
Alhamdulillah, gajiku yang dikasih nyonya ibu... (he he he sekarang pakai bahasa ibu... 😅) memang masih bisa dibilang utuh. Semua kebutuhan ku sudah dipenuhi oleh juragan. Palingan aku pakai uang itu buat beli sabun, pupur sama lipstik, tapi itu kan enggak akan sekali pakai langsung habis. Yang paling besar pengeluaran ku itu ya ngebeliin hadiah untuk Rara kemarin.
Habis, buat apa lagi coba? Makanan sudah disediakan. penginapan juga. Kalo baju sih... selama ini, baju yang dikasih temen-temen sudah cukup. Cuma enggak modis doang, bukan suatu masalah kan? Jadi pembantu aja masa bajunya musti modis... 😅 bisa nyaingin non Sabrina ntar... 😂
Ku raih HP untuk melihat jam. Masih jam lima. Biasanya, waktu sarapan itu mulai dari jam enam sampai jam sepuluh. Kalau mau bersabar, aku bisa ambil jatah sarapan gratis di restoran. Tapi artinya aku harus menunggu satu jam lagi... Duh, rasanya kok udah enggak sabar pingin cepat makan.
Ya, sudahlah. Pakai layanan room servis aja.
Eh, sebentar... aku lihat dulu uangnya...
Untuk memastikan kalau uangku masih ada dan cukup untuk pesan layanan kamar, aku ambil tas tanganku.
Sebenarnya, tas ini bukan punya ku... ini tas tangannya Tati. Dia kasih pinjam aku tas tangan ini waktu tahu kalau aku mau bepergian mendampingi tuan Bagas.
"Lumayan lah, buat ngewadahin bedak dan uang receh kamu... " Katanya waktu itu.
"Uang receh...?" Ulangku.
"Ya iyalah... Dibandingkan dengan uangnya tuan Bagas, uangmu itu hitungannya kan cuma recehan... " Terang Tati sambil tertawa.
Eh, iya juga ya...
Mendengar penuturan nya, aku jadi ikutan tertawa.
"Makasih ya... " Ucapku sambil mengibas-ngibaskan tas itu untuk menghilangkan debu yang singgah disana. Maklum, sudah berbulan-bulan tas itu enggak dipakai.
"Iya, enggak apa-apa... pakai saja. Nanti jangan lupa isi dengan oleh-oleh ya..." Jawabnya sambil bercanda.
"Sip lah..." Jawab ku waktu itu. Cuma oleh-oleh kan? Enggak ditentukan oleh-olehnya berupa apa. Bisa diatur itu... 😅
Sambil duduk ditepi pembaringan, Aku membuka tas tangan itu. Baru saja mengeluarkan uang itu dari bungkusan kresek hitam...
bayangin! Hari gini bawa uang dibungkus kresek?! ðŸ¤ðŸ˜… Soalnya aku enggak punya dompet. Mau beli dompet lupa melulu... 😂😂😂
tiba-tiba terdengar suara
"Kamu sedang apa?"
Sumpah! Kaget banget aku. Seketika aku menoleh kearah tuan.
Ya, pasti tuan Bagas lah yang bicara barusan, orang aku cuma berdua dengan dia di kamar ini. Siapa lagi coba?
Kulihat tuan Bagas sudah membuka matanya dan tengah memperhatikan aku yang sedang memegang keresek hitam itu.
"Eh... enggak sedang ngapa-ngapain tuan..." Jawabku cepat sambil segera memasukkan keresek itu kembali ke dalam tas.
"Apa itu?" Tanya tuan lagi sambil berusaha bangkit dan duduk. Matanya terfokus pada tanganku yang masih ada di dalam tas.
"Bukan apa-apa, tuan..." Jawabku cepat.
Tapi sepertinya tuan tidak mudah percaya begitu saja. Buktinya dia masih terus menatapku dengan penuh selidik.
__ADS_1
"Nur..." Panggilnya. Dari suaranya aku merasa ada peringatan di sana.
"Eng... ini, uang tuan..." Akhirnya aku berkata jujur. Ya, daripada nanti tuan salah paham. Aku jujur saja lah. Lagian enggak ada yang harus disembunyikan kan? Uang ini halal, upah kerjaku sekian bulan di rumahnya. Mungkin cuma sedikit malu karena aku sudah membungkus uang itu pakai keresek!
"Uang siapa untuk apa?"
"Uang saya tuan, tadinya saya mau pesan makanan...." Ucapanku terhenti saat kulihat alis tuan bergerak menukik.
"Eh... maaf tuan, saya tadi lapar. sedangkan tuan masih tidur..." Sambung ku cepat sebelum tuan merasa tersinggung atau salah paham.
"Kalau kamu lapar, pesan lah makanan, masukkan tagihannya ke tagihan kamar, biar dibayar sekalian nanti...." Ucap tuan kemudian. Tampak sekali dia sedang berusaha untuk bersabar padaku.
"Jangan kamu permalukan suamimu ini dengan membayar sendiri keperluanmu. Kecuali kalau suamimu ini enggak ada, kamu boleh bayar dulu dengan uangmu... tapi kamu harus bilang padaku kemudian, supaya nanti suamimu ini bisa mengganti uangmu..." Lanjut tuan lagi.
"Paham...?!"
Aku mengangguk patuh.
"Paham?!" Ulang tuan Bagas. Sekali lagi aku mengangguk.
"Paham enggak?" Tuan Bagas masih mengulang. Aku sampai bingung emang kurang jelas ya aku ngangguknya?
"Paham, tuan..." Jawabku akhirnya.
"Paham apanya?" Tuan Bagas masih juga bertanya.
"Paham kalau saya tidak boleh membayar untuk keperluan saya kecuali tuan enggak ada..."
"Kecuali..."
Sumpah, bingung aku. Orang ini maksudnya apa sih, dari tadi dibolak-balik terus ngomongnya...
Kutatap wajah tuan dengan bingung. Tuan balik menatapku dengan tatapan yang seakan mengatakan "Awas kalau salah bicara lagi..." Masalahnya aku enggak ngerti dimana kesalahanku...
"Kecuali...tu..." Baru sampai kata itu, kulihat mata tuan sedikit melotot ... Berfikir...berfikir...
Ya, Tuhan... bodohnya aku...
Serta merta aku menepuk dahiku sendiri.
"Maaf. Maksudnya, saya tidak akan membayar untuk keperluan saya kecuali mas enggak ada, dan kemudian saya akan sampaikan pada mas suamiku ini, supaya nanti uangnya digantin..." Kataku sambil terus menatap wajahnya berusaha menangkap setiap perubahan dari ekspresinya.
"Pinter..." Kata tuan sambil terkekeh.
Diam-diam aku menghela nafas lega. Untung tadi aku cepat nangkap.
"Sudah pesan belum?" Tanya tuan kemudian.
"Belum tuan, eh mas..." sahutku.
"Ya, sudah... pesan sekarang saja, kita sarapan dikamar saja pagi ini..."
__ADS_1
"Baik mas. Mas mau dipesankan apa untuk sarapan?"
"Terserah deh..." Katanya.
Ku angkat gagang telpon, dan ku pijit angka nol untuk menghubungi room servis. Pada hitungan ketiga, saluran telepon itu terhubung.
Kusampaikan pesananku pada petugas. Setelah memastikan nama, nomor kamar dan makanan yang dipesan, sambunganpun diputus.
"Mas, sambil menunggu pesanan, Mas mau mandi sekarang?" Tanyaku beralih pada mas Bagas.
"Iya..." Jawabnya. Aku pun segera bergerak untuk membantu tuan mandi.
Ingat ya, sekarang manggilnya harus MAS, jangan keliru lagi...
Aku mengingatkan diriku sendiri.
* * *
Selesai bersiap-siap. Kami janjian dengan dokter Ridwan untuk ketemuan di lobby. Semula dokter Ridwan ngajak ketemuan di restauran sambil sarapan, tapi karena kami sudah sarapan duluan, maka kami memutuskan untuk menunggunya di lobby.
Sekitar jam setengah tujuh, kami langsung menuju klinik tempat kami janjian dengan dokter Tony.
Klinik ini milik dokter Tony awalnya, tapi semenjak dokter Tony pindah ke Singapura, klinik ini dikelola oleh keluarganya.
Dengan dipandu oleh dokter Ridwan, akhirnya mereka berhasil bertemu dengan dokter Tony.
Beberapa saat dokter Ridwan dan dokter Tony ngobrol-ngobrol sebentar, sekedar mengenang kebersamaan mereka saat sama-sama sekolah di negara Kangguru. Setelah itu pembicaran beralih pada Mas Bagas.
"Ayo kita periksa dulu ..." Kata dokter Tony.
Lalu Mas Bagas disuruh rebahan di atas matras. Aku cuma mengawasi ditepi, memberi keleluasaan pada dokter itu untuk memeriksa.
Setelah beberapa lama kemudian...
"Kondisi fisknya bagus, Hanya masalah syaraf yang terjepit yang menyebabkan Pak Bagas ini masih belum bisa berjalan...." Kometar dokter Tony.
"Tapi masih bisa disembuhkan kan...?" Tanyaku khawatir.
"Bisa... tentu saja bisa, bu." Jawab dokter Tony sambil tersenyum ramah.
"Ada dua cara yang bisa ditempuh oleh pak Bagas. Pertama, Pak Bagas bisa melakukan operasi, lalu dilanjut dengan terapi. Karena pak Bagas sudah terlalu lama tidak berjalan, tentu pak Bagas harus banyak latihan..."
"Yang kedua. Pak Bagas bisa melakukan terapi akupunktur. Tentu latihan juga, untuk membuat otot-otot kaki yang sudah lama tidak dipakai itu kembali kuat untuk menopang tubuh pak Bagas..."
...*...
...*Bersambung*...
...*...
__ADS_1