia baik kan?" Tanya Rara lagi.


"Tuan Bagas baik sih... cuman... " Aku terhenti bicara. Mendadak adegan di kamar mandi tadi melintas di benakku.


"Cuman apa? " Kejar Rara. Matanya menatap wajahku dengan tatapan waspada.


"Eng... nanti aja lah aku cerita. Aku mau ngambil sesuatu dulu di kamar tuan. Perutku sudah lapar, kalau cerita sekarang tambah lama lagi bisa sarapan... " Kata ku akhirnya.

__ADS_1


"Yah... enggak cerita sekarang aja, Nur..." Bujuk Rara penasaran.


"Nanti aja lah... Kamu mau ke kampus sekarang?" Tanya ku.


"Masih nanti jam delapan..." Sahutnya.


"Ya udah, kita bisa sarapan bareng?"


"Oke, aku tunggu di belakang ya... "


Aku mengangguk. Setelah itu Rara pergi ke ruang belakang, tempat kami, para pelayan biasa makan bersama. Sementara aku melanjutkan langkah ke arah kamar tuan Bagas, untuk mengambil kotak laundry yang diperintahkan oleh mbak Yuni tadi.


Aku masuk ke dalam kamar. Celingukan, mencari barang sebentuk kotak yang serupa dengan yang aku lihat di ruang laundry tadi. Setelah beberapa lama mencari, akhirnya aku temukan kotak itu. Ada dikamar mandi, di belakang pintu tepatnya. Pantas saja aku enggak lihat tadi. Soalnya aku belum pernah ada dikamar mandi itu dalam keadaan pintu tertutup... ๐Ÿ˜…


Ku ambil kotak itu beserta isi yang sudah ada di dalamnya. Berjalan melintasi ruangan menuju pintu keluar, saat tiba-tiba terdengar suara ringtone berbunyi. Seketika aku berhenti melangkah dan memperhatikan arah suara berasal. Ternyata dari nakas di samping pembaringan.


"Tuan Bagas enggak bawa HP ternyata. " Gumamku, sambil mendekati nakas itu.


Ringtone HP masih berbunyi. Aku tidak berniat untuk mengangkat panggilan itu tentu saja... Rasanya aku enggak segila itu, berani mengangkat panggilan telepon punya tuan. Aku cuma kepo saja siapa yang sedang menelpon tuan.


"Murni..." Gumamku pelan membaca nama yang tertera di layar HP itu. "Cantik juga... " Imbuh ku saat melihat photo profil yang terpampang.


"Diiih.... enggak patah semangat ternyata..." komentar ku sambil berlalu. Iseng-iseng saat melintas di depan lemari yang pintunya dilapisi cermin lebar, aku bergaya. Melenggok sebentar dengan kotak laundry di tangan. Setelah itu aku tertawa sendiri, mentertawakan polahku sendiri yang konyol, karena telah meniru kebiasaan Rara kalau ada di depan cermin.


Teringat dengan Rara, aku seketika teringat pada kesepakatan kami barusan. Karena itu aku bergegas keluar kamar, saat ini Rara pasti sedang menungguku untuk sarapan bareng.


Aku melangkah sedikit tergesa karena waktu sudah mau jam setengah delapan. Sebentar lagi Rara harus pergi kuliah. Tapi dasar sedang apes kali ya... saat melintas di lorong dekat kamar nyonya Supami, tuan Bagas pas keluar dari sana. Dia melihatku yang baru saja melintas dan belum jauh berjalan dari sana.


"Nur...!" Panggilnya. Seketika aku menghentikan langkah dan berbalik.


"Tuan... " Kata ku sambil seketika menunduk, saat tanpa sengaja tatapan mata kami bertemu.


"Mau kemana, kamu?" Tanya tuan Bagas. Matanya memperhatikan kotak yang aku pegang.


"Mau ke ruang laundry, tuan... " Jawab ku masih tetap menunduk.


"Oh, setelah itu segera kembali ke kamarku... ada yang harus kamu kerjakan... " Perintah tuan Bagas.


"Baik tuan, " Jawab ku. Setelah itu, kulihat tuan Bagas berlalu menuju kamarnya (mungkin), sementara aku melanjutkan langkah menuju ruang laundry.


"Mbak... ini kotaknya... " Kata ku tanpa mengucapkan salam lebih dulu.

__ADS_1


"Ya taruh saja di sana." Kata mbak Yuni sambil menunjuk dengan dagunya, karena tangannya sedang mengambil cairan pembersih pakaian dari dalam lemari penyimpanan.


"Ini, pakaian kotor yang tadi ditaruh di dalamnya sekalian...?" Tanyaku.


"He eh... " Sahut mbak Yuni.


Aku mengambil pakaian kotor yang tadi aku bawa dan memasukkannya ke dalam kotak laundry.


"Sudah, mbak... aku permisi ya ... " kata ku.


"He eh... " Sahut mbak Yuni lagi. Mendengar itu aku segera berlalu. Ingat Rara yang mungkin masih menungguku, juga ingat perintah tuan agar aku segera kembali ke kamarnya...


"Duh... gimana ini... udah lapar, tapi masih ada kerjaan.... " Keluhku.


Akhirnya, aku memutuskan untuk kembali ke kamar tuan, tapi mampir dulu ke ruang belakang, sekedar untuk memberi tahu Rara, kalau aku sudah ditunggu tuan, dan tidak bisa sarapan bareng.


Diruang belakang, kulihat Rara sudah duduk bersama beberapa teman lainnya, menghadapi sepiring nasi lengkap dengan sayur dan lauknya. Duh, tambah lapar aku jadinya.


"Maaf Ra, makan bareng nya enggak bisa sekarang. Aku udah ditunggu tuan..." Kata ku sambil mencomot sepotong tempe goreng dari piringnya. Rara mendelik melihat tempe nya aku comot.


"Ya... itu tempe ku...!" Serunya kesal. Aku tertawa. Lalu tanpa menunggu reaksinya lagi, aku segera berlalu.


"Dasar.... " Dumelnya terdengar saat aku berjalan menuju pintu. Aku cuma menoleh sekilas untuk menunjukkan cengiranku.


Rara meleletkan lidah ke arah ku. Aku balas hal serupa. Terdengar suara tawa di sekitar kami karena melihat aksi kekanakan kami.


"Enggak ikut sarapan, Nur? " Tanya Sulis.


"Enggak, nanti aja, ditunggu tuan..." Jawab ku. Setelah itu aku kembali melangkah meninggalkan ruangan itu.


Duh, sarapan....


Betapa aku menginginkan mu...


.


...๐Ÿ‘‰bersambung๐Ÿ‘ˆ...


Kakak, silahkan mampir di ceritaku yang ini ya...


__ADS_1


__ADS_2