
"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu ndhuk... karena kamu, Bagas punya gairah lagi untuk hidup. Dia sekarang mau berobat lagi untuk kesembuhan kakinya..." Ujar nyonya Santi sambil melepas pelukannya. Beliau menatap wajahku, sementara ibu jarinya mengusap air mata yang sempat membasahi pipiku.
" Mulai sekarang, kalau ada apa-apa, jangan segan-segan untuk datang padaku... Insya Allah, aku akan membantumu sebisaku.... Dan kamu juga bisa mulai memanggilku dengan panggilan ibu..."
"Nyonya, benarkah tuan Bagas mau berusaha mengobati kakinya?" Tanyaku.
"Iya... sekarang dia sering konsultasi dengan dokternya. Dokternya sendiri yang bercerita pada ibu... " Jawab nyonya Santi, yang mulai membiasakan diri menyebut ibu untuk ku. Aku tersenyum, ada rasa hangat mendengar hal itu.
Aku punya ibu...!!!
Pekik hatiku riang.
"Justru karena itu kita datang kemari... bu Nyai, mohon maaf, jika sebenarnya kedatangan kami juga mau minta pamrih... " Lanjut nyonya Santi pada Bu Nyai.
"Pamrih apa? " Tanya Bu Nyai dengan ekspresi sedikit khawatir. Jangan-jangan pamrihnya berat lagi? Mungkin begitu pikir beliau.
"Anu... aku mau minta do'a nya dari seluruh penghuni pondok, agar usaha untuk kesembuhan Bagas itu berhasil dengan baik..." Jawab nyonya Santi dengan wajah serius. Gantian Bu Nyai sekarang yang lega.
"Oh... kalau itu, insya Allah bisa diatur, mbak.... " Ucap Bu Nyai menyanggupi.
"Alhamdulillah... Nah, kalau begitu, Terima kasih banyak loh, Bu Nyai."
"Iya, sama-sama... terima kasih juga sudah bisa memanjakan anak-anak pondok dengan kue-kue yang lezat itu..."
"Ah, itu bukan apa-apa... Kalau begitu... bu, kita pulang sekarang, kah? " Ucap nyonya Santi pada nyonya Supami.
"Iya, boleh. Sebentar lagi mau maghrib." Jawab nyonya Supami.
"Loh, kok buru-buru...? Maghriban di sini saja sekalian... " Cegah Bu Nyai berbasa-basi.
"Mohon maaf, Bu Nyai. Di masjid dekat rumah nanti ada istighotsah, sayang kalau enggak ikut... " Jawab nyonya Santi.
"Oh, begitu kah? Ya, baiklah kalau begitu... Sekali lagi, terima kasih banyak ya... " Ucap Bu Nyai.
"Iya, saya juga terima kasih, sudah merepotkan ... "
"Enggak... enggak repot kok... " Potong Bu Nyai.
Akhirnya kami pamitan pulang. Seperti yang sudah diinstruksikan tadi. Pak Mamat menunggu kami di parkiran belakang, sehingga kami bisa langsung pulang melewati jalanan perumahan dan tidak melewati lingkungan pondok lagi.
* * *
Kami sampai di rumah sekitar jam lima. Saat mobil masuk ke halaman, aku melihat mobil Bagas sudah terparkir di pelataran, sopirnya pak Agus sedang membersihkan mobil itu sebelum dimasukkan ke garasi.
Usai mendampingi para nyonya hingga masuk ke dalam rumah, aku langsung berpamitan untuk menemui tuanku.
"Nyonya, saya permisi mau menemui tuan... "
"Iya, tolong layani anakku dengan baik ya..."
"Inggih, nyonya..."
Seperti biasa, aku mundur beberapa langkah, baru berani berbalik dan menjauh.
Di depan kamar, aku mengetuk pintu.
__ADS_1
tok tok tok
"Siapa?! "
Terdengar sahutan dari dalam.
"Saya tuan... boleh saya masuk?"
"Masuklah..."
Pintu ku dorong membuka.
Di dalam, kulihat tuan sedang duduk di kursi rodanya, masih memakai baju yang tadi pagi aku pilihkan untuknya.
"Tuan, mohon maaf... saya tadi diajak nyonya untuk ikut ke pondok, jadi tidak tahu waktu tuan datang...." Ucapku sambil segera mendekat dan langsung meraih tangan kanannya.
"Iya... enggak apa-apa..." Sahut tuan Bagas. Sepertinya dia agak canggung saat kucium punggung tangannya. Kelihatan dari begitu kakunya tangan itu saat ku tarik mendekat ke wajahku.
"Ada acara apa di pondok?" Lanjut tuan bertanya.
"Tidak ada acara apa-apa tuan. Nyonya tadi cuma memberikan kue-kue untuk anak-anak pondok, sekalian minta doa mereka..."
"Oh... "
"Tuan... saya ikut mendoakan untuk kesembuhan tuan... "
Tuan Bagas menatap wajahku dengan tatapan yang sulit ku pahami artinya.
"Saya siapkan air mandinya sekarang ya, tuan..." Ucapku mengalihkan pembicaraan.
"Aku mau mandi pakai shower saja..." Katanya memberitahu.
Aku mengangguk paham.
Aku segera mengambil pakaian ganti milikku sendiri. Pakaian yang bisa aku pakai berbasah-basahan, karena aku tahu, aku harus membantu tuan Bagas mandi. Kalau memandikan tuan pakai baju gamis ini kan sayang banget...
Tuan sudah membuka pakaiannya, aku membantunya menyesuaikan suhu air dari kran shower. Setelah itu, ku siram tubuhnya dengan air shower yang hangat. Ku gosok tubuhnya dengan sabun. Ku bersihkan tubuhnya hingga ke sela-sela jarinya. Aku juga melakukan sedikit urutan pada beberapa bagian tubuhnya. Seperti bagian bahu, leher, betis serta tungkainya.
Jangan tanyakan bagaimana perasaanku saat melakukannya. Malu? Jelas! Jengah? Pasti! Tapi semua itu berusaha aku abaikan. Yang aku lakukan sekarang adalah sebuah kewajiban. Bukti ketaatan ku pada seorang majikan sekaligus suamiku.
Eits, tapi jangan salah ya... untuk area yang "satu" itu, tuan memberi ku dispensasi... Dia membersihkannya sendiri. Tuan sendiri yang melarang ku melakukannya, bukan karena permintaanku. Mungkin karena dia enggak nyaman, atau takut aku yang enggak nyaman... atau mungkin takut terlalu nyaman hingga memberikan efek kejut selanjutnya 🤣🤣🤣
Baru saja tuan selesai berpakaian, adzan maghrib terdengar berkumandang. Tuan mengajakku sholat berjamaah di kamar. Aku tentu saja setuju. Ini adalah kesempatan ku untuk memakai alat-alat sholat yang diberikan tuan sebagai salah satu mas kawin ku.
Usai sholat, sambil melipat mukena yang habis kupakai, aku bertanya.
"Tuan... tuan mau makan malam di ruang makan atau di kamar saja...?"
"Kenapa memangnya?" Tuan malah balik bertanya.
"Ya... enggak apa-apa tuan. Kalau mau makan di ruang makan saya antar, kalau mau makan di kamar biar saya minta kan untuk dibawa ke mari... "
"Kamu sendiri sudah makan belum?"
"Saya terakhir makan tadi jam dua..."
__ADS_1
"Ya sudah, makan di kamar saja.... kita makan bareng."
Aku mengangguk. Kusimpan mukena dan sajadah yang selesai aku pakai kembali ke lemari. Aku baru akan melangkah pergi saat tuan mewanti-wanti...
"Suruh orang saja yang bawa. Kamu segera kembali kemari... "
Aku mengangguk sambil tersenyum.
Posesif sekali suamiku...
Anggap saja aku ke Ge-er an. Sekali-kali merasa dimiliki boleh kan... 🤭
* * *
Makan malam sudah selesai. Nikmatnya jangan ditanya. Pake banget pokoknya. Setelah semuanya selesai. Kami duduk bersisian diatas pembaringan.
Seperti kemarin. TV di stel. Mata kami terarah ke TV sementara tangan kami saling menggenggam.
"Nur... " Panggil tuan menarik perhatianku dari TV.
"Ya tuan..." Sahutku. Mataku masih mengarah pada berita yang ditayangkan di TV. Karena tidak ada lanjutan dari tuan, aku menoleh...
Kulihat tuan malah sedang menatapku. Aku enggak tahu, sejak kapan dia menatapku seperti itu. Serta merta pipiku rasanya panas. Aku langsung membuang pandangan ke sembarang arah. Kemana sajalah, yang penting tidak bersitatap dengan dia.
Aku malah lebih memperhatikan headboard di belakang tuan. Bersikap seakan-akan headboard itu lebih menarik dari wajah tampan di depan mataku.
"Ada apa tuan...?" Tanyaku sedikit gemetar karena grogi.
"Besok, kamu siapkan semua kebutuhan kita...." Ucapan tuan Bagas terjeda.
Kebutuhan? Kebutuhan apa? Emangnya kita mau kemana?
Pertanyaan itu muncul begitu saja di otakku, tapi enggak sampai keluar dari mulutku. Aku menunggu tuan menyelesaikan kalimatnya.
"Lusa, aku ada janji temu dengan seorang dokter di kota Hilir jam tujuh pagi. Karena itu besok sore kita berangkat ke sana... "
"Kok janjiannya jauh sekali tuan?" Tanya ku spontan. Spontan juga aku menutup mulutku dengan tangan, saat menyadari telah menginterupsi kalimat Tuan ku. Tapi untungnya tuan Bagas malah tersenyum.
"Dokter itu dokter dari Singapura. Kebetulan dia ada seminar di sini. Aku janji temu dengannya sebelum acara seminar dimulai, sekitar jam sembilan katanya...
Ini cuma pertemuan awal. Dia akan melakukan pemeriksaan pada kakiku, setelah itu dia akan memutuskan bagaimana proses penyembuhan selanjutnya.... "
Aku mengangguk paham.
"Aku enggak tahu, akan berapa lama kita nanti di sana... karena itu, kamu siapkan saja semua keperluan kita. Tapi enggak usah terlalu banyak, kalau ada kurangnya kita bisa beli di sana... " Lanjut tuan.
Sekali lagi aku mengangguk.
...*...
...*...
...*bersambung*...
...*...
__ADS_1
...*...